Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
83 : PUM : Tanggung jawab


__ADS_3

Ovin terus mengigit bahu Franz, lalu meronta lagi.


"Lepaskan! Lepaskan! Franz!" Racau Ovin lagi dan lagi, demi berusaha lepas dari pelukan yang di lakukan oleh Franz terhadapnya.


PIP...PIP...PIP...PIP...


Sampai alrm tanda peringatan dari jam tangan pintar yang di pakai oleh Ovin itu membuat Ovin akhirnya langsung diam di tempat tanpa perlawanan apa pun lagi, tepat di dalam pelukannya.


'Kenapa diam?' Franz yang curiga itu lansgung mencari tahunya. Dia segera melihat apa yang terjadi kepada Ovin, sampai akhirnya bisa diam tanpa suara.


Hingga saat Franz melepaskan pelukannya, barulah dia tahu kalau Ovin kembali mengalami demam dengan angka yang tertera di jam pintar milik Ovin adalah lebih dari 39,4 derajat celcius, dan hal itu membuat Ovin jadi terlihat sudah kesulitan untuk bernafas.


"Hei, Vin! Bangun! Vin! Bukannya kau sudah sehat? Kenapa kembali demam? Vin!" Franz terus mengguncang-guncang tubuh Ovin, tapi mau berapa kalipun Franz memanggil namanya, dia tidak menyahutnya sama sekali. "'Vin! Ovin!"


KLEK..!


Satu pintu yang sedari tertutup itu akhirnya terbuka dan memasukkan seorang pria yang tidak lain adalah Ainz sendiri langsung masuk dengan wajah paniknya.


"Ovin-" AInz langsung kehilangan kata-katanya saat melihat Franz langsung menggendong tubuh Ovin, lalu di bawa untuk di letakkan di atas tempat tidur.


Tapi dari pada itu, Ainz sugguh terkejut, karena apa yang di lihat saat ini adalah lantai kamar yang cukup berantakan, karena adanya potongan baju hasil guntingan.


Ainz menoleh ke belekang, saat ada dua pelayan yang sudah datang di belakangnya persis, dan segera Ainz suruh untuk membawakan apa yang Ainz butuhkan, "Kalian berdua ambilkan koper hitam yang aku letakkan di sampi lemari di dalam kamarku."


"Baik." jawab mereka berdua.


Setelah itu, Ainaz kembali membalikkan badannya, dan berjalan menghampiri Ovin yang sudha terbaring itu.


"Apa yang terjadi kepadanya? Dia tiba-tiba jadi berteriak histeris." Tanya Franz, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada perempuan ini.


"Dia meneriaki apa?" Tanyanya.


"Kalau mau meninggalkanku juga, tinggalkan sekarang juga." Tatap Franz.


PIP...PIP....PIP..PIP....


Merasa berisik dengan suara yang berasal dari jam tangan itu, Ainz segera mematikannya.


"Ini Tuan," Kedua pelayan yang Anz suruh untuk mengambilkannya koper, kini sudah kembali. Karena cukup berat, dan apalagi kamar milik Ainz ada di lantai dua, makannya Ainz menyuruh mereka berdua.


Setelah koper itu ada di sampingnya, dia langsung membukanya.


Berbagai peralatan medis ternyata ada di sana, tersimpan cukup rapi dan juga terlihat lengkap.

__ADS_1


"'Apa ada sesuatu yang bisa kami bantu Tuan?"


"Siapkan mobil sekarang juga." Lirik Ainz.


Dan mereka berdua kembali di buat keluar dengan terburu-buru.


"Bukannya dia sudah sembuh dari demamnya, kenapa bisa naik lagi? Apa kau benar-benar bisa merawatnya? Aku jadi meragukan kemampuanmu itu." Ungkap Franz, memberikan keraguan pada keahlian AInz untuk menjadi seorang dokter.


"Daripada menyalahkanku, bukannya lebih baik salahkan dirimu sendiri, pikirkan kekuranganmu sebagai pria."


"Apa?"


"Kau ternyata sama sekali tidak mengerti apapun tentangnya, ya?"


"Jangan basa-basi lagi, katakan saja apa maksudmu, dan kenapa dia jadi seperti ini?" TUntut Frannz sambil mencengkram tangan Ainz yang hendak meletakkan stetoskop di dada Ovin.


Ainz langsung menepis tangan Franz saat itu juga dengan kasar, lalu menjawab. "Dia punya trauma dengan masa lalunya. Ibunya meninggalkannya, keluarganya juga. Apa yang seperti it umasih tidak bisa kau pahami juga, Tuan muda?" Dengan akhir kata penuh penekanan. "Dan dia, ternyata mengalami alergi pada sesuatu. Apa yang dia makan atau sentuh?" Imbuhnya lagi.


Alasan Ainz tidak mengatakan hal lebih agar Franz sendirilah yang mencari tahu sendiri kenapa istrinya itu bisa seperti ini, semua ituagar Franz harusnya perlahan bisa sadar untuk melihat keadaannya sendiri yang sudah tidak lagi hanya untuk memikirkan dirinya sendiri saja, tapi juga ada satu orang lagi yang harus di pikirkan juga di perhatikan.


"Dia dari tadi hanya memegang baju pemberian dari pelayanmu itu, yang sudah Ovin robek sampai seperti itu." TUnjuk Franz, pad selembar kain yang sudah tidak begitu utuh.


Sebelum Ainz meninggalkan pasiennya sebentar untuk mencari tahu tentang pakaian yang sudah compang camping di depan sana, AInz lebih dulu memakaikan selang dari tabung oksegen darurat yang Ainz simpan di dalam kopernya tadi, dan meminta agar Franz memegangnya sebentar.


Ainz pergi menuju baju yang sudah tidak menjadi baju yang utuh lagi itu. Lalu ketika di selidiki, yang mana salah satunya adalah mencium armanya, maka ia tahu sedikit akan penyebba dari ruam merah yang ada pada tangan Ovin itu terjadi karena, "Dia punya alergi bunga lavender."


"Adikku suka dengan parfum aroma lavender, tapi tidak dengan dia. Karena ini bukan sesuatu yang bisa aku lakkukan dengan peralatan serta obat yang aku simpan itu, kita harus membawanya ke rumah sakit. Bawa dia, aku yang akan menyetir." Perintah Ainz saat itu juga.


'Kenapa jadi seperti ini?' Franz yang sudha lelah dengan segala perintiwa yang terjadi hampir seharian ini pun hanya bisa menghela nafas kasar.


_____________


Satu jam kemudian, setelah Ainz dan Franz sampai di rumah sakit terbesar di kota A.


Tepat setelah mereka bertiga sampai, Ovin segera di tangani di ruang ICU.


Karena diantara para perawat ada yang sudah mengenal Ovin yang rupanya di bawa kembali ke rumah sakit, maka tentu saja kasus itu ada yang sengaja melaporkannya kepada Chade.


Sampai tidka lama kemudian, Chade datang dengan ekspresi wajah yang terlihat seperti orang yang tidak akan sungkan untuk membantai semua orang di sekitarnya, jika ada yang menghalangi jalannya.


Tepat setela melihat ada satu orang sedang berdiri denagn bersandar ke dinding, Chade langsung berlari dan segera..


BRAKK......

__ADS_1


Satu bogem mentah oitu berhasil Chade layangkan dengan cukup baik. Tapi karena Farnz sendiri menyaari kedatangan dari Chade juga serangan yang akan membuat mukanya bisa jadi babak belur, maka Franz pun berhasil menghindari pukulan maut itu.


" Kau siapa?! " seru Franz pada orang asing ini. 'Dia lebih tua dariku, apa dia orang yang sore tadi berbicara denganku lewat telepon nya Fardan?'


Chade yang berhasil memojokkan Franz dalam lengang tanga nkanan Chade yang masig terulur ke depan karnea bogem mentahnya meleset dan menghantam tembok, dengan tatapan membunuhnya, Chade berkata : "Aku kira menyerahkan ke padamu dia akan bahagia, tapi aku salah dan hanya terbuai dengan ucapan manisnya. "


Menarik kepalan tangannnya dari tembok. Jika di ingat kembali tadi sore dirinya sempat memberitahu untuk menemukannya dan kalau bisa sih untuk menjaganya namun apa daya, justru Ovin sampai dibuat demam.


Lagi?


" Aku tanya kau siapa? Dan apa hubungannya dengan Ovin? Jika tidak menjawabnya, aku akan panggilkan petugas keamanan kesini." Ujar Franz, masih tidak tahu siapa Chade dan apa hubungannya dengan ovin.


" Aku? Tentu saja aku adalah kekasihnya." jawab Chade dengan cepat tanpa perlu pikir panjang lagi, karena dia benar-benar sudah tidak suka dengan Franz lagi yang tidak bisa menjaga keponakannya Chade yang berharga itu.


" Jangan membual, lebih baik pergi dari sini." Ucap Franz, mengusir Chade pergi. 'Jadi tebakanku benar?' tebak Franz dalam hati.


" Aku tidak akan pergi sampai dia sembuh." ucap Chade lagi. 'Anak ini, padahal Ovin ku sampai masuk ke sana. Tapi kenapa wajahnya santai sekali? Ini sudah hampir tiga bulan tapi kelihatannya anak ini benar-benar masih tidak menerima keberadaannya? Dasar, kenapa anak itu selalu membuatku jengkel? Padahal jelas-jelas anak manja ini tidak akan pernah membawamu baagia, kenapa harus di pertahanin?'


Setelah itu tiba-tiba kepalanya Chade pun menunduk dan berkata lagi : "Apa kau tahu? Tanganku ini sangat ingin sekali meninju wajahmu, tapi kalau Ovin tahu, dia pasti tidak akan membiaranku." Chade kamudian mengeluarkan saputangan lalu membersihkan tangannya tadi, yang padahal terlihat ada sedikit darah yang keluar dari permukaan kulit tangannya itu.


"Mau tahu atau tidak tahu, apa aku harus mengulanginya? Pergi dari sini. " kata Franz lalu memberikan kode pada beberapa perawat yang kebetulan meliintas agar menarik pria ini keluar dari kediamannya.


Tapi mereka semua memberikan tanda X dengan kedua tangannya, kode yang diberikan itu ber maksud kalau mereka semua tidak bisa mengusir pria asing itu.


" Lihat? Mereka tidak akan berani melawanku, sebaiknya minggir dari hadapanku. " Langsung menyingkirkan Franz ke samping dari pada menghalangi jalannya masuk ke kamar adiknya ( Keponakannya Chade ).


'Siapa sebenarnya orang ini? Sampai mereka semua tidak berani mengusir orang ini?' Tatap Franz dengan tatapan penuh selidik.


Chade yang melihat Franz terus menatapnya dengan tajam, Chade akhirnya berbicara lagi "Dengar baik-baik, karena kau penasaran siapa aku, aku akan memberitahumu. Namaku adalah Chade, saingan cintamu."


"Saingan? Memangnya kau bisa apa? Dia itu sudah jadi milikku." Di balik mulutnya yang baru saja mengatakan seperti sebuah kepemilikan, Franz sebenarnya bingung sendiri. 'Kenapa aku jadi mengatakan kalau Ovin jadi milikku di depan orang ini?'


"Mau dia sudah jadi milikmu atau tidak, aku akan pastikan Ovin untuk menyesali pilihannya karena meilihmu, dasar bocah. Dan jika suatu saat itu terjadi, maka kau akan tahu apa itu arti penyesalan." sengaja mengejek karena hobinya yang suka memprovokasi orang yang lebih muda darinya.


" Dan sekalipun Ovinku sudah menikah denganmu, tapi aku tidak akan menyerahkannya begitu saja padamu. Aku tidak tahu apa alasan dia sampai ingin memilihmu hanya dengan alasan yang satu itu, tapi sebaiknya jangan membuatnya tersakiti lagi. Otakmu perlu dioles lagi biar mengingat semuanya, maksud dan tujuan dia menikahimu tentu ada alasannya sendiri apa kamu tidak menyadarinya juga. " Imbuh Chade.


Lalu Chade sengaja mendekatkan mulutnya tepat di sebelah telinga kanannya Franz dan berkata lagi.


" Kamu harus mempertanggung jawabkan, tanggung jawabmu cuma memberikannya kehangatan hati. Tapi jika kau sama sekali tidak melakukan apa yang aku katakan tadi, jangan salahkan aku, kau akan menemukan sebuah penyesalan terbesar dalam hidupmu.


Karena bagiku, kau itu hanyalah sebutir debu yang bisa aku hilangkan dengan mudah."


"......................." Dengan kalimat yang dilontarkan Chade ini, Franz pun tidak bisa berkata apa-apa lagi selain diam.

__ADS_1


Kata 'tanggung jawab' adalah kalimat yang sekarang membebani pikirannya. Selain Ovin ternyata Chade juga mengatakan kalimat sama, baginya rahasia yang dimiliki Ovin juga diketahui oleh pria bernama Chade dan berarti Chade pula lah yang lebih mengetahui jati diri Ovin sebenarnya dan dari ucapan serta tindakan yang penuh dengan kepercayaan dirinya, membuat Franz menemukan satu perkiraan kalau Chade sangatlah dekat dengan si mata empat.


'Aku harus mencari tahu apa yang dimakud mereka berdua padaku, karena aku harus bertangung jawab pada apa?' Franz pun jadi mengernyit, dia harus berusaha keras untuk menemukan teka-teki itu.


__ADS_2