
Jam, menit, detik.
Hari demi hari berganti dan menjadi minggu, setelah minggu itu melampaui empat minggu maka artinya satu bulan juga sudah dilewati dan beberapa bulan terus pun dilewati hinggaaaaaaa........pada akhirnya ujian sebagai penentu kelulusan akhirnya datang juga.
Hanya saja......., mereka mengharuskan menggunakan komputer untuk mengerjakan soal ujian.
Tidak ada yang bisa dilakukan ketika soal ujian yang ada disetiao siswa memiliki kode yang berbeda yaitu A, B, C, dan D.
Sekalipun bertanya juga tidak akan berpengaruh, pasalnya ujiannya selain ketat di awasi oleh pengawas, diruangan itu juga ada Cctv.
Heh....kalian mau bertanya? Itu pun jika bisa.
Mata saling lirik dan mulut saling berbisik pada teman lainnya yang memiliki kode soal yang sama, namun letaknya juga sedikit jauh dan hanya berharap kepada keberuntungan saja? Itu tidak akan terjadi.
Berdoalah kalian dan pasrah pada kenyataan akan kemampuanmu sendiri saat ujian, sebab bertanya pun tidak akan tahu apakah benar atau salah, dan HANYA MEMBUANG WAKTUMU SENDIRI.
'Sialan, semuanya sulit-sulit.' Merli melirik ke tempat lain dimana teman-temannya tengah duduk di jarak yang sedikit berjauhan. Dianya nampak tenang dan bersandar santai seperti orang tengah bermain game yang mudah.
" Ck.. "
" Merli, kemana pandanganmu itu. Cepat kerjakan, waktunya tinggal 15 menit lagi!" peringat guru pengawas pada Merli.
Merli kembali menatap komputernya, hanya tinggal 15 menit tersisa tapi soal yang tersisa tinggal seperempat bagian. Asal, dan terpaksa main tembak dan hantam saja, Merli asal saja asal bisa menyelesaikan semua soal dan tidak boleh ada sampai yang kosong.
20 menit kemudian.
" Selamat, kalian sudah mengerjakan ujian dari mata pelajaran terakhir. Kami semua guru hanya mengharapkan hasil yang terbaik dari kalian semua. "
Satu per satu mereka semua keluar secara beraturan.
Hanya ada perasaan LEGA DAN SENANG!.
" Hwahhhh.......akhirnya aku bisa tidur nyenyak, seminggu ini aku begadang terus " meregangkan kedua tangannya ke atas.
" Aku bisa santai di pantai " bisik beberapa orang pada temannya yang lain.
" Eh...setelah lulus ini, mau masuk universitas mana? "
" Mana saja, asal sesuai bakatku orang tuaku mendukungnya "
" Ehh.....beruntungnya "
Jauh dari beberapa kelompok kerumunan perempuan yang sedang berdiskusi atau hanya sekedar pamer, Ovin tengah mengemas beberapa barang yang sempat disimpan di laci dan memasukkannya ke tas.
__ADS_1
"............."
'Beberapa diantaranya cuma sampah.' dari plastik, tisu, dan bekas makanan juga botol.
Entah siapa yang melakukannya, tidak akan ada orang yang mengakuinya walaupun Ovin bertanya siapa.
" Eh....ayo kita lihat "
" Ada apa? "
" Hei....tunggu " berlari mengikuti beberapa orang temannya.
Hampir satu kelas, tidak...tapi hampir semua orang berbondong-bondong keluar.
'Apa yang mereka lihat?' dari atas Ovin melihat kerumunan orang dibawah sedang melihat suatu papan pengumuman.
Beberapa orang yang masih ada dikelas tiba-tiba bergumam sambil melirik ke arahnya.
Melihat para perempuan dan laki-laki sibuk men scroll dan membaca apa yang terlihat di ponsel masing-masing, maka secara logika ada yang tidak beres dengan satu berita yang mereka baca itu.
Ovin segera mengeluarkan ponselnya dari tas, tapi tidak ada sama sekali, sudah di cari pun tetap tidak ketemu.
" Mata empat, aku tidak tahu penampilan polosmu juga ternyata bisa menghanyutkan "
" Apa yang kalian maksud? " Ovin merasakan hal buruk sudah terjadi pada dirinya.
Benar-benar deh, Ovin masih benar tidak mengerti masalah mana yang mereka maksud.
Tidak ada petunjuk jika tidak mencarinya, dengan terpaksa Ovin merebut salah satu handphone mereka dan membaca berita apa yang membuat mereka memberikan tatapan tidak suka terus dan terus berlanjut hingga sekarang.
' Ini kan aku saat di bar? Bukannya kejadian dua bulan lalu? Siapa yang mengambil fotoku?'
" Kembalikan " merebut balik handphone yang sempat di ambil paksa Ovin, lalu pergi duduk di tempat duduk sebagai dalih menjauh orang itu.
" Hii.....aku tidak salah tidak berteman dengannya "
" Setidaknya jika memiliki sifat suka main ke bar, tidak perlu bersikap naif penuh kepolosan "
' Siapa.....siapa yang melakukannya?' Tiba-tiba Ovin berjalan mundur dua langkah, lalu pergi ke arah mejanya untuk mengambil tas dan pergi keluar kelas.
________________
Dari pada makian langsung, menyebarkan berita bohong akan membuat korban menjadi bahan fitnah orang lain.
__ADS_1
' Seorang perempuan bermuka dua, dari luar yang polos ternyata bisa menghanyutkan. Siswi pindahan ini bermain dengan pria di bar..........bla....bla....bla '
'Eh? Siapa yang melakukan ini?' Sean juga sama terkejutnya dengan yang lainnya. Berita mengenai murid pindahan 5 bulan lalu ini menjadi bahan gosip nomor satu di forum sekolah, padahal foto yang dijadikan bahan utama ini memang bukan rekayasa belakang, hanya saja....
'Kenapa bisa seperti ini? Padahal saat itu aku juga disana bersamanya.' Sean men scroll lagi dan lagi, membaca keseluruhan berita itu.
Tidak hanya itu, ada hal lain lagi ketika Sean meng klik halaman selanjutnya.
'APA! Aku tidak salah lihat kan?! Ini kan rumah Franz? Kenapa dia berada di depan rumah Franz dan....masuk kedalam rumahnya?!' matanya membulat lebar dengan apa yang sedang dilhatnya, tidak salah lagi dan matanya juga tidak rabun. Tapi.....
" Apa? Kenapa? "
Baru saja selesai ujian, tapi masalah kembali lagi dan lagi mendatangi anak pindahan itu.
'Ini akan menjadi pertanyaan besarku, dia pasti ada di ruang musik.' Dengan tegas dan masih dengan perasaan tak percaya,Sean pun pergi mencari partner nya itu.
πΆπ΅πΆπΌπΆπ΅πΆπΌ
Tapat dan benar dengan instingnya sebagai sahabatnya, Sean tidak perlu lama mencari sebab ianya berlari kencang untuk mengajukan pertanyaan terbesarnya.
πΆπ΅πΆπΌπΆπ΅πΆπΌ
Alunan lagu yang dimainkan dengan tenang dan penuh penjiwaan itu tiba-tiba dirusak oleh..
'Sean, kenapa dia datang kesini dengan tergesa-gesa?' pikir Franz. " Jika hanya ingin merusak alunan laguku, sebaiknya langsung pergi sebelum aku menendangmu dari lantai 2 ini " melanjutkan lagi memainkan pianonya.
" Bukan aku yang mau merusak mood mu yang sedang bagus itu, lihat berita dari forum sekolah. " Sean masuk dan berjalan mendekat ke tempat dimana Franz sedang duduk dan memainkan jarinya.
" Handphonku ada di loker, memangnya apa sampai membuatmu hampir mati lemas? " sindir Franz, lalu tangan kirinya membalik lembar dari buku lagu yang sedang dilihatnya.
" Si mata empat jadi bahan berita lagi." ucap Sean memberitahu satu-persatu yang antara masih percaya atau tidak percaya.
" Apa hubungannya denganku? " ketus Franz.
" Tentu saja ada hubungan! " Seru Sean, kemudian menunjukkan handpohne nya tepat dimata Franz.
" Apa hubunganmu dengan mata empat? "
TUING..........
Pertanyaan Sean sudah masuk akal dan masuk ke otaknya. Antara gosip Ovin di internet itu ada hubungannya dengan dirinya ( Franz ).
Franz langsung merebut ponsel Sean dan me scroll dari atas sampai bawah, membacanya dengan serius dan penuh akan...Kemarahan?
__ADS_1
" Tunggu..tunggu, kenapa kamu yang jadi terlihat marah? " Sean masih tidak mengerti jalan pikiran partner nya itu.
'Siapa yang menyebarkan foto ini? Apa Ovin? Tapi tidak mungkin, disini gosipnya juga ada dan justru menjerumuskannya untuk menjadi bahan berita utama. Apa ada yang menguntitnya? Jangan sampai ada yang tahu kebenaran tentang hubunganku dengan perempuan ini.' Pikir Franz, dengan kasar mengembalikan handphone Sean.