
Di pemakaman Bornstein.
Angin sore bertiup kencang, membawa angin dingin dengan suhu yang cukup lembab, yang menandakan kalau tidak lama lagi hujan akan turun juga.
Ovin. Ketika beberapa orang mulai mencarinya, karena tidak bisa di hubungi, maka si pemilik dari segala pembuat onar itu saat ini berada di tempat paling ramai. Tidak ada tempat yang ramai tapi punya suasana hening selain tempat pemakaman.
Pemakaman lah tempat yang ramai dengan batu nisan, tapi cukup hening karena para penghuni dari pemakaman tentu saja adalah tempat tidur seseorang yang sudah tertidur selamanya.
Ovin, dengan masih menggunakan seragam lengkap, saat ini dia membawa mawar putih yang cukup banyak sampai tas sekolah yang Ovin gunakan itu penuh dengan bunga mawar dan meletakkannya serta menatanya dengan cukup rapi di seluruh permukaan dari depan batu nisan itu.
"Ibu." Panggil Ovin dengan nada yang cukup lirih.
Dia berjongkok seraya menata semua bunga mawar yang dia beli dengan uangnya sendiri, di depan sebuah batu nisan, dimana di permukaan batu nisan itu bertuliskan nama Henira.
Mendiang dari Ibunya, yang meninggal saat Ovin masih kecil karena sebuah kecelakaan.
Sekaligus insiden yang membuat Ovin dala titik baliknya, karena di saat itu juga dia harus menghadapi Ibu tiri yang jahat, seperti dongeng yang pernah Ovin baca.
"Ibu, aku tidak tahu harus mengucapkan apa kepada ibu." Gerutu Ovin, dia tetap berjongkok, meletakkan dagu di atas tumpukan tangan yang Ovin letakkn di atas kedua lututnya, dan tatapan matanya yang sendu terus menatap nama Henira, yang wafat di tanggal delapan belas Desember, tepat satu minggu setelah hari ulang tahun Henira.
"Apa Ibu tahu? Aku sudah menikah loh." Ovin yang bicara sendiri di depan makam Ibunya, memperlihatkan cincin nikah yang saat ini dia pakai di jari manis sebelah kiri. "Dan aku menikah dengan anak yang membuat Ibu meninggal."
Tangan Ovin, dia tarik kembali dan masuk kedalam tumpukan di atas lututnya lagi.
"Awalnya aku benci, ternyata dia adalah anak yang waktu itu. Tapi... Kenapa sekarang aku tidak bisa membencinya? Ibu, kenapa aku punya hati yang membuat otakku jadi bodoh seperti ini? Dia yang buat Ibu sendirian disini, dia yang membuatku tidak memiliki keluarga yang utuh lagi, dan dia juga yang membuatku tidak bisa melihat wajah lebih banyak orang, ketimbang dia." Ovin menyentuh sepasang matanya yang sudah meneteskan air matanya.
Semua hal yang membuat Ovin haru jauh-jauh pergi ke pemakaman untuk menginjungi sang Ibu yang tidur sendirian, nasib yang membuatnya tidak bisa memiliki keluarga yang utuh, pikiran yang dilema karena terhasut suara hati, semua itu berasal dari satu orang saja.
Franz.
Semua akar dari keadaannya saat ini sebenarnya adalah karena pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Sudah berhasil menikahinya, membuat anak itu berada di genggamannya, tidak akan ada seorang pun yang akan bisa merebutnya, Ovin ingin sekali membuat banyak permaianan yang membuat Franz frustasi. Tapi semua itu sebenarnya membuat diri Ovin frustasi juga.
Dia sama sekali tidak bisa membencinya, ketika, "Ketika aku melihatnya berdiam diri sendirian sambil menatapi Bella itu, aku justru merasa kasihan. Karena aku tahu, Bella hanya memanfaatkan perasaannya Franz terhadapnya. Itu adalah salah satu aku tidak bisa membencinya dari sekian banyak alasan yang lain. " ucap Ovin lagi.
Bahkan ketika Ovin melihat punggung Franz pergi menjauh darinya dengan tatapan marah, sambil menggendong Bella yang licik seolah baru saja di jahati dan membuat perempuan itu tenggelam, sebenarnya ada satu dari tempat di hatinya yang merasa kasihan dengan keputusan Franz yang salah ambil tindakan.
"Hmm, tapi semuanya sudah berlalu. Mau sebanyak apapun dia menjahati aku, dia sebenarnya baik. Eh..Ibu, kenapa aku jadi berpikir dia baik? Apa mungkin karena kejadian yang kemarin? Entah apa yang aku lakukan, aku hanya ingat aku menjegal anak itu dengan kakiku sampai tubuhnya terjatuh, itu saja.
Tapi setelah aku sadar, aku sudah di atas tempat tidur lagi?
Tuh kan Ibu. Perasaan kalau menyukai seseorang itu tidak bisa di bawa untuk ikut berpikir rasional." Keluh Ovin, menyembunyikan wajahnya di dalam tumpukan tangannya.
WUSHHH.............
Waktu kian berlalu, dan Ovin sudah berada di sana selama lebih dari setengah jam.
Seakan tidak rela untuk kembali meninggalkan Ibunya sendirian di tempat itu, Ovin masih berjongkok sambil mengusap batu nisan itu dengan perasaan hampa.
Dia tentu saja merasa hampa, sebab Ibunya tidak bisa melihat anaknya yang saat ini sedang merenung di depan makamnya, sudah tumbuh lebih besar.
Beberapa daun terbang meninggalkan rantingnya, ia meliuk-liuk mengikuti arus angin yang datang dan dari jauh terlihat kilatan-kilatan awan hitam yang sudah mulai mendekat.
Menciptakan kesan dari pemakaman yang kian menjadi lebih horor.
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya Bu. Kapan-kapan aku akan datang mengunjungi Ibu lagi." tutur Ovin kepada batu nisan yang tidak bisa bicara itu.
Setelah Ovin meluapkan isi hatinya kepada makam ibunya, Ovin pun berdiri dan mendongak ke atas untuk melihat awan hitam yang kian bergerak menuju ke arahnya.
TES.
"............!" Tapi siapa yang akan menduga kalau antara awan hitam itu dan hujan justru hujannya yang sudah sampai dulu.
Rintikan kecil berubah menjadi besar, maka Ovin langsung berlari menuruni bukit kecil dan mencari gubuk untuk tempat dia berteduh.
Sesampainya di bawah gubuk kecil, Ovin sempat mengeluarkan handphone nya, dan saat melihatnya, rupanya sinyal di tempat saat ini Ovin berada, tidak memiliki jaringan sama sekali.
Dan yang lebih parahnya lagi selain tidak ada jaringan interne, yaitu kondisi handphone nya yang tiba-tiba saja mati.
'Yah......baterainya habis.' kutuk ovin saat melihat hanphone nya benar-benar mati. Dan yang tersisa di memorinya saat ini adalah saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. 'Aku sudah menduga akan hujan,untung aku membawa mantel.'
Ia memprediksinya sebab dalam seminggu terakhir sudah hujan 4 kali.
" Ternyata memang tidak ada sinyal, merepotkan. Sepertinya aku harus jalan kaki sendiri " Melihat gelang bracelet nya tidak menemukan sinyal jaringan untuk melakukan panggilan pada seseorang jadi dari pada diam menunggu di tengah kuburan, Ovin memutuskan memakai mantel hujan dan pergi dari situ.
Ia berjalan menuruni undakan tangga yang terbuat dari batu, ada kesan seram yang bisa membuat bulu kuduk merinding sekaligus berdiri, yaitu dingin, sepi, gelap, dan terpencil juga sangat hening. Seolah dirinya saat ini berada di dunia lain.
Perlu waktu 10 menit untuk keluar dari pemakan sebab tempatnya yang luas, ia akhirnya bisa berada di pinggir jalan namun tidak ada satu kendaraan pun yang lewat.
Memangnya siapa yang mau mengendarai lewat pemakaman besar da nterkesan menyeramkan seperti itu?
JDERRR.......
"............! " Ovin langsung jongkok dan menutup kedua telinganya, di pinggir jalan dan suasana juga sudah hampir gelap sebab dia takut dengan petir yang terasa dekat itu.
" Dia dimana? " gumam Franz sembari melirik ke arah kanan dan ke arah kiri.
Setelah perjalanan yang menghabisakan waktu lama, akhirnya Franz sampai di tempat tujuan sesuai dengan lokasi yang diberitahukan temannya itu.
Karena dalam perjalanan sudah hujan, jadi untuk berjaga-jaga juga kalau di tempat lain sama sama hujan, Franz sudah membeli payung.
Dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke gerbang menuju pemakaman.
" Kenapa aku yang harus mencarinya sendiri?"
rutuk Franz di tengah-tengah pemakaman, saat dia baru saja menyadari kebodohannya sebab dia mencari dengan kakinya sendiri untuk mencari satu orang perempuan saja. 'Padahal aku sebenarnya bisa menyuruh seseorang, tapi aku malah mencarinya sendiri seperti ini.'
Sekalipun pemakamannya bersih dan rapi, tapi hari juga sekarang sudah semakin malam biarpun ada lampu yang berbaris di tiap jalan setapak untuk menerangi jalan.
'Tidak mungkin jam segini dia masih disini. Sudah malam, ini....bulu kuduk ku sudah berdiri semua, dia sungguh membuatku ikut masuk dalam uji nyali ya?' Dingin, sunyi, hanya ada suara air hujan yang terdengar Franz.
Dia menyalakan senternya, dan akhirnya " Vin! Apa kamu masih disini?! " Teriak Franz.
Tetapi semakin ke dalam suasananya semakin suram dan menyeramkan, jadi dirinya memutuskan untuk kembali saja. Dipikirannya, karena hanya ada satu jalan utama dan tadi tidak ada satu kendaraan yang berpapasan dengannya maka prediksinya jika tidak ada di sekitar sini, Ovin berjalan sendiri dan dirinya tidak sengaja melewatkan orang di pinggiran.
'Perempuan ini berbeda dengan yang lain, dia orang yang akan bertindak yang menyesuaikan situasinya dengan cepat. Tidak mungkin dia melakukan hal bodoh dengan jal...bentar.....Dia kesini untuk memperingati makam Ibunya'. Franz menoleh ke belakang, diberitahu dari Fardan, bahwa makam Ibunya Ovin ini ada di atas bukit kecil tepat di bawah pohon. Jadi Franz sengaja menyorotkan sinar lampunya pada satu bukit yang tak jauh dengan tempat dirinya berdiri. " Tempatnya disana? "
Dari tempat dia berdiri saat ini, ketika angin besar tiba-tiba datang dan menerjang tubuhnya, di saat itu pula Franz melihat ada banyak kelopak bunga yang beterbangan, dan asalnya dari atas bukit itu.
Kelopak bunga yang akhirnya kembali jatuh karena mendapatkan beban dari air yang terus menerjang dengan cukup derasnya.
__ADS_1
'Disana? Ibunya dimakamkan?' Di saat yang sama Franz juga melihat adanya pita yang di ikat di ranting pohon tersebut. Entah kenapa jauh di dalam lubuk hatinya, ternyata terbesit rasa simpati, kalau rupanya Ibu dari istrinya itu sudah lama meninggal, bahkan lebih lama ketimbang Franz yang belum lama ini di tinggal pergi sang ayah.
Franz memutuskan balik ke mobil saja, dan mungkin bisa bertemu Ovin di jalan.
Sepatunya, dan sebagian celana panjangnya sudah basah sebab percikan air hujan, lalu dia segera berjalan menuju mobilnya.
" Dia membuatku kesusahan. " gerutu Franz, merasa tidak puas hati karena usahanya untuk pergi ke pemakaman yang cukup jauh ini benar-benar tidak membuahkan hasil sama sekali. " Aku pikir minta polisi saja untuk menemukan dia." sambungnya lagi, lalu ketika Franz hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ada....
BRUKK.....
Satu pelukan di belakang punggungnya dengan sepasang tangan yang sudah melingkar di pinggangnya itu, sukses membuat diri Franz menemui keterkejutannya, karena mengira di suasana horor itu, benar-benar ada hantu.
" Hei, kamu tahu siapa yang kau peluk? "Tukas Franz, dia tahu siapa yang saat ini ada di belakang punggungnya, dengan pelukan segenap kekuatan, seolah Franz sama sekali tidak diperbolehkan pergi.
Namun, satu pertanyaan itu tidak di sahut sama sekali oleh si tersangka. Karena itu, suasana di antara mereka berdua seketika menjadi hening lagi.
Hanya ada suara hujan yang mendarat di pohon yang penuh dengan dedaunan, lalu suara yang timbul sebab air hujan mendarat di atap mobilnya serta payung dan mantel hujan yang dikenakan orang yang ada di belakangnya.
ZRASSHHH........
ZRAASHHH....
Ada anggukan kecil di kepala si pemeluk sebagai tanda jawabannya.
" Kamu membuat bajuku bertambah basah. " peringat lagi Franz pada orang tersebut, tangan kirinya hendak menyingkirkan tangan yang melingkar ke pinggangnya namun justru pelukannya semakin erat.
Franz menutup matanya sekejap dan memberikannya kesempatan sedikit waktu untuk Ovin yang dimana, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuat perdebatan kecil.
Karena itu, Franz mencoba membiarkan perempuan yang ada di belakangnya itu menikmati pelukan yang dibuatnya sendiri.
Sampai dimana, tiba-tiba Ovin berbicara. " Kamu harus tanggung jawab." tutur Ovin.
".............! " Franz langsung membuka sepasang matanya.
" Tidak suka juga tidak apa, lakukan apa yang ingin kau lakukan, tapi jangan pernah meninggalkanku. " Pinta Ovin kepada Franz yang notaben nya adalah suaminya.
"Apa maksudnya sekalipun aku bisa selingkuh darimu?" Franz kemudian menunduk sambil mencoba melepaskan pelukan Ovin dari dirinya.
"Hmm. Aku tidak ingin kau meninggalkanku juga." Imbuhnya.
'Apa maksudya Ibunya?' Delik Franz. " Tapi apa kau tahu apa yang barusan kau ucapkan? Kalimat yang keluar dari mulutmu membuktikan bahwa pasti kau yang mengatur semua ini, menyuruh kedua orang tuaku untuk memaksaku membuat pilihan, agar kau bisa mendapatkanku.
Uang? Mobil? Rumah? Aku bisa memberikan semuanya padamu jika kekayaan lah yang kauu inginkan.
Asal kamu bicara pada ibuku bahwa kau ingin cerai, maka aku akan mengabulkan yang satu tadi, aku akan bersahabat denganmu, hanya sebatas teman. Setuju kan? " Kata Franz, menawarkan kesepakatan kepada Ovin.
"Kau memangnya tahu apa tentangku? Padahal sudah selama ini. Tapi kau sama sekali tidak mengerti. Ya..mana mungkin kau bisa mengerti yang aku rasakan." Ovin akhirnya berbicara panjang lebar.
"............"
"Aku tidak membutuhkan hartamu. Yang aku butuhkan hanya dirimu saja. Apa hal sepele seperti itu masih tidak bisa kau pahami?
Cinta membuat orang dalam seketika jadi bodoh. Dan apa kau tahu, orang itu adalah aku.
Entah kau punya perasaan yang sama atau tidak, aku tidak peduli, yang aku inginkan, kau tidak boleh meninggalkanku." Tekan Ovin, dengan cengkraman kedua tangan yang semakin mencengkram kuat seragam bagian depan Franz.
__ADS_1