Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Mencoreng wajah sendiri


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar, Chade bersama dengan Ovin, mereka berdua saat ini sedang berdua di dalam kamar tersebut.


Awalnya Chade berniat untuk membantu keponakannya itu untuk lepas dari obat yang sempat Ovin minum.


Tapi, ketika godaan dari keponakannya itu datang menghampirinya dengan penampilannya itu, dan Chade yang secara diam-diam sudah menyimpan obat penawarnya di dalam alat suntik, sebuah tawa kecil di susul dengan tatapan mata Ovin yang jenaka, membuat Chade terkesiap.


"Hehehe, siapa yang mau menggoda paman, aku ingin menggoda suamiku!" ucap Ovin, dia sudah bersedia untuk berjalan dengan begitu percaya dirinya untuk keluar dari kamar.


Ya, awalnya begitu, tapi sebagai seorang paman, mana mungkin Chade akan membiarkan anak didik sekaligus keponakannya itu mempermalukan dirinya sendiri?


"VIn, Vin, kau masih sadar kan?" Tanya Chade dengan wajah datar. Meskipun begitu dia tetap berusaha pada akal sehatnya untuk menangani keponkannya itu.


"Aku sadar kok." Jawab Ovin, dia tersenyum malu-malu dengan rona merah di pipi dan telinganya.


"Kau jelas tidak sadar." Tatap Chade.


"Aku sadar kok paman, aku hanya ingin membawa Franz itu agar bisa dekat denganku lagi seperti dua hari yang lalu." oceh Ovin.


"Apa? Dua hari yang lalu itu-"


"Saat aku tidak sengaja minum obat, dia malah datang kepadaku. Jadi aku ingin seperti ini, agar dia kembali datang kepadaku."


Chade terdiam, dia melihat Ovin sedang dalam masa ingin mendapatkan cintanya dengan cara seperti itu?


"Ovin, ini jelas salah. Ayo ke kamar mandi." Chade mencoba untuk membujuk Ovin pergi masuk kedalam kamar mandi agar segera membersihkan tubuhnya itu karena sudah jelas kalau air dalam kolam, pasti tidak higenis, jadi Chade yang merupakan orang yang cukup memperhatikan kebersihannya itu, berusaha untuk membuat Ovin masuk.


"Tidak mau, aku ingin di mandikan oleh Franz." rungut Ovin, dia ingin pergi dari kamar dan menyeret pria itu untuk ia bawa masuk kedalam kamar dan setidaknya bisa di mandikan oleh Franz.


'Anak ini, dia pasti salah minum obat. Dia seperti ini bukan karena obat perangsang, tapi obat yang membuatnya bisa mabuk. Ovin, kenapa kau malah minum obat seperti itu? Padahal jika memang anak itu pada dasarnya suka, tidak usah pakai menggodanya, juga dia akan suka sendiri.


Tapi anak ini, terlalu bekerja keras untuk membuat Franz terjerat dengannya, dan ujung-ujungnya yang susah anak ini juga.

__ADS_1


Apa kau tidak lelah? Kau bahkan kelihatan tidak di urus dengan baik oleh dia.' Pikir Chade, dia sebenarnya merasa kasihan dengan keponakannya itu, sebab Ovin terus saja membuat kebodohan untuk sekedar membuat Franz bersimpati ataupun khawatir dengannya.


Lalu tanpa di cari-cari, Chade pun melihat ada satu pil yang tergeletak di bawah sebuah kotak tisu.


Ketika di ambil, Chade pun akhirnya tahu itu memang obat yang bisa membuat orang mabuk. Sebab, jika memang itu adalah obat perangsang, maka Ovin seharusnya merasa lemas, setidaknya itu dan suhunya lebih tinggi dan punya gairah akan menerkam pria yang dirasa mampu untuk memuaskannya.


Bahkan Chade sekalipun, Ovin seharusnya bisa salah pilih. Tapi ini? Ovin masih mampu untuk mengenalinya, dan terus saja membuat pilihan bahwa Franz lah yang seharusnya di sini dan membantunya mandi.


Namun, Ovin? Dia sama sekali tidak memiliki keinginan itu selain bicara dengan sangat jujur, dan itu adalah kebiasaan Ovin saat mabuk, yaitu akan bicara apa adanya.


"Aku mau pergi ketemu Franz." Pinta Ovin, tiba-tiba saja begitu ingin sekali bertemu dan membuatnya ada di sisinya, sekaligus memperlihatkan kau dirinya saat ini sedang ada dalam masalah seperti waktu itu.


"Tidak, jika kau melakukannya, yang ada kau akan semakin di benci." Kata Chade, membuat Ovin akhirnya diam dan berpikir sejenak. "Kau harus tahu, pria tidak suka jika wanita menggunakan taktik untuk menjebaknya, salah satunya Franz, anak itu, jika kau melakukan ini kepadanya, yang ada dia justru semakin tidak suka denganmu." Papar Chade.


"Benci?" Tanya Ovin balik. Awalnya Ovin terdiam tidak begitu banyak ulah, tapi tidak lama kemudian dia malah tiba-tiba saja tertawa cekikikan. "Kalau begitu paman saja yang memandikanku."


Ovin pun memeluk tubuh Chade yang pada dasarnya saat ini hanya memakai jubah mandi saja, sebab pakaiannya basah, dan kamar yang Chade tinggali bukan kamar itu tapi di kamar yang letaknya di ujung lorong.


Bagaimanapun batas tetap saja memiliki batasan yang tidak boleh Chade langgar sendiri, itulah yang ada pada dirinya.


Maka dari itu, demi membuat Ovin tenang, Chade pun mengganti obatnya dengan obat bius.


Ovin yang awalnya melamun melihat wajah pamannya yang rupawan itu lagi-lagi mendekat, dan mengira kalau pamannya itu akan memeluknya atau apa, ternyata itu adalah kedok untuk membuat Chade merasa mudah untuk menyuntikkan obat bius di salah satu lengannya Ovin, hingga akhirnya hal itu membuat Ovin perlahan pingsan.


"P-paman? Kenapa wajahmu tiba-tiba jelek?"


"Bukan jelek, kau semakin tidak bisa melihat wajahku." Balas Chade saat itu juga, karena ia merasa tersinggung untuk pertama kalinya Ovin mengatakan wajahnya (Chade) jelek, padahal selama ini gadis ini selalu saja memujinya.


"Jelek." Lirih Ovin, dan tidak lama kemudian kedua kakinya pun jadi lemas dan pingsan.


BRUK.

__ADS_1


Sebelum Ovin jatuh, Chade pun menahan tubuh itu dan sengaja membuat tubuh Ovin masuk kedalam pelukannya.


"'Ovin, kau ini ada-ada saja. Sampai sembarangan minta obat kepada orang lain, kau memang benar-benar harus di awasi." Gumam Chade sambil menatap kepala Ovin yang ada di depan dadanya persis.


___________


"Uhmm." perlahan kelopak matanya yang sedari tertutup itu terbuka. 'Apa yang terjadi kepadaku? Rasa ngantuk ini, ini perasaan dari pengaruh obat tidur.


Jangan-jangan paman membuatku pingsan?' Pikir Ovin. Meskipun ia tidak ingat dengan apa yang ia katakan, tapi Ovin tetap ingat dengan perilaku serta tingkahnya sendiri yang nyatanya berhasil mempermalukan dirinya sendiri dengan berulah dan hampir saja benar-benar menggoda pamannya sendiri.


Mengingat kenyataan dari ingatan miliknya sendiri, Ovin jadi muram dan menutup wajahnya sendiri dengan perasaan malu.


'Hahh~ Ini memalukan, kenapa aku malah tiba-tiba ingin meminum obat? Ya, saking penasarannya aku pada obat perangsan, aku sampai benar-benar memesan obat itu pada paman Ethan.


Tapi ternyata paman malah memberikanku obat mabuk. Padahal belum lama ketemu, tapi bisa-bisanya aku meminta itu kepada pamanku sendiri?' Ovin yang sepenuhnya sudah sadar dari pengaruh obat tidurnya, sekarang saatnya untuk merenungi apa yang menjadi kesalahannya. 'Dan paman Chade! Aku sempat menggodanya! Akhh! Kira-kira apa kesan paman kepadaku nanti ya? Jangan bilang paman juga akan menganggapku seperti perempuan ja*ang.'


Maka dari itu, dia pun sama sekali seperti sudah tidak punya wajah untuk menghadapi paman pertamanya juga paman keduanya.


Dalam waktu yang singkat, dia berhasil mencoreng wajahnya sendiri di depan kedua pamannya itu.


'Aku malu.' Pikir Ovin.


______________


Sedangkan di dalam sebuah rumah, seorang pria dan seorang anak kecil yang sedang berlari ke sana dan ke sini, tengah tersenyum juga tertawa.


Jika Ethan tengah tersenyum, maka tidak dengan Kelvin, dia malah tertawa bahagia sambil berlari seperti setrika.


"Yey! Akhirnya aku pulang! Hahahaaha! Seharusnya Ayah membawaku pulang ke rumah. Ini jauh lebih baik ketimbang rumah kita yang ada di perancis. Yuhu! Ada kolam renangnya pula. Kira-kira ib- maksudku kak Ovin, apakah dia akan tinggal di sini juga?" Tanya Kelvin.


Setelah berbicara panjang lebar, anak ini pun langsung memeluk salah satu kaki ayahnya itu untuk di gendong. Tapi bukan di gendong biasa, melainkan di atas bahu sang Ayah.

__ADS_1


__ADS_2