
‘Dia benar-benar marah. Sampai Sean langsung jatuh seperti itu. Apakah karena auranya begitu kuat, makannya Sean tidak bisa berdiri dengan benar?’ Pikir ovin.
Saat ini dia mencoba untuk mengintip. Dia sama sekali belum berpakaian dengan benar, tapi dia hanya mengandalkan kepalanya untuk melihat apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang pria di depan sana.
‘Tapi kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Franz kepada Sean ya?’ Hanya saja di tengah-tengah dirinya sedang mencoba mengintip sekaligus menguping, dia langsung di tatap oleh Franz yang bahkan sama sekali belum mengancingkan baju seragamnya.
Membuat diri Ovin, semakin memasukkan kembali sedikit kepalanya ke celah pintu, sehingga saat ini yang ada hanya kedua mata dan ujung kepalanya saja yang terlihat.
‘Dia yang sedang mengancam Sean seperti itu, kenapa jadi terlihat seperti preman ya? Tapi kenapa dia tidak mengancingkan bajunya? Lalu tangan itu-’ Ovin semakin mengernyitkan matanya saat melihat tangan kanan Franz yang awalnya digunakan untuk bermain di salah satu asetnya, kini malah jadi digunakan untuk mencengkram bahu Sean sekuat itu. ‘Aku masih bisa merasakannya. Tangannya yang hangat itu, memegang punyaku.’
Karena merasa risih ditatap sengit oleh Franz yang sudah jelas sedang diselimuti rasa kesal yang kembali datang setelah perbuatan dari Fardan, pamannya sendiri, Ovin memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya.
Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit dari kamarnya itu.
Memejamkan matanya, dia pun meletakkan tangan kanannya di atas dadanya. Semua perasaan hangat menuju rasa panas itu masih bisa Ovin rasakan dengan jelas.
Bahkan untuk air liur yang sempat keluar dari rasa mulutnya itu, adalah sisa dari miliknya Franz. Ovin jadi menjilat bibirnya sendiri dan mencoba membayangkan apa yang terjadi jika apa yang tadi dirinya lakukan dengan Franz bisa terus berlanjut tanpa ada gangguan?
‘Pasti menyenangkan.’ Pikirnya. Dia mengangkat tangan kirinya, seakan dia sedang meraih wajah tampan milik Franz itu. Meraih wajah dan menariknya agar kembali mendekap tubuhnya dalam kungkungan dari tubuh Franz itu. ‘Hahh~ Gagal lagi. Tapi setidaknya hari ini hasilnya tidak begitu buruk. Walaupun aku jadi punya PR, gara-gara mobilku ditabrak olehnya.’
Alhasil, Ovin yang hanya berimajinasi dengan khayalannya, membuat dia hanya bisa memeluk angin kosong saja.
‘Semoga saja ada kesempatan lain lagi.’ Benak hati Ovin, kemudian memilih untuk langsung tidur dengan Blazer milik Franz masih dia pakai.
Dia melakukannya agar aroma yang tertinggal di kulit serta blazer itu tidak cepat-cepat menghilang.
Ovin hanya ingin mengulas apa yang baru terjadi dan kira-kira apa yang akan terjadi.
_________________
Esok harinya.
Setelah kejadian di mana Fardan berhasil Franz usir, serta membuat perhitungan dengan Sean yang tiba-tiba masuk kedalam rumahnya dan mengacaukan rencana dua orang yang akan melakukan hal lebih itu, Franz pun kembali seperti biasa.
Dia berangkat sekolah hanya untuk membersihkan waktunya sendiri ketimbang di rumah saja dan mengingat apa yang terjadi malam tadi dengan Istrinya itu.
Sesuatu yang akan membawa mereka menuju jalan yang benar, tapi terganggu dengan segala gangguan yang datang tanpa sebuah rencana.
Dan sama hal nya dengan Franz, Ovin pun berusaha untuk bersikap biasa, dan melakukan rutinitasnya sebagai siswi sekolah.
Akan tetapi, karena Ovin tidak mau berada di dalam kelas mendapatkan segala tatapan mata suka dan terpaksa suka, dia memilih untuk pergi ke perpustakaan.
“Minggir, kau menghalangi jalan.” Sindir satu orang wanita dari kelas A, baru saja meminjam buku dan karena kebetulan berpapasan dengan Ovin di pintu, wajah kesalnya pun jadi seperti sebuah pelampiasan untuk Ovin sendiri.
Ovin dengan menurut untuk memberikannya jalan. ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Tidak mau tahu dalam urusan permasalahannya, meskipun penasaran, Ovin masuk kedalam gedung perpustakaan.
Dan Ovin perg ke perpustakaan untuk mengisi waktu luangnya dengan membaca?
Tidak, sebenarnya Ovin hanya ingin pergi ke tempat yang punya suasana hening. Dan perpustakaan yang memiliki aturan untuk jangan berisik adalah syarat yang pas untuk menjadi markas?
Ya, markas untuk merenung dan mengulas pengalamannya kemarin malam.
‘Hehehe…..’ Karena saking senangnya, Ovin pun tiba-tiba tersenyum sendiri, seperti seseorang yang sedang merencanakan sesuatu yang licik.
__ADS_1
Sebagai perempuan dengan imajinasi yang besar, dia pun jadi lebih suka menyendiri. Apalagi setelah kejadian yang terakhir kali, dia akhirnya tidak mendapatkan ancaman apapun lagi.
‘Lima tahun. Hmm …, semoga lima tahun itu akan berjalan lama.’ Ovin mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda setuju.
Dia benar-benar ingin menikmati waktunya sebagai seorang murid sekolah, maupun sebagai Istri?
“Hmmm…” Kebahagiaan yang sedang melanda hatinya itu pun berhasil menarik perhatian semua orang yang ada di dalam perpustakaan.
“Dia kenapa?” Bisik orang pertama.
“Yah …, dia kan sepupu dari Tuan muda Franz, pasti ada sesuatu diantara mereka berdua saat bersama. Itukan bisa terjadi.” Sahut orang kedua.
“Eh, benar juga. Pasti menyenangkan, bisa lihat wajah Tuan muda setiap hari.”
“Hmm .., aku pun juga iri.”
Bisikan demi biskan keluar dari mulut mereka yang melihat reaksi dari Ovin yang memang sedang bahagia.
Lalu kebahagaan itu sendiri memang sungguh benar, dia memang ada sesuatu dengan Franz, bahkan melebihi hubungan sepupu, karena mereka berdua adalah dua orang yang sudah dinikahkan, makannya bisa tinggal bersama, dan Franz sendiri membuat dalih yang tidak bisa di tantang oleh semua orang.
Itulah asal usul dari dirinya yang kini tidak lagi mendapatkan usikan dari perempuan lain, karena tidak ada yang berani untuk membuat perkara dengannya.
Tapi di tengah-tengah Ovin sedang berjalan untuk pergi ke lantai dua, dia tiba-tiba saja mendengar adanya pertengkaran yang di lakukan tepat di lantai dua.
BRUKK…
Suara buku yang terjatuh itu berhasil mengalihkan perhatian banyak orang dari yang pertama adalah Ovin, kini perhatian mereka semua tertuju tepat di lantai dua, dimana ada dua perempuan sedang bertukar pandang, tapi salah satu diantara mereka berdua, justru menatap sengit lawan pandangnya itu.
“Dengar, apa kau pikir kau secantik itu sampai merebut pacarku?!”
“Kau pikir aku akan percaya dengan mulut baumu itu ha? Gara-gara kau, dia jadi mengabaikanku.” tegas murid perempuan berambut coklat yang di kuncir satu ini.
Dia sedang melabrak adik kelasnya yang di tuding sudah merebut pacarnya.
“Kau harusnya tidak ada disini. Kau adalah kuman, sama seperti anak baru yang di akui sepupunya Franz itu, kalian itu adalah pengganggu. Keluar dari sekolah ini, atau kau akan mendapatkan siksaan lebih dari ini!” Dorong perempuan berambut coklat ini kepada adik kelasnya yang sudah ketakutan.
“Tapi aku benar-benar tidak merebut pacar kakak, dan kenapa kami yang dapat beasiswa disini terus saja di sebut kuman? Itu namanya pen-”
“Berisik! Kau tidak ada hak untuk protes! Statusmu yang rendah itu tetap saja rendah! Dan sekolah ini bukanlah tempat penampungan orang-orang miskin sepertimu hanya karena dapat beasiswa!” Hardik perempuan ini lagi, terus berjalan ke arah depan, sehingga adik kelas yang sudah mulai gemetar dan ketakutan itu otomatis berjalan mundur.
“K-kalau aku keluar, na-” Bibirnya gemetar, dan suaranya yang gemetar itu membuat perempuan ini benar-benar tiba bisa bicara dengan benar.
Lalu perempuan ini langsung menyela nya dengan cepat. “Nanti apa?! Tidak akan ada orang yang mau peduli untuk bersimpati pada perempuan miskin sepertimu! Dan mulai sekarang kau harus pergi jauh dari pacarku!”
Semakin perempuan berambut coklat itu berjalan ke depan, ketakutan yang ada pada sang adik kelas itu membuat kakinya terus melangkah mundur saking takutnya.
“Oh, pantas saja, padahal dia yang biasanya kalau berangkat, istirahat dan pulang sekolah, dia pasti akan terus bersama pacarnya, tiba-tiba pacarnya mendekati adik kelasnya, aku pikir karena mereka berdua sudah putus, ternyata anak baru itu yang merebut pacar dari kakak kelasnya.”
“Wah… bukankah itu sungguh keterlaluan. Cantik tidak, tapi bisa ya… merebut pacar dari kakak kelasnya sendiri.”
“Itu benar-benar memalukan.”
Hinaan demi hinaan, kembali keluar dari mulut mereka semua yang suka dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar tanpa mengetahui fakta itu sendiri.
__ADS_1
Mendengar dirinya menjadi bahan pembicaraan juga untuk mereka, semakin marahlah dia, dan benar-benar ingin meenghapus keberadaan dari adik kelas yang menyebalkan itu.
Matanya kembali melotot, bola mata yang seperti hendak keluar dari sana, langsung membuat pertengkaran diantara mereka berdua bertambah runyam saat tangan dari perempuan berambut coklat itu akhirnya terangkat untuk menampar wajah dari adik kelasnya itu.
“Kelihatannya lebih bagus jika aku merusak wajahmu itu!” Pesan terakhir sebelum tamparan itu mendarat di wajah dari adik kelasnya dengan sangat keras.
PLAK…
Dan tamparan yang begitu kuat itu secara otomati membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.
“Hahaha….rasakan itu, pasti sangat sakit.” Banyak yang menikmati pemandangan itu karena dirasa menarik.
“Tentu saja sakit.” Yang lainnya juga mendukung perbuatan dari rekan kelasnya itu, karena akhirnya bisa melampiaskan amarah di depan orang dan membuat pertunjukkan menjadi semakin menarik.
Tapi tidak dengan Ovin. ‘Kenapa aku tiba-tiba di bawa juga ya?’ Pikir ovin.
“Masih kurang itu, ayo tampar lagi Dina! Karena dia, kau gagal kencan kan kemarin?”
Terpancing dengan provokasi dari salah satu temannya itu, perempuan tersebut pun kembali melayangkan tamparannya.
“Yang tadi untuk peringatan agar kau tidak dekat-dekat dengan pacarku lagi, dan yang ini sebagai balasanku, karena kemarin aku gagal kencan.” Lalu satu tamparan lagi mendarat di pipi kiri adik kelasnya.
PLAK…
“Akhw, kenapa …, aku mendapatkan hal seperti ini?” Rasa sakit kembali datang, telinganya langsung berdengung, dan pikirannya pun menjadi kacau setelah tubuhnya merasakan rasa takut yang sangat mendalam karena di labrak, hingga tubuh yang sudah gemetar itu, tak kuasa untuk menahan keseimbangan tubuhnya, sampai salah satu kakinya tidak sengaja tersandung karena kakinya sendiri.
Dan akhirnya, tubuhnya pun terhuyung juga ke belakang dan melewati pagar pembatas.
“A-ahh!” Terkejut dengan tubuhnya yang sudah berada di ambang pagar pembatas, suaranya pun tidak sampai untuk sekedar berteriak minta tolong. “Kyyaa!”
Semua orang yang ada di dalam perpustakaan langsung menjadi riuh saat melihat adik kelas yang sedang di labrak oleh Dina, keluar dari pagar pembatas.
“D-Dina! Dia jatuh!” Teriak salah satu diantara mereka.
‘Apa?!’ Sehingga teriakan itu langsung menyadarkan Dina yang sudah balik badan itu, untuk menoleh ke belakang. ‘Dia, jatuh-’
Ovin yang juga menjadi saksi dari pertengkaran tersebut, refleks saja dia melangkah kakinya ke depan, dan berakhir dengan berlari.
‘Apakah sekolah ini akan jadi tempat neraka untuk orang yang benar-benar ingin belajar?’ Pikir Ovin.
Dia berlari kencang, melompat ke atas kursi dan naik ke atas meja, sampai kakinya itu hampir saja menginjak buku yang tergeletak di atas meja belajar.
Tapi karena dia bukanlah orang yang rabun, dia bisa menghindari buku yang ada di atas meja, dan melanjutkannya untuk terus berlari menghampiri adik kelas itu.
“Eh..!”
“Ah..!”
“Ih.. apa yang di lakukan mata empat?”
Semua orang juga jadi terkejut dengan tindakan Ovin yang tiba-tiba menyerobot berlari lewat meja.
“Kyaaa…!”
__ADS_1
Dan tepat di meja terakhir, Ovin pun langsung melompat tinggi, merentangkan kedua tangannya ke depan, sampai akhirnya …
BRUKK….