
"Aku mau pulang. " jawab Ovin dengan ketus.
".........? Apa maksudmu? Kapal ini saja sedang dalam perjalanan pulang. " terheran karena jawabannya hanya ingin pulang, padahal mereka semua dan termasuk kapal ini sedang dalam posisi perjalanan pulang. "Lagi pula kenapa kau terlihat buru-buru seperti itu? Apa kau baru saja bertengkar dengan seseorang?"
"Ini kan bukan urusannya bapak, kenapa tanya?" balas Ovin, membuat pak Rouwis langsung tercengang dengan penuturannya Ovin yang begitu galak dan terkesan cuek.
Padahal yang jadi lawan bicaranya adalah seorang guru, tapi Ovin, dia bahkan menjawabnya dengan tidak begitu sopan.
"Tapi jika memang bapak ingin tahu aku sedang bertengkar karena apa, le- " belum sempat menjawab sepenuhnya, ada satu keluh kesah dari seseorang yang tiba-tiba saja berteriak dan asalnya dari belakang mereka berdua.
"Pak...! tolong! Reno pingsan!" teriak salah satu perempuan yang kini tengah menahan kepala Reno dari pada tergeletak di lantai.
Melihat Reno pingsan dan sekarang berhasil menjadi pengalih pusat perhatian yang sebelumnya tertuju kepada Ovin, seketika Pak Rouwis segera berlari menuju anak muridnya yang pingsan itu dengan cepat sambil bertanya kepada perempuan yang baru saja berteriak itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa Reni bisa pingsan seperti ini?!"
Pak Rouwis yang bertanya dengan nada sedikit tinggi, sukses besar membuat sebagian besar orang yang ada di sana, yang tadinya begitu riuh dengan suara DJ yang cukup keras, jadi sangat hening selain suara angin dan ombak kecil yang menerjang lambung kapal.
"T-tidak tahu, tadi Reno cuma minum wine ini dan sekarang tiba-tiba dia jadi pingsan." jawab Siren, dialah perempuan yang tadi berteriak keras meminta pertolongan kepada pak Rouwis, dan sekarang di kedua tangannya ada dua gelas wine.
Yang satu miliknya Siren dan yang satu lagi milik dari Reno, karena ia berhasil menahan gelas itu sebelum menjatuhkannya.
Namun, begitu mendengar kesaksian dari Siren barusan, pak Rouwis seketika langsung bertanya lagi kepada Siren dengan nada tinggi. " Apa kamu menawarkan Reno Wine?!" tuding Pak Rouwis kepada Siren
" Sa-saya~ " Siren sontak jadi takut melihat wajah marah dari Pak Rouwis. "Iya, saya yang menawarkan Reno wine ini untuknya." Jawab Siren dengan jujur.
Dia pasrah saja dengan fakta, sebab mau di membuat alasan apapun, ujung-ujungnya Siren juga yang salah, gara-gara ia memang memberikan Reno minuman anggur merah tersebut kepadanya.
Dan tentu saja, hasil dari pak Rouwis yang membentak Siren, berhasil menyita perhatian mereka semua.
"Padahal hanya minum wine, tapi kenapa bisa pingsan seperti itu?"
"Ada kemungkinan Reno tidak kuat minum wine yang berakohol."
"Aneh saja, kenapa laki-laki tidak bisa minum alkohol?"
Bisikan demi bisikan menyelimuti suasana tegang itu.
Sejujurnya, Reno adalah anak semata wayangnya pak Rouwis, dan hal yang paling pantang untuk Reno lakukan adalah meminum wine, itulah yang seharusnya di hindari oleh Reno.
Karena jika minum, maka hasilnya akan berbahaya.
Namun, malam ini sama seperti petaka untuk Reno sendiri. Dan menyatakan kalau minuman berakohol sama saja dengan air racun untuk tubuh Reno.
"Siren, apa kau tidak tahu?!" Tanya pak Rouwis, dia menatap wajah anaknya yang sudah memiliki ruam di kulit wajahnya. "Reno itu alergi wine dan kamu malah menawarinya minum?!" bentaknya.
"M-maaf, pak, saya tidak tahu," jawab Siren, dia pun jadi merasa cukup bersalah dengan tindakannya itu.
Pak Rouwis pun jadi bersalah juga, karena membentak Siren yang langsung menggigil ketakutan.
Dia tidak berniat untuk memarahinya sampai seperti itu, dia hanya ngin memberitahu kepada Siren saja.
Tapi, emosi membuatnya demikian.
"Kalau memang iya kau ingin menawarinya, kau seharusnya tanya, bisa tidak minum alkohol, bukan hanya memberikannya tantangan dan memaksa orang minum." Imbuh pak Rouwis, menyadarkan sebagian orang yang mendengar ucapannya tadi.
Dan Siren, jadi bertambah was-was, khawatir serta kepanikan yang amat mendalam.
"Ma..maaf pak! S-Saya tidak tahu. Karena Reno saja, tidak menolaknya." Ucap Siren, memberikan alasan yang memang juga sebuah fakta pula. "Makannya, aku pikir iut akan baik-baik saja pada Reno," imbuhnya.
Dan pak Rouwis pun menjawab : "Dia tidak menolak pemberian orang lain, tentu saja karena dia juga segan menolak minumanmu karena dia tidak mau terlihat melihatkan kelemahannya kepadamu!" Jelas Pak Rouwis, membuat mereka semua terkejut.
"Tidak semua tubuh punya kekebalan yang sama-" sela Ovin, menarik sebagian besar dari mereka semakin berpikir jernih. "Lagi pula, manusia saja tidak ada yang sempurna." imbuhnya.
__ADS_1
Setelah itu, pak Rouwis langsung menggendong Reni di punggungnya.
Sebelum pergi, dia melirik ke arah semua murid-muridnya yang masih menatap ke arahnya.
"Dengar, jika kalian memang punya kepala dengan otak yang masih bisa di pakai, aku beritahu, jika kalian ingin memberikan minum alkohol pada orang lain, sebaiknya tanya, ada pantangannya atau tidak.
Tapi jika kalian bahkan sampai memaksa untuk orang itu minum, padahal jelas menolaknya, maka kalian sama saja dengan seorang yang bisa menjadi tersangka kejahatan.
Jika ada yang senasib dengan Reno, yang tidak bisa minum alkohol, orang itu bisa di ancam hukuman penjara, karena ini juga menyangkut keselamatan.
Jadi Siren, karena kau sudah tahu, aku pikir kalian berdua harus putus hubungan dengan anakku.
Aku tidak ingin kecerobohanmu itu malah membahayakan kehidupan dari Reno." beber pak Rouwis panjang lebar.
Kebenarannya memang betul, bahwa Reno adalah anak baik dan tidak memperlihatkan kelemahannya di mata teman-temannya.
Sehingga ada kalanya seseorang terpaksa menerima pemberian orang lain padahal dirinya itu memiliki pantangan dengan hal itu, seperti yang sekarang dialami Reno.
" Dia tidak tahu? Padahal duduk di sebelahnya."
" Apa dia mau membunuh teman sekelasnya?"
"Ternyata Siren seperti itu ya? Hanya bangga pada hubungan status pacarannya saja dengan Reno, tapi dia bahkan sama sekali tidak menaruh perhatian lebih kepada Reno."
"Ah Reno, dia kasihan sekali. Padahal dia di sini juga karena ingin bersenang-senang, tapi akhirnya malah kena sial seperti itu."
"'Semoga saja Reno tidak kenapa-kenapa."
Mulailah bisikan membisik apa yang sedang terjadi antara Reno dan Siren juga pak Rouwis, berhasil menjadi topik utama di sana, mengalahkan posisi dari Ovin yang mau kabur dari sana.
"DIAM! Tidak usah membahasnya lagi! Lanjutkan pesta kalian, Reno akan aku bawa pergi ke rumah sakit sekarang." Teriak Pak Rouwis, membuat mereka semua terdiam dalam hitungan detik.
"Ayo pak, bawa Reno pergi." pujuk Ovin pada Pak Rouwis. "Sebelum, terlambat." padahal kata itu di tunjukkan untuk dirinya sendiri sebelum pria yang sedang ia musuhi mendatanginya.
Tapi di satu sisi, ucapannya juga terdengar seperti di tunjukkan untuk ayah dan anak itu.
Ia tahu kalau di dek paling atas ada sebuah helikopter.
Namun, pilot yang membawa helikopter ini kebetulan baru saja masuk kedalam kapal untuk melakukan ritualnya sendiri dan beristirahat di dalam kabin kapal. Dan Pak Rouwis tidak memiliki nomor yang bisa menghubungi pilot tersebut.
Wajah pucat dan ruam merah sudah terlihat di wajahnya Reno, sudah jelas sekali Reno memiliki alergi pada Wine.
Hanya saja, semua sindiran yang selama ini mengganggunya, seakan dia tidak bisa apa-apa, langsung Ovin jawab dengan bangga.
"Aku bisa apa, setidaknya aku berguna untuk situasi di saat mendesak seperti ini."
Selagi mengangkat kopernya dan berjalan menaiki undakan tangga, Ovin pun pergi menuju sebuah helikopter berwarna hitam yang sedang nganggur itu.
"Dan Siren, sebaiknya kamu tanggung jawab. Ikut kita sekarang juga," imbuh Ovin, menunjuk Siren untuk ikut bersama dengannya juga.
Siren merasa tersindir di perintah oleh gadis si mata empat itu, perempuan yang biasanya di bully kini hanya bisa di tatap dengan kebencian.
Pasalnya Franz mengumumkan kalau perempuan itu adalah sepupunya atau apalah, Siren agak tidak peduli hubungan antara Ovin dengan Franz, tapi ia tetap saja belum menerima tentang keberadaan dari Ovin itu sendiri.
Pak Rouwis yang sedang kalang kabut dengan situasinya yang cukup darurat itu, hanya mau menurutinya saja, mengikuti Ovin dari belakang dan diikuti Siren yang tidak mau mendengar hujatan teman kelasnya gara-gara hal Reno.
'Sebentar, kenapa dia pergi ke atap? Apa maksudnya dia mau menggunakan helikopter? Tapi bahkan pilotnya saja sedang istirahat.' kepalanya Pak Rouwis dipenuhi tanda tanya.
Melangkahi 18 undakan tangga, akhirnya terlihat sudah sebuah kendaraan yang bisa terbang.
"Hei mata empat, apa kita mau naik itu?" akhirnya Siren bertanya seraya jari telunjuknya menunjuk ke depan, 10 meter dari dirinya berdiri terdapat sebuah helikopter berwarna hitam.
Tapi Ovin yang mengabaikan penuturan dari pertanyaannya Siren itu, sesaat Ovin hanya diam saja dan menghampiri helikopter tersebut, dan begitu sudah sampai di depan pintu helikopter, Ovin membuka pintu itu dan meletakkan kopernya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Memangnya mau pakai apa lagi? Cepat masuk sebelum telat." Perintah Ovin, lalu turun dari heli dan pindah ke masuk kedalam helikopter lewat pintu samping kanan bagian depan. "Kau kan juga harus tanggung jawab atas apa yang kau lakukan kepada Reno."
DEG ...
Ucapannya tidak salah, tapi jujur saja Siren cukup takut.
Ovin berbeda dari yang biasanya, itulah yang menjadi masalah untuk Siren, seolah kalau gadis yang ada di depannya itu, adalah orang yang berbeda.
"Ti..tidak. Kau gila ya? Apa kau yang mau mengendarai helikopter itu?!" Siren ragu dan apalagi Pak Rouwis.
Ovin melirik sedikit ke bawah, sudah ada orang yang sedang dibencinya mulai berlari mendekat.
'Kakinya panjang juga ya? Dia bahkan bisa cepat sampai ke sini. Aku harus segera pergi. Kalau bisa, aku akan menyeret Siren ini untuk masuk ke helikopter.' pikir Ovin, tatapan matanya yang cukup dingin, sontak langsung memberikan indikasi ancaman yang cukup nyata kepada Siren.
'K-kenapa dia menatapku seperti itu?' Siren benar-benar takut dengan tatapan matanya Ovin.
Karena sudah kepepet dengan keberadaan dari seseorang yang sedang mendekat, Ovin pun menjawab : "Sudah tidak ada waktu lagi! Sekali-kali percaya padaku kenapa?! Cepat masuk, aku tidak mungkin membuat kalian mati di tanganku!" akhirnya Ovin pula yang berteriak.
"Baik, bapak akan percaya padamu." karena Pak Rouwis melihat Ovin merasa percaya diri duduk di depan, berarti dia memang benar-benar bisa.
"Kau cepat masuk!" kini dirinya pula yang memerintah Siren untuk cepat masuk ke dalam Helikopter.
Mereka berdua pun berjalan cepat, dan Pak Rouwis yang sedang menggendong anaknya, cepat-cepat membawa anaknya itu masuk ke dalam helikopter dan di bantu oleh Siren.
Sesaat hendak menutup pintu, tangannya terhenti ketika melihat Franz berlari mendekat.
"Tapi Franz itu-" kata-kata Siren langsung di potong.
"Maaf, tapi jangan pedulikan dia." tutur Ovin dengan sopan. Setidaknya hanya untuk kali itu saja.
Melihat bahwa Ovin dan Franz seperti sedang bertengkar karena sesuatu, pak Rouwis dan Siren tidak berani bertanya lebih lanjut.
Dan Pak Rouwis segera menutup pintu helikopter, sampai di mana baling-baling helikopter akhirnya terus berputar semakin cepat dan lebih cepat lagi.
SWOSHH......
SWOSHH.......
SWOSHH......
Perlahan tapi pasti, helikopter mulai naik ke atas.
"Vin!"' teriak Franz dengan lantang, tanpa menghiraukan banyak mata yang sedang memandangnya.
Tapi Ovin sama sekali tidak menghiraukan teriakannya Franz.
"Apa yang sedang kalian perdebatkan?" tanya Siren, penasaran.
"Apakah itu pertanyaan yang harus aku jawab?" tanya balik Ovin, berhasil membungkam mulut Siren.
'Apa yang membuat mereka berdua bertengkar? Sayangnya dia bahkan tidak mau menjawab pertanyaanku.' batin Siren, dia hanya bisa diam sambil menatap jarak diantara mereka dengan kapal, akhirnya semakin menjauh.
Sedangkan Franz, dia sungguh sudah terlambat.
"Hah?! Ovin, dia sebegitu marahnya padaku sampai bisa mengendarai helikopter?' pikir Franz tat kala nafasnya masih memburu habis lari cepat, namun tidak membuahkan hasil yang bagus. "Arggh! Sialan, aku akan mencarimu sampai dapat!" pekik Franz dengan penyesalan yang cukup mendalam.
Sebenarnya ada satu helikopter lagi di kapal, tetapi karena sedang di perbaiki, Franz pun tidak bisa melakukan apapun.
"Kira-kira ada apa ya, kenapa Franz sampai berteriak seperti itu?"
"Sepertinya ada masalah serius diantara mereka berdua, tuh?"
"Aku baru melihat Franz begitu marah seperti itu. Sebaiknya kita jangan ganggu dia dulu deh, atau kita akan kena imbasnya,"
__ADS_1
Ucap mereka satu per satu.
Pada akhirnya, pesta yang tadinya cukup meriah namun sempat tertunda karena ada insiden, kembali dimeriahkan lagi.