
Jordy kembali melakukan pertolongan pertama yaitu CPR. Dia sudah bertekad untuk melakukan nafas buatan agar busa cepat mengeluarkan air yang sempat masuk ke dalam paru-parunya.
Jordy mulai mendekatkan wajahnya, deru nafasnya mulai terdengar sendiri ketika wajahnya benar-benar dekat dengan Ovin, lalu bibirnya untuk sesaat ia gigit sendiri karena dirinya sempat berpikir lagi apakah dia harus memberikannya nafas buatan dengan bibir dan bibir?
Sampai akhirnya tanpa membuang waktu lagi dengan semua pikiran itu, Jordy pun memantapkan hatinya itu.
'Sudahlah, ini demi penyelamatannya. Ovin, cepatlah bangun. Jangan membuatku jadi orang yang merasa paling bersalah karena terlambat datang kesini.' Dengan tekad yang dia miliki itu, Jordy pun membungkukkan tubuhnya kedepan. Rambut poni serabai Jordy kini akhirnya menyentuh wajah Ovin, dan kedua bibir itu pun semakin kini semakin dekat, karena seluruh jarak diantara mereka berdua semakin menghilang, karena itu Jordy sempat menelan salivanya sendiri.
Karena saat ini dia benar-benar akan mencium bibir Ovin yang ternyata terlihat manis itu.
Mulut Jordy sedikit membuka dan mulai mendekatkan bibirnya...
Kini jaraknya tepat sudah lima centimeter sudah dari mulut Ovin, sampai akhirnya..
" Uhukh....Uhukkh......Uhukhh... " Ovin tiba-tiba saja terbatuk sampai air yang sempat Ovin terminum tadi, keluar juga. Namun sayangnya hal itu sempat membuat wajah Jordy terkena semburan air yang keluar dari mulutnya Ovin. "Uhukk...uhuk!"
Selesai membuat batuk itu, seketika suasananya menjadi canggung lepas Ovin menatap Jordy dengan tatapan kaget sebab wajah diantara mereka berdua benar-benar cukup dekat.
'Apa yang akan dia lakukan? Kenapa wajahnya dekat sekali denganku? Ini seperti...dia akan menciumku saja.' Keterkejutan milik Ovin berubah menjadi tatapan penuh selidik.
Melihat hal itu, Jordy buru-buru menjauhkan wajahnya dari hadapan Ovin. " Untung masih sempat " tutur Jordy untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka berdua.
'Sempat? Ah...jadi maksudnya dia baru saja menyelamatkanku?' Ovin akhirnya menyadari atas dasar apa pria berpangkat ketua osis ini ada di depannya, dan itu karena misi penyelamatan yang dilakukan oleh pria ini terhadapnya. 'Kenapa dia? Dimana paman?' Ovin sempat mencari-cari pamannya, tetapi dia tidak melihatnya. Karena tidak berguna juga mencari seseorang yang tidak ada, Ovin pun mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Jordy ini. "Terima kasih ya."
"Terima kasih untuk apa? Aku bahkan tidak melakukan apapun, karena sesampainya disini kau sudah terbaring di sini." Jelas Jordy.
"Walaupun begitu, bukannya tadi sudah mengambil kesempatan untuk melakukan CPR kepadaku? Aku saja masih merasakannya-" Ovin kemudian menyentuh dadanya yang beberapa waktu yang lalu sempat di tekan keras oleh Jordy.
"...........!" Jordy tidak bisa berkata apapun.
Ovin berusaha untuk bangun lalu dibantu oleh Jordy agar tidak kepleset.
" Apa yang kamu lakukan disini sampai bisa tenggelam ? " Tanya Jordy penasaran, memang untuk beberapa kali dirinya bisa berpapasan dengan Ovin yang terkadang pulang lebih telat dari yang lain, tapi yang jadi penasaran adalah Ovin kenapa bisa berada di gedung ini? Padahal semua orang sudah pada pulang, tetapi Ovin?
__ADS_1
Ovun menoleh ke samping dan bertanya.
" Apa kamu bisa ulangi perkataanmu barusan? "
" Apa? Apa ucapanku tidak terdengar olehmu? " Tanya Jordy sedikit bingung.
Ovin memberikan menunjuk pada kedua telinganya, lalu menjawab," Telingaku kemasukan air jadi kurang jelas, aku hanya membaca mimik bibirmu. Jadi apa bisa ulangi lagi apa yang tadi kau katakan?" jelas Ovin.
" Kenapa kamu bisa berada disini? " tanya Jordy lagi dengan kalimat lebih singkat.
Ovin pun memanjat tangga untuk naik ke atas sambil menjawab pertanyaan Jordy barusan.
" Aku mencari handphoneku, ada yang membuang nya ke kolam dan aku mengambilnya. Tapi aku tidak tahu jika, kolamnya mau dikeringkan. Aku tersedot dan terjebak di dasar jadi aku hanya menunggu bantuan, seperti itulah ringkas kejadiannya." Jelas Ovin. Sedikit menyembunyikan kisah sebenarnya, yaitu tentang perbuatan Bella kepadanya.
Sampai dimana, tidak lama kemudian suara dari baling-baling helikopter itu datang mendekat.
SWOSSHH........
SWOSSSHH.........
SWOSSSHH.........
Lalu pandangannya kembali ke arah Ovin dimana dia sedang memungut kacamata serta barangnya yang lain, tetapi dari belakang Jordy melihat Ovin berdiri dengan kurang stabil.
" Apa kamu tidak apa-apa? " tanya Jordy sedikit khawatir.
BRAKKKK.........
Ada seseorang menghempas pintu dengan cukup kuat. Membuat Jordy seketika jadi menoleh ke atas.
" Vin! Kau masih hidup kan?! " seru Chade dengan wajah setengah cemas setengah marah. Dia saat ini menuruni anak tangg sambil memperhatikan sosok dari Jordy ini.
" 1 menit 17 detik." tapi yang dijawab justru waktu keterlambatan yang sudah Chade lakukan. "Sangat terlambat. Bagaimana jika aku mati, kakek akan menghantuimu saat itu juga, termasuk aku, karena gara-gara kakak, arwahku jadi melayang.
__ADS_1
Berkerut-kerut dahi Chade, Chade berjalan menuruni tangga dengan cepat.
Di dua detik pertama Chade merlirik ke arah Jordy, lalu di detik berikutnya ia memalingkan wajahnya ke tempat lain yaitu kolam renang yang sudah kering.
" Kondisimu sepertinya mengatakan tidak baik-baik saja. " tutur Chade pada adiknya.
Chade kembali melirik ke arah jordy dan berkata..
" Aku Chade, terima kasih sudah menyelamatkannya, tapi sebaiknya latih lagi otot kakimu itu supaya larimu lebih cepat, atau lebih tepatnya-" Chade tiba-tiba saja tersenyum tipis. "Gerakanmu lebih cepat jika mau melakukan hal itu."
BLUSH...
Otak Jordy seketika tertuju dengan hal lain, dan semua itu gara-gara pancingan yang Chade berikan kepada Jordy. 'Ternyata orang ini yang meneleponku. Tapi kenapa dia mengatakan hal itu di depannya?!' Jordy dalam hati sudah panik, karena Chade benar-benar berbicara hal lain yang cukup intim.
Chade menatap Ovin dari atas sampai bawah, ia melepaskan jaket coat nya dan memakaikannya ke tubuh Ovin.
" Menyedihkan, tapi aku bersyukur kau masih bisa berdiri di depanku seperti ini. " lalu tanpa aba-aba Chade malah menggendong Ovin ala bridal stayle.
"Kak, apa yang kau lakukan? Aku bisa jalan sendiri." protes Ovin pada Chade, karena tubuhnya saat ini benar-benar sudah di gendong oleh pamannya itu.
" Tenagamu sudah terkuras, jalanmu pasti lambat seperti kura-kura." ejek Chade kepada keponakannya sendiri.
".................." Entah apa yang di ucapkan Chade, tapi instingnya mengatakan tindakannya lebih baik karena dirinya juga sebenarnya lagi malas berjalan dan apatah lagi juga, " Dingin " rutuk Ovin dengan nada lirih.
Tanpa sadar, ternyata tubuhnya kembali diselimuti hawa dingin yang cukup menyebalkan.
Padahal kemarin saja dirinya baru hujan-hujanan, tapi apa yang didapatkannya saat ini?
Tubuhnya kembali basah karena air.
Karena merasa dingin, Ovin pun melingkarkan kedua tangannya di leher Chade agar dirinya dapat memeluknya lebih dekat lagi.
'Siapa sebenarnya pria itu? Kakak? Apakah dia kakaknya? Tapi....' Mau dilihat bagaimanapun, helikopter yang mendarat di depan gedung persis itu adalah merk keluaran terbaru yang baru saja keluar dari pabrik, dan Ovin punya hubungan dengan seseorang yang mempunyai alat transportasi terbaru seperti itu?
__ADS_1