Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Oktavin


__ADS_3

"Ck..! Kemana lagi aku harus mencarinya?" gumam Franz, kala dirinya sedang menghadiri acara perpisahan.


Perpisahan yang diadakan 4 hari setelah liburan pariwisata, sudah 4 hari pula Franz tidak menemukan keberadaan batang hidung dari si gadis berkacamata itu.


Dari awal acara hingga pertengahan acara, Franz tak bergeming dari pandangan kosongnya, meski seperti terlihat sedang melamun, tapi otaknya sedang dalam kondisi diperas..


"Hei.... dari tadi diam saja, apa kau tidak menikmati acara ini?" bisik Sean yang kebetulan duduk seperti biasa, di samping sang tuan muda lampu suis.


"Diamlah....aku sedang berpikir. " ketus Franz, tdiak suka jika dirinya di ganggu di saat suasana hatinya memang sedang sangat buruk sekali.


Melihat sikap Franz yang begitu sensitif, apalagi dengan wajah serius dari wajah Franz yang rupawan itu, Sean pun jadi ingin sekali saja memukul wajahnya yang songong itu.


'Apa aku juga terlena? Sebagai pria aku bisa-bisanya mengakui wajah serius begitu masih tampan juga.' benak hati Sean.


Sungguh, dia sangat tidak suka, saat melihat keadaan Franz yang tampak sedang sensi itu.


"Oh ya Franz, aku pikir selama beberapa hari ini aku tidak melihat si mata empat? Apa dia tidak datang juga hari ini?" Bisik Sean.


Franz celingukan dengan melirik ke arah kanan dan kiri lalu ia pun membalasnya dengan kalimat berisik juga.


"Aku selama beberapa hari ini sedang mencarinya. Tapi aku bahkan sama sekali tidak melihat ujung rambutnya pun. Jika kau mau membantuku mencarinya, aku akan membayarmu." bisik Franz, dengan cukup pelan, lirih sampai puluhan orang yang menyadari posisi Franz dalam berbisik ke pada Sean, membuat mereka berdua seperti sedang menjalin cinta kasih secara terang-terangan.


"Apa? Kenapa? Bagaimana bisa Ovin pergi? Apakah, itu sebabnya kau selama beberapa hari ini sangat sensitif?" tanyanya, dia penasaran, alasan apa yang membuat Ovin yang biasanya penyabar itu, bahkan saat di bully, malah minggat dari rumah.


"Kau tidak perlu tahu itu, yang hanya perlu kau tahu, aku kehilangan jejak dia, dan belum menemukannya sampai detik ini.


Jika kau mau membantuku sampai menemukan perempuan itu, aku akan mengabulkan keinginanmu," bujuk Franz, mencoba menghasut temannya itu, untuk membantu pencariannya.


"Kau yakin? Aku ok, ok saja. Tapi sepertinya ada sesuatu yang harus kau ketahui, selama kau mau membayarku dengan harga yang tinggi," bisik Sean, dia justru mencoba mengambil kesempatan di dalam kesempitan yang sedang Franz alami.


Lagi pula, sangat jarang sekali, Franz sampai masuk ke titik dimana dia menginginkan bantuan kepadanya.


Maka dari itu, Sean pun mencoba untuk memanfaatkan peluang ini dengan sebaik-baiknya.


"Katakan saja, aku punya banyak duit, yang bahkan kau sendiri tidak akan pernah kau miliki, selama tidak menjadi temanku, ya kan?"


"Kau ini-" merasa terhina dengan perkataannya Franz yang tajam itu. "Aku sempat melihat Ovin beberapa kali bertemu dengan pria yang sama di beberapa tempat,"


Mulai memancing rasa penasaran temannya sendiri itu.


'Pria? Apa maksudnya? Siapa? Apa itu Jerry? Atau siapa?' Franz pun mulai penasaran. Namun, berkat itu juga, mereka berdua pun berhasil menjadi pusat perhatian semua orang yang menyadari Sean dan Franz tengah saling berbisik satu sama lain.


"Pfft, lucu sekali, aku pikir mereka berdua juga cocok."


"Gay, hahaha, cocok juga sih, mereka berdua juga sering nempel seperti lem."


Mendengar adanya beberapa orang yang menyindirnya, Franz buru-buru menjauhkan wajahnya dari samping wajah Sean.


"Kau akhirnya sadar untuk tidak terlalu dekat denganku kan?" Ejek Sean. "Walaupun aku ingin bertanya bagaimana bisa terjadi, tapi tidak mungkin akan kau jawab sekarang, jadi apa kau bisa memberitahuku hadiah yang bisa aku dapatkan jika aku menemukannya?" Tanya Sean.


"10 juta, jika kau berhasil menangkapnya, aku akan memberimu 10 juta untukmu." jawab Franz dengan percaya dirinya yang tinggi.


"30 juta, nanti aku akan cari sampai mendapatkan helaian rambut miliknya juga," Kata Sean, mengkonfirmasi ucapannya Franz tadi.


"Kau memerasku?"


"Yah~ Tidak sampai kering juga," ledek Sean.


"Hah, baiklah. Tapi kau harus cepat, dan aku pikir kau harus menemukannya kurang dari tiga hari. Ada uang banyak ada sedikit waktu, jadi sepadan, dan jangan protes."  Tekan Franz dengan kata protes, karena kebiasaan dari anak di sebelahnya itu adalah sering protes dengan semua keputusannya.


Dan seperti itulah, karena Franz sendiri masih belum menemukan jejak, ia pun meminta bantuan dari Sean.

__ADS_1


Sebenarnya Franz sudah hampir menemukan Istrinya itu, akan tetapi di tengah-tengah proses penyelidikan, yang ia gunakan dengan meretas sistem keamanan server cctv kota, ia justru di serang oleh ip milik orang lain.


Maka dari itu, usaha yang Franz toreh pada dirinya sendiri, hasilnya adalah sia-sia.


'Pasti ada yang membantunya, aku bahkan sudah menghubungi Chade, dan tidak di jawab juga.


Berarti ini memang ada hubungannya dengan Chade juga. Dan dia juga yang kemungkinan besar menyembunyikan Ovin.


Atau jangan-jangan, dia ada di rumah laki-laki itu? Apa ada hubungannya dengan informasi yang Sean katakan tadi?' pikir Franz.


Karena di sini hubungan Ovin dan Chade terbilang cukup dekat, meskipun di samping itu Ovin sudah menjadi miliknya, tetapi karena Chade terus saja berhubungan dengan Ovin, jelas Franz pun menaruh curiga kepada anak itu.


Tapi, di tengah-tengah hari ini adalah hari pengumuman kelulusan, sayang sekali Ovin jelas tidak datang ke acara tersebut.


'Walaupun dia itu bodoh, tapi selagi nilainya terus berada di posisi aman, meskipun rendah, ada kemungkinan dia lulus juga.


Tapi siapa yang akan mewakili dia jika Ovin tidak datang?' Entah kenapa ia jadi punya pikiran untuk mencemaskan nasib dari Ovin sendiri.


Tapi intinya, semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, Franz berada di rumah sendirian.


Dia bisa masak makanan yang sederhana, ataupun makan di restoran, tapi semenjak di rumahnya tidak ada gadis itu, suasana nya jelas sangat sepi.


Bahkan Franz pun sadar, rasa sepi itu lebih parah ketimbang Franz saat Franz belum menikah.


'Seandainya saja aku tidak bicara seperti itu, ahh! Kenapa mulutku terus saja mengeluarkan kata yang tidak bagus?


Jadinya seperti ini kan? Sialan, di sini aku jadi orang yang serba salah.' Franz terus saja berpikir keras, sampai ia mengepalkan tangannya dengan begitu erat.


"Kita menuju acara inti dari acara ini! Sebagai siswa dan siswi berprestasi di tahun ini, ibu akan memanggil 3 orang peserta yang merupakan murid terbaik di antara terbaik. " kata Bu Nindy, tangannya membuka kertas yang berisi nama dari 3 anak berprestasi.


Karena suara Bu Nindy yang tiba-tiba saja nadanya jadi lebih tinggi, Franz seketika menarik semua pikirannya tadi dan langsung kembali fokus pada tontonan utamanya.


"Ke tiga anak ini mendapatkan nilai tertinggi di semua mata pelajaran di ujian nasional.....bla..bla...bla-" Ucap Bu Nindy.


Dan nama yang sering terdengar di telinga mereka semua adalah...


"Franz~ " Panggil Sean lagi dengan nada yang sama yaitu berbisik.


"Apa kau dan Bella juga masuk dalam peringkat lagi kali ini?"


" Tidak tahu, aku tidak peduli. " ketusnya.


" Cih... Malah mengabaikanku. " gerutu Sean sambil mengerucutkan mulutnya karena merasa di abaikan selama beberapa hari ini, dan rupanya kegalauan yang terlihat bercampur dengan amarah, bersatu menjadi satu.


"Ok.. Ibu tidak mau bertele-tele lagi, peserta pertama, nama yang ibu panggil harap naik ke panggung.


Siswi bertalenta serta berprestasi, kalian sering menyebutnya sebagai bunga sekolah, yaitu... Bella! Bella mendapatkan nilai tinggi, yaitu 1.385, silahkan naik ke atas." ucap Bu Nindy.


"BELLA! Kamu memang pintar...sana maju-maju. " ucap temannya Bella yang kebetulan berada di sisinya Bella. Dia membujuk Bella agar segera naik ke podium.


" Iya...iya... " menepis dengan lembut tangan temannya itu dari bahunya.


Lalu Bella yang memang duduk di posisi pinggir, bisa dengan mudah keluar dari barisannya dan berjalan turun menuruni tangga untuk naik ke panggung.


" Wahh....lihat, bunga sekolah kita memang hebat, bisa dapat nilai sempurna di ujian pasti enak."


" Lulus saja sudah patut bersyukur, mau ke kelompok seperti Bella, mimpi saja sana. " kata sahabatnya, melihat kepergian Bella yang tadi sempat melewati mereka berdua.


"Sedangkan murid yang ke dua, dengan skor nilai 1.389...kita beri tepuk tangan kepada Franz!"


PROK......

__ADS_1


PROK.....


PROK.....


Suara sorak sorai yang begitu keras, langsung mengisi seluruh sisi dari auditorium tersebut.


Apalagi karena yang mendapatkan peringkat tiga besar adalah Franz, maka semua perempuan di sana langsung pada heboh sendiri.


Tentu saja, untuk memeriahkan suasana, yang hadir bukan sekedar kelas tiga saja, tapi kelas satu dan dua pun turut hadir untuk memeriahkan acara kelulusan tersebut.


Sehingga, betapa meriahnya Auditorum itu dengan teriakan dari ratusan penggemar nya Franz.


"Franzz! Kau hebat!"


"Franz! Ilove you!"


"Kyaa! Dia memang sempurna! Aku ingin ikuti jejak dia mau pergi ke universitas yang sama juga!"


"Wah, aku juga, aku juga akan masuk ke universitas yang sama dengan dia!"


Suara semangat itu terus membara dari penonton yang berdominan mendukung apa yang Franz raih.


"Gila, padahal aku tidak pernah melihatmu serius belajar, bagaimana bisa dapat nilai tinggi begitu?"


Dan Sean pula, dia pun tidak bisa menyangkal akan kepintaran sahabatnya itu, meski ada perubahan sedikit di bidang main sana sini, tapi nilai ujian tinggi masih bisa di pertahankan, padahal Sean sama sekali tidak pernah melihat Franz belajar dengan serius.


"...." merasa namanya di panggil dan di iringi tepuk tangan meriah, Franz pun hanya bisa menahan perasaan dinginnya itu dengan wajah cool, dan dia juga berjalan dengan penuh wibawa.


Mengekori Bella dari belakang, Franz sekali-kali melirik ke sana kemari, adakah cewek bermata empat itu datang atau tidak.


"Siapa yang sedang kau cari?" bisik Bella melihat Franz seperti sedang mencari-cari seseorang.


"Tidak ada." langsung menjawabnya dengan cepat.


'Pasti Ovin. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua. Tapi karena kelihatannya mereka berdua sedang bertengkar, aku pikir ini cukup bagus.' Pikir Bella, dia pun langsung tersenyum cantik saat di sapa oleh Bu Nindy.


Padahal bibirnya yang tengah tersenyum itu, sedang menertawakan nasib dari hubungan Franz dan Ovin yang sedang tidak baik itu.


Langkah mereka saling bertautan dan sekarang mulai berdiri berjejer di samping Bu Nindy.


"Selanjutnya, murid yang ke-3-" karena Bu Nindy hanya menerima amplop dan cuma membacakan isinya, Bu Nindy seketika memasang wajah heran.


Tangannya memperbaiki posisi kacamatanya yang hampir turun lalu seketika dia pun menunjukkan ekspresi wajahnya yang terkejut.


"Ini-" kalimatnya yang menggantung menjadikan bahan bisikan para murid lainnya.


"Ada apa dengan Bu Nindy?" tanya salah satu murid di antara bangku penonton.


"Apa ini tidak salah?" tanya Bu Nindy pada seseorang yang sedang berdiri di samping panggung dengan tanya penuh isyarat.


Dia dengan sengaja menjauhkan mikrofon nya, agar suaranya yang sedang bertanya tidak terdengar oleh mereka semua.


Yang ditanyai hanya menjawab dengan anggukan.


"Maaf membuat kalian menunggu lama, dan penasaran sampai jamuran." kata Bu Nindy dengan sedikit candaan.


Dan ia pun segera memperbaiki perilakunya barusan karena menunda acara.


"Saya ulangi, peserta ke-3 dengan nilai skor 1.392. Nilai tertinggi di tahun ini jatuh kepada-"


'Ada yang lebih tinggi dariku dan Franz? Apa itu Jordy?' benak hati Bella, soalnya selama ini dirinya lah yang sering mendapatkan nilai rangking tinggi setelah Franz, tapi hari ini ternyata ada jauh yang lebih tinggi dan mengungguli mereka berdua.

__ADS_1


"Oktavin!" sambung bu Nindy, memecahkan keheningan yang tadinya diluputi rasa penasaran dari para penonton.


" APA?!" All, semua orang berhasil memperlihatkan wajah terkejut mereka.


__ADS_2