
Malam itu, bagaikan malam yang penuh dengan kesenangan. Apa yang tertidur jadi terbangun, hal paling nikmat tiba-tiba bisa Franz rasakan.
Gelora panas yang Franz dapatkan, terasa membuahkan hasil yang menyenangkan, membuat tubuhnya terasa melayang.
"Hah...hh...hah...." Deru nafas itu akhirnya menyelimuti seluruh sudut kamar. Pekerjaan yang bisa terpuaskan oleh dua orang, menjadi hal utama yang sedang mereka berdua jalani.
Demi apa?
Tentu saja kepuasan.
Baik itu untuk kepuasan batin maupun jiwa. Kedua duanya adalah satu set yang mereka terima ketika menjalani hubungan suami istri.
'Arghh...kenapa..ini nikmat sekali?' Benak hati Franz. Setiap gerakkan yang dia buat dan dalam sekali hantaman, membuat benda pusaka nya merasakan remasan yang sangat kuat, 'Dia..terus membuatku bergerak. Kenapa bisa seenak ini?'
Setiap kali dia menjamah masuk kedalam liang berisi kenikmatan surgawi, saat itu pula dia mendapatkan satu titik paling memuaskan, dimana hal tersebut menjadi pemicu untuk tidak memberinya kelonggaran sedikitpun.
Setiap kali masuk, dia mendapatkan pijatan kuat yang cukup untuk stimulan tubuhnya agar terus bergerak, terus, dan terus.
"F-franz...~" setelah memanggil namanya dengan wajah penuh nikmat, satu lenguhan itu terus tertahan di mulutnya Ovin.
PHAK..
"Angh~" Suara aneh yang muncul secara otomatis dalam setiap perbuatan bejat yang dilakukan oleh pria di atasnya, membuat Ovin tak kuasa untuk tidak mencengkram sprei sampai kusut.
"V-vin..aku tidak tahu ternyata..bisa senikmat ini." Kata Franz di tengah-tengah pekerjaannya yang tidak pernah dia lakukan selama ini, justru dia lakukan, karena kebetulan sekarang perempuan yang menjadi lawan mainnya sudah menjadi Istrinya.
Karena itu, tercetus dalam pikirannya, kalau dia bisa saja bermain seperti ini untuk kenyamanannya, dari pada keluar rumah menghabiskan uang, maka lebih baik menghabiskan tenaga untuk mencapai kepuasan.
"Tapi sekarang...sudah ah~ tahu kan?" Sahutnya.
"Ya..." Franz kembali mengernyitkan matanya, sebab dia lagi-lagi mendapatkan titik puncak itu.
Tetapi karena merasa itu belum saatnya, maka dia pun masih menahannya untuk beberapa waktu lagi.
"Apa kau mau melakukannya...setiap hari?"
"Enak saja...ah..ti..ah. Tidak!"
Mendapatkan penolakan tanpa pikir panjang itu, Franz pun menggerakkan pinggulnya dengan lebih keras.
Satu erangan yang cukup kasar pun muncul, gara-gara pusaka milik Franz langsung menghantam titik paling dalam.
__ADS_1
Membuat sensasi sakit dan nikmat secara bersamaan. Tapi apa daya, walaupun di dalam sana, kepunyaannya Franz benar-benar menggaruk cukup kasar, tapi kenyataannya hal itu tidak membuat mereka berdua jera untuk melakukannya lebih dan lebih.
'Ah...sialan, dia membuatku bergerak terus.' Tak kuasa menahan sesuatu yang hendak keluar, Franz semakin mempercepat tempo dari gerakannya itu.
"Ahh...itu, hei...j-jangan di-"
"Jangan apa?" Pungkas Franz , masih melakukan pekerjaannya sebagai seorang pria.
"J-ah..jangan dikeluarkan di..da-lam." Pintanya.
"Memangnya kenapa? Takut hamil" Tanya franz lagi. "Jika takut..." franz menggertakkan giginya, karena sebentar lagi dia akan keluar. "Makannya...jangan menggodaku. Tapi...sayangnya terlambat." Setelah itu..
PHAK..
Dalam sekali hentakan itu, Franz akhirnya menemukan satu kemenangan yang dia raih dari hasil jeri payahnya sendiri.
____________
"Arghhh~ Hah...hah...hah.." Suara erangan bercampur dengan deru nafas yang tidak teratur itu mengisi segala sudut ruang kamar yang di huni oleh seorang Tuan muda.
Dimana sang Tuan muda itu melenguh akan kenikmatan yang dia rasakan saat mendapati aset berharganya bisa memuntahkan lava dari triliunan kecebong yang seharusnya bergerak berbondong-bondong menuju satu sel telur yang ingin mereka tempeli.
Tapi apa yang dia tempeli saat ini?
Tidak seperti yang di mimpikan oleh Tuan muda ini, bisa bersetubuh dengan Istrinya, yaitu Ovin, sejujurnya kepuasan yang di dapati oleh laki-laki yang ada di depannya itu dikarenakan tangannya saat ini sedang membantu laki-laki itu menemukan titik nikmatnya.
'Padahal tadinya aku hanya ingin membangunkannya, untuk makan malam. Tapi dia ternyata tidur, dan sedang makan malam sendirian di dalam mimpinya. Tapi....kira-kira siapa yang sedang Franz tiduri ya? Apakah Bella?' Tatap Ovin, terhadap tengkuk milik Franz.
__________
Flashback On.
KLEK...
Setelah melakukan ritual sore yaitu mandi, Ovin akhirnya bisa berkeliaran di rumah.
Itulah niat awalnya, karena hal paling nyaman sepanjang masa adalah bisa pergi kesana kesini di rumah bersih, dan dia ingin melakukannya dengan bertelanjang kaki.
Tapi tepat di saat dirinya keluar dari kamar, dia langsung dihampiri oleh Bibi Ani.
"Non...bisa panggilkan Tuan muda? Makan malamnya sudah siap semuanya." Pinta Bibi Ani terhadap Ovin yang baru selesai mandi, sampai rambutnya saja benar-benar basah.
__ADS_1
"Iya." Ovin mengiyakan permintaan dari Bibi Ani.
Di tengah-tengah dirinya harus mengeringkan rambut dengan handuk yang dia sampirkan di bahu, Ovin pun perlahan berjalan menuju lantai tabu, karena lantai dua itu seperti wilayah kekuasaan milik Franz sepenuhnya.
Tapi apa pedulinya itu?
Lalu ketika sudah sampai di depan pintu kamar dari sang pemilik rumah, Ovin pun mengetuk pintu.
Tok...Tok...Tok....
"Franz." Terlepas dari apa yang terjadi sore tadi di dalam mobil, tentu saja Ovin masih memiliki muka untuk menghadap ke suaminya itu.
Tidak ada sahutan sama sekali, Ovin kembali mengetuk pitu.
Tok..Tok...Tok....
"Franz, waktunya makan." Ucapnya. Padahal di dalam pikiran Ovin sendiri, 'Makan malamnya ada disini, ayo makan bersama. Hahaha...tapi memangnya aku akan mengatakan hal itu kepada dia?' Pikirnya.
Penasaran karena tidak ada sahutan dari si empu, Ovin pun terpaksa masuk ke dalam kamar?
CKLEK..KLEK...
Pintunya ternyata di kunci.
Tentu saja tanpa pikir panjang, dia mengeluarkan kunci cadangan yang dia buat sendiri dan tentu saja untuk kepentingan dirinya sendiri juga.
Seperti sekarang ini. Ovin akhirnya menggunakan kunci duplikat untuk membuka kamar milik suaminya itu.
Dan ketika berhasil di buka, dia langsung di perlihatkan Franz yang sudah dalam posisi meringkuk tidur.
'Apakah dia kelelahan?' karena penasaran dengan wajah Franz ketika tidur, dia pun mengambil langkah masuk dan menghampiri si empu yang sudah masuk ke dalam alam mimpinya.
Sayangnya, kedatangannya itu membuat Ovin kembali melihat menara tinggi yang ingin meraih kemenangan.
'Hah? Apa-apaan ini?' Ovin melihatnya dengan perasaan takjub sekaligus tercengang. Sebab untuk pertama kalinya, bisa melihat aset berharga milik suami nya kembali berdiri di saat tertidur itu.
Jelas dikarenakan ada sesuatu yang menarik minatnya, Ovin pun berdiri dan menonton harta itu dengan cukup antusias.
'Jadi itu...itu yang hampir masuk ke dalam milikku ya? Tapi...kenapa sebesar itu ya?!' Ovin memejamkan matanya, membuat senyuman mencibir seraya berpikir, 'Kira-kira yang seperti itu apakah bisa masuk? Tapi kenapa bisa sebesar itu?! Melihatnya saja aku jadi ragu, apakah itu muat? Apakah muat di aku?'
Saking penasarannya, Ovin pun membungkukkan tubuhnya ke depan. Dia mengulurkan tangan kanannya untuk mencoba kembali menyentuh pusaka berharga yang sedang gemuk dan tinggi itu.
__ADS_1
TUIL..