
'Siapa lagi dia?' Kernyit Franz, lagi-lagi kembali di suguhkan pemandangan yang kurang enak, saat dirinya melihat Istrinya ternyata baru saja keluar dari toilet lewat jendela. 'padahal ada pintu, tapi dia memilih lewat jendela. Eh..sebentar...kenapa aku jadi mengkhawatirkan perempuan itu?!' Berkerut-kerut dahi Franz saat pikirannya kembali masuk untuk menanyakan alasan kenapa istri simpanannya itu keluar dari jendela.
Tapi karena dirinya melihat adanya satu orang laki-laki yang ikut keluar dari jendela toilet juga, maka itu sudah menjadi jawaban kalau Ovin dan laki-laki yang belum Franz ketahui siapa itu, sedang menghindari adanya banyak pasang mata jika mereka berdua ketahuan ada di dalam toilet bersama.
'Tapi-' matanya kembali mengeryit, dia melihat istrinya saat ini, justru sedang melakukan sesuatu kepada Sean. 'Kenapa aku terus saja membuang waktuku untuk memperhatikan perempuan itu terus? Padahal dari pada melihat dia terus, mending aku ajak Bella belajar bersama.'
Demi sebuah alasan yang tidak bisa Franz ungkapkan dengan jujur, Franz pun lebih memilih untuk membohongi dirinya sendiri untuk berduaan dengan Bella.
Niatnya memang seperti itu, tetapi hati dan pikirannya terus saja terngiang dengan segala pertanyaan, apa yang sedang Ovin lakukan kepada Sean sampai membuat posisi yang dapat disalahpahami orang, bahkan termasuk dirinya, yaitu Franz sendiri?
Dengan begitu, Franz pun pergi dari kelas, dan pergi mencari Bella lagi yang dalam sekejap sudah menghilang dari jangkauan pandangannya tadi.
'Dia sebenarnya pergi kemana? Apakah dia sudah ada di lab komputer?' PIkir Franz. Dia pun mencoba mencari Bella di lab komputer.
Dan sesampainya di lab komputer yang masih sepi dan terasa kosong itu, tiba-tiba saja Franz mendengar suara seorang perempuan.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Bukannya sudah janji untuk mencari tahu? Tapi yang ada adalah kamu terlalu membuang-buang waktu, sampai harapanku yang cukup tinggi kepadamu sudah hilang dari kemarin." ucap perempuan ini, yang tidak lain adalah Bella.
'Dia sedang berbicara dengan siapa?' Dikarenakan lab komputer itu sepi dan lampu pun masih belum di nyalakan, Franz pun dengan langkah senyap berjalan menuju salah satu bilik komputer dan duduk di jarak yang tidak terlalu dekat dengan posisi Bella saat ini.
Semua itu demi bisa mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Bella.
Walaupun tahu tindakannya memang salah, tapi bagi Franz sendiri yang tidak peduli apakah itu salah atau benar, demi menutup rasa penasarannya, maka dia sudah siap dengan konsekuensi yang ada.
__ADS_1
"Apa? Sudahlah, aku tidak begitu mengharapkanmu lagi. Lakukan saja yang ingin kamu lakukan. Dan jangan meneleponku di saat aku masih berada di sekolah." Kata Bella kepada orang yang ada di ujung telepon. "Yah...nama sebenarnya? Namanya adalah Oktavin, dia biasa di panggil Ovin, Ah...karenamu, aku jadi menggunakan mulutku untuk memanggil namanya kan?" Imbuhnya.
'Kenapa nama Ovin di bawa-bawa? Apa yang seenarnya dia bahas?' Franz pun jadi terpicu untuk mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi....Franz sudah menerka kalau bertanya langsung pada Bella, sudah pasti tidak akan dijawab dengan jujur.
Dari pada menanyakan rasa penasaran yang Franz miliki kepada Bella seperti orang bodoh, karena apa yang sedang Bella bicarakan pada orang misterius yang ada di ujung telepon itu adalah persoalan yang terdengar rahasia juga serius, maka Franz pun mencoba mencarithaunya sendiri.
“Sudah, untuk sementara waktu jangan hubungi aku. At-”
TING..
Lampu yang awalnya mati, tiba-tiba saja menyala, membuat Bella sedikit terkejut.
Dia langsung mematikan handphone nya, dan memasukkannya kedalam saku blazer miliknya.
‘F-franz?!’ Pekik Bella di dalam hati. Dia kembali dikejutkan dengan keberadaan Franz yang terlhiat sedang meletakkan separuh tubuhnya di atas meja komputer, dan terlihat seolah sedang tertidur.
“Pantas saja di kelas tidak ada, ternyata sedang berduaan dengan Tuan muda Franz toh.” Perempuan ini pun melirik ke arah Franz yang saat ini sudah menyangga kepalanya dengan tangan kanannya, tapi tatapan matanya tertuju pada layar komputer yang baru saja di hidupkan.
“...............” Franz hanya terdiam sambil memandang pintu masuk, dimana saat ini ada satu orang yang berhasil membuat kedua matanya membulat lebar.
“Hei Ovin. Kita duduk bersama ya?” Siska yang sempat Franz lihat di belakang toilet persis, dimana diaah orang yang baru saja membantu Ovin keluar toilet dari ventilasi jendela, orang yang belum Franz ketahui siapa dia, saat ini justru sedang berjalan bersama dengan Ovin, bahkan sampai merangkul gadis itu.
‘Kenapa aku merasa tidak suka melihat dia dirangkul dengan laki-laki lain?’ Pikir Franz. Tapi sebagai orang yang pitar, saat mereka berdua berjalan dan melewati Franz, hatinya tiba-tiba saja sedikit lebih baikan? ‘Aneh, padahal tadi rasanya ada sesuatu yang ingin aku dobrak keluar, tapi setelah tahu kalau yang ada di sebelah anak itu adalah perempuan, kenapa hatiku langsung lega ya?’
__ADS_1
Rasa frustasi itu tiba-tiba saja menghilang setelah dirinya menggunakan otaknya, bahwa orang yang berpenampilan persis seperti laki-laki itu adalah seorang perempuan.
Bagaimana bisa tahu? Hal mudah yang bisa disadari oleh orang yang sering menggunakan logikanya ketimbang perasaannya. Itulah yang Franz lakukan saat ini, hingga kesalapahaman yang bisa terjadi saat itu juga, sudah menghilang.
Perempuan tetaplah perempuan. Mau berpenampilan layaknya lagki-laki, selagi Siska adalah perempuan yang tidak akan memiliki jakun, maka Franz pun percaya dengan analisisnya sendiri.
Ya..awalnya dirinya merasa lega karean orang berpenampilan laki-laki itu adalah perempuan, tapi apa jadinya jika…
“Ovin, bangku ini kosong kan?”
Jerry, dia tiba-tiba datang dan bertanya kepada Ovin, karena dia ingin duduk di sebelahnya Ovin persis.
Rasa jengkel itu pun kembali mencuat?
‘Padahal dia anak baru, tapi keapa tingkahnya sok dekat dengan Ovin? Ah~ Kan? Aku lagi-lagi jadi memikirkan perempuan itu lagi.’ Franz tiba-tiba saja mengusap kasar wajah tampannya itu dengan tangan kanannya.
Dia kembali di hadapi rasa frustasi akan perasaan aneh yang dia dapati akhir-akhir ini, dan itu terjadi setelah..
‘Setelah kemarin dia tiba-tiba menciumku, dan aku menamparnya, efek samping ini selalu kambuh jika aku melihat dia berdekatan dengan laki-laki lain. Kenapa ini terjadi kepadaku sih?’ Racau Franz.
Jika saja dirinya saat ini sedang ada di rumahnya, dan sedang sendirian pula, sebenarnya Franz ingin sekali berteriak keras.
Bahkan saat sudut matanya kembali melirik ke arah Ovin yang saat ini dikelilingi oleh Siska, Jerry, juga Sean, di sudut hatinya yang paling dalam, tiba-tiba saja ada perasaan ingin mengurung saja Ovin di dalam rumahnya.
__ADS_1
‘Lagi?!’ Pekik Franz dalam benak hatinya. Tingkah aneh yang tidak biasanya Franz lakukan pun disadari oleh beberapa orang, diantaraya tentu saja Ovin yang selalu mencoba memperhatikan Franz dari kejauhan, dan satu lagi adalah Bella.
‘Apakah dia tadi mendengar pecakapanku?’ Pikir Bella.