Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
41 : PUM : Jarak


__ADS_3

‘Kenapa aku jadi merasa iba?’ Franz pun dibuat kembali untuk menutup matanya. Dia berusaha untuk menata hatinya yang serba ini dan itu pada istrinya itu. 


Tetapi tatkala Franz sedang berdamai dengan hati kecilnya yang ingin meloncat dairi tempatnya gara-gara punya rasa simpati pada perempuan di sampingnya itu, tiba-tiba saja Franz langsung di suguhi oleh tubuh Ovin.


“Hei…apa yang mau kamu lakukan?” Franz langsung mengangkat kedua tangannya demi menghindari pakaiannya tersentuh dengan tubuh Istrinya yang basah kuyup itu.


“Aku ingin air.”


“Kan bisa minta? Jangan asal menyerobot!” Tekan Franz, karena terkejut dengan tindakan Ovin yang serba mendadak. 


“Memangnya jika aku minta, kamu akan kasih?”


“...........” Franz pun diam. Jika Ovin bertanya untuk diambilkan air, yang ada Franz sebenarnya ingin menjawab agar Ovin minum air hujan yang ada di luar. 


JDEERR…..


Kilatan demi kilatan itu kembali mewarnai langit di atas kota metropolitan. Dan di saat itu pula, seluruh listrik jadi padam, membawa suasana aneh untuk mereka berdua yang saat ini saling menatap satu sama lain. 


Tetapi karena sudah begini, Franz pun mengambilkan air yang dia letakkan di tepi pintu.


“Minum saja air ini sampai habis, kalau bisa makan saja dengan botolnya sekalian.” Cetus Franz.


Melihat Franz mengalihkan pandangannya ke arah lain, Ovin pun mengulum senyum simpul seraya menerima pemberian Franz itu. ‘Aku memang tidak bisa memakan botolnya, tapi jika memakanmu….itu jelas bisa.’ Kata hati Ovin. 


Dimana saat ini, sebelum dirinya merubah posisinya untuk duduk kembali dengan benar, dia sebenarnya sedang menyempatkan dirinya untuk melirik ke satu hal lain yang ada di depan matanya itu.


Kira-kira harta apakah yang tersimpan dengan cukup baik yang dimiliki oleh suaminya itu?


Itulah yang dia tatap pada harta berharga yang disimpan di balik celana seragam yang dipakai oleh Franz itu. 


Melihat Istrinya menatap miliknya dengan cukup mes*m, Franz langsung mendaratkan bogem mentahnya di atas kepala Ovin. 


BUKH…


“Apa yang sedang kamu lihat-lihat?” Tanya Franz dengan tatapan menyelidik. 


“Bukan apa-apa.” Jawab singkat Ovin. Dia cepat-cepat duduk kembali di kursinya dengan tenang. 


‘Diam-diam dia punya pikiran seperti itu.’ batin Franz. 


Merasa ditatap sedemikian tajam oleh suaminya, Ovin langsung meminum sisa air milik pria itu sampai habis. 


Dan Franz yang menatap istrinya sedang meminum air, tanpa sadar mata Franz terpaku pada bibir Istrinya itu. Bibir yang kemarin sempat mereka berdua mainkan. 


‘Ini otak kenapa ya? Kenapa aku peduli dan memperhatikan bibirnya terlihat menggoda?’ Franz pun langsung mlengos demi menghindari pikiran lain yang akan menjerumus dirinya masuk ke dalam jurang maksiat?


Tidak ada kata maksiat lagi untuk dia, karena secara hukum mereka berdua sudah terikat pernikahan yang sah serta tertulis di mata hukum juga agama. 

__ADS_1


Jadi mau melakukan apapun untuk melampiaskan keinginannya pun sebenarnya sudah tidak masalah lagi, asal itu Ovin?


Nah justru itu, permasalahannya adalah..


‘Kenapa harus dia?’ Walaupun sudah mlengos ke arah lain, tapi sudut matanya lagi-lagi mencuri-curi pandang Ovin. ‘Tapi-’ sama hal nya dengan apa yang dilakukan oleh Ovin beberapa saat tadi, sekarang giliran Franz pula yang melirik ke arah bawah, dimana Ovin yang tubuhnya basah kuyup itu menampilkan body tubuhnya yang tiba-tiba saja terlihat seksi. 


Apalagi ketika dia melihat pemandangan lain, yaitu rok rimpel yang sudah kusut dan nampak menyatu dengan kedua kaki Ovin yang ternyata putih mulus itu. 


‘Ha?! Kenapa aku jadi menatapnya seperti orang me*um juga? Jangan-jangan aku kena tular dia?’ Pikirnya.


"Hah~"


Dan ******* yang dilakukan oleh Ovin, sontak saja membuat Franz sedikit terpegun.


"Kamu memikirkannya juga ya?" Goda Ovin selepas menghabiskan air minum bekas suaminya sendiri.


"Memikirkan apa?!" Tanya Franz berpura-pura tidak tahu.


"Sesuatu yang buat orang seperti kita penasaran." Kata Ovin, membuat Franz berpikir ke arah lain juga.


"Penasaran? Bukankah kamu sendiri yang penasaran?"


Ovin menoleh ke arah Franz dan membalas ucapannya. "Tapi tadi tatapan matamu juga cukup penasaran dengan apa yang aku punya kan?"


"Ternyata sifatmu keluar juga ya?" cibir Franz terhadap ucapan Ovin tadi.


"Hei Ovin...apa kamu pikir aku ini laki-laki apaan? Walaupun sekarang aku ini suamimu, jangan mengharapkan hal itu kepadaku." Kata Franz. 


"Yakin?" Tanya Ovin balik. 


"Yakin." Franz membelalakkan matanya, 'Kenapa kau jadi menjawabnya?'


Seakan kejadian kemarin tidak pernah terjadi, Ovin hari ini lagi-lagi melakukan ebuah ulah lagi kepada suaminya itu,  yaitu Franz.


Dia beranjak dari kursinya dan kembali membungkukkan tubuhnya ke depan Franz. 


Karena kebetulan memang sedang macet parah, maka mobilnya dari tadi tetap di tempatnya. 


"Apalagi yang mau kamu lakukan ini?" Tanya Franz begitu melihat tubuh Ovin yang basah itu kembali hadir di depan matanya lagi. 


"Apalagi kalau bukan merayumu.” Bisik Ovin. 


Dan setelah mengatakan bisikan Iblis kepada suaminya sendiri, Ovin pun mengangkat tangan kirinya. Dia hendak menyentuh dada Franz yang bidang itu. 


Dibawah suhu yang dingin, dan di dalam tekanan Ovin sedang kedinginan, dia masih bisa menyempatkan dirinya untuk menggoda anak ini. 


Dengan apa?

__ADS_1


Dengan apa yang dia miliki. 


“Kamu sungguh menjijikan,” Hina Franz terhadap perbuatan yang akan dilakukan oleh Istri kecilnya itu. 


Dengan tatapan datar yang terus terpaku pada wajah dari suaminya, mulut yang awalnya diam itu kembali dia gerakkan untuk mengungkapkan kalimat jawaban atas hinaan yang diucapkan dari mulutnya Franz. 


“Mau menjijikan atau tidak, bukankah yang terpenting adalah aku maupun kamu bisa melakukannya secara bebas dan sesuka hati? Kalau kamu mau, kamu bahkan bisa menganggapku sebagai Bella.” Kata Ovin lagi. Dia benar-benar tidak tahan dengan suasana yang sedang terjadi saat ini. 


Sekalipun suhunya berada di dalam kondisi yang cukup dingin,...


“Mungkin saja suhunya akan berbalik jadi panas, ya tidak Franz?” Tanya Ovin. Saat ini salah satu kakinya pun berpindah tempat ke arah kaki Franz, dan lebih tepatnya saat ini Ovin pun duduk di atas pangkuan suaminya sendiri, dan dengan keberaniannya itu, dia duduk sambil menghadap ke arah Granz persis, sehingga kedua orang pemuda itu pun saling berhadapan satu sama lain. 


Franz menatap ke bawah, dimana jarak diantara mereka berdua benar-benar sudah habis. Sampai mereka berdua sama-sama merasakan hal aneh yang ada di bawah sana persis. 


“Kamu yakin?” Tanya Franz dengan tatapan mata yang sendu. “Menganggapmu sebagai Bella?” Imbuhnya lagi. 


“Kenapa tidak yakin?” Senyum Ovin dan meraih wajah tampan Franz yang bisa dia lihat dengan kedua mata kepalanya sendiri dengan usapan yang cukup lembut. 


Dingin..


Adalah satu-satunya yang sedang di rasakan oleh Franz saat pipinya mendapatkan sentuhan dari telapak tangan Ovin. 


Karena rasa sukanya terhadap Bella masih saja belum pudar, ketika dirinya sebenarnya sudah menikah dengan perempuan asing yang tiba-tiba dipertemukan lalu dijodohkan oleh kedua orang tuanya Franz, 


Saat ini…


Dalam sekejap mata, pikiran Franz langsung teralihkan, bahwa sosok wanita yang ada di depannya itu bukanlah Istrinya, melainkan Bella. 


“Franz~” Panggilnya dengan nada yang lirih. 


Franz dapat melihatnya, bibir ranum itu baru saja memanggil namanya?


‘Ada apa ini? Padahal yang ada di depanku ini jelas peremuan itu. Tapi…kenapa aku tiba-tiba tidak mempermasalahkan aku melakukannya dengan dia, sekalipun aku sedang menganggapnya sebagai Bella?’


Demi mendapatkan kesempatan untuk memiliki bibir itu saat ini, tangan kanan Franz yang masih bebas itu langsung mencari tombol untuk mematikan lampu yang ada di dalam mobilnya. 


Sehingga, keadaan gelap menjadi yang Franz lihat saat ini. 


‘Apakah aku sudah gila? Gara-gara cinta, ternyata memang membuat orang sepintarku ikutan masuk kedalam kegilaan juga.’ Keluh Franz. 


Sampai tanpa basa-basi lagi, kedua tangan yang sedari tadi diam itu, saat ini dia pun menggunakannya juga untuk menyatukan mereka berdua dalam balutan momen yang panas?


Karena godaan yang diberikan Ovin, secara sadar Franz jadi masuk ke dalam permainan itu. 


Tangan kanan kiri Franz meraih pinggang ramping itu agar lebih mendekat. Setelahnya, tangan kanannya pun dia gunaan untuk menekan kepala Ovin agar wajah dari mereka berdua semakin dekat, dan sangat dekat, sampai semua jarak yang mereka miliki akhirnya menghilang juga setelah Franz mendapatkan yang dia inginkan itu, yaitu bibir yang sedari menunggu untuk di ciumnya.


CUP…

__ADS_1


__ADS_2