Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Akhir Cintanya Adalah Kematian


__ADS_3


"Franz! Tunggu aku, tunggu!" Suara seorang perempuan berseragam sekolah dengan blazer berwarna abu dan rok berwarna hitam, terus berlari mengejar seorang pria bernama Franz yang saat itu memakai seragam dari sekolah yang berbeda, karena blazer yang ia pakai berwarna merah.


Tapi, bahkan orang yang terus perempuan itu panggil, sama sekali tidak di gubris oleh Franz itu sendiri, selain terus berlari mengejar Franz.


"Franz! Kau tidak tuli kan?! Dengarkan aku! Aku ingin bicara denganmu!" Pada akhirnya perempuan ini berteriak keras demi mencari perhatian banyak orang, bahwa Franz yang di panggil itu, harus berhenti sekarang juga.


Dan benar saja, ketika semua mata memandanginya, Franz pun menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke belakang.


"Kau, apa kau tidak punya mulut yang bisa diam untuk sementara waktu?" Kata Franz, protes dengan cara perempuan di belakangnya itu menggunakan mulutnya dengan begitu bebas, sampai mau berteriak keras di depan umum, padahal saat ini mereka sedang berjalan melewati taman.


"Ini kan karena kau sendiri, sudah aku panggil dari tadi, kau malah bersikap seperti orang tuli." Papar perempuan ini kepada Franz.


"Huh~ Aku pikir kenapa, ternyata ada orang yang pacaran disini."


"Masih sekolah saja sudah pacaran, dasar anak muda zaman sekarang." Gerutu seorang wanita paruh baya sambil menggendong anaknya pergi menjauh.


"Widiw, dia tampan sekali. Tapi sayang ya, dia ternyata sudah punya kekasih." Gumam seorang gadis SMP yang kebetulan memakai seragam sekolah yang berbeda dari mereka berdua.


"Anghh~ Padahal tadi aku sempet pengen lari mau kenalan dengannya, tapi-" Tapi karena sekarang Franz tengah berbincang dengan seorang perempuan yang mereka duga adalah kekasihnya, dua anak SMP ini pun hanya bisa makan angin dan cuci mata sebentar saja sebelum akhirnya mereka memilih untuk pergi.


Franz sempat melirik ke arah kanan dan kiri, melihat situasi yang ada di sekitarnya.


"Apa kau puas? Mereka jadi memperhatikan kita berdua." Tutur Franz, dia tidak puas hati karena lagi-lagi jadi bahan pusat perhatian semua orang. Padahal sampai dua menit yang lalu, dia berjalan sanai seperti angin lalu saja, tapi sekarang?


Dia bahkan jadi terlihat seperti seorang pangeran yang sedang di kejar sang Putri.

__ADS_1


"Huh, salahmu sendiri dong." Ledek perempuan ini sambil bersilang tangan di depan dada.


"Kalau kau menyalahkanku terus, tidak usah bicara padaku." Cetus Franz, dengan begitu dingin dia berjalan kembali meninggalkan perempuan ini.


"...!" Tersentak dirinya benar-benar akan di tinggal pergi oleh Franz, perempuan ini sontak langsung berlari dan memeluk lengannya Franz. "Tunggu Franz, aku bahkan masih belum bicara benar denganmu, kenapa malah pergi hanya karena aku meledekmu saja?"


Franz lantas menoleh ke samping kanannya dan menemukan lengannya itu benar-benar tengah di peluk oleh perempuan cantik, dan merupakan bunga sekolah di SMP nya sendiri.


Tentu saja, karena Franz beda sekolah dengan perempuan ini, maka Franz tidak begitu peduli dengan posisi dari anak ini.


"Kenap malah tanya kenapa? Aku tidak suka membuang waktuku dengan pembicaraan yang tidak berguna, sebentar lagi kau masuk kelas kan? Jadi kembalilah, aku ada banyak urusan." Jawab Franz dengan tegas. Bahkan tidak tersirat rasa peduli apapun pada perempuan tersebut, padahal dari tadi tepat setelah Franz keluar dari restoran, dia berlari mengejar-ngejar Franz.


"Maafkan aku, tapi aku benar-benar mau bicara, apa pesan yang kau kirim itu benar? Soal kau mau putus denganku?" Tanyanya. Di mata perempuan ini tercermin mata yang terlihat mulai berderai dengan air mata karena masih tidak percaya kalau kata-kata yang sempat Franz kirimkan lewat pesan singkat dengannya, adalah kata-kata untuk memutuskan hubungan.


"Ya iyalah, kenapa aku harus berbohong? Berbohong juga tidak ada manfaatnya juga untukku." Balas Franz.


"Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?! Kau bahkan sampai hanya mengatakannya lewat chat doang, kau benar-benar keterlaluan. Padahal kita kan sudah jalan sampai lima bulan." Protes perempuan ini, dia adalah perempuan, sekaligus pacar pertamanya Franz, yaitu Juliska.


"F-franz." Suaranya bergetar begitu melihat ekspresi wajah Franz yang begitu dingin kepadanya. "J-jika aku punya salah, kenapa tidak membicarakannya saja dulu denganku? Aku akan memperbaiki kesalahanku, tapi aku mohon, jangan putusin aku." Pinta Juliska.


Dia begitu takut, padahal cintanya yang ada dalam hatinya sudah ia serahkan sepenuhnya untuk laki-laki ini. Tapi, dengan begitu mudahnya cinta yang sudah di jalin, harus kandas dengan kata putus tanpa sebab yang tidak Juliska ketahui.


"Ini bukan sesuatu yang bisa di selesaikan jika kau memperbaiki diri."


"K-kalau begitu apa?! Katakan saja padaku, aku juga ingin tahu alasanmu itu, jangan hanya bilang putus saja!" Akhirnya, Juliska pun meluapkan rasa kesal dan kecewanya.


Perlahan Franz diam lagi sejenak, dia ingin menata hatinya dalam berbicara, sekaligus membuat setidaknya penjelasan yang cukup singkat juga padat kepada perempuan ini.

__ADS_1


"Franz~ Bicara, jangan diam saja begitu!" Pinta Juliska, air matanya sudah tumpah, dia tidak sanggup untuk berpisah dari Franz ini, sebab bagaimanapun hubungan yang sudah terlanjur lama, dan dirinya juga sudah terlanjur jatuh cinta dengannya, ia tidak ingin hubungannya kandas.


Jika kandas seperti itu, apa jadinya nanti? Juliska pada awalnya tidak pernah mengira akan ada kata yang namanya putus, makannya ia pun tidak tahu harus bagaimana caranya untuk memperbaiki hubungannya, ataupun menghadapinya sendirian jika memang benar-benar putus.


Ia sama sekali tidak pernah membayangkannya.


Tapi, sepertinya tali itu akan sungguhan putus.


"Alasannya sederhana, karena kau juga sebenarnya mau di jodohkan, ya kan?" Jawab Franz dengan begitu singkat, jelas namun juga padat.


DEG...


"A-apa?" Seketika wajah Juliska jadi pucat pasi. "Tidak, aku tidak di jodohkan."


"Mungkin kau saja yang tidak tahu kalau kau sudah mau di jodohkan. Daripada aku di kira sebagai pria yang merusak hubungan orang lain dengan takdir yang sudah di tentukan, mending kita putus saja." Bagaikan melihat sebuah sampah yang menghalangi jalan, Franz dengan begitu cuek segera pergi dari sana, meninggalkan Juliska yang masih mencoba untuk mencerna apa yang di katakan oleh Franz itu.


'Bagaimana mungkin? Aku memang tidak tahu menahu soal apapun yang berkaitan dengan perjodohanku, tapi masa dia mau putus begitu saja?' Tidak menerima dengan apapun yang di katakan oleh Franz tadi, Juliska lantas langsung kembali berlari mengejar Franz yang dalam sekejap saja sudah berjalan cukup jauh. "Franz! Dengarkan aku dulu, walaupun aku di jodohkan, aku akan lebih memilihmu ketimbang orang yang akan di jodohkan denganku!" Teriak Juliska.


Namun, Franz sama sekali tidak begitu menghiraukan apa pun yang di teriakinya dan terus berjalan. Karena ada jalan yang harus ia sebrangi, Franz tetap melanjutkan perjalanannya.


Sedangkan Juliska, dia yang pikirannya sudah kosong dan hanya terpaku pada punggungnya Franz, terus berlari, berteriak memanggil namanya tanpa memperhatikan jalan.


"Franz! Jangan pergi! Pasti ada kesalahpahaman disini! Franz!" Teriak Juliska, sampai di titik Juliska sudah ada di tengah jalan, tiba-tiba saja sebuah truk yang membawa bahan bakar kendaraan datang dari arah kanan.


TINNN.....


Sampai akhirnya sebuah klakson yang begitu keras langsung membuat semua orang mengalihkan perhatiannya terhadap truk itu, atau lebih tepatnya kearah Juliska yang seketika putus asa dengan kedatangan truk itu dan akhir dari pengejaran cinta Juliska tehadap Franz langsung berakhir dengan kematian.

__ADS_1


BRAKK.....



__ADS_2