
Karena merasa dingin, Ovin pun melingkarkan kedua tangannya di leher Chade agar dirinya dapat memeluknya lebih dekat lagi. Sampai kedua wajah diantara mereka berdua pun benar-benar sangat dekat.
'Anak ini, selalu saja mendapatkan masalah. Sebenarnya apa yang dilakukan anak itu kepada keponakanku?' Polor Chade.
Sebenarnya ini sudah yang ke sekian kalian untuk Chade melihat keponakannya ini selalu dilanda rasa sakit hati karena perbuatannya Franz.
Meskipun dirinya tidak melihat awal kejadiannya langsung, akan tetapi Chade yang mampu untuk mencari informasi lewat jaringan internet serta CCTV yang bisa dia retas kapanpun dan di manapun, Chade selalu mendapatkan Keponakannya itu mendapatkan banyak masalah, baik itu di sekolah, maupun di rumah.
Dimana hal itu membuat Chade jadi memiliki rasa simpati lebih besar pada satu keponakannya ini.
Rasa simpati karena pada akhirnya Ovin tidak pernah sekalipun mendapatkan kasih sayang dari orang lain selain dirinya, Chade.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit, pekerjaanmu cukup sampai disini, jika ada yang perlu dibantu aku akan membantumu sebagai balas budimu kepada Ovin, sudah tahu nomorku juga jadi jangan sungkan. " ucap Chde di sela-sela langkah kakinya berjalan ke arah pintu keluar.
Karena Jordy sudah sedikit memberikan bantuan kepadanya, maka secara Chade juga harus membuat timbal balik yang bagus pada anak ketua osis ini.
'Siapa dia? Setidaknya kamu harus memberitahuku siapa namamu dulu kepadaku.' Cetus Jordy di dalam pikirannya. Jordy masih belum melepaskan pandangannya dari dua insan yang baru saja keluar dan berjalan masuk ke dalam helikopter, ketika helikopter tersebut sudah terbang pergi, barulah Jordy bisa bernafas lega karena. 'Tapi untung saja aku bisa menyelamatkannya, hampir setiap hari dia kena Bully di sekolah, tapi tetap sabar. Tapi hari ini, dia hampir mati, aku sebagai ketua osis juga harus mengambil tindakan. Sayangnya jika aku mendadak melakukan hukuman dan peraturan baru, aku nanti dikira berpihak kepada Ovin sepenuhnya. Nanti ujung-ujungnya, mereka pasti akan membuat perkara lagi dengannya.'
Hanya saja ketika Jordy hendak keluar, sudut matanya tanpa sengaja ia melihat satu benda berkilau di lantai kolam renang yang tadi menjadi tempat insiden dimana Ovin baru saja mengalami tenggelam.
'Apa itu?' Jordy yang penasaran dengan kilauan yang berhasil menarik perhatiannya, dia pun dibuat kembali masuk kedalam kolam renang yang sudah kosong itu. Dan ketika sudah di dekati, Jordy pun mendapatkan satu hal, yaitu : " Kelereng? " bisik Jordy.
Kelereng berwarna merah ruby yang cantik dan sangat menawan jika kamu memandangnya dengan seksama.
Karena sore itu matahari sore masih bersinar cukup terang sampai menembus kaca jendela besar itu, Jordy pun memperhatikannya dengan cara mengangkat kelereng itu ke atas.
Sampai akhirnya, cahaya matahari itu pun benar-benar menembus kelereng ruby transparan itu.
Mata jordy membulat lebar, saat di perhatikan dengan seksama, ternyata di dalam sebutir kelereng itu, Jordy dapat melihat satu pecahan batu meteorit yang teramat kecil benar-benar tertanam di dalam sana.
Jordy pun segera memasukkannya ke dalam saku, ia tahu pemiliknya itu siapa jadi ia akan mengembalikannya esok hari. Yah itu juga jika Ovin datang ke sekolah, mengingat hari ini banyak hal yang terjadi menimpa perempuan itu.
*
*
Beberapa waktu lalu, Jordy sebenarnya mengetahui berita yang tersebar di forum sekolah, tetapi siapa yang menyangka kalau dalam 30 menit kemudian berita itu sudah terhapus dari web sekolah, dan ada konfirmasi sebuah gosip yang beredar kalau Ovin adalah sepupu Franz.
" Aku tidak pernah mendengar dia punya sepupu, aku sangat mengenal keluarganya. Tapi orang tadi Chade, apa hubungan Ovin dengan pria itu? " Gumam Jordy, terhadap semua bukti yang Jordy dapatkan tadi.
Setelah lelah beraktifitas mnejadi ketua osis di sekolah, Jordy pun menjadi anak laki-laki biasa ketika sudah berada di rumah, tentunya.
Dia yang baru saja keluar dari ritual mandinya langsung duduk di depan komputer, dan mendapatkan banyak bukti terkait kasus yang menimpa ovin, berkat kinerja yang dilakukan oleh Chade kepadanya.
TING...
Tiba-tiba mendapatkan satu email dari seorang, yang sebenarnya adalah Chade, Jordy langsung membuka email tersebut, dan beberapa foto yang Jordy dapatkan itu membuat Jordy membelalakkan matanya.
"Bella?"
____________________
Dari sore lanjut menjadi malam, setelah kejadian sore tadi Franz mengantar Bella pulang ke rumah. Hanya memastikan sampai Bella dipastikan baik-baik saja Franz pun segera pulang.
Tetapi sepulangnya dari rumah Bella, tidak ada tanda keberadaan satu orang lain yang biasanya berada di rumahnya, oleh karena itu, sekarang rumahnya jadi terasa lebih hening.
Ia mencari ke dapur tapi tidak ada, di kamar juga tidak ada dan bahkan seperti tidak ada tanda kepulangannya sekalipun sepedanya masih terpakir di depan rumah.
Franz abaikan dan tidak mau tau lagi, karena yang terpenting sekarang dirinya bebas. Tidak ada pelajaran, banyak waktu luang, dan tidak ada perempuan itu.
'Ya..begitulah. Harusnya aku jadi merasa bebas, setelah tidak adanya dia di dalam rumahku.' Franz pun mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda setuju atas pikirannya itu.
Setelah mandi dan makan, Franz kembali keluar rumah sekaligus mengajak temannya yaitu Sean ke sebuah klub untuk bersenang-senang.
Sesampainya di tempat langganannya, Franz pun bertemu dengan Sean yang sudah duduk ditemani beberapa wanita untuk teman minun.
__ADS_1
" Tumben telat. " tanya Sean sambil merangkul dua wanita di sebelah kanan dan kirinya.
Tentu saja kedua wanita yang seumuran dengannya itu bermain-main dengan dadanya maupun wajahnya.
Benar-benar, Sean jadi terlihat seperti pria hidung belang. Tapi kenyataannya memang sudah mendapatkan julukan itu juga dari beberapa orang yang sudah mengenal dekat dengannya.
" Yang penting itu aku kan bisa datang?" Franz duduk sedikit berjauhan dengan Sean, lalu tangannya mengambil botol wine dan menuangkannya sendiri ke gelas.
" Apa kamu mau mabuk lagi? " Tanya Sean saat itu juga, saat melihat botol wine yang baru saja di buka itu justru separuhnya sudah ada di dalam gelas milik Franz.
Dan Sean bertanya seperti itu juga karena terakhir kali Franz mabuk, justru dirinya lah yang menjadi korban untuk mengantarkan pria berat itu ke rumahnya yang jauh.
"'Hmm? Kalau iya memangnya kenapa? Aku bisa mengganti wine milikmu ini sampai sepuluh kali lipat, juga." Sahut Franz, seraya menenggak wine dalam dua kali teguk, sampai wine yang ada di dalam gelas itu tinggal separuh saja.
"Aku tidak butuh itu semua. Tapi apa kau lupa? Terakhir kali kau mabuk, akulah orang yang mengantarmu pulang ke rumah. Jadi sebaiknya jangan merepotkan orang sekitarmu jika ingin mabuk seperti itu." Beritahu Sean kepada sang Tuan muda yang terlihat sudah seperti sampah, sebab saat ini Franz kembali melakukan hal yang sama dengan waktu itu. 'Aneh...apakah dia punya masalah serius? Orang yang seperti ini nih, pasti sedang dilanda frustasi berkepanjangan.'
Franz bersandar di sandaran sofa, mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di samping kanan dan kirinya persis, Franz melirik lagi ke arah kedua gadis yang menempel layaknya prangko di tubuh Sean itu.
" Bukan aku juga yang menyuruhmu mengantarku pulang, tapi bagaimana jika khusus malam ini tidur kau di rumahku saja? mumpung sepi." ucap Franz.
Sean memicingkan matanya, mencoba menyelidiki hal apa yang sebenarnya terjadi kepada Tuan muda ini? Sampai tiba-tiba saja mengajaknya bermalam di rumahnya yang besar itu?
"Bukannya rumahmu itu selalu sepi seperti kuburan? Memangnya sekarang sudah ada orang lain selain dirimu sampai mengatakan mumpung sepi?" Sean sedikit curiga dengan tingkah temannya yang satu ini, sedikit berbeda dari setengah tahun ini.
Franz sesaat kembali tersadar, dia baru saja salah memilih kalimat untuk mengajak Sean ini. 'Aku pikir dia hanyalah orang yang tidak terlalu memperhatikanku, ternyata dia punya pikiran yang tajam juga. Hanya saja....mumpung sepi? Selalu sepi? Kenapa aku tiba-tiba kembali memikirkan perempuan itu? Dia yang membuat masalah dengan Bella, jadi benar dong, aku membentaknya dan memperingatkannya. Tapi kenapa.. tiba-tiba saja aku jadi merasa bersalah sih?'
Kembali di landa frustasi, karena lagi-lagi Ovin, lagi-lagi istri simpanannya, Franz kembali di buat pusing lagi dan lagi, tidak ada habisnya. Karena itu, Franz kembali meminum wine nya.
GLUK...
" Oh ya....ngomong-ngomong dia betulan sepupumu? Kok ku tidak pernah tahu itu. Jadi yang kamu maksud sepi itu dia sedang tidak dirumahmu ya? Tapi kenapa harus tinggal dirumahmu? Kan ada rumah ibumu? Kalau seperti apa yang ada di berita itu, kan kalian berdua jadi diam-diam seperti dua orang yang menjalin kisah terlarang."
" Sejak kapan kau jadi tambah cerewet? " Franz meneguk wine merahnya dan berkata lagi. " Aku mengajakmu ke rumah untuk menemaniku bukan mengajakmu untuk bertanya terus." Imbuhnya.
"Lagian, situ sendiri kenapa tiba-tiba mengajakku ke rumahmu? Jangan-jangan kau mau melakukan hal lain denganku ya~" Sindir Sea kepada Franz yang akhirnya sudah terpancing untu..
BHUAK...
Bantal sofa yang ada di sebelah Franz itu langsung melayang dan mendarat persis di wajah Sean.
"Sekali lagi mengatakan itu, akan membuat perhitungan denganmu." Cetus Franz.
"Hei lady, lihat pria itu kan? Dia sedang marah, dia yang seperti itu pasti karena wanita lagi. Jadi jangan pernah dekati dia," Bisik Sean kepada kedua perempuan di samping kanan dan kirinya.
"Ah..sayang sekali, padahal aku ingin pindah tempat kesana." Sahut wanita yang ada di sebelah kanan Sean.
"Kalau mau kesana, silahkan saja. Tapi jangan mengharapkan uap tip dariku." beritahu Sean, seraya tangan kanannya mengelus bawah dagu perempuan ini dengan manja, layaknya seekor kucing yang menginginkan sebuah elusan manja.
"Lebih baik uang tip nya untukku saja." Sambung wanita ini, yang duduk di sebelah kiri Sean persis.
"Oh...kamu betul juga sayang," Sean mengiyakan permintaannya itu, "Tapi syaratnya, puaskan aku dulu, barulah uang tipnya un-"
"Sean, apa kamu setega itu. Aku tidak akan berpaling darimu." Wanita di sebelah kanan Sean langsung menarik wajah Sean agar tidak terus menerus menatap wanita yang ada di sebelah kiri Sean.
"Makannya, jangan pernah memancingku seperti itu." Balas Sean.
".............." Melihat Sean benar-benar menikmati harinya dengan kedua wanita di waktu yang bersamaan seperti itu, Franz tanpa sadar jadi teringat dengan momen dirinya bersama dengan Ovin, yang justru hampir saja melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan ketimbang Sean saat ini. 'Haissh....kepalaku sepertinya butuh di bedah. Aku selalu saja teringat dengan perempuan itu terus.'
GLUK...
__________________
Di sisi lain, Chade saat ini sudah berada di rumah sakit, untuk memeriksa kondisi Ovin.
" Besok Nona sudah boleh pulang, usahakan jangan terlalu banyak pikiran. Sebab itu akan mempengaruhi tubuh anda untuk lebih drop lagi dari ini, dan anda bisa jadi lebih stress." kata suster yang tengah merawat serta mendata pasien yang dibawa oleh tuan Chade.
__ADS_1
Selagi menunggu Ovin diperiksa oleh suster itu, Chade pun hanya diam saja sambil menunggu suster itu keluar.
KLEK...
"Sebaiknya Tuan harus menjaga baik-baik Nona Ovin. Sekalipun dari luar Nona terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan tubuhnya."
"Ada apa dengan tubuhnya? Dia tidak memiliki penyakit atau apapun itu kan?" Tanya Chade khawatir.
"Nona sebenarnya hanya kelelahan, hanya saja karena Nona terus memaksa dirinya untuk berpikir, maka itu akan berdampak pada kesehatannya. Nona sudah mengalami stress karena memendam banyak hal di dalam dirinya sendiri, karena itu anda harus lebih mengawasinya. Karena ada beberapa kasus, biasanya, jika seseorang mengalami stress berlebih, maka ada satu waktu orang tersebut akan bertindak lebih dari yang biasanya. Intinya, anda hanya terus mengawasi Nona, agar tidak melakukan yang berbahaya. Anda mengerti yang saya maksud kan?"
"Ya..aku mengerti." Sahut Chade, mengerti dengan semua penjelasan itu.
"Kalau begitu saay permisi lebih dulu." Seperginya suster ini, Chade melirik ke arah satu orang yang saat ini sedang tiduran di atas ranjang pasien.
Dia adalah Ovin, dimana saat ini gadis itu sedang memandangi tangan kirinya yang sedang di infus.
'Berbahaya..' Chade langsung mengernyitkan matanya saat mendengar kata itu lagi.
____________
Flashback On.
WUSSHH...
Angin kencang itu langsung menerpa wajah dan tubuh mereka berdua.
"Vin...ini berbahaya." Ucap Chade memperingatkan.
"Ayolah paman, eh bukan, tapi kakak...apanya yang berbahaya? Ini menyenangkan loh. Anginnya sangat kencang."
"Itu karena kau membawa mobil dengan ngebut!" Marah Chade, karena keponakannya itu tiba-tiba saja mencuri mobilnya, dan membawanya pergi dengan cukup ngebut di area landasan pacu di salah satu bandara yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, sehingga memang....landasan pacu untuk pesawat terbang itu memiiki panjang lebih dari empat kilometer, tapi apa yang terjadi jika hal tersebut menjadi spot menarik untuk keponakannya itu melepaskan stres nya dengan memunculkan adrenalin mereka berdua!
"Oh..dengan pelan? Ok aku akan lebih memelankan mobilnya." Namun yang dikatakannya itu adalah kebalikannya.
Ovin yang saat itu masih berusia tujuh belas tahun, justru menginjak pedal gas lebih dalam.
BRRMM.....BRMMM.........
"Vin!"
"Apa?! Aku tidak dengar!" Pekik Ovin, wajah gilanya itu terpampang cukup jelas, karena baru saja menerima insiden dimana kakeknya meninggal.
Terdengar sepele, tapi bagi Ovin yang waktu dulu dibawa oleh kakeknya langsung untuk masuk kedalam keluarga dari sang Ibu yang ternyata benar-benar masih ada, membuat hati Ovin terasa sesak.
Apalagi belum dengan semua tekanan yang didapatkan oleh Ovin, ketika dia harus terus menerus belajar dan juga latihan dalam porsi berat agar bisa menjadi orang yang bisa masuk kedalam pasukan rahasia yang di dirikan oleh sang kakek.
Demi menjadi kuat?
Itu salah satunya, mengingat Ovin sempat mendapatkan perlakuan kasar dari ibu tirinya dulu.
"Berhenti! Aku bilang berhenti sekarang juga!" teriak Chade kepada Ovin. "Ini berbahaya, jangan lakukan ini. Biarkan arw-"
"DIAM! Aku tidak akan berhenti! Sebelum aku puas untuk mengetahui mobilmu ini bisa jalan seberapa cepat!" Marah Ovin mencoba mengalihkan kembali pikirannya agar tidak teringat dengan kakeknya itu, orang yang memungutnya dari jalan di bawah hujan dan hampir menerima maut.
"Sini...jangan lak-"
"Diam Chade! Kau tahu apa tentangku? Aku hanya ingin naik mobil barumu ini, katanya cepat kan?! Makannya aku ingin mencobanya, seberapa cepat yang bisa di ampu mesin ini!" Tidak puas hati dengan tindakan Chade yang terus menghalanginya, Ovin langsung membanting stir, menginjak rem dan gas secara bersamaan, mengalihkan roda giginya ke roda gigi paling dasar, sampai mobil berwarna biru metalik itu langsung berbelok separuh drifting.
Mobil keluaran terbaru yang dimiliki Chade pun kembali melesat menyusuri landasan pacu itu, dengan kecepatan tinggi.
Seperti yang di duga, Ovin yang merasakan kehilangan seseorang yang disayanginya itu, membuat emosinya tidak stabil dan melakukan hal yang cukup berbahaya, diluar nalar perempuan normal yang biasanya Chade temui.
____________
Flashback Off.
__ADS_1