Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
34 : PUM : Posisi


__ADS_3

Sinar mentari pagi itu kembali menyelimuti alam semesta yang akan di tulis dalam sebuah kisah ini.


Franz dan Ovin. Dua sejolin yang dipaksa menjadi pasangan sejolin itu pun saat ini lagi-lagi kembali bertengkar.


Karena apa?


Karena sebuah permasalahan yang sedang di permasalahkan oleh Franz.


"Kenapa kamu membuangnya?!" Pekik Ovin saat melihat seragam atau blazer milik Jerry sudah ada di tempat sampah.


Franz yang kala itu sedang ada di halaman belakang untuk melakukan olahraga, langsung menjeling ke tempat dimana Ovin sedang berdiri dan menuntut jawaban kepadanya, "Jangan tanya kenapa. Tahu sendiri ini rumahku, jadi aku bebas aku mau melakukan apa dengan segala isi yang ada di wilayahku ini. Apalagi saat melihatmu tiba-tiba membawa sampah dari luar, jadi aku aku hanya melakukan apa yang harusnya aku lakukan dong. Seperti meletakkan sampah kepada tempatnya." Cemooh Franz seraya melakukan peregangan.


Ovin terus memberikannya tatapan tajam kearah Franz.


Saat ini di kedua tangannya kebetulan ada dua blazer, satu di antaranya adalah milik Jerry dan satunya lagi tentu saja milik laki-laki nakal itu.


Demi membalaskan dendamnya, karena hasil usahanya untuk mencuci pakaian di sia-siakan oleh orang di depan sana itu, Ovin pun langsung membuang blazer milik Franz ke dalam kolam renang.


WUSSHH....


Lalu berbalik pergi dengan membawa blazer milik Jerry untuk di cuci lagi.


'Memangnya aku hanya punya satu?' Kata hati Franz saat melihat Istrinya itu marah, sampai blazer sekolahnya di buang ke kolam renang, sehingga pakaian yang akan dipakai besok pun kembali basah.


Tetapi karena berpikir kalau Franz masih memiliki cadangan lagi, jadi tidak mempermasalahkan satu seragamnya itu di buang dengan serta merta oleh Istri dadakannya itu, maka itu salah.


SRRAKK...


Di kamar Franz. Saat mendengar jendelanya di buka, Franz langsung berbalik dan mendongak ke atas.


"Kamu pikir, mencuci itu tidak lelah ya?" Tanya Ovin dengan setumpuk belazer milik Franz sudah ada di tangannya.


"Apa yang mau kamu lakukan dengan seragamku." Balik tanya Franz.


"Membuang yang aku pikir adalah sampah juga." Sahut Ovin dengan seringaian liciknya.


Melihat hal tersebut, Franz langsung mengancam, "Apa kamu tahu apa yang terjadi jika membuang itu semua?"


"Ahh~ Tidak tahu tuh," Ledek Ovin sambil memandang ke arah lain, lalu selagi bersiul, kedua tangannya pun dia angkat dan menyebarkan setumpuk blazer milik Suaminya itu tanpa merasa bersalah sedikitpun.


WUSHH....

__ADS_1


"Wah...hujan pakaian. Tangkaplah kalau bisa," Setelah mengatakan itu, Ovin berbalik dan pergi dari sana.


Franz yang tidak mau kehilangan pelengkap seragamnya itu, langsung berlari, setidaknya menyelamatkan salah satu blazer miliknya yang akan di pakai besok.


'Perempuan itu, makin hari menjengkelkan juga. Aku pikir dia anak yang pendiam, tapi dia...beraninya membuang seragamku!' Franz buru-buru berlari untuk menggapai satu persatu blazer yang tersisa di udara. Dengan sigap dia bisa mencapai satu pakaian miliknya sebelum neyentuh tanah, yang kedua sebelum mendarat di semak-semak, dan yang terakhir...?


Franz yang kehilangan tempat berpijak, tanpa sengaja jadi terhuyung ke tepi kolam dan akhirnya...


BYURRR.....


'Sia-sia aku menangkap seragamku.' Pikir Franz tatkala dirinya harus melepaskan semua yang dia dapat untuk naik ke permukaan. "Phuahh...hah...hah...hah...."


"Berenang pagi jadi segar kan?" Cicit Ovin kepada Franz yang berhasil naik ke permukaan, dan sekarang sedang ada di tepi kolam.


Franz langsung menatap dingin perempuan ini.


Dia tidak suka jika ada yang memandangnya dengan tatapan merendahkan seperti itu di depannya persis. Karena kebetulan Istrinya sedang berdiri di depannya persis, maka Franz pun punya inisiatif untuk menarik salah satu kaki itu agar bisa masuk ke dalam kolam juga.


Tapi...


Ovin dengan gesit, menghindarit tangan Franz yang hendak menggapai salah satu kakinya itu.


"Eh?" Ovin mengambil satu langkah mundur demi menjaga jarak dari jangkauan tangannya Franz.


TAP...TAP...TAP.......


"Siapa yang membuatku masuk ke kolam?"


"Kan kamu sendiri?" Sahut Ovin dengan cepat. Dia mundur ke belakang.


"Jika saja kamu tidak melempar semua pakaianku, aku juga tidak akan tercebur seperti ini."


"Tetap saja, itu salahmu sendiri kan? Tidak bisa memperhatikan langkahmu sendiri, jadi jangan salahkan aku. Karena semuanya berasal darimu. Jika saja buk-" Di tengah-tengah mulutnya masih ingin berbicara itu, melihat tangan Franz benar-benar hendak menangkapnya, Ovin langsung berbalik untuk kabur dari sana.


"Kalau begitu, yang membuatku seperti ini, juga harus merasakan akibatnya juga." Franz langsung mengulurkan tangan kanannya untuk meraih bahu ataupun tangan Ovin.


Tapi di sebabkan Ovin hendak kabur dari hadapannya, Franz pun segera menyusulnya.


"Tidak mau!" Ovin mulai kabur dari jangkauan Franz.


Namun karena merasakan tanda bahaya dari Franz yang benar-benar mengejarnya dari belakang, Ovin pun tanpa sengaja langsung salah ambil langkah hingga kakinya jadi tersandung sendiri.

__ADS_1


BRUKK....


'Ahw..' Rintih Ovin dalam diam.


Dan karena terjatuhnya dalam posisi menungging, Franz yang tubuhnya masih bayah kutup itu, secara langsung membawa kakinya jadi ikut terpeleset.


'Waduh..gawat!' karena lantainya yang licin, maka hasilnya Franz langsung membelalakkan matanya dengan sosok yang ada di depannya, dan akhirnya...


BRUKK...


Franz secara tidak sengaja langsung menindih tubuh Ovin yang tadi baru saja terjatuh juga, namun dalam posisi menungging.


Hasilnya....


"Akhh...!" Ovin langsung mengerang keras.


'Adududuh...kenapa harus jatuh dalam posisi seperti ini?' Keluh Franz saat dirinya jadi menindih Ovin dari belakang persis dan sekarang tubuh mereka berdua pun seperti dua orang yang sedang bermain kuda-kudaan.


'Aahh...pant*atku. Kenapa dia sampai jatuh menindihku seperti ini? Sekarang aku jadi merasakan sesuatu yang mengganjal di bawahku persis.' Batin Ovin. Dimana saat ini dia pun merasakan sensasi aneh selain dingin akibat tubuh Franz yang basah kuyup itu, dia juga merasakan hal lebih dari sekedar berat, yaitu tekanan lain yang ada di bawahnya persis. "F-franz..."


"Hm?"


"Kenapa aku tiba-tiba jadi ingin lebih ya?" Tanya Ovin dengan terus terang tanpa memperdulikan harga dirinya lagi di depan Franz yang sekarang notabene nya adalah sudah sah menjadi suaminya.


"Kalu gila ya?" Celetuk Franz. Tidak mau berlama-lama dalam posisinya yang serba memalukan itu, Franz berusaha untuk bangkit dari atas tubuh Ovin.


Tapi apa yang ada, justru tangannya yang basah itu, berhasil membuat tubuh Franz kembali terjatuh di atas Ovin lagi.


BRUK...


"Ah~"


Lenguhan tak jelas itu langsung menyita perhatian Franz untuk berpikir bahwa rintihan tadi itu bermakna apa?


Sakit ataukah karena sesuatu yang lain?


Ovin yang sudah pasrah karena ternyata tubuh Franz itu benar-benar cukup berat, membuatnya membiarkan dulu mau sampai kapan anak itu bisa beranjak dari tubuhnya.


'Sialan, kenapa aku harus merasakan posisi seperti ini?' Kernyit Franz, di tengah dirinya sedang berusaha untuk bangkit dari atas tubuh Ovin, yang saat ini menjadi penyelamatnya lagi, sebab menjadi kasur empuknya?


Franz langsung menggeleng-geleng kepalanya dan bergegas bangkir dari tubuh Ovin.

__ADS_1


"Ya...mungkin aku memang sudah gila." Jawab Ovin. 'Dan aku bisa gila seperti ini juga karena mu.'


__ADS_2