Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
86 : PUM : Tujuan Chade.


__ADS_3

Ovin yang masih berada di ambang pintu, langsung celingukan kesana kemari untuk melihat seluruh dari sisi ruangan yang sudah tidak lagi terlihat seperti sebuah kamar inap untuk pasien, tapi seperti sudah berada di dalam ruang makan yang ada di dalam kerajaa.


"F-franz, tempat macam apa ini? Ini kan rumah sakit, betul kan? Kenapa di dalam kamar ini jadi terlihat aku seperti baru saja masuk kedalam ruang makan kerajaan?" Tanya Ovin tanpa memperdulikan dirinya jadi memperlihatkan wajah bodohnya di depan Franz ini.


"Ini memang ruang makan, kenapa tanya seperti itu?"


"Tapi ini-" Kalimatnya terenti saat tubuhnya di dorong masuk oleh seorang lagi, dan ketika Ovin menoleh ke belakang, dia melihat orang yang mendorongnya masuk adalah sang paman, yaitu Chade.


"Jangan menghalangi jalan. Cepat masuk." Kata Chade, masih mendorong bahu Ovin agar terus berjalan maju.


"K-kakak, kenapa kau ada di sini juga? Apakah ada yang memberitahumu soal keadaanku?" Tanya Ovin lagi, masih berjalan maju, karena Chade terus mendorong tubuhnya ke depan.


Melihat hal tersebut, Franz jadi merasa tersingkirkan, karena Chade menjadi sosok utama yang terus di berikan tatapan penasaran oleh Ovin?


'Jadi dia memang benar-benar kekasihnya? Kenapa aku merasa cemburu?' Benak hati Frnaz sambil berbalik dan memunggungi mereka berdua dengan salah satu tangannya menutup mulutnya sendiri. 'Kenapa perasaanku jadi tidak suka jika dia dekat-dekat dengan pria lain? Padahal jika aku dekat dengan wanita lain, dia terlihat biasa saja, tapi kenapa tidak denganku?'


Setelah sampai di ujung meja, Chade pun menarik kursinya dan menuntun Ovin agar duduk di meja paling ujung.


Meja itu memiliki panjang lima meter, dimana di tengah meja itu ada taplak panjang berwarna merah maroon, dua buah lilin berwarna merah yang sudah menyala, dan berbagai makanan sudah tersaji juga di atas meja.


Namun lebih dari pada itu adalah desain dari kamarnya sendiri benar-benar di dekorasi seperti dia berada di aula makan yang berada di dalam istana kerajaan. Baik itu lampu gantung, karpet mewah yang besar, tirai jendela yang mahal, serta masih banyak lagi.


Itu bukan sesuatu yang mudah di kerjakan dalam waktu satu atau dua jam, jadi lantas sejak kapan kamar pasie itu berubah jadi aula untuk jamuan makan?


"Kakak, kenapa kakak melakukan ini?" Tanya Ovin.

__ADS_1


'Kakak? Dia benar-benar menyebutnya kakak dengan nada yang cukup int*im seperti itu? Dan yang benar saja, apa dia sungguh mengira kalau semua dekorasi yang ada di sini adalah dia yang melakukannya? Chade ini, memang hanya ambil untungnya saja.' Tidak terima karena mengira Chade lah yang memberikannya kejuta, Franz langsung pergi menghampiri mereka berdua dan duduk di sebelah kiri Ovin.


"Aku mela-"


"Akulah yang melakukannya." Sela Franz dengan cepat, agar Chade tidak mengambil keuntungan yang lain, setelah mendapatkan tatapan serta panggilan dari Ovin yang terasa cukup mesra.


Ovin pun jadinya menoleh ke arah Franz, "Kamu? Kalau begitu untuk apa kamu melakukannya? Kan aku tidak pernah minta."


"Apakah melakukan hal seperti ini harus ada alasannya?"


Tidak mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan dari Franz, Ovin pun kembali menoleh ke arah Chade yang saat ini sudah duduk di samping kanannya dan bertanya : "Pasti kakak yang memberitahukannya kan?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.


Chade tiba-tiba memberikan senyuman lembut kepada Ovin, lalu lagi-lagi memberikan usapan di ujung kepala Ovin, dengan sebuah usapan yang manja, dan setelah itu Chade mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ovin dan berbisik : "Kalau tidak begitu dia tidak akan tahu. Kalau kamu suka hal yang seperti ini. Lihat dia, dia sudah masuk dalam kecemburannya karena aku lebih kenal dan dekat denganmu. Ini bisa di jadikan pancingan agar kau tahu, seperti apa reaksi dia jika aku lebih mesra denganmu." Ucapnya.


"......." Ovin sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Chade yang memang tidak kalah tampan dengan Franz.


Karena itu, demi menghilangkan pemandangan yang merusak itu, Franz menarik tangan kiri Ovin agar menoleh ke arahnya.


"Apa yang ka-mphh..?"


"Bukannya perutmu sudah mengaum tadi? Jadi makan, bukan mengobrol." Beritahu Franz kepada sang istri setelah menyuapkan satu udang gemuk penuh daging kedalam mulutnya Ovin.


Karena udang yang Franz berikan cukup besar, maka kedua pipi ovin pun jadi menggembung, dan terlihat seperti hamster yang sedang mengunyah makanan.


'Ini enak, tapi kenapa dari reaksinya ini, terlihat seperti orang yang cemburu? Apakah yang di katakan oleh paman memang benar? Kalau ini adalah rasa cemburu miliknya untukku gara-gara aku terlihat seperti bermesraan dengan paman Chade?' Pikir ovin selagi mengunyah daging udang yang dia sukai. Tapi karena terlalu besar, makannya kedua pipinya jadi penuh, dan ada kuah merah yang sempat keluar dari sudut bibirnya.

__ADS_1


Dan Chade lebih dulu beraksi, mengambilkannya tisue dan menyeka sudut bibir keponakan.


"...........!" Dan Franz yang kalah bertindah, mencengkram garpu yang sedang di pegangnya itu dengan cukup kuat.


"Makan saja belepotan."Kata Chade, memberikan provokasi kepada Franz yang terlihat sudah menggenggam rasa kesal yang sudah mulai menumpuk itu.


Ovin yang masih tidak bisa bicara hanya terus mengunyah dan berusaha menelannya sedikit demi sedikit.


GLUK..


"Minum ini." Dan sekarang Franz pula yang memberikan pelayanan kepada sang Istri yang tidak mau di ambil orang.


Ovin yang mau memegang gelasnya sendiri, langsung di cegat oleh tangan Franz.


"EMhh..!"


Tapi karena Franz orangnya tidak sabaran, maka cara Franz memberikan minum kepada Ovin pun jadi membuat banyak sekali air yang keluar dari mulutnya.


"Uhuk...uhuk..uhuk..." Ovin langsung tersedak dengan pakaian sudah basah?


"Kalau hanya terpakasa, jangan beri minum, biar aku saja. Lihat, Ovin jadi tersedak." Peringat Chade dengan tatapan sengitnya, karena memberikan minuman dengan cara sembarangan. Padahal Ovin adalah adik angkatnya yang Chade rawat seperti bunga mawar yang di berikan perawatan khusus. "Ah lihat ini, pakaianmu jadi basah." Chade yang kelewatan itu, langsung mengambil tisue dan mencoba mengeringkan pakaian Ovin bagian dada yang terkena air itu.


"Berhenti!" Franz akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan mencegat Chade untuk tidak melakuan pekerjaannya yang melanggar norma, karena itu sama saja dengan tindakan pelecehan. "Sebaiknya kau pergi dari sini saja."


"Kenapa? Ovin saja tidak mengusirku." Kembali mencoba mengeringkan pakian Ovin dengan tisue yang masih di pegangnya.

__ADS_1


'Sebenarnya kenapa jadi seperti ini? Paman bertindak cabul, dia menyentuhku. Dan Frannz ini, kenapa tiba-tiba jadi baik sekali ya? Malahan perhatian, walaupun terkesan tidak sabaran.' Pikir Ovin.


__ADS_2