
'Tujuanku?' Franz membelalakkan matanya, karena dia akhirnya di pandang oleh Ovin sedang melakukan tujuannya, tujuan dari mereka berdua untuk melakukan hal lebih?
Ovin yang sedang tidak peduli dengan reaksi wajah yang bisa Ovin lihat itu, dia segera melanjutkan pekerjaannya untuk membuka pakaiannya.
"Vin ..., sebentar. Kamu memangnya mau apa?"
"Hm? Apa lagi? Aku ingin coba memuaskanmu. Bukannya kau sangat tergoda denganku sampai mau menerima ciumanku dan bahkan-" Ovin menggantungkan kalimatnya karena setelah dia melepaskan seragam putih miliknya, di saat itulah apa yang biasanya membungkus kedua buahnya, langsung melorot.
Dan Franz pun jadi dibuat bertambah terkejut dengan penampilan Ovin yang cukup berani itu!
"Cukup! Jangan salah paham, aku tidak ingin di puaskan olehmu!" Franz langsung meraih blazer milik Ovin yang kebetulan tergeletak di sebelahnya persis, dan segera menempatkan blazer itu di depan dadanya persis, sehingga Franz pun berhasil menutup aset penuh maut itu dari pandangannya.
Ovin mengangkat kedua alisnya ke atas, dia tidak mengerti padahal jelas tadi Franz terlihat sedang menginginkannya, karena semua gerakan yang Franz lakukan kepadanya itu sangatlah mendominasi seperti seseorang yang sangat profesional.
Dan sekarang Franz sok menolaknya?
Siapa yang mau percaya jika telinganya Franz sudah memerah, dan di tambah dengan Franz yang tidak berani menatap matanya, maka itu sudah jelas, kalau Franz hanya mencoba menghindar.
Pria di bawahnya itu bukannya tidak mau, hanya saja demi kelangsungan hidup mereka berdua, pasti sudah pasti kalau Franz ada beberapa pikiran lain yang ada hubungan serat dengan apa yang pernah Franz lakukan kepadanya.
__ADS_1
Itulah penyebab diri Franz saat ini menolak tawarannya.
'Padahal sudah ingin makan, lihat saja itu.' Ovin yang melihat area pribadi milik Franz terlihat sudah meronta ingin keluar, maka dengan sengaja Ovin pun duduk di atasnya persis, sehingga kepunyaan nya Franz jadi langsung terjepit kuat.
Jadinya, Franz langsung bereaksi kuat, dia dengan cepat-cepat bangun dari acara berbaringnya, untuk mendorong tubuh Ovin agar menyingkir dari atasnya.
Namun sayangnya di saat yang sama, pintu yang semula tertutup itu tiba-tiba langsung terbuka.
KLEK...
"Franz, sudah waktunya makan malam." Dan suara itu berasal dari Fardan yang langsung membuka pintu tanpa sebuah ketukan permisi.
CKREK.
"Akkkhh!" Ovin refleks berteriak karena yang Fradan mengambil gambarnya, sehingga Ovin langsung kembali menatap ke arah depan dan mencengkram seragam nya Franz untuk menutupi tubuh bagian depan nya.
"Fardan! Apa yang kau lakukan itu?! Hapus!" Teriak Franz secara spontan tepat di saat Ovin memeluk tubuhnya? 'He? Kenapa aku jadi berteriak memarahi pamanku sendiri?'
Hanya saja, ketika Franz melirik ke arah bawah, dimana Ovin sedang diam memeluk tubuhnya dengan tubuh polos yang sudah gemetar, Franz pun entah kenapa hatinya jadi merasa terganggu dengan semua itu.
__ADS_1
Kemana keberanian dari perempuan ini yang tadi?
Semua itu seperti menghilang bersamaan dengan angin dari AC yang terus menyala menyapu tubuhnya, yang rupanya benar disalah satu bahu milik perempuan ini memang ada bekas luka dari tikaman sesuatu? Pisau atau apa, Franz kurang tahu.
'Apakah dia kembali trauma karena bekas luka di bahunya itu?' lirik Franz pada kepala Ovin yang sedang menunduk di depan dada bidangnya persis.
"Tenang, aku akan hapus setelah aku mengirimkannya kepada Ibumu." Kata Fradan.
Seperti yang di harapkan oleh Fardan, paman nya Franz, pasti akan memiliki niat untuk memberitahu sang Ibu untuk memberikan berita terbaru dari Franz dan Istrinya yang akhirnya bisa memulai hubungan baru dengan langkah awal untuk saling bercumbu.
"Aku tidak mempercayainya, hapus itu sekarang!" Franz yang tersulut emosi, mencoba bangkit dari tempatnya, sehingga mencoba membujuk Ovin agar menyingkir dari pangkuannya.
Tapi Ovin yang terlihat takut itu, terus mencengkram seragam milik Franz agar laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu tidak pergi dari tempatnya.
"Lepaskan aku," Franz meminta Ovin yang ada di atas pangkuannya itu untuk melepaskan cengkraman tangannya itu dari seragamnya.
Tapi Ovin menggelengkan kepalanya tidak mau.
"Jadi kau mau agar dia mengirim foto kita bardua ke Ibu?" Tekan Franz dengan tatapan mata yang cukup tajam, hingga siapapun akan tahu kalau Franz saat ini sedang marah.
__ADS_1