Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Air Cinta?


__ADS_3

Tubuhnya seketika menabrak tubuhnya Franz, dan tidak ingin gadis ini pergi, Franz lagi-lagi melingkarkan tangan kirinya ke pinggangnya si Oktavin ini.


Kemudian Franz bertutur sesuatu dengan nada lirih.


"Kali ini saja... Turuti perintahku. Bukan sebagai Franz, tapi suamimu, kau paham?"


Wajahnya Ovin yang tadinya berekspresi biasa, berubah menjadi tegang.


Bibir yang ada di depannya itu semakin lama semakin mendekat, dan terus...


CUP......


Franz mengecup bibir sang gadis ini dengan lembut lalu dia berhentikan sejenak karena tidak ada respon dan justru bersikap seperti patung.


Franz kembali menautkan bibirnya, dan lagi-lagi tidak ada reaksi, sehingga membuat Franz kembali lagi berinisiatif untuk mencium gadis patung ini.


"Vin! Ini perintah!"


Mendengar perkataan itu, Ovin menatap wajah Franz dengan ekspresi wajahnya yang begitu datar.


"Kau- memerintahku?" tanya balik gadi ini terhadap perintah nya Franz. "Sejak kapan kau berani memberikanku perintah?" sembari mendorong dirinya sendiri agar menjauh dari atas tubuhnya Franz.


Membalas ekspresi wajahnya Ovin yang cukup dingin itu, Franz pun langsung menarik belakang leher nya Ovin agar wajah yang tampak angkuh itu bisa dia lihat lebih dekat.


"Sejak kau menolak perintahku, dan membuatku terus mengatakan hal yang sama berulang kali," tegas Franz.


"Aku tidak semurah itu, sampai kau menciumku seenak itu, untuk membujukku agar aku luluh dengan kelakuan kasarmu selama ini," peringat Ovin, tidak bisa menahan dirinya lagi untuk bicara lebih tegas dari pada biasanya yang hanya terus mengiyakan perintahnya seperti orang bodoh.


"Kau butuh uang?"


"Hah, uang? Bahkan ketika kau sama sekali memberiku uang sebagai tanggung jawabmu kepadaku, apa kau akhirnya merasa malu untuk bi-"


CUP ...

__ADS_1


"Phuih!" seketika Ovin langsung menarik kepalanya ke belakang, dan meludah secepat mungkin. "Aku bilang, jangan seenaknya begitu! Aku ini buk-mphh!"


Lagi-lagi mendapatkan ciuman yang cukup kasar, Ovin langsung menarik tubuhnya sendiri untuk menjauh dari atas tubuhnya Franz.


Namun, Franz yang bahkan tidak mau melihat Ovin pergi lagi dari pandangannya, dengan cepat langsung menekan pinggangnya Ovin lebih kuat, agar gadis ini tidak bisa pergi dari sisinya.


"Kenapa? Apa kau mau lari dariku? Apa kau mau menghindar?


Bukankah karena kau sendiri, membuat aku juga jadi seperti ini?


Kau mengiyakan ingin menikah denganku, tapi apa ini? Kau bahkan mau pergi dari hadapanku di saat aku ngin memperbaiki diriku terhadapmu, jadi kenapa kau mau melarikan diri?


Apa ini tanggung jawabmu sebagai perempuan yang ma- maksudku sudah membuatku tidak punya masa depan sebagai status lajang?" deretan omelan yang sangat menyanjung sebagai sindiran untuk Ovin pun berhasil membuat Ovin terdiam.


"Terlalu banyak bicara. Jika bukan karena kau selama ini bersikap kasar kepadaku, aku juga tidak mungkin akan bersikap seperti ini!


Jadi bukan salah aku, tapi salahmu sendiri. Kau lah yang memupuk tanaman dengan bahan yang tidak bermutu!"


"Mphh..!"


Gara-gara tenaganya lebih besar dari pada biasanya, Ovin pun akhirnya jadi sedikit kewalahan dengan sikap nya Franz.


"L-lepas-mphh!" memberontak tidak karuan dengan tenaga yang sama-sama besar, akhirnya Ovin pun berhasil melepaskan diri.


"Padahal ada banyak perempuan yang ingin mendapatkan ciuman dariku, kenapa kau terus menolaknya?" mengernyitkan matanya, tidak paham dengan jalan pikiran dari Ovin.


" Men...menjijikan!" ketus Ovin sambil mengusap sudut bibirnya.


'Apanya yang manis? Di novel ciuman itu akan manis, tapi rasanya hambar begini. Ciuman itu sama saja dengan berbagi air liur, jadi lantas berapa juta kuman yang dia bagikan kepadaku?' tatap Ovin dengan wajah tidak puas hati.


Dia memang sudah merasakan ciuman dengan Franz. Namun karena saat ini hubungan diantara mereka berdua cukuplah berantakan, hal itu pun membuat logikanya jadi di gunakan.


'Memang, lembut sih lembut, tapi aku pikir rasanya memang menjijikan, karena aku sedang bertengkar dengan anak ini.' pikirnya, dia sadar diri dengan apa yang barusan dia lakukan.

__ADS_1


"Apa semenjijikan itu?" gumam Franz, 'Perempuan ini pada dasarnya licik juga.


Aku tahu, aku seolah sedang mengalihkan perhatian dari masalah diantara aku dan dia.


Tapi mengingat dia bahkan pernah menciumku lebih dulu, bukankah dia cukup keterlaluan kalau ciuman itu menjijikan?' mau di pikirkan berapa kalipun, Franz benar-benar bingung dengan cara pandang nya Ovin.


"Sudah... Minggir!" Ovin mendorong kuat tubuh Franz ini agar benar-benar menjauh dari dirinya.


"Tidak, mulai detik ini kau tidak bisa pergi dari sisiku, itulah perintahku,"


"Tidak mau, kau bahkan tidak pernah sekalipun minta maaf dengan benar kepadaku, kenapa aku harus menuruti perintah dari orang sepe-mphh!"


Tidak puas melihat Ovin terus saja memberontak padanya, Franz yang sudah kehilangan kesabaran dengan sikap perempuan itu, akhirnya langsung menciumnya lagi, setelah itu dia pun menarik tubuh Ovin sampai jatuh.


BRUKK...


Terjatuh di atas pasir yang lembut, seketika Franz pun mencengkram kedua tangannya Ovin, dan membuat perempuan tersebut tidak mampu bergerak sedikitpun, karena tubuhnya sudah Franz kunci dengan posisi yang agak memalukan.


"Ovin, aku akan mengatakannya sekali lagi. Jika kau memang ingin aku bisa membuat permintaan maaf yang benar, ada baiknya kau tidak pergi, agar bisa menilai langsung aku dengan kedua mata kepalamu sendiri," ancam Franz, dia berhasil membuat Ovin kehilangan kata-katanya di tengah posisi mereka berdua yang sudah cukup ambigu, tepat di bawah langit senja.


"Hei! Apa yang sedang kalian berdua lakukan dengan posisi seperti itu?!!" teriak salah seorang pria tepat di sisi pagar pembatas, dengan seragam polisi melekat di tubuhnya, pria ini dengan gesitnya langsung melompat turun.


Sontak, Ovin dan Franz pun langsung terkejut dengan kehadiran dari polisi tersebut.


'Kenapa ada polisi di saat-saat seperti ini?!' protes Franz, dia mengutuk dirinya sendiri, di saat dia sudah mulai menempati titik keberhasilan untuk membuat Ovin menuruti perkataannya, pasti akan selalu ada perkara yang menghalangi kelancaran rencananya itu.


Polisi itu berlari, mengayomi tugas untuk melindungi orang yang tidak bersalah, dia pun segera menghampiri dua anak muda tersebut.


"Nah, hayo, kalian ini sedang apa? Mau main-main ya? Anak muda zaman sekarang memang tidak bisa di percaya. Kalian berdua pisah!" tegas polisi ini.


"Tunggu pak, ini kami baru juga berpisah hampir seminggu, masa kita berdua mau di pisahkan lagi?" balas Franz, dia mampu membuat polisi tersebut langsung kehilangan kata-katanya.


"Aku tidak peduli, kalian berdua sudah melanggar peraturan disini, jadi kalian berdua harus ikut ke kantor polisi," ucapnya sekali lagi, yang mana Franz sendiri jadi diam membisu.

__ADS_1


__ADS_2