
"JIka ada apa-apa hubungi aku saja." Seperti orang yang tidak merasa bersalah, Fardan dengan koper yang sudah ada di tangannya itu, tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.
Lalu membawa masuk koper nya di dalam bagasi, Fardan pun memberikan satu pesan lagi.
"Jangan lupa, lanjutkan urusan kalian yang tadi agar bisa cepat punya anak. Enak loh." Dengan senyuman yang cukup sumringah, Fardan langsung masuk ke dalam mobil sebelum dia kena lemparan sepatu oleh Franz.
BUKH..
Kalah cepat dengan Fardan yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil, alhasil sepatu yang Franz lempar itu hanya mengenai kaca mobil saja.
"Paman tidak guna itu, apa yang sebenarnya ada di dalam otaknya itu." Geram Franz, dengan rahang sudah menegang.
Dan Fardan sudah pergi begitu saja layaknya angin lalu.
Meninggalkan kedua manusia itu di dalam rumah besar. Dimana keadaan kembali seperti semula.
Setelah melihat pamannya sudah pergi keluar dari gerbang, Franz memutar tubuhnya ke belakang, dan langsung di suguhi keberadaan dari Istri muda nya yang sedang asik bermain handphone milik Fardan yang memang sengaja di sita.
"Hahh~ Pakai pakaianmu itu dengan benar. Jangan menggangguku dengan godaanmu lagi itu. Dan ini-" Franz langsung menyita handphone milik pamannya dari tangan Ovin. "Akulah yang memegangnya."
"Kenapa? Kan aku dulu yang menyita itu dari tangan pamanmu." Ovin berusaha untuk merebut kembali handphone itu dari tangannya Franz.
Tapi karena tubuh dan tangan Franz mempengaruhi ketinggian handphone yang dipegangnya, Ovin pun jadi kewalahan karena suaminya itu yang sudah seperti tiang listrik.
"Karena dia pamanku lah, maka handphone ini aku yang pegang." Jawab Franz.
Tidak bisa mendapatkan handphone itu dari tangannya Franz, maka Ovin yang punya ide cadangan, justru langsung menghantamkan tubuhnya ke arah Franz dengan pelukan.
BRUK...
'Karena aku tidak bisa mendapatkan handphone nya, lebih baik mendapatkan tubuhmu.' Batin Ovin dengan bibir akhirnya mengulas sebuah senyuman lembut.
Dia senang, karena akhirnya bisa berdua lagi dengan Franz setelah tidak adanya lagi Bibi dan paman nya Franz.
Walaupun tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, karena emosi dari pria di depannya ini selalu berubah layaknya lampu suis, Ovin akan tetap berusaha untuk mempertahankan hubungannya.
Dia sama sekali tidak punya niatan untuk berpisah, karena satu-satunya pria yang bisa dia lihat hanya pria ini.
Karena dengan begitu, maka ada kalanya dia jadi merasa seperti perempuan normal, karena dia bisa melhat wajah dari pria yang sudah menjadi suaminya ini.
Itulah alasan milik Ovin.
__ADS_1
"Lepas." Franz mencoba mendorong tubuh Ovin, agar melepaskan pelukannya.
"Tidak mau." Semakin mengeratkan pelukannya kepada tubuh Franz.
"Vin~" Tekan Franz dengan nama panggilan yang cukup pendek itu.
"Tidak."
"Apa kau tuli? Kenapa kau sama sekali tidak takut kepadaku seperti ini sih?" Rutuk Franz, dia sama sekali tidak mengerti, padahal dirinya sudah sangat banyak sekali melakukan keburukan kepada perempuan di depannya.
Sampai memukul, mencacinya, menyuruh ini dan itu, mengancam juga, tapi semua itu seperti kalimat yang hanya masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kirinya Ovin.
Semua masalah, tindakan buruk, intinya semuanya, Franz pun sangat ingat sekali dia pernah menamparnya beberapa kali, tapi semua itu seperti bukan apa-apa untuk perempuan ini.
"Kau selalu saja menempel padaku seperti ini, apa kau tidak lelah?" Imbuh Franz. "Padahal aku sendiri saja lelah, karena aku harus ini dan itu gara-gara semua ulahmu."
Dia sungguh-sungguh ingin mendapatkan jawaban pasti saat ini juga dari Istri muda nya itu.
"Padahal alasannya juga sudah jelas, karena aku suka padamu." Jawaban yang cukup simpel, tapi juga jelas dan padat.
"Kau hanyalah salah satu dari tiga koma sembilan puluh miliar di bumi yang menyukaiku, jadi itu bukan jawaban yang aku inginkan."
"Kau mau butuh jawaban yang sangat spesifik?" Tanya balik Ovin, seraya mendongak ke atas.
"Ya, aku butuh jawaban yang lebih memuaskan dari kata suka, karena sangat jelas banyak perempuan sepertimu menyukaiku, jadi itu bukan jawaban yang bagus." Ucap Franz saat itu pula.
"Apa kau lupa? Apa yang pernah aku katakan?" Tanyanya, masih menatap manik mata milik Franz yang sangat mempesona, karena di mata Ovin sendiri, pria yang memilikki mata berani seperti itu terlihatlah keren. "Karena hanya wajahmu yang bisa aku lihat. Menyukaimu dalam segala aspek, walaupun kau punya sifat yang menyebalkan, ternyata aku benar-benar tidak bisa membencimu.
Karena hatiku, hanya ada untuk pria bodoh sepertimu.
Kau harus tahu itu Franz, kalau kau hanya ada satu yang bisa ada di sisiku."
Seperti mata Elang yang menatap mangsanya, maka Franz di buat sadar dengan seutuhnya kalau di hati perempuan ini, hatinya hanya ada satu dan itu di gunakan untuk menyukainya.
Cinta memang buta, sekaligus membuat banyak orang menjadi bodoh.
Dan salah satunya adalah Ovin ini, serta dirinya?
'Jadi apakah hati ini, rasa tidak suka yang selama ini mengangguku setiap dia dekat dengan pria lain, adalah rasa cemburuku kepadanya? Karena aku menyukainya, juga?' Hanya dengan memikirkannya saja, Franz jadi yakin dengan semua yang dia rasakan selama ini, kalau hatinya perlahan luluh sendiri.
Dan itu adalah salah satu faktor yang Franz dapatkan sebab Ovin selama ini berada di sisinya, entah apapun yang sudah Franz lakukan kepadanya, perempuan ini sama sekali tidak bisa lepas dari pandangannya.
__ADS_1
Layaknya seperti burung lemah yang ingin mendapatkan sebuah perhatian lebih, Ovin melakukan hal yang sama pada ekspresi serta tatapan matanya yang terlihat penuh dengan harap itu.
Harapan, kalau Franz bisa menerima dirinya.
Entah itu memang akan bisa terwujud atau tidak, karena hati setiap orang selalu berbeda, dan akan selalu berubah setiap waktu tanpa di sadari lebih dulu, Ovin sudah sepakat pada dirinya kalau satu-satu pria yang punya daya tarik tersendiri bagi Ovin, sebab pria ini satu--satunya yang bisa dia lihat, yaitu pesona dari wajah suaminya yang tampan itu, maka Ovin sudah punya tekad untuk mempertahankan posisinya untuk berada di sisinya.
"Kau tidak memiliki pengganti unukku. Makannya aku masih ada di sini." Lanjut Ovin. "Ada di sisimu, dan-"
Kalimat yang Ovin telan lagi, membawa tangannya itu untuk meraih tengkuk Franz dan membuat pria itu akhirnya membungkuk untuk menyambut ciuman yang kembali di dapatkannya.
CUP.
Mata dengan tatapan sengit milik Franz akhirnya kelopak matanya terkulai, saat dia di sambut dengan kecupan yang entah akan berlangsung berapa lama lagi.
'Kenapa perasaanku jadi benar-benar seperti ini? Menyukai perempuan yang dulunya aku benci? Jadi ini yang namanya permainan hidup jika dengan hati? Yang aku suka jadi aku benci, dan yang aku benci jadi suka.
Apakah aku kalah dari dia?' Matanya yang sedang terkulai itu, menangkap wajah Ovin yang begitu dekat dengannya. Mendominasi semua ciuman milik mereka berdua.
Ovin sungguh sudah terampil untuk itu.
Tidak hanya itu, tapi hampir semuanya. Ciuman, sampai dengan godaannya, perempuan yang terlihat polos dari luar ini, sungguh punya nyali untuk melakukan apa yang diinginkannya.
Dan salah satunya adalah dengan menguasai dirinya, diri Franz untuk selalu berada di dalam genggamannya.
Entah apapun itu, Franz yang awalnya bersikukuh membuat dinding kokoh dari segala serangannya Ovin ini, pada akhirnya hancur juga.
Tangan kanannya yang tadinya sedang memegang handphone itu, dia lepas sampai handphone itu jatuh ke lantai. Dan semua itu demi menggantikan pekerjaan miliknya itu untuk merah pinggang ramping milik gadis ini.
'Sudahlah, jika memang seperti ini, karena wasiat yang membuatku harus mempertahankan hubungan pernikahan ini sampai lima tahun lamanya, lebih baik aku jalani saja sesuka hati.
Karena kalau dia terus saja menggangguku seperti ini, aku mana mungkin bisa menahannya.' Dengan posisinya itu, Franz buru-buru mendorong tubuh Ovin ke belakang agar mereka berdua masuk kedalam rumah.
BRAK...
Pintu yang secara otomatis tertutup itu segera membawa mereka berdua berjalan menuju sofa yang kebetulan ada di ruang tamu.
BRUKK...
Alhasil tubuh Ovin langsung terjungkal ke belakang dan mendarat di sofa, tapi di saat yang sama juga, tubuhnya langsung terkunci dengan tubuh Franz yang ada di atasnya persis.
"Phuahh!" Tautan dari kedua bibir mereka berhenti untuk mengisi kembali oksigen yang sempat terbuang namun susah untuk mereka berdua ambil, karena terlena dengan arus hati yang sedang ada dalam baik-baiknya itu.
__ADS_1
Kedua mata saling menatap, tidak ada yang berubah dari selimut gairah yang sudah melekat pada diri mereka berdua untuk melakukan lebih dari itu.