
TING......
Bel Lift berdenting, tanda kalau Lift sudah sampai di tujuan dan lebih tepatnya ada di atap.
Dimana atap hotel yang luas itu ada satu Helikopter tengah menunggu salah satu penumpang.
" Kau yakin sendirian kesana? " dirinya merasa tidak yakin dengan Ovin ini, sendirian di kapal. Di bilang sendirian juga tidak, sebab banyak staf yang berjaga di kapal.
" Sendirian tidak sendirian juga sama saja " Jawab Ovin tanpa menoleh kebelakang. 'Kenapa rasanya klise? Adegan ini seperti aku hendak pergi jauh saja, lalu ada seseorang bertanya dan tidak merelakan kepergianku, apa dia khawatir?' Pikirannya itu pun membuat hati Ovin terasa menggelitik. "Hh...sudahlah " gumamnya.
Adegan klise dimana si wanita membawa koper lalu berjalan menuju helikopter yang akan membawanya pergi, tapi disisi lain ada seseorang tidak menginginkan kepergian si wanita.
" Nona, silahkan naik " tutur si pilot.
"Iya." menjawabnya dengan tenang, Ovin pun menarik kopernya lagi lalu ketika sudah berada di samping pintu,Ovin pun menghentikan langkahnya.
" Oh....ya " dan memutar tubuhnya sambil berkata pada satu pemuda di depan sana( Franz )
"Jangan memakan sushi nya," Ucap Ovin memberikan peringatan.
DEG......
Jantungnya seketika seperti berdetak lebih kencang dari biasanya, melihat rona wajah yang Ovin perlihatkan padanya(Franz) membuat Franz tidak yakin kalau cewek itu baik-baik saja. Dan barusan memberi peringatan serta larangan untuk makan yang ada di meja makan.
" Tunggu, wajahmu kenapa? " seru Franz tapi pintu keburu ditutup.
Tetapi pintu sudah tertutup, perlahan baling-baling helikopter berputar makin kencang, membuat suasana di atap menjadi sedikit bising dan angin yang lebih kencang.
WHUSHH.....
WHUSHH....
WHUSHH...
Ovin yang berada di dalam heli hanya memperhatikan laki-laki dibawahnya dengan mengintipnya dari jendela.
" Apa anda baik-baik saja? " tanya pria yang menjadi pilot heli tersebut.
" Tidak....., hhh.... " jujur saja jika berkata iya, saat ini keadaannya sedikit kacau. Yang kacau itu adalah pikirannya.
DRRTT....
" Hahh....halo? " Ovin mengangkat telepon dengan nada lemah.
" Ada apa dengan suaramu nak? " tanya Siska, yang menelfon adalah teman kerjanya Ovin, awalnya berniat untuk memberitahu patnernya itu untuk memberikan data yang dimilikinya itu untuk dikirim sekarang.
Tapi mendengar nada suara Ovin yang tak bagus, maka Siska pun mengurungkan niatnya dulu, toh tidak terdesak juga.
" Entah, apa cuacanya sepanas ini? ...hahh..."
" Panas dari mana? 30 derajat doang. tapi...suara nafasmu jadi sangat menggoda, apa kamu makan sesuatu? " Siska sedikit penasaran apa yang sudah dilakukan adik tiri itu baru-baru ini.
" iya, tapi setelah makan, rasanya....... jadi agak aneh." Ovin sekali lagi mengibas-ngibas kerah bajunya.
" Uhm...maaf jika menyela, sepertinya anda diberi obat perangsang? " ujar si pilot."Gejalanya memang seperti itu "
__ADS_1
"Apa?! Siapa yang melakukannya?! Nanti aku buru dia. Tapi...sekarang! Sepertinya kau butuh teman tidur, terutama cowo,"
Di saat yang sama Siska berteriak, walau si pilot itu berbicara dengan nada normal tapi Siska mendengarnya dengan jelas.
"............! " Ovin tidak tahu mau berkata apa lagi, obat perangsang yang menjijikan itu sudah masuk ke dalam tubuhnya. 'Ba..bagaimana bisa, siapa yang melakukannya sampai tahap seperti ini?!' Pikir Ovin. " Tung....gu, hahh....apa yang kau katakan?!, aku ti..."
Sela Kalen dengan cepat. " Ya...kalau begitu, berendam air dingin. Coba gih, kalau masih belum mempan tambah es batu, itu jika kau tidak ingin keperawananmu di renggut." SIska sedikit tahu mengenai cara menghilangkan gairah akibat obat perangsang, walau tidak begitu manjur tapi setidaknya bisa meringankan efeknya.
" Aku....hh...akan mencobanya " di akhir pembicaraannya dengan Kalen.
____________
Kembali ke tempat dimana Franz berada, setelah kepergian Ovin, Franz kembali ke kediamannya.
Masih terlihat satu piring sushi serta air yang ada di dalam gelas, keduanya terlihat masih utuh, tapi Franz tetap sadar juga kalau makanannya berkurang satu buah Sushi.
Lalu Franz memiliki ide untuk membuktikan peringatan Ovin mengenai Sushi itu tidak boleh di makan.
" Kau Cepat kesini " perintah Franz pada satu pengawal yang berdiri di samping Lift.
Dengan patuhnya pria itu datang mendekati tuannya, dia disuruh masuk kedalam.
" Duduk," Perintah Franz lagi.
"Tapi Tuan muda-" Ekspresinya penuh dengan keraguan, pasalnya Tuan muda nya itu punya latar belakang kehidupan yang cukup nakal, dan sekarang Tuan muda nya itu menyuruhnya duduk. 'Apa yang mau Tuan muda lakukan kepadaku?'
" Duduk " tutur Franz sekali lagi.
" I..iya," Sayangnya dia harus patuh dengan perintahnya.
Franz kemudian menyodorkan sepiring Sushi itu kepada Bodyguard tersebut.
'K-kenapa Tuan jadi baik hati begini? Kebetulan aku memang merasa lapar.' Tanpa merasa curiga, pria bertubuh tinggi ini makan saja apa yang majikannya perintahkan.
Dia memakannya sampai habis tak bersisa hingga sedar kalau tuan muda menatapnya dengan begitu intens.
Selagi menunggu apa yang terjadi dengan Bodyguard nya, Franz memainkan handphone yang beberapa saat lalu ia tinggal untuk di charge.
Beberapa saat kemudian barulah muncul efek dimana orang yang dijadikan penjaga pintu lift tersebut sekarang berwajah merah.
" Apa yang kamu rasakan? " Lirik Franz saat melihat anak buah nya itu ternyata mulai berperilaku aneh.
" Hahh...a...apa tuan menambahkan obat? "
'Obat?!' Franz berpikir sejenak dan baru mengerti asal muasal kenapa Ovin berbicara seperti itu.
" Kamu ganti shift " Franz berbicara seperti itu pada pria jakung itu dan meninggalkannya sendirian.
'Jadi pelayan itu mau memberikan obat pada makananku? Sialan!' Kepalan tangannya ia hantamkan ke dinding lift. " Disaat seperti ini dia malah pergi. Kenapa aku jadi khawatir seperti ini? " Gerutu Franz.
Khawatir jika Ovin tersebut melakukannya dengan orang lain. Amarahnya semakin membuak saja, Franz segera menelfon seseorang.
" Cepat kembali, antar aku kesana." langsung memutuskan hubungan dan helikopter pun datang dan membawa satu penumpang lagi( Franz ), heli tersebut terbang balik untuk mengantarkan tamu VIP nya ke kapal pesiar.
Padahal sampai beberapa minggu lalu, Franz tidak pernah merasakan apapun kepada Ovin.
__ADS_1
Tapi setelah melihat betapa menggodanya Ovin saat bernafas dengan wajah memerah saat di dalam lift tadi, Franz tiba-tiba saja merasakan gelisah.
Ada perasaan takut kalau Ovin melakukannya dengan pria lain, pasalnya dalam beberapa waktu yang cukup berdekatan ini, Franz melihat kalau Ovin memang diam-diam bisa di kelilingi oleh banyak pria.
'Ahh! Kenapa aku jadi sekacau ini? Padahal sampai dua hari yang lalu, dia diam-diam melakukan sesuatu denganku. Terus kenapa di saat dia seperti itu, malah pergi dariku? Sebenarnya dia punya otak macam apa?' Pikirnya. Dia sungguh, benar-benar merasa kalau perlahan dirinya menjadi terikat dengan gadis itu.
Kemana dirinya yang dulu membenci gadis itu? Kemana perginya rasa kesalnya yang pernah dia alami setiap kali melihat wajah asing tiba-tiba masuk kedalam kehidupan pribadinya?
'Ovin.' Franz memejamkan matanya. Dia sungguh merasa hatinya jadi merasa gelisah, saat ia terakhir kali melihat ekspresi wajah Ovin yang sedang menahan gejolak di dalam tubuhnya. 'Apa aku membantunya?'
Rona tengkuk dan kedua telinganya pun muncul juga.
'Tidak-tidak.' Franz menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tidak akan melakukannya, karena Franz tahu, kau ada cara lain untuk membantu Ovin selain melakukan hubungan badan. 'Walaupun aku sudah tahu kalau dia menipuku soal aku berhubungan badan dengannya waktu itu, kenapa aku sama sekali jadi tidak bisa memarahinya? Ah~ Dia benar-benar punya jampi-jampi untuk mengacaukan aku.'
_________________
DI dalam kapal.
"Hahh~ Jadi rasanya seperti ini ya? Jika aku di berikan obat perangsang." Dengan wajah sudah tersipu memerah, Ovin terus melanjutkan perjalanannya untuk mencari kamar yang akan dia gunakan.
Perasaan yang bercampur aduk perlahan membuat pikirannya menjadi kacau.
'Ya, setidaknya aku jadi tahu, kalau rasanya semenyiksa ini. Panas, dan aku ingin makan.' Karena efek dari obat itu sudah mulai muncul, Ovin merasakan adanya denyutan yang cukup menyiksanya.
Sesuatu yang ingin di isi oleh hal yang paling berguna dalam sejarah kehidupannya.
Sampai di tengah-tengah perjalanannya, Ovin tiba-tiba saja tertawa. ''Hahaha....., Franz, untung saja aku yang memakannya. Kalau dia yang memakannya, apa jadinya nanti? Aku tidak ingin dia melakukan sesuatu di bawah kendali obat. Akan aku pastikan itu, ya..., seharusnya memang seperti itu."
Langkahnya berhenti tepat setelah dia menemukan pintunya. Ovin menatap pintu kamar itu dengan tatapan yang cukup datar, karena dia tahu sesuatu, dia merasakan adanya hal yang mengganjal di benaknya.
'Apa perasaanku saja ya? Kapal ini, terasa lebih hening. Suasananya justru berbeda. Apa ini? Mengingat apa yang terjadi di taman kemarin, saat paman hampir di tembak, aku memang selalu merasa ada yang mengawasi.
Tapi apa alasannya? Padahal aku sedang tidak melakukan apapun. Bahkan aku sendiri minta libur panjang, karena aku ingin melunakkan hati si bocah tengil itu.
Tapi-' Tangannya kemudian memegang knop pintu dan perlahan masuk kedalam kamar yang ternyata cukup gelap. 'Aku merasa bukan paman Chade saja yang di intai, aku juga merasakan hal yang sama.'
Meletakkan koper yang dia bawa di samping tempat tidur, Ovin pun langsung mencari kamar mandi.
Dia ingin melakukan sesuatu dengan tubuhnya yang terasa panas.
KLEK.
Sedangkan di luar kamar, sepasang langkah kaki yang cukup senyap perlahan berjalan menuju ke tempat dimana Ovin baru saja masuk ke kamar.
Dia memakai pakaian pelayan yang bekerja sebagai seorang Room Steward.
Dengan langkah sedikit cepat tapi senyap, orang ini pun perlahan masuk kedalam kamar.
Di dalam kamar yang cukup gelap itu, orang ini sedikit celingukan untuk mengetahui kondisi yang ada di dalam kamar tersebut.
Dan dia akhirnya melihat adanya cahaya di bawah celah pintu, yang artinya orang yang di carinya ada di dalam sana.
'Dia ada di dalam.' Pikirnya, dan tanpa membuang waktu lagi, orang ini memegang knop pintu, lalu dengan cepat dia langsung mendorong pintu itu.
BRAK.
__ADS_1
Sesaat setelah membuka pintu kamar mandi, orang ini langsung menodongkan senjatanya ke arah depan dan ..
DOORR....