
" Ja...di, kau mendengar pembicaraanku?" bisik Ovin pada Jerry.
" Kenapa kau berpikir begitu? " tanya balik Jerry. 'Bagaimana dia bisa tahu?' pikirnya.
"Mau mengatakan ingin menyelamatkan, berarti kau memang ada di dekat kami, kan?" tanya Ovin sekali lagi, membuat Jerry terpojok.
" Iya-iya.. " mengalah karena tidak bisa menyembunyikan hal tersebut.
TAP......
TAP.....
TAP.....
TAP......
Sampai tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki sepatu yang kian mendekat. Hal itu pun lantas membungkam mulut mereka berdua untuk tidak bersuara lagi.
" Rupanya kalian sangat dekat. " suara khas dari seorang wanita berhasil menyinggung mereka berdua.
Suara seorang perempuan, keduanya saling pandang untuk mengetahui siapa pemilik suara itu.
Jauh di depan kegelapan itu, perlahan langkah itu semakin dekat, dan selagi berjalan mendekat ke arah mereka berdua, aroma asap dari rokok pun tercium.
TAP...
TAP.....
TAP....
Langkah kaki itu kian mendekat, sampai tepat di garis antara bayangan gelap dan cahaya terang dari lampu, akhirnya, sepatu ber hak tinggi berwarna putih itu menapak lagi ke depan.
" Apa hari kalian baik-baik saja selama ini? "
'Dia siapa?' batin Ovin setelah melihat sosok perempuan dewasa sekitar berusia 25 tahunan.
Rambut coklat panjang berpadukan mata berwarna kuning, wajah putih berhiaskan make up tipis namun masih terkesan cantik, hidung yang mancung dan bibir tipis berpoleskan lipstik berwarna pich, sorotan mata yang tegas itu, serta tubuh langsing nan tinggi, apalagi dengan sepatu hils yang tinggi, membuat kesan wanita ini menjadi seperti model blasteran asia dan eropa.
" Jangan menatapku seperti orang jahat dong. " ucap wanita ini dengan wajah berpura-pura takut karena Ovin dan Jerry sama-sama sedang bermuka serius karena masih bersikap waspada.
" Karena kau menculik dan mengikat kami, berarti tak lain kau adalah orang jahat. "
" Oh....iya juga. " jawabnya dengan ketus, tak peduli dengan ucapan mereka berdua.
" Kenapa?. "
" Pastinya aku ada urusan lah~. " ujarnya lagi.
" Kalian dari pasukan itu kan?. "
__ADS_1
"...........?! "
" Pasukan, black.sha.dow. " dengan tiap kalimat di beri penekanan yang tegas, wanita ini tersenyum senang melihat perubahan reaksi Jerry dan Ovin yang terlihat seperti ' kenapa dia tahu? '.
" Kenapa aku tahu, bukan itu yang terpenting dari pertemuan kita ini. "
" Apa yang kau inginkan?. " tanya jerry.
" Dih....kalian harusnya memanggilku kakak, bukan kau....kau...kau. " ketusnya.
" ................ " All
" Cih.... ! " wanita ini berdecih kesal, dan langsung melemparkan rokok yang tinggal separuh ke lantai, terus menginjaknya dengan tak berperasaan.
" Sangat tidak enak. Hei..kalian yang disana!. Ambilkan aku air!. " teriaknya, dan tak selang berapa lama, datang seorang pria berpakaian jas hitam dan membawakan sebotol air mineral.
" Ini nona. "
Wanita ini segera mengambil botol tersebut dan meminum air tersebut hingga tinggal separuh botol.
" Hahh....! " desahnya dengan nada yang begitu keras mencul rasa kesalnya.
" Rasanya ada yang kurang, kira-kira apa ya?. "
Ovin dan Jerry sama-sama celingukan, dan mengetahui hal dasar dari mereka berdua karena yang kurang adalah.
" Oh....aku punya anak rupawan yang sangat bagus. " dengan wajah sumringah, wanita ini berjalan ke arah kanan, lalu di dalam kegelapan namun tercahaya oleh cahaya bulan yang menyusup masuk dari celah dinding yang berlubang, membuat mereka berdua melihat ada satu orang yang sedang duduk dengan mata di tutup dengan kain hitam.
Dengan jentikan jari, beberapa lampu langsung menyala.
" Dia sangat bagus.... " wanita misterius ini kemudian duduk di pengkuan laki-laki ini, dengan nada yang menggoda, jari lentik dari wanita ini perlahan menyentuh pipi..
[ Franz!. ] Jerry dan Ovin berpikiran yang sama.
Dari pipi, jari itu langsung bergeser untuk menyentuh bibir tipis yang seksi itu.
" Bibir yang sangat indah. " puji wanita misterius ini, setelah menyentuh bibir milik Franz yang tipis namun terkesan seksi dengan jari jempolnya, dia mengusap lagi bibir seksi itu.
Dan tak sampai disitu, tangannya terus turun, menjalar ke leher remaja bernama Franz..
" Siapa kau?. " Sarkas Franz, dan tiap sentuhan yang dibuat wanita di sampingnya itu, membuat Franz meneguk salivanya sendiri.
" Namaku Calluella, kau harusnya tahu siapa aku, sayangku. " akhirnya wanita misterius ini mau mengungkapkan namanya.
Tapi tidak mau berakhir dengan memberikan namanya saja, Calluella memberikan sentuhan menggoda lagi pada pria remaja yang terlihat sudah dewasa ini dengan menyentuh dada bidang milik Franz, dadanya kini sudah sedikit terekspose karena Calluella sengaja membuka 3 kancing baju milik laki-laki ini.
" Ukh..... " desah Franz saat sentuhan itu tiba-tiba sangat sensitif meski masih berada di dadanya.
" Keringatnya sanga harum, apa ini yang namanya keringat dari laki-laki tampan?. " dan setelah berkata seperti itu, Calluella memberikan sebuah..
__ADS_1
CUP..
Kecupan di leher sebelah kanannya Franz.
" Apa yang sebenarnya kau inginkan, jangan berdalih lagi. " ucap Jerry.
[ Calluella, dia bukannya salah satu putri keturunan dari bangsawan inggris?. ] batin Franz, sejujurnya Franz pernah mendengar nama Calluella, namun ia tidak pernah sekalipun melihat seperti apa sosok orang ini, meskipun pernah ikut bergabung di pesta kalangan bangsawan beberapa tahun yang lalu.
[ Calluella artinya kalau tidak salah sangat cantik seperti putri dan menyenangkan hati. Kenapa tidak sesuai dengan artinya?. Dia malah menggodaku seperti ini, apa yang dia mau dariku?. ]
Dan lagi-lagi, Calluella menurunkan lagi tangannya dari dada menuju perutnya Franz.
" Aku........mau mengambil yang dimiliki bocah ini,..... yaitu...ke perjakaannya. "
" Nona!. " panik pria yang tadi membawakan botol air pada majikannya itu.
" Anda tidak boleh berkata seperti itu. "
" Kenapa?, dia tipe idealku loh. " sela Calluella sambil menepuk-nepuk paha kiri Franz.
Franz langsung merinding, bahkan bulu kuduknya langsung berdiri saat wanita ini menepuk-nepuk pahanya.
" Anda ka- "
" Diam!. Aku sayang dengan dia. " setelahnya, Calluella memeluk Franz dengan erat, yang lantas membuat buah dadanya yang besar itu langsung menempel dan menghimpit dadanya Franz.
" Uhm... " Ovin yang melihat kemesraan yang diberikan Calluella pada Franz, jadi merasa iri. Memang kalah cantik dengan wanita itu, tapi....
[ Dia itu milikku. ]
sambil memandang kedua orang yang seling bermesraan, Ovin mulai mengigit bibir bagian bawahnya karena sedang menahan rasa kesalnya dan tak suka.
Jerry mengetahui apa yang dirasakan Ovin saat ini, namun harus berbuat apa?. Ponselnya kemungkinan diambil, dan ikatan yang mereka buat sangat ketat dan susah untuk melepaskan diri.
Karena cara mengikatnya benar-benar seperti orang tahanan, selain kaki yang di ikat ke kaki kursi, dan kedua pergelangan tangan yang dikat ke tangan-tangan kursi, lengan, bahu, dada, pinggang, dan leher, mereka benar-benar mengerjakannya dengan sangat rapi sampai sulit untuk membuat celah.
" Ohoho....ternyata kau cemburu ya?. " tanya Calluella pada gadis bernama Ovin.
Meski Ovin sekarang sedang berekspresi datar, Calluella pun sebenarnya tahu hubungan dua pemuda ini dan satu pemuda yang ada di sampingnya Ovin.
" Tapi sekarang, sayangnya dia sudah jadi milikku. " ujar Calluella lagi sembari menepuk-nepuk pipinya Franz.
" Apa maumu yang sebenarnya?. " akhirnya Ovin bersuara, karena sudah tidak tahan dengan drama omong kosong ini.
" Vin. " panggil Jerry dengan nada lirih.
" Sampai di ikat seperti ini, kalau mau mengancam...harusnya dari tadi, jika memang ingin merebut dia yang masih perjaka, juga harusnya lakukan itu di tempat lain, kenapa sampai harus disini?. "
" Apa?. " Calluella tercekat kaget.
__ADS_1
" Kalau mau buka, buka sekarang, jadi sekalian aku melihatnya. " sambung Ovin lagi, tanpa tahu malu.
" Hei....akal sehatmu sudah hilang ha?. Kau mau aku jadi tontonan?!. " pekik Franz pada Ovin, saat mengetahui tujuan lain Ovin di saat-saat sedang di culik begini.