
Meskipun harus memakannya dalam keadaan terpaksa, sebab tidak ada makanan lain selain telur yang di goreng oleh Ovin, Franz pun pada akhirnya mampu mneghabiskannya.
"Ergghh~"
"Kelihatannya kau kenyang. Enak kan? Mau gengsi karena hanya makan telur, kau tidak akan bisa makan kecuali pergi keluar." Tegur Ovin.
Franz sendiri langsung di buat tertohok, karena ucapannya memang benar, dia agak gengsi untuk makan telur goreng saja. Tapi dianya juga malas keluar jika hanya untuk mencari makanan, karena jaraknya yang lumayan jauh itu.
'Sedikit menyulitkan juga, kalau aku terus tinggal di tempat sejauh ini. Tapi awalnya kan memang untuk menyembunyikan hubunganku dengan Ovin, gara-gara perempuan ini tinggal di rumahku juga.
Tapi karena sekarang mereka benar-benar berpikir kalau hubunganku dan Ovin hanyalah sebatas sepupu, aku rasa tidak masalah jika menggunakan apartemen yang ada di gedung Wilscort itu.' Di tengah Franz berpikir, dia sempat melihat Chade baru saja di suguhi minuman oleh Ovin.
Sungguh, Ovin yang sekarang memakai celemek, jadi seperti seorang Ibu rumah tangga?!
'Bentar-bentar, kenapa aku jadi punya pandangan dia jadi Ibu rumah tangga? Ini terlalu dini! Aku tidak ingin membiarkan dia hamil, karena aku ...aku tiba-tiba saja tidak mau melihat dia mengurus anak lebih dulu.' Franz pun jadinya tiba-tiba menggertakkan giginya, karena dia jadi jujur pada dirinya sendiri.
Kemana perginya Franz yang nakal dan tidak mau di urus atau bahkan di sentuh oleh perempuan bernama Ovin itu?
Semuanya menghilang setelah apa yang terjadi di rumahnya Jenifa. Racauan yang terdengar melantur itu selalu menghantui Franz untuk bersikap lebih baik kepada perempuan yang sedang ada di depannya ini.
Karena itu, setelah tahu akan perasaannya sendiri, dia selalu saja di landa rasa frustasi. Dia merasa dilema, karena dia sungguh memiliki dua sisi perasaan, yang pertama simpati karena ia merasa kasihan dengan kehidupannya Ovin, tapi yang satunya lagi sebenarnya ia masih menyimpan rasa kesalnya juga karena sering di permainkan oleh perempuan licik itu.
__ADS_1
'Huhh~ Dia selalu menang, gara-gara aku di buat luluh.' Gerutu Franz di dalam hatinya.
"Ovin, kau juga bisa buat ayam pop ini kan?"
"Ya, aku bisa, asal ada bahannya."
"Kapan-kapan buatkan untukku ya?" Pinta Chade, lagi-lagi sedang memancing hati Franz untuk kesal.
"Hmm..." Lepas membersihkan meja makan, dan piring pun sudah di cuci oleh mesin pencuci piring otomatis, Chade rupanya hendak pergi.
" Apa kau kesini hanya menumpang makan saja? " Rutuk Franz masih memperhatikan Chade yang akhirnya beranjak dari kursi. "Jangan-jangan kau sangat miskin, makannya selalu datang kesini, dan nempel padanya, karena kau ingin menikmati semua yang ada di sini kan?"
Dan balasan yang di berikan oleh Chade kepadda Ovin tentu saja adalah senyuman, karena semuanya aman dan terkendali.
Semua data baik data pribadi Chade sendiri maupun Ovin, semuanya sudah di tata dan di manipulasi dengan baik, sehingga sekalipun memang ada yang sempat mendapatkannya, namun semua itu hanyalah kebohongan.
Tidak akan ada yang pernah tahu kalau mereka berdua sebenarnya berasal dari keluarga Abelson.
"Kau harusnya tahu kan, orang suka mengambil kesempatan selagi ada kesempatan, jadi jangan menyamakan aku datang sebagai orang miskin kekurangan makanan. Aku datang kesini memang ada urusan dengan Ovinku," Imbuh Chade.
Dari balik jas ada saku dan Chade pun mengeluarkan satu kotak berbentuk persegi panjang berwarna biru tua berhiaskan pita berwarna kuning.
__ADS_1
Ovin yang melihat sang paman rupanya datang dengan membawakan hadiah, Ovin pun jadi berjalan menemui pamannya yang sama-sama jalan mendekat.
"Ini untukmu." Menyodorkan kotak tersebut ke arah Ovin.
"Ini apa?" Tanyanya dengan wajah penasaran.
"Nanti juga tahu, jaga baik-baik. Dalam keadaan darurat itu bisa menyelamatkanmu." Bisik Chade dengan wajah benar-benar dekat di depan wajah Ovin, seolah mereka berdua akan berciuman.
"Mengatakan itu seolah-olah akan ada yang mati saja." gumam Ovin. Tidak memperdulikan wajah Chade yang sudah ada di depannya persis.
"Ingat, aku ini pemantik yang kuat " mengingatkan Ovin sekali lagi. "Kau bisa mengandalkanku lebih dari dia. Jadi jangan lupakan semua yang sudah pernah kita lakukan berdua bersama-sama." Imbuhnya lagi.
Mendengar hal tersebut, Ovin akhirnya sedikit mendongak ke atas, untuk menemukan wajah pamannya yang cukup dekat, hingga mereka berdua sudah mulai berbagi nafas satu sama lain.
'Pemantik kuat apaan? Kau adalah paman yang bisa membuat orang lain salah paham.' Itulah yang di maksud dari ucapannya Chade tadi.
Karena tampangnya dan kelakuannya Chade selalunya seperti itu jika sudah berdua dengan Ovin, maka Chade pun selalu berhasil mengecoh pandangan orang terhadap mereka berdua yang di kira memang sepasang kekasih.
'Kenapa dia berani sekali mesra-mesraan di depanku? Sebenarnya aku ini di anggap apa jika dia saja berani seperti di dalam rumahku juga.' Franz yang merasa tidak tahan dengan pemandangan dua orang yang ada di depan sana, Franz langsung melempar sendok bersih yang sudah dia pegang dengan cukup erat ke arah Chade.
Chade yang menyadari itu, langsung sedikit mendorong jauh tubuh keponakannya agar mereka berdua berpisah sebelum sendok itu mendarat di antara kepala mereka berdua.
__ADS_1