Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
128 : PUM : Ungkapan Rasa


__ADS_3

Dua orang itu duduk di kursi yang saling bersebrangan, dan saling menatap, mencoba untuk mengetahui apa yang di ada di dalam tatapan yang mereka berdua tatap itu.


"Kenapa? Apakah kamu cemburu?" Suara yang begitu lirih itu tetap saja tersampaikan dengan baik dan masuk ke dalam indera pendengaran milik dari laki-laki yang kini menjadi lawan bicaranya.


Laki-laki itu mendengus dan meneguk satu tegukan dari wine yang sedari tadi dia mainkan dengan digoyang untuk menciptakan rasa manis yang lebih ketika air tersebut melapisi dinding gelas.


Suasananya makin berbeda. Dua orang pemuda itu akhirnya kembali mengangkat topik soal hubungan.


"Ah~ Aku hanya berpikir, bagaimana jika Ibuku tahu kalau kau ternyata punya laki-laki lain ketika kau sendiri seharusnya lebih mementingkan aku sebagai suami?"


Ovin menghela nafas singkat dan meletakkan jus miliknya yang baru ia dapatkan dari pramugari tadi. "Kenapa tiba-tiba mengatakan dirimu suami ya? Agak aneh, apa pada akhirnya kau sedang meng klaim kalau aku tidak boleh bersama dengan kak Chade karena aku Istrimu dan akhirnya kau cemburu?"


Sangat menarik, entah karena efek alkohol yang terkandung di dalam wine bertemu dengan sisa alkohol yang semalam, dimatanya, Franz memang perlahan nampak sedikit berbeda.


Aksi lucu ketika Franz terdiam kehabisan kata-kata adalah momen yang memang tidak boleh di lupakan.


Dan Ovin sudah terkekeh dalam diam di benak hatinya, apalagi ketika dia melihat telinga merah itu, Ovin semakin merasa gemas dengan tingkah dari suaminya itu.


Padahal dulu begitu galak, kemana perginya anj*ing penjaga itu?


'Ada apa ini? Kenapa suasananya tiba-tiba saja terasa jadi romantis?' Pikir sang pramugari ini. Karena bukan waktu yang tepat untuk menyela pembicaraan diantara mereka berdua, ia memilih untuk menarik kembali hidangan untuk makan siang dari kedua majikan lainnya itu.


'Kenapa telinganya memerah terus? Apakah efek di saat bangun tidur pagi tadi masih membuatnya kepikiran? Dia ternyata cukup polos, bahkan untuk seorang yang terkenal di sekolah, aku pikir semakin kesini dia tidak lagi berkeliaran keluar rumah.


Padahal sebelum ini saja, dia sering keluar rumah dan membawa wanita dari sekolah lain untuk belanja atau apapun itu.' Apapun rasa heran yang di miliki oleh Ovin, semua itu tidak akan ada gunanya lagi, selain berpendapat kalau laki-laki itu akhirnya menemukan hatinya sendiri.

__ADS_1


Setidaknya Ovin merasa senang, kalau rupanya si laki-laki nakal ini bisa berubah seiring waktu.


Salah satu perubahan terbesarnya adalah Franz tidak terlihat lagi begitu mengejar kerjar Bella, karena Paman Chade, sudah memberikan rekaman CCTV soal kejadian yang ada di kolam renang.


Menuduh orang yang salah, hingga kejadian itu membuat Ovin meregang nyawa, sebab yang Franz tolong juga orang yang salah.


'Mungkin sejak kejadian itu.' Pikirnya.


Meskipun terasa berat, karena waktu itu ia memang hampir saja mati gara-gara terseret air sampai ke dasar kolam lebih dari empat menit, ia merasa ada untungnya, karena hasil akhirnya bisa menyadarkan Franz kalau Bella memang bukanlah perempuan yang cukup baik.


Franz sekilas memang mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang memperlihatkan adanya langit kelabu hendak di lewati pesawat yang mereka naiki.


Akan tetapi tidak dengan manik matanya yang rupanya sempat menangkap ekspresi wajah penasaran milik Istrinya itu.


"Aku memang cemburu, apa kau puas dengan itu?"


Makannya, untuk memastikannya, Ovin jadi bertanya kembali, ingin mendengar kembali apa yang barusan mulut seksinya itu ucapkan?


"Kau kan sudah punya hubungan denganku, sebaiknya kurangi kegiatanmu itu untuk menempel dengan laki-laki lain, apalagi dengan bedebah itu."


Ovin mengerjapkan matanya, padahal disini yang sering menempel itu mereka sendiri, mereka yang lebih dulu mendatanginya, dan Ovin hanya bertindak untuk melayani pembicaraannya.


"Apakah kau mengatakan itu atas dasar apa yang terjadi antara kau dengan aku di malam tadi?" Tanyanya.


Keheningan diantara mereka berdua pun terjadi. Hanya suara mesin dan bunyi jam tangan yang mereka berdua pakai yang mengisi keheningan di dalam pesawat itu.

__ADS_1


Membuat Franz di sedot oleh arus nostalgia pada momen kala dirinya dan Ovin hanya berdiri bersebelahan tanpa bertukar kata, tepat di hari pernikahan mereka berdua waktu itu.


Entah, ia memang merasakan kontradiksi antara hari itu dengan hari ini.


Sebuah hubungan yang perlahan masuk dalam zona hubungan pernikahan yang terasa lebih nyata.


"Entahlah," Jawabnya, menatap minumannya untuk beberapa saat. "Kau bisa menganggapnya seperti itu." Imbuh Franz, lalu meminum kembali wine itu sampai habis.


Ovin menunduk, jari tangah kurus nan lentik milik Ovin menyentil permukaan gelas, membuat suara mendenting yang cukup keras, hingga membuat Franz melirik ke arah lawan bicaranya.


Terlihat Ovin mengulum sebuah senyuman, sementara dua iris mata coklat kehitaman itu terpaku pada sepasang kakinya--atau,...entahlah, Franz tidak tahu kemana sebenarnya mata itu mengarah.


Dia tidak pernah tahu.


"Akhirnya, kau bisa mengatakan itu."


Senyum itu semakin melebar saat mata mereka berdua akhirnya bertemu.


Sampai tanpa aba-apa atau apapun itu, Ovin yang awalnya duduk manis dengan bantal sofa di atas pangkuannya, tiba-tiba saja bergerak cepat beranjak dari kursinya, bantal sofa yang tergeletak itu menjadi bukti kalau Ovin menghampiri Franz yang baru saja menghabiskan wine miliknya dengan gerakan cukup cepat, sampai saat Franz menoleh ke samping kiri, wajahnya langsung di raih dan satu kecupan itu datang menyambut mulut yang sudah terkontaminasi berpadukan aroma jeruk dan bau wine yang cukup manis dan memiliki alkohol yang cukup memabukkan.


___________


Di dalam kokpit.


"Tuan?" Panggil pilot ini terhadap Tuan muda Chade yang terlihat termenung, dan justru seolah sedang memikirkan banyak hal.

__ADS_1


'Mereka berdua, jadi sudah sangat dekat.' Detik hati Chade, saat ia bisa mendengar semua percakapan yang terjadi di belakang sana.


__ADS_2