Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM Nafas


__ADS_3

Sedangkan di kamar dimana Ovin masih terbaring di ranjang dengan begitu lelapnya, sehingga hari yang berubah menjadi petang tanpa ia sadari.


" Uh... " Ekspresi Ovin seketika berubah menjadi resah. Di dalam tidurnya, Ovin merasakan tubuh yang begitu gerah, dan juga cukup sesak. Ia masih mampu untuk keluar dari alam mimpinya, dan hal itu terus berlanjut hingga beberapa menit ke depan.


'Uhh........em.......lepaskan!' kepalanya menggeleng kuat ke arah kanan dan gantian ke kiri, Ovin benar-benar tidur dalam kondisi seperti orang yang resah dan membuatnya perasaan gelisah akhirnya menyelimutinya.


Dan mimpi buruk itu terus berlanjut seolah mimpi itu tidak akan pernha berakhir. Bahkan saking buruknya mimpi yang sedang ia alami itu, sontak membuat Ovin secara tidak sadar berhenti bernafas.


Hingga......


'S-sakit! T-tolong, tolong lepaskan aku.' Dalam kondisi mengigau di dalam pikirannya, ia masih saja tidak sadar bahwa dirinya menahan nafasnya.


Di dalam mimpi itu, Ovin merasa kalau lehernya di cekik oleh orang yang tidak ia kenal.


Sungguh, itu adalah perasan yang cukup menyesakkan, membuatnya benar-benar kesulitan untuk bernafas.


'T-tidak! Tidak, ja- akh..!' Dan dalam seketika itu juga, matanya terbuka lebar, dan menemukan langit-langit kamar yang sedikit remang.


Namun, ia merasakan kesulitan bernafas yang cukup berat. Hingga Ovin, seolah-olah tidak menemukan udara apapun di sekitarnya.


"Hahh......hahh.....hah!" Akhirnya Ovin sadar, bahwa dirinya setelah bangun, dan saat itu juga dia baru bisa ingat bahwa dirinya saat ini harus bernafas! "Hah..hah.., aku harus berna-fas!" ucap Ovin dengan wajah pucat.


Matanya melihat ke sana dan kesini, dan menempatkan dirinya itu memang benar-benar berada di dalam kamar sendirian. Padahal sampai beberapa saat lalu, otaknya sempat mengingat kalau dirinya tengah memeluk tubuhnya Franz yang terasa dingin itu.


Namun, sekarang apa?


" Ugh......hahh....hhh... " ia seakan sulit mendapatkan udara untuk mengisi paru-parunya, Ovin benar-benar merasa tersiksa. 'Berapa lama aku menahan nafas?!' detik hatinya. 'Dan kenapa tubuhku di gulung selimut?!'


Tidak mau tahu lagi dengan tubuhnya yang ternyata di gulung dengan selimut, seperti sebuah kepompong, tanpa membuang waktu lagi, Ovin menurunkan kakinya ke lantai dan langsung menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar terasa segar lagi. Dia melakukan itu untuk memancing hidungnya yang sedikit tersumbat itu kembali lancar.


" Ukh..... " tapi usahanya ternyata sia-sia, paru-parunya benar-benar terasa kosong, meski sudah menghirup udara sedalam-dalamnya tapi tidak memberikan pengaruh apa pun." Hah...hah...hah!" Matanya kemudian menjeling ke arah pintu, dan langsung berlari keluar dari kamarnya dengan begitu cepat.


BRAKKK.......


Membuka pintu dengan begitu keras, membuat knop pintu langsung menghantam dinding.


Sedangkan di koridor kapal, dua orang wanita yang bekerja menjadi pelayan di sana, tengah berjalan bersama.


"Bagaimana kalau kita ke dek paling atas, mempung mataharinya masih ada." ucap wanita ini kepada teman kerjanya.


Mengingat jam masih menunjukkan waktu 5:30 sore hari, matahari masih menampakkan dirinya di ujung cakrawala.


"Kamu saja sana, aku masih harus mengantarkan makanan ini ke tuan muda." memperlihatkan nampan yang ada di rak bagian bawah, dimana troli makanan sedang ia dorong menuju ke salah satu kamar.


"Apa? Tuan muda? Siapa yang kau maksud?" rasa penasarannya kambuh ketika mendengar kata Tuan muda. Padahal ia berpikir kalau semua orang di kapal sudah pergi ke pulau, kecuali para ABK sendiri.


Ekspresi wajahnya benar-benar menyiratkan seseorang yang langsung jatuh cinta pada pendengaran pertama.


"Siapa lagi kalau bukan Tuan muda Franz dan Tuan muda Jordy." jawabnya dengan selamba. Ia sangat malas dengan wajah berbinar dari temannya itu.

__ADS_1


"Tuan muda Fr- Aduh! " ayatnya langsung melayang ketika ada seseorang menyenggol bahunya dari belakang dengan cukup kasar.


"Maaf!" ucap Ovin kepada orang yang tak sengaja ia senggol bahunya, setelah itu kembali berlari.


" Apa-apaan dengan gadis itu? Masih menggunakan jubah mandi, tapi berlari di koridor tanpa alas kaki. " Nevia merutuki gadis yang tadi sempat menabraknya.


"Jangan-jangan ada sesuatu dengannya tuh. Anak orang kaya zaman sekarang kan suka yang begituan." Cibir wanita yang sedang membawa troli makanan.


"Yah, itu bisa jadi. Tapi apa urusannya dengan kita? Sudahlah, kau pergi saja sendiri sana, aku akan mengantarkan makanan ini lebih dulu." Ucap wanita ini.


Kedua orang itu pun menatap gadis tadi yang akhirnya sosoknya menghilang setelah berbelok ke arah kanan tepat di ujung koridor.


"Orang kaya, memang sesuka hati mereka mau pakai apa tidak jadi masalah. " menyambung rutukan nya sendiri yang belum ia sampaikan.


Sampai, kedua orang itu langsung di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang datang dari belakang. "Siapa orang yang kalian maksud itu?"


" Kyaa..!" all. Terkejut dengan satu orang itu, tiba-tiba muncul dari belakang mereka dengan suara rendahnya.


" Apa aku sebegitu menakutkannya?" tanya Franz, tanpa merasa bersalah setelah menakuti dua orang bawahannya.


'Tu-tuan muda?!' terpana dengan sosok asli pria muda, tinggi, lagikan tampan itu rupanya adalah Franz, orang yang sangat mereka berdua kagumi karena ketampanannya itu.


'Tuan muda baru mandi?!' Nevia makin terkejut karena karena rambut milik Franz masih basah dan bahkan masih ada tetesan air yang jatuh mengenai jubah mandinya.


" Kamu letakkan saja makanannya di atas meja. " perintah Franz kepada pelayan yang membawa troli makanannya. "Dan kau." setelah pelayan tadi pergi, sekarang Franz menatap Nevia dan bertanya. "Siapa orang yang kamu bicarakan tadi?"


"I-itu, tapi saya tidak tahu namanya." jawabnya dengan lugas.


" Perempuan. " jawab Nevia dengan cepat.


" Ke arah mana dia pergi?" sambil melirik ke arah ujung lorong yang ada di samping kanannya persis.


" Kanan. "


"Kalau begitu kau bisa pergi. " perintah Franz, dan ia berjalan meninggalkan pelayan yang bernama Nevia sendirian di koridor.


'Uh! Walaupaun tuan muda terlihat badmood, tapi bisa bicara dengannya langsung, bisa sangat beruntung!' Pikir Nevia sambil tersenyum-senyum sendiri, sebab ini adalah pertama kalinya dirinya bisa bicara langsung empat mata dengan Franz.


'Sebenarnya ada apa denganku!?' dengan langkah tegas dan lebar, Franz berjalan mengikuti arah yang di ucapkan pelayan tadi. 'Aku benar-benar tidak bisa tenang jika bocah tengil itu sudah lari di koridor dengan telanjang kaki.'


Antara hati dan pikirannya bertolak belakang, namun tubuhnya benar-benar bereaksi untuk mencari keberadaan dimana wanita itu sekarang.


Dia harus mencarinya, karena jika ia tidak mencarinya, akan ada hal lebih buruk selalu saja terjadi.


'Sekar-' Pikirannya terhenti di detik itu, setelah ia menyadari kalau rupanya langkah kakinya itu membawa dirinya dek kapal.


BRAKK.....


Dan satu-satunya pintu yang barusan di buka, langsung pintu tertutup lagi dengan keras, seiring setelah seseorang dengan terburu-buru keluar.

__ADS_1


"Hah..hah...hhh...!" Ovin melangkah dengan langkah lebar menuju dek kapal, dan seketika itu angin berhembus kencang.


Angin laut yang dingin itu langsung menerpa tubuhnya yang hanya berbalut jubah mandi.


Mengesampingkan rasa dingin itu, alasan dirinya sekarang berada di atas dek, adalah untuk mendapatkan angin yang banyak dan mencoba untuk bernafas selagi mendapatkan udara yang banyak itu.


Udara, hal yang diinginkannya sekarang ini.


'T-tidak, kenapa rasanya aku masih merasa sesak? Mimpi soal aku dicekik masih tidak bisa lepas dari kepalaku.' Dia masih sulit untuk bernafas. "Ukh."


Melupakan pekerjaannya yang tidak pernah lelah yaitu bernafas, Ovin merasa kebingungan kenapa bisa sampai dirinya susah bernafas.


Tidak mungkin dirinya akan mati konyol karena sulit bernafas gara-gara karena sebuah mimpi buruk, ya kan?


'Tapi ini! Akh...a-aku rasanya masih sulit untuk bernafas' Padahal tinggal menghirup udara yang sebegitu banyak ini, tetapi tidak ada yang masuk ke dalam paru-parunya.


Maka dari itu, Ovin terus berusaha untuk menarik nafas sebegitu dalam dan kemudian dia hembuskan, namun tetap saja, dirinya serasa terkena kutukan saja. Sudah kepala merasa pusing, bermimpi buruk, dan sekarang dirinya gara-gara mimpi buruk itu, bernafas yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupannya, tidak bisa Ovin lakukan dengan leluasa.


Sampai tidak lama kemudian, langkah kaki milik seseorang perlahan mendekat.


TAP.......


TAP.....


TAP.....


Dari belakang, sepasang kaki berhenti tepat dibelakangnya Ovin.


Ukh...hah...hah...hah..." deru nafas Ovin pun akhirnya terus terdengar di telinganya Franz.


Ya, orang yang baru saja berhenti tepat di belakangnya Ovin, adalah orang yang sudah memiliki status hubungan dengannya.


'Wanita merepotkan. Kenapa dia seenaknya keluar dari kamar dengan kaki telanjang seperti itu?' detik hati Franz melihat perempuan itu terduduk di atas lantai dengan nafas terengah-engah, benar-benar terlihat meminta alat yang bisa membantunya bernafas.


Dan Franz yang sudah tahu akan permasalahan dari ovin ini dengan remehnya, dia melempar tabung oksigen berukuran mini seperti botol mineral tepat ke arah samping gadis ini.


Tangan Ovin langsung mengambil tabung itu dan menggunakannya.


Tanpa melihat siapa yang melemparkan benda itu ke arahnya layaknya seorang pengemis yang memungut sampah dari orang lain, Ovin langsung berkata : " Terima kasih. "


" Hm. " dehem Franz.


"..." Ovin yang menyadari adanya suara yang cukup dia kenal, sontak menoleh ke samping kanannya.


" Kalau sudah, cepat masuk. Bukan berarti aku mengkhawatirkanmu, tapi aku tidak mau ada orang yang menyusahkanku lagi apa lagi di depan mataku. " ucap Franz dengan nada ketusnya.


" Iya.. " dengan masih mengendalikan peraturan nafasnya, kakinya pun berusaha berdiri.


Sambil melihat punggung Franz yang makin menjauh, Ovin sedikit berpikir.

__ADS_1


'Franz.' panggilnya di dalam hatinya. 'Sebenarnya dia itu baik. Tapi temperamennya yang sangat buruk.' di tatapnya gadis ini pada Franz yang perlahan menghilang.


__ADS_2