Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Peti Mati


__ADS_3

'Benar juga. Kenapa aku jadi penasaran soal alasan kenapa dia melakukannya? Apa yang terjadi denganku? Kenapa juga aku repot-repot penasaran soal dia? Kau gila Franz, bisa-bisanya aku punya pikiran seperti padanya.'  Franz langsung diam setelah mendengar jawaban dan pikirannya sendiri yang berusaha menolak untuk menemukan jawaban dari rasa penasarannya sendiri. 


Di tengah-tengah dia sedang merutuki dirinya sendiri, tiba-tiba saja Ovin memanggil namanya lagi.


“Franz,"


Franz mengangkat kepalanya.


Bertentangan dengan ekspektasi, mata berkilau itu menonjol di antara rambut hitam halus yang di sisir ke dahi lurusnya.


Seseorang pria yang tahu nilainya sombong, tetapi bahkan penampilannya menarik perhatian orang yang melihatnya, dan salah satunya adalah diri Ovin itu sendiri.


Namun, lucunya pria sombong, playboy dan manja itu begitu cantik, sehingga kemasyhurannya yang punya sifat buruk, tertutupi dengan baik.


“Apa kau... Terbesit ingin bercerai denganku?“


Seperti tersambar sebuah petir padahal tidak ada hujan, tatapan Franz semakin sengit, karena ucapannya. 


“Kenapa tiba-tiba tanya itu? Bukankah kita sudah pernah membicarakannya? Tidak ada kata cerai diantara kita.“


“Ini bukan tiba-tiba, tapi memang sudah lama aku pikirkan setelah selama ini yang kau lakukan kepadaku, karena ini adalah persoalan kau yang benar-benar benci kepadaku.


Kenapa tidak katakan saja pada ibumu, kalau kau tidak menyukaiku dari awal?“


“ Kau pikir ini semudah membalikkan telapak tangan? 


Dari awal aku tidak menyukaimu sama sekali. Karena yang aku sukai itu hanyalah Bella.“


Franz memeriksa wajah Ovin saat dia meletakkan dagu di tangannya.


“Apa itu karena dia cantik?“


“Itu termasuk juga. Kau tidak tersindir dengan soal aku mengiyakan Bella cantik dari pada kau kan?“


Franz dengan terus terang memang berhasil membandingkan penampilan dua perempuan sekaligus.


Dibandingkan dengan Bella yang suka perawatan, cukup masuk akal jika Ovin kalah jauh dengan Bella, karena dua perempuan itu cukup bertolak belakang.


Tidak.“ Ovin memilih duduk di atas peti matinya sendiri. “Aku selalu sadar dengan apa yang aku punya,“ Sambungnya lagi.


“Selain cantik, baik, dia populer sepertiku.“


Ovin melirik Franz saat laki-laki ini mengatakan populer. 


Franz sedikit memiringkan kepalanya.


Mata ramping pria itu menatap Ovin seolah sedang mencari jawaban lain.


“Ah..kau juga populer tapi beda julukan.


“ Ucap Franz di detik itu juga.


Dia sepenuhnya sadar bahwa Ovin adalah perempuan yang lusuh.


Tapi dia tidak bisa melupakan mata itu, mata yang penuh dengan banyak kekhawatiran.


'Apa yang membuatnya tiba-tiba membahas topik itu dengan santainya?


Kalau dibilang cemburu, jelas tidak. Aku tidak melihat mata itu menunjukkan emosi yang menandakan kalau dia cemburu karena aku membahas Bella.


Lantas apa?' banyak sekali pertanyaan yang terus terngiang di dalam kepalanya.


Namun di matanya Ovin, dia sedikit senang walaupun ada terbesit rasa penyesalan, bahwa di mata pria itu Bella adalah yang tercantik dari segi standar selera nya Franz.


'Yah, itu memang cocok juga sih, karena dia tampan, jelas kalau dia suka yang cantik-cantik.


Hanya saja, aku iri karena kenyataannya dia memang lebih cantik ketimbang aku.'


Ovin tahu lebih baik daripada siapa pun, bahwa jika mau mendapatkan pujian dari pria di hadapannya itu, maka dia sendiri harus merubah kebiasannya.


'Tapi-- Make up. Ugh... Hanya memikirkannya saja, aku seperti sudah merasakan aroma yang aku benci.' Ovin cukup sensitif dengan semua aroma yang berkaitan dengan make up. “Aku tahu, dia memang yang terbaik dari segala sisi,“ Ovin tersenyum simpul.


Terlepas dari segala hal yang pernah Oven lalui, kali ini setidaknya di jadi merasa lebih dekat dengan Franz, meski hanya sekedar saling berbicara dengan sebuah jarak seperti itu.


“Hanya saja, kalau dari segi visual, aku bisa merubah penampilanku, tapi dari segi gen, aku pikir akulah yang terbaik,"


"Kau lagi-lagi mengatakan sesuatu yang vulgar,"


"Bukankah pembicaraan seperti ini biasanya di bicarakan oleh orang seperti kita yang sudah jadi Suami Istri?"


Franz kembali di tampar dengan perkataan Ovin yang cukup masuk akal.


Namun demikian, bukankah terlalu dini untuk membahas soal gen, yang merujuk pada penerus?


"Terus apa lagi yang kau sukai dari perempuan seperti Bella?“ dengan sengaja Ovin kembali menyeret topik soal Bella.


Karena dengan begitu, pembicaraan diantara mereka berdua jadi lumayan normal.  


Tentu saja, Franz sadar dengan cara Ovin mengalihkan topik itu sendiri.

__ADS_1


Namun, mengabaikan jeritan tidak puas hati yang terus berkoar-koar di dalam benaknya, Franz segera menjawab, “Tentunya dia beda tingkatan denganmu. Dalam segala aspek, menurutku dialah yang sempurna.“ 


Lagi-lagi pujian tingkat dewa, Ovin agak tersinggung, namun dia bertahan dari segala emosi yang terasa sedang di provokasi.


'Walaupun dia tidak menyukaiku, dan aku sendiri juga tidak tahu kapan hubungan pernikahan seperti ini bertahan, setidaknya selama dia masih menjadi suamiku, aku akan merasa senang. Karena dialah satu-satunya wajah yang bisa aku lihat kapanpun itu.  Batin Ovin.


Tapi apa yang membuat hatinya berkata kalau Franz menjadi satu-satunya cahaya, adalah karena dia bisa melihat wajahnya di saat dia ingin melihat wajah laki-laki itu seperti apa.


Seperti sekarang ini.


Karena rencana dari Aeon, Ovin dan Franz lagi-lagi dibawa ke suatu tempat yang membuatnya bisa menikmati bagaimana rasanya berduaan.


Franz tiba-tiba menarik napas dalam-dalam dan meletakkan tangannya di dada.


Dia harus bersabar demi bisa bertahan dengan pria ini.


“Lalu soal perceraian. Jika aku menceraikanmu, aku yang merupakan seorang Tuan Muda kedua dari keluarga Esther, akan dicabut dalam daftar keluarga. Kau tahu apa artinya? Aku tidak akan mendapatkan apapun. Tentu saja, jika aku tidak mendapatkan bagianku, kau juga tidak akan mendapatkannya, “ Jelas Franz.


“Ha…“ Tiba-tiba Ovin tertawa mencibir.


Meskipun jawabannya menyakitkan karena hanya memperdulikan soal harta, setidaknya dia bisa tahu apa alasan Franz tidak menceraikannya.


Eksistenti Franz yang cukup kekanakan memang agak lain, karena itu Franz selalu menarik perhatiannya, bahkan di matanya itu, bagi Ovin, Franz adalah anak yang seharusnya dia jaga.


"Bahkan permen pun kau tidak bisa mendapatkannya," katanya lagi, mengingat keluarganya juga punya pabrik permen.


"Aku tidak butuh permen," Ovin memiringkan kepalanya ke kanan sambil melirik ke arah Franz yang masih berwajah serius.


Dia tahu kalau Franz pasti sedang kesal karena tiba-tiba berpindah tempat lagi, dan dipaksa hidup berdua, tapi dia cukup senang karena hal itu.


Setidaknya Franz, mau tidak mau terpaksa mengikuti drama yang sudah dibuat oleh tuan Aeon. 


“Baiklah, tapi apa kau puas dengan jawabanku?” Tanya Franz kepada Ovin yang dari tadi terlihat lebih diam.


“Ya, setidaknya aku tahu alasannya dari mulutmu langsung,” tidak begitu tertarik dengan jawaban yang sudah jelas apa adanya itu.  


Meskipun jawaban dari Franz sebenarnya cukup menyakitkan, tetapi yang Ovin bisa lakukan sekarang adalah bisa mempertahankan hubungan yang baru jalan dua setengah bulan lebih ini.


Ovin memang berkata seperti orang yang tegar, tapi siapa yang tidak sakit jika alasannya karena harta?


'Hahaha, pasti menyenangkan sekali, dia bicara tanpa berpikir, apakah aku tersinggung atau tidak untuk setiap kalimat yang keluar dari mulutnya itu.'


Ovin tertawa dalam diam jika memikirkan kalau Franz masih belum bisa mandiri.


Masih menggantungkan hidupnya dari harta dari kedua orang tuanya.


“Kau mau kemana?” Tanya Franz penasaran.


“Aku mau mengambil peti mati milikmu.” Jawab Ovin dengan wajah polosnya.


Franz membungkam sejenak, karena ternyata ada satu orang yang sangat peduli dengan barang tidak berguna seperti peti mati itu.


“Biarkan saja disana.” Kata Franz sambil membaringkan tubuhnya ke atas kasur.


“Tidak, hatiku tidak menerima peti mati mewah seperti itu di tinggal di sana,” Tepat setelah berkata seperti itu, Ovin langsung keluar begitu saja.


'Peduli sekali dia dengan peti mati.' Pikir Franz, tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya yang aneh itu.


Franz seketika langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.


Dia tercengang dengan setiap pikirannya yang terus saja berhubungan apa dan kenapa soal Ovin.


'Kenapa pikiranku tiba-tiba menyebut dia istri tanpa aku sadari?' detik hatinya.


Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Franz akhirnya melihat perempuan yang tidak lain adalah Ovin, sudah menyeret peti mati milik Franz dengan sangat susah payah.


“...” Franz hanya menatap usaha yang sedang dikeluarkan oleh Ovin untuk membawa masuk peti matinya. 'Itu memang terlihat berat, tapi tetap saja ternyata dia mampu membawanya sampai kesini.


Jadi ini yang dimaksud oleh orang itu, kalau dia punya stamina kuat?'


BRUKK……


“Hah...hah...hah….” Ovin sudah tersengal-sengal dengan tenaga yang sudah terkuras banyak itu, demi membawa peti mati yang cukup mahal itu.


“Apa yang akan kau lakukan dengan itu?” Tanya Franz lagi dengan tindakan aneh Ovin ini.


“Tentu saja untuk tempat tidurku.” Jawab Ovin tanpa melihat lawan bicaranya yang sudah bereaksi dengan tampang wajah bingungnya. “Aku tidak akan melakukan ini, jika kau memang bersedia berbagi kasur denganku.”


JLEBB…..


Tepat sasaran dengan yang sudah Franz pikirkan sedari awal saat sudah tahu di dalam rumah pondok itu hanya tersedia satu ranjang yang tidak seberapa besar.


'Dia pintar juga memahami situasi aku. Cukup peka untuk beberapa alasan,' Batin Franz, dia tersenyum dalam diam dengan sikap Ovin.


Dia sejujurnya merasa senang, karena tidak perlu repot bertengkar soal kasur, karena Ovin sudah memahami situasinya saat ini.


Tapi apa yang akan dilakukan Ovin, ketika kotak peti mati itu sendiri adalah tempat kematian, dimana tubuhnya harus tidur dalam posisi lurus?


KRAK….

__ADS_1


KRAK……


“Apa yang kau lakukan?!” Terkejut saat tiba-tiba seperti mendengar suara kayu yang patah.


“...?” Ovin menatap Franz yang ternyata sudah duduk sambil menatap ke arahnya.


Tidak peduli soal keterkejutannya Franz, tangan Ovin tetap melakukan pekerjaannya untuk memodifikasi kedua peti matinya untuk menjadi tempat tidurnya.


'Peti matinya bisa di gabungkan?' Franz melihat sendiri bahwa salah satu tiap sisi peti mati ternyata bisa dibuka, dan bisa digabungkan menjadi satu, sehingga ruang di dalam peti itu jadi lebih luas.


“Kau bisa tidur di tempatmu, aku akan tidur disini.” Tanpa basa-basi lagi, Ovin langsung melepaskan mantel coat nya, lalu masuk ke dalam peti mati yang sudah digabungkan menjadi satu.


Dan menggunakan pakaian itu untuk Ovin gunakan sebagai selimutnya.


“Tu-tunggu! Kau mau langsung tidur begitu saja?” Franz sedikit terkejut karena melihat Ovin sudah langsung masuk dalam mode tidurnya begitu saja.


Ovin terpaksa menoleh ke arah Franz dan bertanya. “Kalau tidak tidur memangnya kau mau kita melakukan apa?”


'Haish! Kenapa dia malah tanya pertanyaan seperti itu?! Kalau aku tidak menggunakan sedikit otakku, aku bisa saja langsung salah paham.


Dia ahlinya kalau mau buat orang lain salah paham dengan kata-katanya.' Franz sedikit kesal karena mendengar pertanyaan Alinda yang sedemikian rupa bisa membuat orang salah paham sendiri jika tidak menggunakan kepalanya.


“Apa kau tidak merasa lapar?” itulah tujuan Franz bertanya.


Padahal hari sudah benar-benar menjadi malam lebih cepat, tapi apakah tidak ada kegiatan untuk mengisi kekosongan dari perut mereka berdua?


Ovin jadi merubah posisi tubuhnya miring ke kiri sambil menatap Franz.


Ovin senantiasa menatap wajah Franz, karena hanya dia seorang yang bisa Ovin lihat.


Jadi selama bisa dilihat, kenapa tidak melihatnya sampai puas?


Itulah yang dirasakan oleh Ovin.


“Makan? Kau mau makan aku? Aku siap kok,"


Raut muka Franz semakin muram dengan sikap Ovin yang terus mengganggu kewarasannya.


"Nih~" mulai menaikkan ujung pakaiannya, Franz segera menarik kembali ujung pakaiannya Ovin, sebelum benar-benar mengekspose perut yang rata itu.


"Hentikan ini, jangan membuatku bersikap kasar padamu,"


"Tapi bukankah kau sendiri yang menginginkan untuk makan? Nah, aku ini termasuk makanan, dan sebaliknya, kau juga makananku," jelas Ovin dengan wajah polosnya, padahal dia cukup senang karena mempermainkan Franz, sampai kedua telinga pria tersebut langsung tersipu malu.


"Yang aku maksud bukan ini, makanan yang bisa membuatmu kenyang dengan di kunyah dengan mulut, kau pasti paham, jadi jangan buat hal ini jadi pertengkaran lagi untuk kita berdua, Ovin," papar Franz, dia akhirnya menyatakan rasa geramnya terhadap perempuan yang sudah ada di dalam kotak peti mati itu sendiri.


"Pfft~ Hahahah," tidak tahan dengan cara Franz bicara yang begitu serius membahas soal makanan, Ovin akhirnya jadi tertawa lepas dengan wajah konyolnya itu. "Hahaha, iya... Aku paham, aku sangat paham, tapi-- hahah, aku jadi nggak bisa berhenti tertawa deh,"


'Dia tertawa?' Franz secara tercekat kaget dengan cara Ovin tertawa, karena ini kali pertamanya melihat perempuan ini tertawa lepas sampai seperti itu.


"Aduhh, jadi... Apakah sekarang kau bisa menyingkirkan tanganmu dari atas perutku? Atau kau-- Tiba-tiba terbesit ingin mengisinya?"


BLUSHH~


Mendapatkan godaan telak dari Ovin, Franz dengan buru-buru langsung menjauhkan tangannya dari atas perutnya.


"Sejak kapan kau pintar menggoda seperti ini?" tukas Franz.


"Sejak tadi, mungkin~"


Ovin tidak bisa memberikan jawaban yang pasti, karena dia sendiri punya pikiran menggoda untuk beberapa saat saja, setelah itu hilang sudah niat itu sendiri.


"Jadi-- Apakah maksudmu kau mau aku memasak? Padahal dari awal setiap kali aku masak kau selalu menolaknya.” Jawab Ovin tanpa merasa bersalah sedikitpun.


JLEB…..


Ovin sungguh sudah pintar untuk berkilah lidah.


Apa yang keluar dari mulut mungilnya itu, adalah suatu kebenaran yang selama ini di lakukan oleh Franz.


"Itu sudah berlalu. Jangan mengulur waktu lagi, aku sudah benar-benar lapar," ucap Franz, dia memegang perutnya sendiri dengan wajah lelah, sebab seharian itu dirinya memang belum makan sedikitpun, dan itu pun hanya di isi beberapa teguk air saja.


“Aku memang lapar, tapi memangnya aku harus apa di saat malam-malam seperti ini? Besok saja ya?” Jawab Alinda dengan nada malas.


“T-tapi!”


Ovin langsung memunggungi Franz, dan langsung terlelap tidur karena lelahnya. "Sudah, nanti kalau kau tidur, rasa laparnya juga akan hilang kok, percaya saja, karena aku sudah sering mengalaminya,"


Setelah berkata seperti itu, Ovin pun benar-benar sudah tertidur.


Franz pun diam, menatap tubuh Ovin yang benar-benar sudah rapat di tutup dengan mantel coat yang di jadikan sebagai selimut.


"Hei, kau benar-benar tidur?"


"Memangnya kenapa? Kau mau olahraga malam denganku?"


"Vin! Aku serius!" celetuk Franz.


"Ya elah, aku juga serius. Jangan ganggu orang tidur. Memangnya apa yang bisa aku lakukan saat hari sudah malam, memangnya di tempat ini ada persediaan makanan?" protes Ovin, sudah tidak sabar ingin tidur, tapi selalu di ganggu oleh Franz.

__ADS_1


__ADS_2