Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Amarahnya


__ADS_3

"Sebentar!" Franz tiba-tiba langsung berseru. "Jangan-jangan, kau sudah pernah melakukannya dengan seseorang?! Makannya bisa bicara tidak tahu malu seperti itu?!" tuding Franz tanpa mengerti perasaan yang langsung terlampiaskan kepada Ovin.


DEGG......


"........! " dan dalam beberapa detik selanjutnya, gundukan yang ada di dalam selimut langsung bergerak-gerak memberikan respon yang selanjutnya dari Franz.


" Hmph....sudah pasti, tidak mungkin perempuan sepertimu itu perempuan baik-baik. " tutur Franz lagi dan lagi.


Ucapannya yang tidak bisa di filter itu berhasil mengundang sederet rasa tidak suka yang langsung menusuk kedalam lubuk hatinya Ovin yang paling dalam.


"Kenapa kau malah menuduhku seperti itu?! " tanya gadis yang sekarang sudah berdiri tepat di belakangnya Franz.


Dia dengan buru-buru membuang selimut yang sempat menutupi tubuhnya ke arahnya Franz dengan sangat brutal dengan wajah yang sudah memasang ekspresi marah.


Franz langsung melempar selimut itu dari tubuhnya, dan saat itu pula dia mendengar banyak kalimat yang keluar dari mulutnya Ovin.


"Memangnya kau tahu dari mana? Dan memangnya apa yang kau katakan itu benar, ha? Benar?!" sarkas dalam berbicara, Ovin turun dari tempat tidur dan menghampiri Franz dengan sekali lompat. "Coba katakan, darimana kau tahu ha?!"


"Tentu saja dar- " namun, saat menoleh ke belakang, di detik ini pula ada satu tangan melayang dan langsung melayang ke arahnya dengan begitu cepat, sampai Franz tidak mampu untuk menghindarinya dan akhirnya satu tamparan pun langsung mendarat di wajah tampan dari laki-laki ini.


PLAKKK......


Tamparan mendarat di pipi sebelah kiri.


Seketika ia langsung tahu, bahwa ketika tamparan itu mendarat di wajahnya, saat itu juga telinganya jadi berdengung.


Dan tamparan itu adalah tamparan pertamanya yang ia dapatkan dari Ovin.

__ADS_1


"Apa kau gila?! Menampar wajah berhargaku?! " teriak Franz, tidak terima dengan tamparan yang di dapatkannya tadi dari Istri mudanya itu. "Kau yang bertanya aku tahu dari mana. Belum aku jawab, tapi kau tiba-tiba menamparku?!"


"Ya! Aku gila, karena aku gila makannya mau menampar satu-satunya wajah yang bisa aku lihat selain Kakak Chade!" bentak Ovin saat itu juga. "Dan aku sebenarnya tidak butuh jawaban yang berisi alasan seperti itu! Mengerti?!"


Akhirnya dia pun marah besar juga kepada Franz, karena menurutnya ucapannya itu sudah cukup kelewatan.


"Dan memangnya siapa yang tidak bisa gila jika mendengar perkataanmu barusan?! Perempuan lain juga pasti akan melakukan yang sama, bagaimana kau bisa-bisanya seenaknya saja menyimpulkan aku pernah tidur dengan orang lain?


Padahal satu-satunya orang yang pernah tidur denganku itu kau! Tapi kau terus saja menyimpulkannya sendiri seperti itu! " terus terang Ovin, kini rambut kusut yang masih basah itu menghiasi wajahnya yang sedikit sembab karena air matanya yang sedikit keluar.


'A-apa?' kalimatnya langsung menghilang lepas melihat air mata yang sedang ditahan oleh gadis itu.


Tak sampai disitu saja, Ovin kembali mengambil langkah dan mendekat ke arah Franz berdiri, selagi itu, tangan kanannya dalam sekejap langsung mendorong tubuhnya Franz dengan kuat lalu tidak lama setelah itu, Ovin langsung mencengkram kerah bajunya Franz.


GREPPP.....


"Apa kau kira aku tahan dengan hinaanmu yang tidak ada habisnya itu?! Kau seharusnya bisa bicara lebih banyak lagi! Lebih tajam lagi! Agar aku bisa meninjumu dan membencimu lebih dalam lagi! Dan membencimu agar aku bisa teringat lagi dengan luka yang pernah kau berikan kepadaku sepuluh tahun yang lalu!" Teriak Ovin, dengan amarah yang meluap secara tiba-tiba.


Tapi teriakannya tidak bisa begitu lama, ada puluhan kalimat yang ingin dilontarkannya langsung tepat di wajahnya Franz itu. Tapi dia tidak bisa, sebab dirinya adalah tipe orang yang harus mengatur kalimatnya dulu.


Maka dari itu, perlahan cengkraman tangannya ia lepaskan.


"Kau terus saja memancing emosiku, apa kau tidak memikirkan perasaanku sedikit saja? Franz, aku pikir kau dan aku bisa lebih dekat setelah dua bulan ini kita bersama, ternyata tidak ya? Kau ingin aku pergi dari kehidupanmu, ya kan?


Seperti yang kau katakan dulu, aku adalah pengganggu, orang yang menghancurkan masa mudamu, akan aku kembalikan itu jika kau memang memilih itu." Imbuh Ovin.


Ovin beranjak dari situ, dan bergegas masuk menuju kamar mandi dengan pintu yang di banting dengan sebegitu keras.

__ADS_1


'Apa yang dia bicarakan? Bahkan dia masih mengingat apa yang pernah dulu aku katakan? Tidak, jangan-jangan dia mau pergi.' tatap Franz terhadap Ovin yang baru saja masuk kedalam kamar mandi lagi.


Ovin, hatinya sebenarnya dari dulu sudah panas mendengar hinaan dari mulut manusia yang tidak pandang bulu itu, tapi coba ia tahan namun akhirnya meluap juga.


Dan tidak sampai 3 menit, dia sudah keluar dengan pakaian rapi dan tak lupa dengan jaket coat berwarna biru gelap sudah terpakai.


Melihat gadis itu hendak pergi dengan koper, Franz segera beranjak dari sofa dan berusaha untuk menggapai tangannya.


" Kau mau pergi kemana?! " tanya Franz tanpa merasa bersalah atau untuk minta maaf atas ucapannya beberapa saat lalu.


"..... " Ovin hanya mendiami pertanyaannya Franz itu.


Tapi, karena Franz benar-benar melihat Ovin sudah memegang kopernya dan bersiap untuk pergi, Franz langsung merasa tertekan dengan kemungkinan besar yang harus ia hadapi nantinya.


'Bagaimana kalau ibuku mencarinya?! Aku harus minta maaf, aku tidak bisa membiarkan dia pergi dari sini.' pikirnya, tat kala dirinya harus berhadapan dengan perempuan yang sedang marah ini. " Aku...aku minta maaf untuk yang tadi"


"Telat, kau sudah telat untuk mengatakan minta maaf kepadaku." menatap datar pintu yang kini sedang di halang oleh pria ini. " Minggir!. " pinta Ovin.


" Tidak akan. Kau tidak bisa pergi begitu saja, kau jangan pergi dari sini." Franz pun mencoba untuk meraih pergelangan tangan kirinya Ovin.


"Oh ya?!"


Seketika kaki kirinya Ovin angkat dan menggebrak pintu tepat di sebelah kaki kanan Franz. Lalu tangan kanan yang awalnya digunakan untuk menarik kopernya, ia lepaskan dan diganti untuk menarik baju pria itu dan mendorongnya ke samping dengan keras.


"Kenapa aku tidak boleh pergi? Kan semua ini ulahmu! Jika saja kau punya perasaan setidaknya sedikit kepadaku, aku tidak mungkin mau pergi menjauhimu seperti ini! Tapi jika kau terus saja menyakiti hatiku, aku terpaksa pergi!" bentak Ovin, dia sudah cukup marah karena selama ini dia merasa selalu diperlakukan tidak adil oleh Franz.


'Tenaganya kuat sekali!.' Tidak tinggal diam, sebelum terjatuh, Franz sempat-sempatnya menarik tangan kanannya Ovin dan jadinya sama-sama terhuyung ke belakang dan membuat mereka berdua akhirnya jatuh bersama.

__ADS_1


BRUKKK....


__ADS_2