
Awan dalam berbagai macam bentuk menghiasi langit biru, bergerak sesuai arah angin yang ada.
Sepasang matanya memandang pemandangan tersebut, untuk menutupi silaunya ia meletakkan lengan tangan kanannya ke atas dahi.
".................. " Bibirnya berkomat kamit mengatakan sesuatu namun sebab ada helikopter yang tidak sengaja lewat, maka tidak ada yang bisa mendengar gumamannya.
Dengan tenangnya ia mendengarkan musik sampai lewat jam istirahat sekolah, kebetulah sekarang sudah tidak ada jam pelajaran lagi sebab semuanya sudah usai.
Semuanya...
Sekolah ini...
Dan semua pelajaran di sini.
Dari A sampai Z. Ovin, setelah dirinya pindah sekolah tepat di pertengah semester terakhir, saat ini dia pun sudah terbebas dari tuntutan dalam hal pelajaran, sebab semua itu sudah mereka semua lewati.
Lalu saat ini?
Kehadirannya hanyalah untuk mengisi daftar hadir sekolah saja, jadi walaupun memang masih masuk sekolah, tapi tidak ada materi pelajaran apapun yang harus mereka pelajari lagi selain kata bebas itu tadi.
Bahkan kejahilan yang biasanya Ovin dapatkan ketika berada di kelas, semua itu sudah tidak ada lagi, mengingat Franz kemarin sempat membeberkan berita bohong tapi cukup ampuh sebagai tameng agar Ovin tidak di perlakukan kasar lagi oleh mereka semua.
Dan di tengah-tengah Ovin sedang berbaring di atas lantai di atas rooftop, tiba-tiba saja ada setetes air mengalir dari pelupuk matanya, dan berakhir dengan membasahi pelipisnya.
Entah karena lagu sedih yang sedang Ovin dengar, atau karena suatu lain yang sedang Ovin pikirkan saat ini, semua itu membuat perasaan dari hati kecil yang dimiliki oleh Ovin tiba-tiba saja jadi merasa sakit.
'Ibu' Panggil Ovin dari dalam hati. Dia pun memejamkan matanya sambil merasakan rasa sakit di dari hati yang sebenarnya sudah berlubang itu, sebab kenangan antara dirinya bersama dengan sang Ibu, akhirnya kembali muncul.
Mengingatkan bahwa Ibu yang sudah tidak ada itu, benar-benar masih membekas di dalam ingatan serta hati ini.
Dan panggilan dari hati itulah, akhirnya berubah jadi tangisan kecil yang hanya bisa di dengar oleh Ovin sendiri.
"Hiks...hiks..." Dan tangisan itu berlangsung cukup lama. "Ibu...hiks....ibu...ibu...!" Tekan Ovin dalam tangisan pilu.
Sudah berapa lama dirinya di tinggal oleh sosok dari sang Ibu yang dulu pernah selalu mengisi hatinya dengan kehangatan?
'Rasanya sudah lama sekali, tapi kenapa sampai sekarang aku masih hidup? Bukannya aku harusnya menemani Ibu ya?' Pikir Ovin. "Hiks...hiks..hiks....Ibu."
Sampai Jerry dan Siska yang sebenarnya saat ini sedang duduk bersama di balik dinding dari gudang, sempat mendengar tangisan dari Ovin, yang biasanya hnya memperlihatkan sosok dari ketidakpeduliannya terhadap semua yang Ovin terima saat di bully selama ini.
Dan ternyata, yang menjadi dasar dari Ovin bisa menangis seperti itu, adalah karena Ibu?
-'Apa kamu pernah dengan tentang Ibu nya?'- Tanya Jerry dengan mengetik pesan kepada Siska.
-'Tidak. Tidak ada yang tahu sama sekali seperti apa latar belakang anak itu. Aku sudah mencoba mengecek ke aslian dari latar belakangnya, dan semuanya adalah palsu.'- Jawab Siska atas pertanyaan Jerry.
__ADS_1
-'Aku pikir kau tahu.'-
-'Jangan berpikir karena aku senior sebagai ahli komputer, aku bisa tahu semuaya ya, Jerry. Anak itu, dia sebenarnya punya rahasianya sendiri, lucunya aku pernah beberapa kali di tendang saat ingin meretas latar belakangnya.
Tapi setelah aku berhasil meretasnya, yang ada hanyalah informasi palsu. Jadi jangan pernah berharap mendapatkan sesuatu dariku. Kenapa tanya? Simpati karena dia nangis?'- Jawab Siska lagi. Karena saat ini sedang duduk bersebelahan, Siska pun mendelik ke arah Jerry yang benar-benar memasang wajah khawatirnya.
"Hiks...hiks..."
Tapi semuanya kembali pada keterdiaman mereka, baik itu kata, maupun pesan singkat mereka. Karena mereka jadi tidak tega membahas orang yang sedang menangis di belakangnya seperti itu.
Dan tangisan itu terus saja berlangsung, sampai sepuluh menit kemudian, tiba-tiba saja tidak ada lagi suara.
-'Kenapa tiba-tiba tidak ada suara tangisan?'- Jerry jadi kembali bertanya lewat pesan singkat untuk Siska.
Lalu Siska dengan senyuman miringnya, segera menjawab. -'Karena dia saat ini sedang memergoki kita. Lihatlah ke samping kirimu, dia sedang berdiri menatap kita.'-
Mendapatkan jawaban seperti itu dari Siska, tentu saja Jerry dan Siska sama-sama menoleh ke sebelah kiri, dimana Ovin saat ini sedang berdiri dengan wajah sembab karena menangis. Tapi yang jadi permasalahannya saat ini itu bukan rasa simpati yang tadi timbul untuk perempuan ini, melainkan rasa bahaya dari ekspresi wajah Ovin yang sudah terlihat sangat datar.
"Kalian..mendengarku menangis?" Dengan kepala sedikit menunduk ke bawah.
"Maaf, kami tidak sengaja." Jawab Siska saat itu juga.
".............!" Kesal karena ternyata ada yang mendengar tangisannya, Ovin pun langsung memberikan hadiah untuk mereka berdua.
"H-hei Ovin, tenang saja, aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun kok." kata Siska, mencoba memohon pada satu orang yang sudah punya aura gelap.
"Memangnya aku peduli itu?" Dan salah satu kaki Ovin pun dia layangkan, sampai akhirnya...
"AKKHHH....!"
*
*
*
"Siapa yang tadi berteriak?" Tanya murid perempuan yang sedang mengulum lolipopnya.
"Mana aku tahu." Sahut temannya, tengah duduk di atas meja dengan kedua kaki justru di kursi, dan kedua tangannya tidak berhenti untuk berkutat dengan handphone nya sendiri.
"Hmm...rasanya kurang asik, karena tidak ada yang bisa aku tonton. Biasanya anak baru itu kan kena jahil murid lain dan berakhir dengan heboh. Tapi-"
"Tapi semenjak Tuan muda itu mengumumkan kalau ovin adalah sepupu jauhnya, semuanya kembali jadi tenang." sambungnya.
"Nah itu." mendukung ucapan dari sahabatnya itu. "Tapi karena sudah begini, lebih baik santai-santai saja dulu. Beberapa hari kemarin itu, kepalaku rasanya sudah seperti mau pecah."
__ADS_1
"Hmm...memangnya kamu saja? Hampir sebagian besar orang juga sama."
Dan ketenangan yang akan berlangsung sedikit lama itu, adalah awal untuk pembalasannya.
*
*
*
"Padahal sebentar lagi hari kelulusan, mereka harusnya sduha siap untuk kuliah atau tidak, tapi orang seperti mereka ternyata masih bisa santai-santai seperti itu, ya?" Gerutu Ovin, mengawasi Siska yang saat ini sedang meretas jaringan milik sekolah. Sehingga rekaman CCTV yang ada, berhasil Siska dapatkan.
"K-kau mau balas dendam kepada mereka?" Tanya Siska dengan ekspresi wajah masih merasakan sakit tepat di tulang kering sebelah kiri mereka masing-masing.
Sama hal nya dengan Siska, Jerry juga mendapatkan imbas dari perbuatan mereka berdua yang menguping Ovin yang sedang menangis tadi.
Dan balasan dari perbuatan mereka berdua adalah tendangan yang cukup keras tepat di tulang kering mereka berdua.
"Untuk apa tanya. Walaupun aku tidak dengar apa yang mereka bicarakan, tapi gerak bibir mereka saja sudah ketahuan kalau mereka sedang mengatakan kegalauan mereka, gara-gara aku tidak di bully lagi jadi tidak ada tontonan lagi." Jelas Ovin atas pertanyyan yang jawabannya saja sudah jelas.
Karena itu, Ovin pun pada dasarnya tidak pernah berharap mendapatkan teman di sekolah barunya, karena semuanya hanyalah orang lewat yang berhasil mengusik kehidupannya saja.
"Yang terjadi dua hari yang lalu itu, periksa semua yang terlibat. Kirimkan fotonya kepadaku." Perintah Ovin kepada Siska, lalu dia memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua?
"Tunggu." Jerry tiba-tiba meraih pergelangan tangan kiri Ovin. Dan rupanya hal itu membuat Jerry tanpa sadar melihat plaster yang masih menempel di punggung tangan dari perempuan ini.
"............." Ovin tidak mengatakan apapun kecuali menatap Jerry untuk menunggu apa yang ingin di katakan oleh laki-laki yang bahkan Ovin tidak tahu Jerry ini sedang bereskpresi apa kepadanya?
'Apa yang sedang Jerry lakukan itu? Apa dia mau kena tendangannya lagi? Eh tunggu... Ekspresi Jerry, kenapa dia terlihat seperti orang yang sangat khawatir dengan Ovin? Jangan-jangan ada sesuatu yang lewat nih.' pikir Siska, di sela-sela dirinya harus melakukan apa yanng di perintahkan oleh Ovin tadi.
"Kau, tidak apa-apa kan?"
'Kenapa Jerry menanyakan itu kepadaku? Tidak apa-apa? Apanya yang tidak apa-apa?' merasa sensitif dengan pertanyaan dari rasa simpati Jerry terhadapnya, Ovin langsung menarik tangannya dari cengkraman tangan Jerry ini. "Aku tidak apa-apa."
Dan Ovin pun berjalan pergi. Meninggalkan dua orang itu dalam wajah heran.
'Kau bertanya aku tidak apa-apa? Sebenarnya sudha banyak sekali yang sudah terjadi kepadaku ini akhir-akhir ini, apalagi dengan Franz. Dan Jerry, kau berani sekali mengatakan itu seolah itu pertanyaan yang mudah di jawab, ya. Laki-laki memang pada dasarnya hanya melihat permukaannya saja.' Gerutu Ovin di dalam hati.
Dia berjalan dengan wajah yang tidak bisa dapat di ekspresikan lagi, karena saat ini perasaannya benar-benar sudah kacau. Dari dirinya yang merasa di landa kesedihan lagi karena tiba-tiba kembali mengingat kenangan lamanya bersama dengan sang Ibu yang sudah tiada, dan satu lagi adalah karena saat ini dirinya harus berurusan dengan Franz.
Semua itu harus Ovin tangani sendiri.
Baik itu perasaan pribadinya yang ternyata memang benar-benar menyukai pria itu, padahal banyak sekali keburukan dari Franz yang selalu Ovin terima.
Dan satu hal lagi adalah karena dirinya harus berurusan dengan identitasnya, serta Bella yang diam-diam adalah perempuan licik.
__ADS_1
'Dari sifat Bella itu, aku yakin, aku dan dia tidak akan berakhir biasa-biasa saja.' Kata hati Ovin lagi.