
"Masa sih?" Tanya Chade dengan senyuman tipisnya.
Hanya saja, karena yang menjadi lawan bicaranya itu adalah sosok pria muda 22 tahun dengan tubuhnya yang tinggi dan berotot diaman bagian perut penuh dengan roti sobek yang sungguh menggoda namun tidak bisa di makan selain bisa di nikmati dengan sentuhan, Ovin refleks mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Dia tidak ingin tergoda oleh penampilan dari tubuh pamannya itu. Karenanya ia juga perempuan normal yang sedang menahan malu, meski kini wajahnya berekespresi biasa.
"Kenapa diam? Oh....wajahmu memerah." pura-pura baru sadar bahwa rona pipi keponakannya memerah, perlahan, Chade berjalan mendekat ke arah dimana Ovin itu berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah milik keponakannya itu.
"...?! Kenapa malah maju?!" Ovin panik, melihat pamannya berjalan maju ke arahnya, dan apalagi dengan tangan milik sang paman yang tiba-tiba saja meraih wajahnya dan mengusapnya dengan perlahan. 'Kenapa paman selalu saja seperti ini?' pikirnya, sambil memejamkan matanya, sebab ia merasakan kehangatan yang lebih untuk bisa Ovin nikmati.
Sensasi geli itu pun menambah roma bulu kuduk Ovin semakin meremang.
" Aku perlu memeriksamu gadisku." Tutur Chade seraya tangan kanannya ia angkat dan menarik kepala gadis itu maju dan lebih mendekat lagi, sampai akhirnya kening mereka berdua menempel.
JDUGH.....
Kening mereka berdua yang akhirnya saling menempel, alhasil, perbuatan dari sang paman itu berhasil membuat wajah masing-masing begitu sangat dekat.
'"Paman, kenapa seperti ini lagi?" Tanya Ovin dengan berbisik. Sekalinya Chade langsung berimprovisasi dengan skenario yang menggoda itu, Ovin juga perlahan jadi terhanyut dalam drama milik sang pamannya itu.
"Kamu demam bodoh. " ketus Chade, mengatai keponakannya bodoh.
Samar-sama Ovin mendengar kata demam?
"Mungkin ini masih terpengaruh efek obat itu." Gerutu Ovin sambil menyentuh wajahnya sendiri, dan memang, kulitnya cukup terasa hangat bahkan lebih.
"Obat? Memangnya obat apa yang kau minum itu sampai membuat tubuhmu terasa lebih hangat seperti ini?" tutur Chade sekali lagi dengan nada datar.
"Obat, perangsang?!"
Wajah Chade jadi muram ketika Ovin, keponakannya itu tiba-tiba mencoba obat perangsang?
"Kau gila ya? Dari mana kau mendapatkan obatnya?!" Tanya Chade penuh dengan peekanan, ia benar-benar tidak tahu dengan jalan pikirannya Ovin kali ini.
Ketika banyak orang menghindari obat perangsang yang bisa saja di taburi oleh seseorang, Ovin malah mencarinya dan meminumnya untuk dirinya sendiri.
"Kenapa? Apa paman mau?" tanya Ovin kepada pamannya itu.
Chade sontak jadi merasa jijik sendiri jika harus berurusan dengan obat pemanggil birahi seseorang, sebab Chade pernah melihat dua orang saling bercinta karena obat, bagi Chade, rasanya sangatlah tidak menyenangkan dan malah membuat Chade merasa mual sendiri dengan hal itu.
"Jadi kenapa kau meminum obat perangsang? Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain melakukan hal yang tidak berguna?" kesal Chade, karena keponakannya rupanya sudah terpengaruh dengan obat yang terlarang seperti itu.
"Aku hanya, ingin tahu saja, aku masih penasaran dengan perasaan itu." Jawab Ovin dengan singkat, jelas juga padat. Tapi karena Ovin tidak mau menatap matanya, maka sudah jelas kalau gadis ini memang benar-benar melakukan apa yang sudah dikatakannya barusan.
'Penasaran dengan perasaan saat itu? Tunggu, berarti dia sebelum ini dia pernah minum sekali, dan yang kedua kalinya ia malah minum lagi?' Ketika Chade langsung menanggapi sikap Ovin yang begitu Saat mata mereka berdua saling bertatapan di saat itulah ketika hidungnya Ovin tiba-tiba saja terasa gatal, Ovin tiba-tiba saja bersin.
__ADS_1
"HACHUUMM!" Selesai sudah, Ovin akhirnya bersin dan meracuni wajah rupawan milik Chade.
Chade pun pasrah dengan apa yang tadi diterimanya.
" PHUIIHH....! " lalu kedua telapak tangannya ia gunakan untuk mengambil air di sekitarnya untuk membasuh wajahnya yang terkena ludah bocah di depannya ini. "Kau menodai wajahku." tutur Chade selepas mencuci wajahnya.
" Siapa suruh ada di depanku. " jawab Ovin dengan cepat, hidungnya yang masih gatal dia gosok dengan punggung jari.
" PFFT..... " Franz yang melihat kejadian barusan, tersentak ingin menertawa momen tadi, tapi Franz tahan dan memutuskan pergi. 'Hahah, untung saja wajahnya kena bersin.' Batin Franz.
Awalnya ia merasa lumayan cemburu, akan tetapi begitu melihat Chade mendapatkan karma, Franz sedikit merasa lega karena itu.
Sedangkan Chade, dia berdecih kesal. 'Cih...gagal, kenapa juga dia harus bersin, apa lagi tepat ke wajahku.' Lantas Chade kembali menatap Ovin yang terlihat begitu pucat itu sebab terlalu lama di dalam air, sehingga ada kerutan di tangan yang sempat Chade pegang tadi. "Tubuhmu sedang kurang baik, cepat naik aku akan memberimu obat penawar."
"Sini Nona, saya ban-"
Chade yang tidak mau mendapatkan keponakannya dibantu oleh orang lain, langsung menyela. "Tidak usah, aku yang akan membawanya sendiri." Lirik Chade
Dan tatapan itu pun berhasil membuat pelayan itu langsung diam dan menganggukkan kepalanya, sebab tidak berani menolak perintah dari Tuan Chade.
"Apa yang mau pam-"
"Shhtt-" Chade lebih dulu menghentikan mulutnya Ovin agar tidak berbicara lebih. "Kau mau memanggilku paman dengan sekeras itu? Nanti imageku sebagai pacarmu akan hilang."
"Ya, bukannya juga ada banyak paman suka keponakan dan pacaran, seperti di novel-novel." Bisik Ovin, membalas ucapannya Chade yang berbisik di telinganya, sehingga dari sudut pandang orang yang ada di jarak jauh pun melihat seolah kalau Chade sedang mencium basa pipinya ovin.
Dan selepas berbicara bisik-bisik seperti itu, Chade pun membopong tubuh Ovin dan keluar dari dalam kolam renang alat bridal.
Dan karena itu pula, banyak pasang mata yang melihat kemesraan dari Ovin dan Chade itu.
"I-itu, itu bukannya Ovin?"
"Eh iya, itu kan Ovin, bagaimana dia bisa kenal dengan Tuan muda itu? Padahal beberapa hari ini saja dia tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali."
"Benar, atau jangan-jangan Ovin ini memang sudah kenal dekat dengan Tuan muda itu?"
Bella, Merli, yang sedang ada di dek kapal dari sebuah bar, menatap Ovin dan Chade dalam diam.
"Jadi dia ya, orang yang berhasil mempermalukan kita?" Tiba-tiba ada satu orang pria bertopeng hitam berdiri di belakang meja bartender yang tiba-tiba saja mengajaknya berbicara.
"Kita?" Merli yang tidak tahu siapa pria yang sedang megajak mereka berdua bicara, hanya menatapnya penuh dengan curiga.
Jika Merli terus menatap bartender itu dengan tatapan penuh curiga, maka tidak dengan Bella yang sudah tahu siapa pria muda yang sedang tersenyum tipis sambil membersihkan satu per satu gelas yang sudah di cuci itu.
'Doni, sejak kapan dia ada di sini?' Pikir Bella, lantas ia pun menyeruput vodka hasil racikan dari Doni, yang membuat warna dari minuman yang di minum oleh Bella, terlihat cantik sesuai dengan gaun yang di pakai oleh Bella, yaitu warna biru.
__ADS_1
"Ya, kita, apa ada masalah dengan ucapanku?" Tanya Doni balik.
"Bella, kita pergi dari sini yuk." Ajak Merli, karena dia merasa ada yang tidak beres jika berbicara lebih banyak lagi dengan laki-laki tersebut.
Bella yang hanya memilih untuk diam saja karena tidak mau menganggap kalau Doni yang sedang menyamar jadi bartender ini kenal dengannya, dia pun meminum habis minumannya dan mengikuti Merli pergi.
"Dadah, sampai bertemu lagi." Kata Doni sambil melambaikan tangannya kepada dua orang gadis yang cantik itu, dimana salah satu gadis itu adalah tunangannya.
Setidaknya akan jadi tunangannya setelah mereka berdua lulus.
"Dia siapa sih? Aneh." Gumam Merli, kurang suka dengan sikapnya yang terlihat sik dekat itu.
"Ya, mana tahu? Jika memang terlihat aneh, kan cuman di tinggal pergi saja." Jawab Bella. Meskipun tubuhnya saat ini sedang berjalan bersama dengan Merli, tapi tidka dengan pikirannya yang sedang menimbang-nimbang alasan kenapa Doni bisa ada di kapal pesiar, dan di tambah lagi, Doni justru menyamar menjadi seorang bartender.
Sampai tepat di depan pintu masuk dalam kapal, Merli tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya dan berbalik. "Bella."
"Hmm..." Bella dengan begitu santainya, berdehem dan memilih untuk menyibukkan diri dengan handphone nya.
"Apa kau pikir ada yang aneh dengan posisinya Ovin? Ya, aku pikir dia memang benar-benar anak yang berasal dari desa dan pindah ke kota dan bisa sekolah di tempat kita karena prestasinya. Tapi menurutku, rasanya bukan itu saja." Jelas Merli, membuat Bella yang dari tadi mencoba meminta penjelasan kenapa Doni ada di kapal, langsung menghentikan jarinya.
"Jadi, maksudmu ada alasan lain selain dia bisa ada di kota?"
Merli langsung membuat wajah berpikir, lalu menjawab. "Ya, jika kau menganggap kalau Ovin itu pintar, aku rasa tidak, karena selama ini dia sering mendapatkan remidial ataupun nilai tinggi lebih sedikit dari KKM. Pamanku mengatakan kalau dia bisa masuk kesekolah karena rekomendasi dari Ibu nya Franz. Tapi yang menjadi satu alasan paling mencurigakan disini itu, Ovin, dia sama sekali tidak memiliki hubungan keluarga dengan Franz."
"Apa? Memangnya kau dapat informasi dari mana?"
"Kakakku. Kakakku kenal dekat dengan kakaknya Franz, dan mengatakan kalau di dalam keluarga ataupun kerabat jauhnya, sama sekali tidak ada sepupu perempuan bernama Oktavin, jadi aku pikir Franz ini sudah menipu mentah-mentah kita semua." beber Merli.
Sedangkan Bella, dia begitu mendengarkan penjelasan dari Merli, secara dia jadi menemukan satu titik terang tersendiri. 'Franz, jadi begitu ya? Kalau Ovin tinggal di rumahmu itu bukan karena dia sepupu, tapi kelihatannya juga bukan seorang pelayan. Franz, kau ternyata punya kesalahan dalam berbohong. Aku tahu kalau perempuan yang ada di dalam rumahmu dan mengatakan kalau dia adalah pelayan, sebenarnya adalah Ovin. Tapi yang jadi pertanyaannya itu, apa hubungan kalian berdua sebenarnya?'
TETTTTT..........
Suara klakson dari kapal yang hendak berlayar lagi, berhasil membangunkan mereka semua kalau kapal akan segera berlabuh dan meninggalkan resort tersebut.
Sungguh di sayangkan, karena wisata mereka harus berakhir di sini, sebab perjalanan pulang pergi saja membutuhkan waktu kurang lebih dua sampai tiga hari, jadi termasuk sudah mendapatkan jatah satu minggu wisata untuk mereka.
_____________
"Apa yang sedang kau pikirkan? Cepat berbaring! Atau duduk saja." Perintah Chade, dia akan memberikan suntikan sebuah obat untuk menghilangkan efek dari obat perangsang yang sempat di minum oleh Ovin?! 'Mau di pikirkan bagaimanapun, aku harus mencari tahu siapa orang yang membuat keponakanku ini malah mencicipi obat seperti itu.' Pikir Chade.
"Tapi ini enak ya paman." Kata Ovin dengan wajah sudah merah padam sendiri.
Chade, dia pun mau tidak mau harus berurusan dengan masalah besarnya agar tidak terpancing dengan godaan iblis cantik yang ada di depannya itu, sebab Ovin saat ini tengah mencoba berusaha untuk melepaskan pakaiannya, dengan cepat berusaha untuk menyuntikkan obat penawarnya.
"Apanya yang enak?" Tanya balik Franz, sedang megambil obat cair dari botol dengan alat suntik.
__ADS_1
"Ya, perasaan ini, panas, dan berdenyut"
"Uhukk..Ovin! Apa kau benar-benar mau menggodaku sebagai seorang pria tulen ini?" Tanya Chade dengan wajah seriusnya, sebab godaan itu pun datang selepas Ovin benar-benar berhasil melepaskan pakaiannya dan memperlihatkan celana pendek serta bra yang sedang di kenakannya.