Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
143 : PUM : Kendali


__ADS_3

BRAK....


Semua pintu mobil itu pun tertutup juga setelah mereka berempat keluar dari dalam mobil yang terasa lebih sesak dari pada yang seharusnya.


"Akhirnya bisa keluar dari situasi menegangkan tadi." Kata Chade sambil merentangkan kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku itu.


"Ya, itu kan berkat mama." Puji Kelvin dengan pede sekali dia memanggil kakak sepupunya dengan panggilan mama.


"Dia bukan mamamu." Franz masih terpancing dengan emosi miliknya yang terus saja mendengar Ovin di panggil sebagai mama, padahal Ovin saja sama sekali belum mel-


"Apa kau sedang berpikir yang bukan-bukan, percaya kalau dia anakku dengan orang tadi?" Tanya Ovin kepada Franz yang terlihat seperti sudah menaruh curiga kepadanya.


"Toh kau sendiri yang mengatakan hal itu." Lagi-lagi Franz memberikan sangkala dengan terlihat sok cuek.


"Tapi ekspresi wajahmu terus mengatakan kalau aku ada hubungan dengan orang tadi dan dia anaknya kan?" Perlahan Ovin jadi menginterogasi suaminya sendiri, gara-gara terus menyangkal dengan berbagai alasan yang sebenarnya tidak berguna.


"Ih....mama kan mama aku." Kelvin lagi-lagi membuat drama sendiri, sehingga kedua orang yang belum lama menikah itu jadi punya masalah runyam.


Dan Kelvin kembali lagi memeluk tubuh Ovin dari depan, dan membuat wajah mungilnya itu terbenam di depan perutnya Ovin.


Ovin masih merasa canggung dengan pelukan dari anak kecil, karena tanpa di sengaja, membuatnya teringat dengan masa kecilnya sendiri, dimana ia juga melakukan hal yang sama saat sang Ibu masih hidup.


"Kelvin, lepaskan kak Ovin." Suara rendah dan terkesan nge bass, langsung menarik perhatian gadis ini untuk memutar tubuhnya ke belakang, terlihat Ethan, atau paman pertama sudah berdiri di belakang sana dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Tidak mau." Seperti magnet, Kelvin tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Ovin.


"Kelvin, Ayah bilang apa turuti se.ka.rang." Tekan Ethan.


"Tidak mau!" Semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Kelvin langsung menyukai Ovin karena setelah sekian lama, akhirnya ada seorang perempuan yang bisa dia peluk sesukanya. Sebab ia sudah tahu, bahwa kakak sepupunya ini sungguh punya perbedaan dari perempuan mana pun yang ganjen ingin dekat-dekat dengan Ethan, sang Ayah.


"Jangan paksa aku, aku ingin sama dengan mama."


Perempatan siku Ethan langsung muncul, karena terus menerus menyebut Ovin sebagai mama nya.


Mana mungkin gadis belia yang baru menginjak umur delapan belas tahun sudah punya anak lima setengah tahun?


Hanya dengan memikirkannya saja sebenarnya dia ingin tertawa, apa mungkin?


Apa mungkin dia bisa jadi pedofil?


Dengan raut wajah yang terlihat dingin, Ethan menggelengkan kepalanya pelan, dengan dua makna, mereka mengira kalau Kelvin sedang nakal-nakalnya dan membuat kepalanya Ethan jadi pusing, dan yang satu lagi adalah Ethan sebenarnya menggeleng kepala pelan, bahwa dia tidak mungkin akan melakukan itu.


Karena Ethan sudah malas mendengar banyak alasan, dan tidak ingin membuat keponakannya itu kerepotan, Ethan pun langsung membopong Kelvin.


"Huwaa! Mama! Mama! Tolong aku mama! Ayah jahat!" Ronta Kelvin, karena sekarang tubuh mungilnya benar-benar di gapit di bawah ketiak nya Ethan, lalu di bawa pergi. "Maaaa...!"


"Kau juga berisik, sensi terus." Ledek Chade sambil merangkul bahu Ovin dan membawa mereka berdua pergi dari sana meninggalkan Franz.


".........!" Franz yang kesal tapi harus menahan amarahnya, hanya memberikan layangan bogem yang tidak di sampaikan langsung kepada Chade.


Franz ingin sekali memukul kepala Chade, tapi dia tidak bisa melakukannya karena Ovin tadi sempat melirik ke arahnya, sehingga Franz buru-buru menurunkan tangannya itu.


_____________


Di dalam pesawat.


"Mohon kepada penumpang sekalian untuk memasang sabuk pengaman terlebih dahulu." Kata pramugari memberikan arahan kepada mereka sang Tuan muda?

__ADS_1


Hanya melihat Chade, Kelvin, Ethan, satu orang pramugari, dan dirinya saja, Franz jadi celingukan karena dia tidak melihat Ovin.


'Padahal pesawatnya mau lepas landas, kemana perginya perempuan itu?' Lirik kanan dan lirik kiri, sama sekali tidak telihat perempuan yang sedang di carinya itu.


"Kepada Tuan muda sekalian, kita akan segera lepas landas, persipkan mental kalian jika tidak ingin trauma."


Suara milik Ovin langsung menggema ke seluruh kabin pesawat, sampai mereka berempat, yaitu Ethan, Klevin, Franz, dan sang pramugari langsung memasang wajah terkejut.


Orang yang di kira menghilang atau sedang bersembunyi di suatu tempat, ternyata sedang bersembunyi di ruang kokpit!


__________


"N-nona, anda jangan main-main dengan pesawat ini." Tegur sang pilot utama.


"Siapa yang mau main-main? Aku itu tidak memiliki waktu bermain sekalipun." Jawab Ovin.


Di tengah-tengah pilot ini itu terus diam sambil memberikan tatapan tidak suka, Ovin lebih memilih untuk memakai sabuk pengaman, dan mengaktifkan semua tombol yang ada di dalam ruang kokpit, diantaranya dia harus memastikan teknisi perawatan, inspeksi visual lengkap dari pesawat, menguji sistem darurat dan keselamatan, mengkonfigurasi GPS dan instrumentasi, memeriksa cuaca, perutean, serta berat dan keseimbangan.


Setelah semua kondisi sudah benar dan cukup memuaskan, Ovin langsung memegang kemudi pesawatnya.


"Tidak mau terbang?" Tanya Ovin singkat kepada pilot di sebelahnya itu.


-"Kepada pilot dari pesawat boeing 17563, silahkan lepas landas di jalur empat."-


"Ok, terima kasih kakak." Dengan jahilnya Ovin lah yang menjawab ucapan dari seseorang yang bertugas di menara pengawas. "Semoga harimu menyenangkan." Imbuhnya.


Setelah itu, Ovin pun mulai menarik Yoke pesawat, atau kemudi untuk mengendalikan posisi sayap pesawat.


Dari kecepatan yang pelan, perlahan menjadi cepat, dan di saat landasan pacunya hampir habis serta pesawat tenaga dari mesin pesawat sudah memenuhi syarat untuk terbang, Ovin akhirnya menarik Yoke itu dengan perlahan tapi juga harus kuat.

__ADS_1


Dan akhirnya pesawat pun mulai naik.



__ADS_2