
Ovin berjalan mendekati Fardan yang baru saja membungkukkan tubuhnya untuk mengmbil handphone yang sempat di buang oleh Franz itu.
Tidak seperti Franz yang terlihat sudah merasakan lega karena foto yang hampir dikirim untuk di lihat oleh Ibu sudah di atasi, maka Ovin sambil mengancing kembali baju seragam nya, dia berjalan dengan langkah cepat dan lebar menuju Fardan.
‘D-dia …, jangan-jangan aku ketahuan.’ Fardan buru-buru menyimpan kembali handphone nya ke dalam saku celana nya lalu berjalan berusaha untuk berjalan pergi.
Tapi..
“Tunggu, kau mau lari begitu saja?” Franz menarik kerah belakang baju yang di pakai oleh Fardan. Sebab Franz tentu saja tidak akan membiarkan paman nya pergi begitu saja setelah melakukan tindakan ilegal kepada mereka berdua.
“Lari? Bukannya urusannya sudah selesai? Aku ha-”
SLUP…
Kedua pria itu langsung menoleh ke samping kanan.
‘Apa yang dia lakukan? Tangannya itu nyangkut kemana itu? Dia-’ Tatapan mata Franz itu terpku pada tangan kanan Ovin yang justru menelusup masuk kedalam saku celana milik paman nya.
‘Dia-, tangannya itu, dia masuk kedalam saku celanaku?’ Rona merah di telinganya Fardan membuat Franz semakin tidak suka dengan posisi dari mereka bertiga.
Makannya, Franz langsung mendekap tubuh pamannya itu dengan sebuah cekikan di leher Fardan dengan menggunakan lengan kiri nya Franz, sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk mengusir Ovin yang barani memasukkan tangannya ke saku celana pria lain dengan kasar.
“Apa yang kau lakukan itu?” Pertanyaannya sungguh di penuhi dengan nada yang di tekan, sehingga terdengar suara yang begitu rendah namun tegas.
“Aku hanya mengambil handphone nya. Paman mu ini tidak hanya sekedar memotret kita berdua tadi.” Jawab Ovin dengan sedikit penjelasan.
‘Dia tahu? Tidak …, jangan di buka!’ Fardan yang sedang berusaha untuk keluar dari dekapan Franz yang berisi cekikan di leher, menjadikan diri Franz semakin mengeratkan tekanan dari lengannya itu.
“Hmm? Apa maksudmu?” Jawaban dari Ovin tadi berhasil menarik perhatiannya.
Sambil mengekang pergerakan dari Fardan, Franz pun menyempatkan diirinya itu untuk memiringkan tubuhnya ke arah Ovin, untuk melihat sekaligus mencari tahu atas ucapan dari perempuan di sampingnya itu.
Ovin hanya melirik sekilas, dia merubah posisinya untuk memunggungi Franz dan memperlihatkan isi dari layar handphone yang berhasil Ovin buka.
‘Apa? Dia bisa membukanya?’ Fardan mencoba mernggapai handphone nya itu.
Tapi Ovin sedikit menjauhkannya, dan Franz langsung melumpuhkan tubuh Fardan dengan menjegal salah satu kaki Fardan, dan menjatuhkannya ke lantai.
__ADS_1
BRUKK..
“Argh..! Kau kasar sekali.”
“Jika aku tidak kasar, lalu aku harus lemah lembut? Kau pikir aku ini perempuan ha? Diam saja disitu.” Balas Franz, berhasil membuat Fardan terbaring di atas lantai dengan posisi Farnz justru menindih tubuh paman nya itu dengan cara mendudukinya.
“Paman, dimana saja kau menempatkan kamera pengawas?” Tanya Ovin setelah berhasil memeriksa file yang tersimpan di dalam handphone milik Fardan itu.
Hanya saja, karena Franz terlihat penasaran ingin melihat apa yang sebenarnya isi di dalam handphone kepunyaannya paman nya itu, Ovin pun jadi sama-sama menduduki tubuh Fardan dan membuat Ovin juga Franz duduk berjejer.
“Kau lihat pamanmu ini, dia menyimpan berbagai rekaman. Di rumahmu ternyata sudah di pasang dengan cctv tersembunyi.” Ucap Ovin, memberitahu semua rekaman yang sudah tersimpan di dalam folder, dan itu adalah rekaman untuk setiap satu hari nya.
Dan setelah di selidiki, sudah ada lebih dari tiga puluh rekaman?
“Tunggu, itu bukan kemauanku. Ini itu perintah dari Ibumu, jadi aku ha-” Lagi-lagi kalimatnya langsung di potong.
“Fardan, ternyata kau sama saja dengan Bibi ya?” Ekspresi wajahnya kian menjadi datar saat menatap wajah paman nya itu.
“‘Dan paman tega juga, kau ternyata menempatkan kamera di dalam kamar juga?” Ovin pun memperlihatkan satu demi satu video yang memperlihatkan aktivitas mereka berdua di dalam kamar, baik itu saat mereka sendirian, maupun saat mereka berduaan di dalam kamar, semuanya terekam dengan posisi yang cukup baik.
BUKH….
“‘Akhhw…”
Franz langsung menghantamkan kepala Fardan yang sempat mendongak ke arah mereka berdua dengan cukup keras, hingga sebuah benturan antara kepala dengan lantai marmer pun terdengar.
“Belum? Berarti artinya nanti juga di buka. Apakah termasuk ingin menonton kami berdua yang sedang bergati baju?” Sela Ovin detik itu juga.
DEG….
‘Apa?! Me-menonton, dia yang sedang berganti baju?’ Franz yang semakin tidak suka dengan kenyataan itu, membuat Franz seketika memberikan tenaga lebih kuat lagi dalam menekan kepala Fardan ke lantai.
Dia membungkukkan tubuhnya ke arah Fardan, menatap wajah paman nya itu dengan ekspresi paling datar, lalu berkat : “Aku sangat tidak menyangka, kau mengganggu privasi kami. Padahal aku mempercayaimu ada di pihakku, karena sudah mengurusku sejak kecil. Tapi karena akhirnya jadi seperti ini, lebih baik setelah ini keluar dari rumahku. Itu toleransiku kepadamu sebagai pamanku.
Tapi lain cerita jika kau orang luar, aku sudah pasti akan memenjarakanmu.” Ancam Franz.
‘Hahh~ Padahal biasanya mereka berdua bertengkar. Tapi kenapa mereka jadi bisa kompak seperti ini? Jika bukan karena tante, aku tidak mungkin mendapatkan situasi seperti ini.’ Kutuk Fardan.
__ADS_1
Sebenarnya Fardan di paksa untuk melakukan pengintaian pada sepasang suami Istri baru itu atas perintah dari Ibu nya Franz.
Dan cara paling efektifnya tentu saja dengan meletakkan cctv di segala tempat.
Tapi karena ternyata Ibu nya Franz justru memerintah anak buah nya untuk meletakkan cctv di dalam kamar Ovin dan Franz juga, Fardan pun jadi langsung terkena Imbas nya.
Dia tentu saja jadi tahu, apa saja yang terekam oleh cctv itu di dalam kamar, dan dia tahu juga apa saja yang di lakukan oleh mereka berdua selama ini bahkan saat di dalam kamar, baik itu semua kesedihan, amarah, dan bahagia?
Semua itu Fardan lihat, dan membuat dirinya juga jadi merasakan simpati besar terhadap kedua anak yang masih menginjak anak SMA itu, karena mereka berdua benar-benar menghadapi apa itu yang namanya pernikahan yang di paksakan.
Meskipun di satu sisi, Fardan salut pada keteguhan dari diri Ovin yang rupanya memang benar-benar menyimpan perasaan kepada Franz, tapi dia tetap saja merasa kasihan kepada perempuan itu.
Karena perasaannya masih belum terbalas dengan cara yang nyata.
‘Tapi kenapa ovin bisa tahu kalau ada cctv yang di letakkan di tempat tersembunyi? Bukan itu saja, tapi dia juga tahu kata sandiku, melempar batu kerikil sejauh itu sampai tepat mengenai pergelangan tanganku, dan-’ Fardan pun memejamkan matanya, dia mencoba mengingat apa yang belum lama ini dia lihat dari rekaman yang sempat dia tonton itu, yaitu : ‘Dia juga bisa mendarat dengan selamat setelah terjungkal dari lantai dua. Dari gerakannya saja, dia terlihat sudah terlatih. Sebenarnya, perempuan macam apa yang Tante berikan kepada Franz ini?’
Tapi kembali ke posisi dari mereka bertiga yang sama-sama di dalam posisi tersudutkan, Fardan hanya mengulas senyum tipis yang hampir tidak terlihat itu.
“‘Aku mengerti.”
“Dan kau-” Franz yang kebetulan ada penguasa dari rumah besar itu, langsung mengarahkan tatapan sengitnya ke arah Ovin.
“Aku apa?” Masih mengutak atik handphone milik Fardan, sebelum akhirnya Ovin berhasil menghapus semua rekaman itu dari dalam handphone milik sang paman itu.
“Jangan melakukan itu lagi.” tegas Franz.
“Melakukan apa?”
“Jangan menggodaku lagi. Jangan sekali-kalinya kau melakukan itu padaku, atau aku benar-benar mengusirmu.”
“Tapi konsekuensi dari mengusirku kan itu?” Dalam diam Ovin tersenyum sinis, karena dia mencoba mengingatkan lagi soal jika dirinya di usir dari rumah nya Franz, maka imbasnya adalah Franz harus berhadapan dengan Ibunya sendiri.
“Tch..” Keinginannya pun jadi terhalang oleh Ibu nya sendiri.
‘Aku sebenarnya memang sangat kesal, karena ternyata ada orang yang berani mengintipiku?! Pamannya pula, apa yang harus aku lakukan dengan dia? Ah …, biarkan paman melawan paman, itu lebih baik. Dasar, sebenarnya apa saja yang ada di otak dari keluarga Eshter ini? kenapa mereka semua sangat terobsesi dengan hal seperti ini, yang ada hubungannya dengaku?’
Tidak kehilangan akal tentunya, Ovin pun akan mengadu pada paman nya, yaitu Chade untuk mengurus Fardan selaku paman nya Fanz.
__ADS_1