
‘Gawat! Aku jatuh!’ Wajah Ovin pun seketika langsung pank setelah hempasan dari Franz tadi membuat tubuhnya saat ini jadi oleng dan terhuyung ke depan, sampai akhirnya pagar pembatas yang ada di depannya persis itu dia lewati begitu saja.
PRANKK…!
Suara piring yang pecah itu disusul dengan suara teriakan dari Bibi Ani.
“Kyaa! Non!”
Bibi Ani tentu saja langsung membuat wajah paniknya, ketika pagi-pagi tapi sudah diperlihatkan adegan berbahaya dan menegangkan dari Ovin yang sudah menggantung di atas, dimana saat ini Ovin masih mempertahankan posisinya dengan berpegangan pada tepi lantai yang ada di atas sana.
Menghiraukan Bibi Ani yang panik itu, Ovin mencoba melihat ke arah bawah, dan ternyata ketika di perhatikan dengan benar, Ovin jadi tahu, kalau saat ini posisinya ternyata ‘Aneh, kenapa jadi terlihat lebih tinggi?’
“Non- berta-”
Sayangnya melihat Bibi Ani seperti hendak pergi untuk mencari bantuan, seperti akan memanggil Franz, Ovin langsung memberikan Bibi Ani kode berupa desisan. “Shhtt….”
‘Kenapa Nona menyuruhku diam?!’ Bibi Ani mengernyitkan matanya, bingung dengan maksud dari tindakan Nona majikannya itu untuk tidak berisik lagi? “Non..say ak-”
Ovin pun memberikan tatapan yang dingin kepada Bibi Ani, sampai Bibi Ani sendiri langsung terkesiap dengan ekspresi wajah serta tatapan mata dari Ovin, seakan-akan menjadi peringatan keras agar tidak perlu bicara dan panik lagi.
“Bibi diam saja.” Kata Ovin sebelum akhirnya Ovin melepaskan tangannya dari cengkraman yang dia gunakan tadi untuk menahan tubuhnya, agar menggantung terus di atas.
Hasilnya, wajah bibi Ani bertambah panik. “..............!”
Tetapi kepanikan milik bibi Ani segera tertahan saat perempuan yang hampir meregang maut itu, sekarang sudah mendarat dengan sempurna?!
TAP…
Ovin pun mendarat dalam posisi berlutut, layaknya seseorang yang akan membuat sebuah lamaran kepada pasangannya.
__ADS_1
“Fyuhh….” Ovin menghela nafas pelan, sebab akhirnya dia bisa lepas dari ancaman Franz yang akan tahu kalau dirinya (Ovin) hampir saja jatuh dari lantai dua akibat ulah yang dilakukan oleh laki-laki yang sedang dalam kondisi marah besar itu.
“N-non?” Bibi Ani jadi ragu untuk menghampiri Ovin yang saat ini sedang berlutut, setelah mendarat dari lantai setinggi itu tanpa bantuan apapun. “Nona tidak ap-”
“Aku harap bibi merahasiakan apa yang bibi lihat tadi.” sela Ovin, seraya berdiri dan berbalik untuk menghadap pembantu yang dikirim oleh ibu mertuanya itu ke rumah ini.
“T-tapi…tapi anda baik-baik saja kan Non?” Tanya bibi Ani lagi dengan khawatir.
Ovin sempat melirik ke arah salah satu tangannya satu tangannya yang masih sakit, dan dia hanya menjawab. “Tidak apa-apa.”
Ovin sengaja berbohong, karena wanita di depannya itu bagi Ovin tidak akan merubah apa-apa sekalipun dirinya memberitahu luka di lengannya saat ini sedikit terbuka lagi.
“Ingat itu bi, jangan bilang pada siapapun soal tadi.” Kata Ovin lagi, memberikan peringatan kembali kepada sang pelayan rumah.
“B-baik Nona, saya tidak akan mengatakan pada siapapun.”
“Bahkan pada majikan bibi yang asli, aku tidak ingin ada yang tahu.” Bisik Ovin tepat di samping wajah bibi Ani, agar tidak ada satu orang pun yang mendengar ucapannya itu.
‘Ternyata Nona sudah tahu, kalau aku dipekerjakan atas perintah Nyonya besar.’ batin bibi Ani. ‘Tapi Nona-’ bibi Ani memperhatikan punggung dari Ovin yang kian menjauh dan akhirnya menghilang, setelah perempuan yang notabene nya saat ini adalah istri sekaligus Nyonya muda Eshter itu sudah masuk kedalam kamarnya.
KLEK…
Setelah kepergian dari Ovin, sekarang justru Franz pula yang akhirnya kembali keluar dari kamar setelah beberapa saat tadi sempat mendengar teriakan dari bibi Ani.
“Apa yang membuat tadi bibi berteriak?” Tanya Franz.
Bibi Ani mendongak ke atas, dan menjawab dengan ekspresi canggung, “M-maaf Tuan sudah membuat keributan, tadi tidak sengaja ada tikus lewat, jadi terkejut.”
Franz yang tidak percaya sepenuhnya dengan alasan yang dibuat oleh bibi Ani, kembali bertanya, “Tapi tadi sepertinya bibi sempat memanggil ovin juga, ada apa?”
__ADS_1
‘Aduh Tuan..percaya saja kenapa sih.’ Batin bibi Ani, mau tidak mau jadi membuat alasan lain yang mengejutkan. “Itu karena, Nona tiba-tiba saja mengejar tikus itu Tuan. Tapi sayangnya tikusnya kabur dari kejaran Nona.” Satu alasan lain jadi di buat. ‘Maaf Nona, jadi menggunakan anda sebagai alasan untuk menjawab pertanyaannya Tuan.’ Kata hati bibi Ani.
“Perempuan itu? Mela-” Franz tidak jadi membahasnya, karena dia juga baru saja memarahinya dan mengusirnya dari kamar. “Berarti tikus itu lebih gesit bisa lolos dari dia.”
‘Kenapa Tuan jadi membela tikus ketimbang Nona?’ Bibi Ani jadi terheran sendiri, apalagi saat melihat wajah Franz yang terlihat seperti orang yang sedang kesal. ‘Apakah Tuan bertengkar lagi dengan Nona?’
“Kalau ketemu lagi dengan tikus itu, pastikan tangkap tikusnya sampai dapat.” Perintah Franz, sebelum dia kembali masuk kedalam kamarnya lagi.
“B-baik Tuan.” Bibi Ani mengangguk iya.
BRAK..!
Lagi-lagi pintu yang tidak bersalah itu, jadi pelampiasan kemarahan Franz yang belum reda.
___________
“Apakah bibi itu bisa menjaga rahasianya dengan benar? Aku tidak begitu mempercayai orang yang sudah punya kendali dari orang lain.” Ovin yang menggerutu pelan, saat dirinya ketahuan bisa mengatasi masalahnya saat hampir jatuh dari lantai 2 yang cukup tinggi itu.
Karena mau bagaimanapun, bisa mendarat dengan sempurna setelah terjun dari lantai dua, maka orang itu sudah dianggap bukan lagi orang biasa.
Dan Ovin memang bukan orang biasa. Dia hanya orang yang mencoba menjadi orang biasa, dan bertindak seperti perempuan lainnya.
Tapi apa yang terjadi tadi, sudah menjadi bahan acuan, kalau Ovin memang punya keahlian, tetapi sayangnya ada orang lain yang melihatnya.
Dengan kata lain, rahasianya jadi sedikit terbongkar.
“Tapi-” Kembali ke dalam kenyataan miliknya, sekarang Ovin yang merasakan tangan kanannya berdenyut sakit, dia pun menarik ujung dari lengan pakaiannya.
Terlihat luka yang hampir sembuh itu ternyata benar-benar sedikit terbuka.
__ADS_1
‘Kenapa harus seperti ini lagi? Merepotkan.’ Decih Ovin, mau tidak mau dia harus menangani lukanya sendiri agar tidak ada orang lain yang tahu, apalagi Franz, dia tidak ingin anak itu tahu karena Ovin tidak mau dianggap sebagai perempuan yang ingin dikasihani.