Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
30 : PUM : Tidak rela?


__ADS_3

Siang itu.


"Hai...kamu anak baru juga di sini ya?"


"Namamu siapa?"


Satu persatu perempuan, mulai mengerumuni Jerry yang kala itu sedang duduk di bangku taman untuk mengisi waktu istirahatnya dengan sekdar mebaca buku.


Hanya karena duduk saja, dirinya berhsail menari perhatian banyak perempuan?


'Yang benar saja. Sekolah apa-apaanini? Benar-beanr deh....aku sangat membenci aroma mereka semua.' Jerry memejamkan matanya, lalu menutup buku miliknya dengan tiba-tiba.


PHAK...


Hanya dengan gerakan menutup buku saja, semua perempuan yang tadi berisik karena bertanya semua tentang dirinya, berhasil membuat mereka bungkam sepenuhnya.


"Apa kam-"


Kalimatnya seketika menghilang bersamaan dengan nyali mereka, sebab Jerry tiba-tiba berdiri, dan sosoknya yang cukup tinggi itu membuat mereka semua berdecak kagum, bahwa Jerry itu cocok sebagai kapten tim basket juga, selain Jordy dan Franz.


Dan keberadaan Jerry pun seakan berhasil mengimbangi ketenaran dari dua orang Tuan muda mereka yang selama ini mereka kagumi.


"Permisi, aku harus pergi karena ada urusan mendesak." Dengan wajah santai, Jerry mengucapkan kalimat dengan sopan, yang ternyata hal itu membuat efek lain kepada mereka.


"B-baik..silahkan."


"Hati-hati di jalan."


"Semoga urusannya cepat selesai ya?"


Satu persatu dari mereka mundur dan memberikan jalan kepada Jerry yang cukup sopan.


"Hahh~ Ternyata dia laki-laki yang sopan ya?" Salah satu dari mereka memujinya.


"Kamu benar. Aku pikir dia akan seperti Tuan muda Franz yang biasanya sombong itu." Sambungnya.


Dikarenakan tokoh utamanya sudah pergi, mereka pun pergi juga dari sana.

__ADS_1


"Siapa dia?" Gumam Franz kepada salah satu teman sekelasnya.


Ketika di satu sisi Franz baru saja melihat kepiawaian si mata empat, yaitu Ovin dalam menanggapi pembully an yang di alami oleh gadis itu, di sisi lain Franz juga melihat adanya satu anak baru yang berhasil menyita banyak penggemarnya.


"Dia Jerry. Anak baru juga. Tapi dia ada di kelas C." Sahut laki-laki ini atas pertanyaan dari Franz barusan. "Kelihatannya dia akan jadi sainganmu," Ledeknya.


Franz mendelik teman kelasnya itu dengan cukup tajam. "Saingan dalam hal apa?" Tanya Franz dengan nada datar. Dia penasaran apa yang dimaksud oleh temannya itu dalam hal saingan?


"Penggemar?"


"Ha?" Tidak puas dengan jawabannya itu.


"Kepandaian." jawabnya lagi dengan ekspresi canggung.


"Ha? Aku lebih pintar dari dia," Balas Franz menyombongkan diri.


"Kalau begitu, bagaimana dengan hal cinta?"


JDERR...


Tali akal sehatnya Franz pun jadi terputus setelah mendengar jawaban lain itu.


Dimana Franz yang mendengar pernyataan yang terdengar seperti menyindirnya akhirnya memicu mulutnya untuk berkata : "Dengar ya...jangan pernah banding-bandingkan aku dengan anak baru itu." Ancam Franz. "Lagi pula, apa gunanya itu? Mudah mendapatkan cinta? Semua itu butuh perjuangan, tidak ada yang namanya kemudahan."


"Jadi maksudnya seperti kamu yang masih saja mengejar Bella itu?"


Mulutnya langsung menutup rapat. Perkataannya itu sudah cukup benar, kalau Franz masih saja mengejar Bella, meskipun dirinya itu sebenarnya sudah punya Istri?


"Hahhh~" Saat memikirkan hal itu, Franz tanpa ambil pusing lagi tergelak sendiri. Franz menyadari dirinya sendiri sudah menikah dan juga sudah punya Istri. Tapi bagi Franz, 'Memangnya apa gunanya punya Istri jika Istri pilihan Ibu itu adalah perempuan bodoh. Kata-katanya tadi pasti karena dia menghafalnya juga, jadi apa gunanya itu? Dia tidak memiliki kegunaan lain selain aku bisa mempertahankan apa yang aku miliki sekarang.' Pikir Franz.


Franz memang beberapa kali menolak pernikahannya yang sudah terjadi itu, dengan kata ingin bercerai.


Sayang seribu sayang. Jika di dalam hubungan yang sudah terjalin itu memiliki satu kata ingin bercerai, secara otomatis Franz membuang segala kepemilikannya itu, yaitu semua harta yang sudah Franz miliki.


Karena itu, untuk sesaat Franz mencoba bertahan sedikit lebih lama lagi. Setelah itu mencoba membujuk Ovin untuk menceraikannya, karena syarat utama agar perceraian itu bisa terwujud dan membuat Franz tidak kehilangan apapun adalah jika Ovin sendiri yang mengajukan perceraian.


'Walaupun merepotkan sih. Tapi kalau sduah begini....itu memang apa yang bisa aku buat?' Pikir Fraz lagi.

__ADS_1


"O-ok...kamu memang tidak ada bandingannya. Jadi lepaskan cengkramanmu ini," Pinta laki-laki ini sambil melirik ke salah satu bahunya yang sedang di cengkram oleh Franz sebab tidak terima dengan ucapannya tadi.


"Hmm....." Ekspresi Franz kembali serius. "Jadi jang-" Sudut mata Franz tiba-tiba saja menemukan sesuatu yang kebetulan, ternyata sedang berdiri di belakang mereka berdua.


Tapi saat itu juga kedua bola mata Franz benar-benar terbuka lebar seperti mau loncat dari tempatnya, sebab pemandangan yang sedang di lihatnya itu berhasil menarik segala pikirannya tadi tentang Ovin, karena perempuan yang baru saja di pikirkannya itu saat ini sudah ada belakangnya persis!


'Kenapa dia ada disini? Jangan-jangan dia mau meminta sesuatu dariku lagi?' Benak hati Franz. 'Tapi ini kan di depan temanku, jika dia meminta ini dan itu sekarang, yang ada mereka pasti akan mencurigaiku, apalagi dia.'


"Itu sakit ei.." Rintih laki-laki inni terhadap reaksi Franz yang terlihat tegang itu, sampai bahunya jadi semakin di cengkram dengan kuat.


Tetapi sama hal nya dengan Franz, secara tidak sengaja juga temannya Franz melihat seseorang yang saat ini sedang berdiri di belakang mereka, atau lebih tepatnya adalah di sebelah mereka berdua persis, dan itu adalah Ovin.


"Apa yang kamu lakukan disi-" Sayangnya kalimatnya langsung dia telan lagi sambil menelan salivanya sendiri.


GLUK...


"Apa-...kalian bisa memberikanku jalan?" Pinta Ovin.


"Bukankah lewat sana juga bisa?" Protes Franz, padahal di ada satu jalan lagi yang bisa Ovin lewati.


"Iya..tapi, di sana ada mereka." Raut wajah Ovin sedikit murung, sebab di sisi jalan lain yang memang bisa Ovin lewati, sedang di gunakan oleh sekumpulan perempuan yang sedang asik bergosip. Jadi Ovin pun menghindari masalah itu dengan mengambil jalan yang sedang di tutup oleh dua orang yang terlihat akan bertengkar itu.


"Tch...pargi sana," Ketus Franz, memberikan Istri tersembunyi nya itu jalan.


Setelah diberikan lewat oleh penguasa sekolah, yaitu Franz. Ovin pun berjalan melewati mereka berdua.


"Wow...Franz, lihat...pakaian da*am nya terlihat, warnanya biru pula. Kebetulan sekali aku suka warna biru." Tepat saat mengatakan itu, Franz langsung mendaratkan telapak tangannya dengan keras pada mata temannya itu.


PLAKK.....


"Aduh..!" rintihnya, merasakan sakit di wajah yang baru di pukul itu. "Tapi dia cukup berani juga ya? Tidak malu padahal seragamnya basah seperti itu sampai dal*m*annya terlihat."


PLAK...


Kini mulutnya juga yang kena pukul.


"Apa-apaan kamu ini, sakit tahu," Protes laki-laki ini, tidak terima dengan tindakan yang dilakukan oleh Franz itu terhadapnya.

__ADS_1


'Dia benar-benar bodoh atau apa sih? Dia dengan terang-terangan berjalan dengan pakaian basah seperti itu, dan...' Mata Franz langsung berubah menjadi sendu, ketika dia memang melihat pakaian d*l*m yang di pakai oleh Ovin itu, memang sudah tercetak jelas di seragam putih itu. 'Kenapa aku merasa tidak rela ada yang melihat dia berpenampilan seperti itu di depan laki-laki lain? Tapi....' Franz memejamkan matanya, 'Jika aku bertindak mengikuti hati ini, yang ada rahasiaku bisa saja terbongkar. Kalau aku punya hubungan dengan perempuan itu. Biarin lah, dia harus menanggung akibatnya karena mau pindah ke sekolah seperti ini.' Batin Franz lagi.


__ADS_2