
Suara foto yang baru saja mengambil gambar itu, akhirnya sukses mencuri perhatian mereka berdua.
Ya, sesaat setelah mendengar bunyi kamera, secara bersama-sama kedua orang ini menatap seorang pria yang berhasil menangkap basah mereka Ovin dan Franz dalam balutan sensasi panasnya.
" Hapus....sekarang juga!" Seru Franz dengan wajah penuh amarahnya. 'Tapi, aku tidak, aku tidak mempercayai dia akan menghapus foto itu jika aku tidak menyita handphone nya itu.'
Pikirannya pula berteriak cemas karena ada foto mereka berdua dan apalagi foto yang baru saja di ambil oleh anak itu, terjadi saat Ovin masih memakai handuk mandinya, dan memperlihatkan sedikit dari sesuatu yang seharusnya tidak di lihat oleh orang lain.
Buru-buru jari-jari pria bernama Leonard ini bergerak cepat melakukan sesuatu di layar ponselnya karena saat itu juga Franz dengan wajah seriusnya sedang berjalan mendekat dengan langkah lebar dan cepat.
"S-sudah. " Leonard membalikkan ponselnya ke depan Franz untuk melihat dengan matanya sendiri bahwa fotonya kini sudah ter hapus.
Dengan tatapan begitu datar, Franz berkata : "Kalau sudah, berarti sekarang hanya tinggal menyita handphhonemu." tuturnya, tangannya dengan secepat kilat menyambar ponsel milik pria itu sebelum benar-benar di sembunyikan.
"Jangan-, jika handphoneku di ambil, aku harus bagaimana?" Tanya Leonard ini, ingin meraih kembali handphone nya, tapi karena dirinya kalah tinggi dengan Franz, hasilnya Franz pun mampu melindungi handphone yang sudah ada di tangannya itu sebagai barang bukti kalau di dalamnya pasti masih ada sisa file yang tidak di ketahui, bisa saja di gunakan untuk di sebar ke media sosial yang lain.
Demi mencegah terjadinya insiden yang lebih parah ketimbang rahasianya yang sudah ketahuan oleh Jordy, ia harus mengamankan barang tersebut.
"Kau kan hanya tinggal beli yang baru, apa susahnya? Sana pergi, itu konsekuensi jika mengambil gambarku secara sembarangan." Jelas Franz dengan begitu tegas.
Dia melakukannya, sebab dia memang tidak percaya pada hal apapun yang bersifat perintah tapi tidak Franz cek sendiri.
'Karena aku tidak percaya dengan yang aku lihat dan yang aku dengar.' maksudnya Franz tidak mempercayai bahwa fotonya sudah di hapus meski sudah dihapus tepat di depan matanya.
'Karena bisa saja Leonard ini sudah menyimpannya di tempat lain.' pikirnya.
"Tapi kan, aku mana mungkin beli handphone baru lagi."
"Itu kan urusanmu sendiri, salah siapa seenaknya mengambil gambarku. Terutama, apalagi karena di dalam gambar ini ada gambar anak itu. Atau kau sengaja ingin memancing emosiku? Mengambil foto kami, sebagai ancamanmu kepadaku? Begitu ya?" Tuding Franz.
Tangannya yang berhasil mengambil ponsel milik Leonard dari kelas C itu, Franz lempar ke belakang dan berhasil mendarat di atas karpet.
Dengan wajah takutnya Leonard, Franz masih tidak bisa membiarkan orang ini kabur dulu.
__ADS_1
Dia justru segera mencengkram baju Leonard seraya mengatakan sesuatu tepat di samping telinga Leonard, yaitu berupa : "Dengar, aku melakukan ini karena aku sendiri tidak percaya kau benar-benar menghapus foto tadi.
Lalu jika kau berani bergosip di belakangku, atau mungkin saja....menyebarkan foto tadi, aku tidak akan tinggal diam. Itulah manusia, apalagi jika sudah berurusan denganku, maka kau salah mangsa, karena aku bukan tipe yang percaya orang lain begitu saja, termasuk kau sendiri, paham?! " setelah menyesaikan kalimatnya, Franz melepaskan cengkraman nya di kerah Leonard dengan kasar hingga Leonard terdorong kuat ke belakang dan hampir saja terjatuh.
"A-aku, lagi pula tadi kan aku hanya refleks, t-tapi aku akan diam, jadi tenang saja, a-aku, aku tidak a-akan mengatakannya kepada siapapun." Jawab Leonard dengan terbata-bata.
"Kau- mau refleks atau bukan, jika di mataku saja kau salah, berarti kau memang salah. Cepat, pergi dari hadapanku." perintah Franz lagi seraya masih menatap tajam Leonard itu.
Melihat sosok Leonard yang berlari entah mau menuju kemana, Franz memikirkan untuk memerintahkan seseorang agar mengamati pergerakan Leonard. Pasalnya dirinya tidak akan percaya dengan kata-kata seseorang dengan begitu mudahnya, jadi untuk antisipasi maka harus menyuruh seseorang.
Terlepas dari Leonard tadi, Franz berputar balik dan cepat-cepat menutup pintu kamar, tak lupa pula untuk di kunci dari dalam, agar tidak ada kejadian yang kedua kalinya.
Dari situ, Franz tidak menemukan si mata empat di tempatnya lagi.
Pandangannya ia edarkan dan menyadari satu hal, yaitu tepat di atas ranjang ada satu gundukan dan itu bergerak-gerak.
Sudah pasti, dia ada balik selimut itu.
"Aku sudah membereskannya." kata Franz, membuka suara, karena tidak tentram berada di balik keheningan.
Kata itulah yang sedang diharapkan Franz, namun....
Hati jadi berkata lain, tidak ada respon dari gadis itu, Franz jadi cemas sendiri karena kejadian tadi pastilah hal yang memalukan untuk seorang perempuan.
Rasa kesalnya, tentu karena ada yang berhasil menangkap basah mereka berdua lagi dan lagi.
Akan sampai kapan rahasia mereka berdua terungkap di depan semua orang?
'Leonard, anak itu, dia pasti melihatnya juga.' Franz mengepalkan tangannya, sebagai suami?
Memikirkan nasibnya yang sudah tidak lajang lagi saja, sudah cukup susah, tapi sekarang ia harus lebih di susahkan dengan keberadaan dari Leonard yang berhasil mengacau mood nya.
" Sudahlah, tapi dia tidak apa-apa kan?" gumamnya, manik matanya tak henti-hentinya menatap orang di balik selimut berwarna putih itu. "Hei, bukannya kau tadi terlihat seperti orang yang tidak kenal malu? Kenapa kau tiba-tiba masuk kedalam selimut?" perlahan tangan kanannya ia angkat dan mendekat ke satu pucuk dari sisi selimut itu.
__ADS_1
'Ini memalukan, aku tidak tahu orang tadi siapa, tapi Leonard, tapi kira-kira dia orangnya seperti apa? Gara-gara penyakit anehku. Ini gara-gara Franz, kenapa pula dia menarik lengan handuk mandiku?' Pikirannya serabut karena tidak tahu identitas orang tadi dan parahnya tadi sempat di foto?!
Itu bukan masalah yang sepele, sebab bagaimanapun keinginan mereka berdua untuk tetap merahasiakan hubungan mereka berdua, adalah prioritas utama.
Akan tetapi, Ovin merasa kalau prioritas mereka saat ini adalah menjaga keamanan diri.
"Argghh!" Tapi di saat yang sama, ketika Ovin ingin membuka selimutnya yang tadinya menutupi semua tubuhnya, saat itu Franz pun sama-sama sedang menarik selimut tersebut.
"Kau sedang gila? Kenapa kau berteriak?!" serunya. 'Kenapa anak ini tiba-tiba jadi sangat bar-bar seperti ini?' terkejut Franz karena Ovin yang tadinya diam, langsung berteriak seperti kesetanan.
"SIAPA?! SIAPA ORANG TADI?!" marah dan malu, keduanya bercampur menjadi satu.
Wajah marah dengan rona merah di pipinya menjadi pemandangan pertama yang dilihat Franz hari ini.
"Aku sudah membereskannya, tidak usah khawatir." cetus Franz.
"Tidak usah khawatir? Disini akulah yang dirugikan. Aku dirugikan, kalian melihatnya! Dan aku rugi! Walaupun jika itu kau, aku tidak akan mempermasalahkannya, tapi karena ada orang lain yang melihatku dalam penampilanku ini, siapa yang tidak cemas?!" beber Ovin sambil mengutuk dirinya yang baru kali ini dipermalukan di depan dua laki-laki yang saling kenal satu sama lain, dan penyebab utamanya adalah pria di sebelahnya itu.
"Hei!" hendak menyentuh bahu gadis itu, seketika Ovin menampar tangannya Franz itu agar tidak menyentuhnya.
"Jangan hai hei, aku punya nama! Walau tidak bagus, tapi aku punya nama!" jawab Ovin dengan tegas.
'Dia marah?' Melihatnya marah, Franz merasa kalau gadis ini, yang biasanya bermuka polos, malas, dan penuh dengan rasa diam, sekarang terlihat menggemaskan?!
'Cukup, kenapa kepalaku jadi berpikir dia menggemaskan?'
Kepalanya menggeleng dengan cepat untuk menghilangkan semua pikiran aneh yang tiba-tiba datang itu gara-gara melihat tindakan Oktavin ini yang cukup berbeda.
Sekembalinya rasa malunya itu, Ovin jadi menarik lagi selimut tebal itu dan menutup tubuhnya dengan selimut tersebut.
"Cih...aku beritahu, semua pria termasuk aku tidak tertarik dengan dada rata apalagi sepertimu. Jadi tidak usah mengkhawatirkan itu.
Tenang, aku bahkan tidak akan menyentuhmu, jadi keluarlah, mandi lagi, dan jika masih marah karena anak tadi, maka kejarlah, karena aku sendiri sudah menyita handphonenya." ujar Franz, dan lagi-lagi memecah keheningan dengan ayat yang bisa membuat si pendengar tersinggung.
__ADS_1
"Mana mungkin." akhirnya Ovin menjawab dengan cepat, meski masih berada di balik selimut. "Pria bukan tertarik dengan dada perempuan, tapi- asal....asal bisa masuk sudah puas nafsu. " sambungnya lagi, dimana di akhir kalimat, suaranya semakin pelan, namun masih bisa di dengar oleh Franz.
"............!, " Franz langsung sedikit mundur dengan lengan tangan agak di angkat untuk menutupi separuh wajahnya yang setengah sipu malu itu. "A-apa k-kau bilang?! Ternyata mulutmu juga bisa berpikir seperti itu, menakjubkan sekali ya kau." tutur Franz, mencibir ucapan yang baru saja di katakan oleh Ovin tadi.