
TIIIINNNNN…!
Suara klakson itu lansung mengagetkan Franz yang baru saja mencium tombol klakson pada stir mobil miliknya.
‘A-apa?!’ Sepasang mata Franz langsung membulat lebar ketika dia menyadari kalau apa yang dia cium saat ini bukanlah bibir, melainkan stir mobilnya sendiri.
‘Sialan, aku pikir tadi aku benar-benar mencium bibirnya, ternyata aku ketiduran dan bermimpi sampai aku mencium stir mobil.’ Pikir Franz.
Sekalipun dia memang bermimpi, kenyatannya Franz sebenarnya merasakan hal yang terasa cukup nyata.
Nyata kalau Ovin yang bersedia mau menjadi bayangannya Bella, sedang duduk di pangkuannya persis, dan membelai dadanya. Itu adalah sesuatu yang teramat cukup nyata, sampai…
“.............” Saat Franz melirik ke bawah, dia sebenarnya sudah menduga kalau mimpinya itu membawanya masuk kedalam keinginan sebenarnya.
Keinginan untuk apa?
Yah..buktinya, sebenarnya di balik celana yang dia kenakan, ada sesuatu yang ingin keluar dari sana.
BRUK…
Franz langsung frustasi sendiri sampai kepalanya, dia kembali letakkan di atas stir mobil, sampai klakson mobilnya kembali berbunyi.
TINN……!
‘Padahal hanya mimpi, kenapa aku terangsang?’ Kata hati Franz.
TINN…! TINN…!
“Woi! Jalan! Atau aku tabrak mobilmu sekarang juga! Satu!” Teriak orang yang ada di belakang mobilnya persis.
Dikarenakan semua mobil yang ada di depan Franz sudah jalan, maka Franz yang sempat terbuai kedalam alam mimpinya pun, membuat mobilnya tetap diam di tempan, dan hasilnya banyak orang yang sudah protes, karena kelalaian dari Franz sendiri.
“Mereka berisik,” Geram Franz. Di bawah tekanan dari adik kecilnya yang tiba-tiba saja meminta sebuah jatah untuk makan di luar, Franz pun harus tetap kuat untuk menyetir mobilnya agar bisa pulan ke rumah dengan selamat.
BRRMM……
_________
__ADS_1
Hujan masih saja mengguyur dengan cukup deras.
“Hahh…! Akhirnya aku bisa mendinginkan tubuhku.” Ucap Ovin kepada dirinya sendiri.
Saat ini dia pun dengan santainya menikmati perjalanannya sendirian, untuk pulang ke rumah.
Dengan apa dia pulang? Apalagi kalau bukan dengan sepeda listriknya.
Tanpa suara, tanpa merasakan penat, Ovin mampu mengendarainya sampai di angka empat puluh kilometer per jam.
Hanya saja di tengah-tengah dirinya sedang menikmati perjalanannya, tiba-tiba saja ada kejadian tak terduga yang menimpanya, yaitu…
‘Eh…?’ Ovin langsung menghentikna laju sepedanya dan menilik apa yang terjadi.
Lalu apa yang terjadi?
‘Kau bocor di waktu yang tidak tepat.’ Kutuk Ovin terhadap ban sepeda miliknya yang ternyata sudah kempes sebab bocor, dan asalnya adalah karena ban belakang sepedanya ada sebuah paku.
ZRASSHH…..
Dentuman dari petir yang akhirnya menggelegar menandai kalau hujan akan semakin deras.
Dan permasalahan yang dimilikinya saat ini, adalah ban sepedanya bocor, lalu jalan yang harus di tempuh pun sebenarnya masih sedikit jauh.
‘Hari ini benar-benar-’ Saat hendak mengutuk harinya yang penuh dengan kesialan, tepat di ujung jalan yang baru saja dia lalui, dia melihat adanya mobil.
“Mobi? Putih?” Tahu siapa pemilik dari mobil yang sedang melaju kearahnya, Ovin pun berjalan ke tengah-tengah jalan.
Di saat yang sama pula…
‘Apa?! Dia gila ya?!’ Geram Franz saat di depan ujung dari jalan yang akan di laluinya, seseorang dengan keberanian yang tinggi, berdiam diri di tengah jalan dan menghalangi jalannya.
Karena sedang dalam kondisi hujan, dan jalan yang di laluinya tentu saja licin, maka mau seberapa kuat Franz untuk menginjak rem, hasilnya tentu saja akan membuat ke empat roda mobilnya tergelincir.
Tapi mau bagaimana lagi, jika tidak menginjak rem, yang ada dirinya akan menabrak perempuan itu.
Karena itu, Franz dengan terpaksa tetap menginjak rem sedalam-dalamnya.
__ADS_1
Dan benar saja roda mobilnya tergelincir.
Tapi pada yang saat sama, demi menghindari Istri gilanya itu tertabrak, Franz langsung mengganti roda gigi mobilnya ke nomor dua, sekalipun sudah menginjak pedal rem, dia juga masih menginjak pedal gas, dan setelah itu dia akhirnya membanting stir ke arah kiri, yang mengakibatkan mobilnya langsung merubah posisi laju mobil mengitari istrinya tersebut untuk setengah putaran ke arah kanan.
CKITT…
Akhirnya awal yang hampir berakhir dengan cara yang buruk, bisa Franz hindari dengan menggunakan kemampuannya dalam drifting.
“...........” Menatap tajam sosok istrinya yang tidak terlihat takut sama sekali, Franz langsung keluar dari mobilnya dengan wajah kesal. Bahkann pintu mobil yang tidak memiliki salah sama sekali, langsung dia banting.
BRAK..!
“Apa kau gila! Bagaimana jika kau aku tabrak?!” Pekik Franz di bawah hujan yang masih mengguyur dengan cukup deras.
Karena keluar dengan kepala yang sudah emosi, maka Franz saat ini pun jadi ikut hujan-hujanan.
ZRASHH……
Ovin berbalik, lalu menatap suaminya yang sedang berekspresi marah kepadanya.
Melihat kemarahan itu terpampang dengan jelas di wajah Franz, membut Ovin yang awalnya terdiam itu akhirnya angkat bicara, “Apakah jika aku…hanya melambaikan tangan dari tepi jalan, kamu akan tetap berhenti?”
DEG!
“Tentu saja aku akan berhenti!” Jawab Franz detik itu juga.
“Apakah kamu yakin itu?” Tanya Ovin sekali lagi, ingin mengkonfirmasi kembali jawaban yang diucapkan oleh Franz tadi.
“Tentu saja yakin, kenapa aku tidak yakin?”
Ovin pun mengatupkan mulutnya. Awalnya dia ingin mengatakan hal lain, tapi sayangnya dia urungkan niat itu dan menggantinya dengan pertanyaan yang lain pula, “Bukankah kamu membenciku? Makannya aku tidak yakin jika aku hanya diam di pinggir jalan dan meminta bantuanmu di saat mobilmu saja sedang melaju di atas kecepatan enam puluh kilometer per jam.”
DEG!
‘Kenapa dia tahu aku mengendarai mobilku di atas enam puluh? Tapi daripada itu, dia benar-benar yakin aku membencinya ya? Sampai dia sendiri ternyata tidak yakin apakah aku berhenti atau tidak jika dia hanya melambaikan tangannya saja.’ Pikir Franz. “Aku pasti akan berhenti, jadi jangan mengulangi itu lagi, atau kamu sendiri yang tertabrak.”
“Yah..aku tahu, aku juga sebenarnya sedang bertaruh, apakah tadi aku akan selamat atau tidak.” Dan ucapan yang tadi nya terdengar jelas, berakhir dengan sebuah gumaman. “Padahal sebenarnya sudah pernah beberapa kali aku memberimu kode untuk berhenti saat aku ingin memberhentikanmu dengan melambaikan tanganku dari pinggir jalan, karena caranya tidak manjur, jadinya aku terpaksa menghadangmu. Apakah pikiran yang seperti ini tetap salah? Kan kamu sendiri yang membuatku harus melakukan ini.” Jelas Ovin panjang lebar.
__ADS_1