Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Keluarga


__ADS_3

"Hutangmu sebenarnya ada pada ibunya. Waktu itu ada orang yang dengan sengaja ingin menabrakmu, tapi kau di selamatkan oleh Ibu nya Ovin, dan hari itu juga Ibu nya meninggal.


Maka dari itu, hutang nyawamu teralihkan pada dia.


Apa sekarang kau paham? Kenapa ibu melakukannya Ovin itu lebih baik dari pada kau, padahal kau itu anak kandungku?" Jelasnya, secara panjang lebar.


Jujur saja, setelah mendengar hal itu, Franz langsung diam membisu, dia sama sekali tidak menyangka kalau di masa lalunya akan ada cerita tentang dirinya yang seperti itu.


Maka dari itu, Franz pun sadar, alasan kenapa Ovin sering kali marah kepadanya, dan itu karena Ibu nya meninggal gara-gara dia sendiri.


Bukannya sungguh ironis, ketika di usia muda, gadis yang selama ini sering kali dia hina dan ia ejek, sebenarnya adalah anak yang sudah kehilangan keluarganya sejak dari kecil?


"Kalau begitu, kenapa Ibu sama sekali tidak pernah menceritakannya padaku dari dulu?!" kesal Franz, karena dia sama sekali tidak mengetahui apapun soal Ovin.


Perempuan yang selama ini dia anggap sebagai benalu, rupanya adalah eksistensi yang Franz pikir harus disingkirkan, karena merasa kalau Ovin menjadi perusak masa depannya.


Tapi, seketika pikiran itu berubah.


"Tentu saja, agar ibu mau tahu bagaimana kau menyikapi perempuan itu ketika di dekatmu. Namun ternyata perilakumu masih belum berubah. Sebagai ibu, aku kecewa padamu, Franz." katanya lagi.


Wajah sedihnya itu tercipta karena setelah sepeninggal suaminya, anaknya masih saja tidak bisa menjaga perasaan orang lain.


Selalu saja membuat masalah.


Meskipun masalah sepele, namun dia sangat kecewa, baik pada dirinya sendiri maupun kepada Franz, yang sama sekali tidak bisa menjaga Ovin dengan baik.


Hasilnya, sekarang gadis itu malah sudah pergi entah kemana.


"Jika masih belum mengerti perasaan ibu, lebih baik ibu yang cari sendiri. Kau duduk diam saja disini, dan ibu tidak akan mengganggumu lagi. " Imbuhnya.


Mendengar semua penjelasan yang di ucapkan oleh Ibunya, Franz seketika menahan bahu ibunya yang akan berbalik dan menjawab : " J-jangan, biar aku sendiri yang mencarinya." ucapnya.


Ny. Jane terdiam sejenak, kemudian memandangi wajah anaknya yang tampak cemas itu.


Mungkin karena baru sadar atas apa yang sudah di perbuat nya adalah hal yang salah, Franz jadi merasa bersalah.


"Tapi kenapa aku tidak ingat dengan kejadian itu?" tanya Franz. 'Masa iya, aku tidak bisa mengingat lagi kejadian di masa laluku?' pikirnya.


Dia memang sama sekali tidak ingat kalau dirinya pernah hampir di tabrak oleh orang lain, itulah alasan ia sama sekali tidak pernah menanggapi apapun yang Ovin katakan dengan baik.


'Franz sedang bertanya-tanya sendiri kenapa dia tidak mengingatnya.


Kalau dia memang tidak bisa mengingatnya, kuncinya adalah saat dia mengalami penculikan juga, di waktu yang tidak jauh dengan insiden tabrakan itu.


Berkat Ovin, Franz berhasil kabur dari lokasi penculikan.


Tapi tidak ada keberuntungan di malam itu, karena akhirnya Franz malah jatuh dari tangga.' memikirkan hal itu, Ny. Jean menghela nafas dengan kasar.


Dia tidak habis pikir, sebab gara-gara ketika suaminya masih hidup, ada banyak musuh yang mengincarnya.


Lantas, Franz menjadi salah satu orang yang dijadikan target oleh mereka.


"Kau kan pernah jatuh dari tangga? Bahkan bekas luka di dahimu saja masih ada, kan?" jawabnya.


Franz pun menyentuh dahinya. Di balik poni rambutnya, terdapat garis bekas jahitan akibat pernah di jahit sepanjang 4 cm, gara-gara kepalanya bocor akibat benturan keras.


"Itu masuk akal sih. Tapi yang aku tanyakan itu, kenapa aku bisa jatuh dari tangga?" rungut Franz.


Sebenarnya dia meminta penjelasan lebih, tapi ibu nya sudah memberikan tatapan tajam penuh dengan banyak makna.


Nafas samar, keluar dari bibir Ny. Jean. Demi kembali ke pusat masalah, Ny. Jean langsung menolaknya.


"Kenapa kau peduli soal masa lalumu? Tapi jika kau memang ingin tahu cerita selengkapnya, ada baiknya kau pikirkan dulu soal Ovin!" ancam Ibu nya Franz.


"Jadi kau paham, kan? Alasan Ibu memberikan perhatian terbaik kepada Ovin, seba-"


"Iya-iya, aku pergi dulu bu!" seketika Franz menyela dengan cepat dan buru-buru pergi dari rumah.


"Eh...?" Ny. Jean yang hanya mendapatkan angin lalu dari kepergian anaknya, hanya terbengong. 'Dia mau pergi? Pergi kemana lagi, dia? Apa dia sudah tahu dimana keberadaan Ovin?


Aku pikir dia akan menuntut lebih dulu untuk menjawab pertanyaannya itu. Tapi jika sudah seperti ini, apa sebaiknya aku lepas tangan saja?'

__ADS_1


Lalu setelah mendengar suara mesin mobil yang menyala dan pergi meninggalkan vila, barulah Ny. Jean tersadar dari lamunannya.


Benar saja, anaknya itu rupanya sudah pergi untuk mencari Ovin lagi!


Melihat hal tersebut, Ny. Jean tersenyum senang, karena akhirnya bisa melihat keseriusan Franz dalam mencari istrinya sendiri.


"Tapi kelihatan lucu juga ya? Dia pergi mencari istirnya sendiri. Tapi-- semoga saja dia bisa menemukan Ovin. Jika tidak, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Ibumu, Oktavin. Aku tetap saja merasa bersalah, karena kau mengorbankan nyawa untuk Franz," gumamnya.


Meskipun waktu kian berlalu, namun dia sama sekali tidak bisa melupakan bagaimana dia sempat mendapatkan senyuman terakhir sebelum Ibu nya Ovin meninggal.


Sebuah senyuman yang menyiratkan makna, bahwa dia ingin menitipkan anaknya kepadanya.


______________


Jika Franz sedang ketar-ketir mencari Ovin, maka tidak dengan Ovin sendiri.


"Kau, kenapa ada disini? Nanti masuk angin," melihat keponakan perempuannya itu sedang merendamkan ke dua kakinya ke dalam kolam.


Ethan sebenarnya heran kenapa keponakannya malah pulang ke rumah.


Padahal, jika gadis ini sudah menikah seharusnya Ovin ini berada di rumah suaminya.


Ya... Dia pun tahu siapa yang berhasil merebut hati dari keponakannya ini, yaitu Franz.


Tapi seperti yang ia duga, pasti ada satu pertengkaran lagi di dalam rumah tangga yang masih sebiji jagung itu.


"Apa kau sedang bertengkar dengan anak itu?" tanya Ethan pada Ovin yang sedari tadi menatap kakinya sendiri.


Ovin menjawab dengan anggukan kecil.


Ethan terdiam sejenak, menatap wajah sendu keponakannya, Ethan lantas kembali bertanya, "Apa kau masih tidak mau bercerita kenapa kau bertengkar dengan dia?"


Namun, melihat Ovin tetap saja diam membisu, Ethan pun tidak mau memaksanya. Karena mau bagaimanapun hati harus di tata, sekalipun mau bicara, apalagi soal di dalam hubungan rumah tangga anak muda ini.


"Paman." Panggil Ovin dengan lirih.


Mendengar suara keponakan kecilnya akhirnya angkat suara setelah menutup rapat mulutnya, Ethan pun menyahutnya dengan nada yang lembut.


"Hmm.., kau ingin apa?"


Permintaan aneh pun mendatanginya, tapi Ethan tidak menolak permintaan gadis ini, dia akhirnya berjongkok untuk menyamai tinggi yang di miliki oleh Ovin ini.


Setelah itu tangan Ethan pun menuntun tangannya Ovin untuk menyentuh wajahnya.


Karena posisi dimana Ethan lebih tinggi, jadi Ovin mengeluarkan kakinya dulu dan berjongkok untuk menyamai tingginya juga dengan ketinggian milik Ethan.


Dan sentuhan itu pun terjadi.


Tangan itu meraba-raba wajah tampan milik sang paman pertama.


Jika saja dirinya tidak memiliki penyakit aneh pada matanya, ia tidak mungkin tidak bisa melihat wajahnya seperti ini.


Dari situ, ia ingin sekali melihat wajah pamannya ini, tapi seakan dirinya buta wajah, ia tidak bisa mengenali seperti apa sosok alias rupa wajah Ethan ini.


"Pasti wajah paman cukup tampan. " senyum ovin dengan lembut. Namun di balik itu semua, Ovin dengan sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka berdua.


'Ovin, kenapa keponakanku sendiri tapi tidak bisa melihat wajah pamannya sendiri?


Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama sebelum kau masuk ke keluarga Abelson?' kata hati Ethan.


Memikirkannya saja sudah berat, apa lagi mengalaminya sendiri.


"Aku memang tampan, bahkan di umur segini, masih banyak yang melirikku. Aku lebih kece dari anak bau kencur itu, Ovin." jawab Ethan, seraya menikmati sentuhan lembut di wajahnya dari tangan mungil milik keponakannya itu.


"Pesona paman memang hebat." sela Ovin dengan cepat, dan segera menarik tangannya yang sempat di nikmati oleh pria dewasa ini.


Lalu dari belakang mereka berdua, satu orang sedang memandangi momen mereka berdua, yaitu Chade.


"Hayoo! Kalian membuat suasana romantis, jangan sampai saling suka," pungkas Chade, memecah suasana yang terlihat romantis tadi.


"Chade, jaga ucapanmu itu," peringat Ethan dengan mulut mendesis, "Aku memang menyayangi dan mencintai Ovin, tapi itu sebatas sebagai keponakanku. Sedangkan cinta untuk istriku, itu beda cerita lagi. Jangan samakan antara dia dan kehidupan pribadiku," jawab Ethan dengan terus terang.

__ADS_1


"Tapi tidak masalah kah? Anakmu itu meski sifatnya seperti itu, juga butuh seorang ibu kan?" Chade mulai nimbrung juga, membuat suasana setidaknya sedikit ramai. "Apa kau tidak kepikiran untuk menikah lagi?"


"Tergantung dia, jika mau ibu baru aku tidak masalah, tapi-" Ethan memandang ke langit dan menyambung lagi kalimatnya yang sempat menggantung. "Hatiku hanya untuk dia saja."


Maksudnya adalah istrinya yang sudah tiada sesaat setelah melahirkan Kelvin.


PLAKK....


Tepukan punggung yang kuat itu mendarat di punggungnya Ethan, dan memuji. "Kau memang pria sejati, aku iri, setidaknya kau bisa merasakan cinta sejati sampai punya Kelvin diantara kita."


'Aku jadi mau punya kakak.' melihat dua orang pria yang terlihat sangat dekat itu, akhirnya memunculkan rasa iri ingin memiliki kasih sayang seperti teman atau sahabat yang bisa mengerti kondisinya dan bercanda ria. 'Tapi..., sudahlah, aku tidak mau memikirkannya terus.' seraya memegang kepalanya.


"Oh ya Vin, aku heran, tapi aku juga penasaran. Apa yang membuatmu pulang lebih cepat?"


Akhirnya topik itu pun kembali di ungkit lagi, setelah beberapa waktu tadi, berhasil di alihkan.


"Kau tahu kan? Aku mencari-carimu ke seluruh dek kapal, bahkan menghubungimu saja, susahnya minta ampun.


Sebenarnya kau kenapa tiba-tiba pulang?


Bukannya tidak suka atau tidak menerimamu pulang ke sini, tapi-- jika memang ada masalah, setidaknya beritahu kepada kami.


Kau tidak sendirian lagi, ada kita berdua, dan Kelvin yang kaya cabe rawit pun ada untukmu juga,"


Ovin, yang dalam keadaan sedikit linglung, berulang kali mengedipkan matanya.


Dari penjelasan itu, perlahan hati Ovin jadi merasa terhibur.


Dia hanya tidak menyangka kalau paman ke dua nya, akan sebegitu perhatian kepadanya.


Meskipun dia sudah tidak bersama dengan kedua orang tuanya lagi, tapi keberadaan dari kedua pamannya dan satu sepupu nya juga, membuat dia tdiak lagi dalam kesendiriannya.


Ovin lantas tersenyum, lalu berkata, "Terima kasih, karena paman mengkhawatirkan aku. Tapi-- sepertinya aku masih belum bisa menjelaskannya sekarang,"


Chade dan Ethan terdiam, lalu membalas senyumannya Ovin sambil mengusap ujung kepala keponakan mereka secara bersamaan.


"Sudah larut, sebaiknya kau istirahat, kita lanjutkan pembicaraan ini besok saja," sela Ethan.


Mungkin karena baru pertama kali bisa mendapatkan perhatian lebih dari pada yang dia dapatkan dari Chade, serta perlakuan yang lebih lembut dari paman keduanya, Ovin yang merasa nyaman itu, langsung memeluk Ethan.


"Makasih paman, aku-- karena memperlakukan aku dengan baik, aku jadi bisa merasakan kasih sayang seperti ini lagi. Sungguh..., seandainya Ibu masih ada, aku pasti akan lebih senang," balas Ovin, wajahnya terbenam ke dada bidang milik pamannya.


Terdengar, suara detak jantung yang begitu teratur.


Seolah itu adalah irama, yang mana makin di dengar, hal itu pun semakin membuatnya terlarut dalam melodi yang indah.


'Rasa pelukan dari orang dewasa memang beda ya?' batin Ovin sambil tersenyum getir.


"Jangan dipikirkan lagi, dan jangan dibawa sedih, atau Ibumu akan ikut sedih juga, jika melihatmu menangis," tutur Ethan dengan penuh perhatian.


"Kenapa hanya dia saja yang dipeluk? Aku kan pamanmu juga?" cemburu, Chade pun langsung menarik bahunya Ovin. "Gantian dong~"


"E-eh? T-tunggu, jangan langsung di tarik-"


Karena tiba-tiba di tarik tanpa memperhatikan apa yang ada di samping mereka, salah satu kakinya Ovin pun terpeleset karena lantai tepi kolam renangnya terasa licin.


Alhasil Ovin yang terhuyung ke belakang, langsung meraih masing-masing salah satu tangan dari kedua pamannya itu, dan ...


BYURR...


Ketiga orang itu pun sukses kecebur.


Sedangkan seorang anak kecil berumur lima tahunan yang baru saja keluar dari dapur, seketika celingukan ke kaan dan ke kiri.


"Ayah? Paman? Bu- eh, maksudku kak?" panggil Kelvin sambil mencari-cari keberadaan ketiga orang dewasa itu. "Ayah! Jangan ngumpetan! Kau pikir aku akan takut, jika aku sendirian?!" teriak Kelvin.


Setelah berteriak, dia langsung meminum susu miliknya sampai habis dan membentuk kumis putih di atas bibirnya persis, sebelum akhirnya dia kembali menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Cit~"


Mendengar suara kecil yang mencicit, seketika Kelvin langsung memasang wajah horor.

__ADS_1


"Cit?"


'T-tikus?' takut setengah mati dengan makhluk kecil berwarna putih itu, Kelvin seketika langsung menjatuhkan gelas plastik nya dan teriak sambil lari, "Ayah! Si tikus kabur! Huwaahh! Ayah! Paman! Kak!" jerit Kelvin dengan begitu lantang


__ADS_2