
Setelah kejadian di halaman rumah, mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.
"Kalian berdua." Panggilnya, untuk dua orang yang hendak pergi ke kamarnya masing-masing? 'Jadi kalian juga tidur di kamar terpisah?'
Ovin dan Franz menoleh ke belakang dan menemui sang penguasa sebenarnya, siapa lagi kalau bukan Ibu dari mereka berdua saat ini.
"Apa kalian berdua tidak pernah terpikirkan untuk bulan madu."
"Uhukk..." Franz tidak sengaja jadi tersedak karena ludahnya sendiri. "Ibu! Bukannya waktu itu kkita sudah membahasnya, kalau pernikahan ini tidak ada kata bulan madu!" Tegas Franz.
Saat ini dia benar-benar kesal karena lagi-lagi bulan madu menjadi topik yang harus di bahas. Apalagi setelah pulang dari rutinitas dari seorang pelajar yang pastinya lelah, karena hampir seharian ada di sekolah, dan sekarang pulang-pulang, yang dibahas adalah satu contoh pembahasan yang benar-benar Franz hindari.
"Ibu hanya bertanya saja, kenapa kamu yang sewot?" Rungut sang Ibu kepada anaknya sendiri yang berani-beraninya menggunakan nada tinggi kepadanya.
"..............." Franz hanya terdiam menahan kemarahannya sendiri. Karena merasa tidak ada gunanya berlama-lama dengan Ibunya, Franz yang sudah tidak peduli dengan kondisinya saat ini dimana dirinya dan Ovin menggunakan kamar terpisah, dia memilih langsung pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
BRAKK.....
Pintu yang tidak bersalah pun menjadi pelampiasannya.
Ovin sendiri hanya menatap kepergian dari suaminya itu.
Sebenarnya bagi Ovin, melihat seorang laki-laki sedang marah itu cukup mengerikan. Dia pernah mengalaminya satu kali, dan itu adalah Ayahnya, tapi karena sudah kabur dari rumah neraka itu, dia sudah tidak pernah mendapatkannya lagi, kecuali hari itu, saat Franz pulang larut malam dengan kondisi mabuk total.
Alhasil, kebaikannya yang dia berikan untuk mengurus hasil muntahan dari Franz, langsung di balas dengan kemarahan. Bahkan sampai mencekiknya?
"..............." Ovin tanpa sadar jadi menyentuh lehernya sendiri yang pernah di cekik itu.
__ADS_1
Rasa sakit dan sesak itu masih saja membekas dalam ingatannya.
'Sebegitu membencinya ya?' Sindir Ovin dalam benak hatinya yang terdalam. Dia tertawa dalam diam, karena sedang menertawai dirinya sendiri.
Dia sebenarnya ingin menjerat Franz dalam hubungan ini, tapi yang Ovin sadari saat ini adalah justru dirinya lah yang terjerat dengan pernikahan yang benar-benar tidak disukai oleh Franz?
'Bukannya dia harus membayar karena apa yang dia lakukan dulu? Walaupun kondisinya sudah seperti ini, aku tidak mempermasalahkannya, karena yang terpenting Franz sudah menjadi milikku. Walaupun entah dia mau berkhianat sekalipun, karena akulah yang memegang kendali atas perceraian, selama aku tidak mengatakan cerai, tentu saja dia akan terus jadi milikku.' Karena Ovin punya kuasa sendiri berkat Ibunya Franz, dua pun tidak mempermasalahkan segala hal yang dilakukan oleh laki-laki itu, karena disini yang terpenting adalah Franz tidak akan menjadi milik siapapun kecuali dirinya seorang saja.
Karena itu, ekspresi murung tadi sudah menghilang dan digantikan dengan senyuman miringnya.
"Vin~ Maafkan Franz ya?"
Satu usapan lembut mendarat di atas kepala Ovin. Dan yang melakukannya adalah Ibunya Franz.
Terlihat ekspresi antara sedih bercampur senang terlukis di wajah Ovin. Terbesit rasa bersalah juga karena membuat kedua orang remaja ini sudah terikat satu hubungan yang lebih dalam daripada apapun.
"Tidak masalah Ibu," Jawab Ovin, sambil menikmati elusan lembut yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu kepadanya.
____________
Di dalam kamarnya Franz.
Si pemilik dari kamar itu, setelah menutup pintu dengan kasar, dia pun langsung membuang tas sekolahnya ke sembarangan tempat. Setelah itu, sepatunya pun dia lepas dan dia biarkan dilantai.
'Kenapa Ibu sangat perhatian sekali pada pada perempuan itu? Padahal aku ini anaknya, tapi dia lebih disayang seperti itu.' Gerutu Franz di dalam hatinya.
Lelah, marah, sekaligus merasa diasingkan oleh Ibunya sendiri, Frannz yang merasakan hal itu di saat yang bersamaan, langusung menarik dasi yang mengikat kerah lehernya dengan kasar, menanggalkan blazer miliknya dan membuangnya begitu saja ke lantai, Franz pun langsung menghempaskan tubuh lelahnya di atas kasur kebesaranya.
__ADS_1
Dengan tubuh lelah itu, dia dibuat lelah akan pikiran juga hatinya.
'Padahal aku punya orang yang aku cintai, tapi kenapa Ibu menikahkanku dengan perempuan yang bahkan tidak aku kenal? Perempuan itu juga....dia selalu saja seenaknya. Tapi-' Sorotan matanya yang awalnya tajam itu, berubah jadi sayu. Dia ingin sekali tidur, tapi perasaan terus saja ingin berbicara dengan deretan kalimat,
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Franz mengernyitkan matanya. Dia ingin segala pertanyaan yang terlintas di dalam pikirannya itu bisa di jawab.
Tapi karean gengsi, dia jadi memendam itu begitu saja.
Sampai segala pikiran itu akhirnya membuat Franz terlarut dalam alam mimpinya.
_______________
"Hm...mereka berdua benar-benar tidak bisa seperti ini terus. Aku harus cari cara lain agar hubungan mereka berdua bisa lebih dekat lagi. Benar tidak?" Wanita ini bergumam sendiri sampai gumaman itu dia ciptakan untuk menanyai pendapat dari supir pribadinya.
"Jika menurut anda memang merasa benar, saya sendiri tidak mempermasalahkannya. Tapi menurut saya kalau ada baiknya jika saat ini Nyonya membiarkan Tuan dan Nona muda melakukan apa yang mereka inginkan. Karena selama ini Tuan muda terus di paksa, khawatirnya suatu hari nanti Tuan muda memberontak dengan segala perintah Nyonya, dan akan membuat hubungan Tuan dan Nona justru semakin renggang." Jawab pria ini, sebagai supir pribadinya Ibunya Franz.
"Hmm...ada benarnya juga sih. Tapi...aku sangat ingin sekali FRanz itu bisa cepat ingat apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya, sampai membuat keluargaku jadi punya hutang besar kepada Ovin."
Sebelum kepergiannya, dia pun melambaikan tangannya kepada seorang gadis muda yang baru saja mengantarkannya sampai depan rumah, itu adalah Ovin.
"Nanti Tuan juga ingat, jangan terlalu memaksakan Tuan muda Nyonya. Mau bagaimanapun, pernikahan yang mendadak ini, pasti jadi pukulan terbesarnya. Tuan butuh waktu untuk menyesuaikan kondisinya."
Mendengar penjelasan dari supir pribadinya, wanita ini pun terus memandang wajah Ovin yang terlihat tidak begitu menyiratkan ekspresi bahagianya.
'Apakah dengan menikahkannya, termasuk salah juga? Tapi...kalau tidak seperti itu, bagaimana caraku membalas budi kepadanya? Semoga saja Franz bisa merubah sikapnya itu.' Harap wanita ini kepada salah satu anaknya yang justru lebih dulu menikah ketimbang kedua saudaranya yang lain.
__ADS_1