
" Tuh kan, memangnya sebenarnya dia mau menggajiku berapa?" Sean berdiri dengan berdecak pinggang di dalam kamar Franz.
Sean untuk ke sekian kalinya mengurus Franz yang mabuk berat, dan untuk semalam dirinya terpaksa tidur di rumahnya juga.
Di pagi yang indah itu, Sean masih menemukan Franz terbaring di tempat tidurnya.
" Aku akan menagihnya jika dia sudah sadar." gerutu lagi Sean pada tuan muda yang tidak terurus ini. 'Sekalipun rumahnya besar, tapi tidak ada pembantu. Bagaimana dia bisa hidup sampai sekarang?' Pikirnya, sebab rata-rata orang kaya adalah orang yang suka di layani.
Padahal Bibi Ani sedang pergi untuk membeli kebutuhan untuk satu bulan kedepan, sehingga saat ini di rumah itu tidak akan ada orang kecuali Franz, dan saat ini juga ada Sean juga.
'Tapi untung kulkasnya penuh makanan! Jangan marah ya, jika semuanya aku makan sampai ludes.' Batin Sean, setelah keluar dari kamar dari pemilik villa ini, Sean pergi ke dapur dan membuka kedua pintu kulkas yang penuh dengan makanan sekaligus sayuran yang masih tersisa.
Di hari penuh dengan waktu luang, maka tanpa adanya rasa sungkan Sean mengambil beberapa sayur untuk di masaknya.
Sean menggulung lengan bajunya sampai siku, dan senyuman di bibirnya pun terus melebar, seiring waktu berlalu. 'Hehehe.......aku tidak bisa mengandalkan wanita jika wanita itu hanya pintar bersolek.'
Yang dimaksud Sean adalah dirinya tidak bisa mengandalkan perempuan yang nantinya tidak bisa di andalkan jika Sean tidak bisa masak sendiri.
Maka dari itu sekarang Sean bergelut dengan dapur selama setengah jam sebelum benar-benar lapar itu datang.
35 menit kemudian.
Sean datang lagi ke kamar Franz untuk membangunkan budak tidur, dan benar saja dia masih tertidur dan di saat matahari juga sudah terbit, kamarnya masih gelap tertutup korden. Sean sengaja membuka tirai jendela dan langsung saja sinar yang menyilaukan itu mengenai wajah pemilik kamar.
" Ughh.......... " saking silaunya, dan sangat mengganggu wajahnya yang sedang bermeditasi dalam keterdiamannya tadi, maka Franz menutup kepalanya dengan bantal.
"Hei, cepat bangun. Ini sudah pagi, jangan sampai kau tidur terus, tiba-tiba jadi jamur." Ucap Sean dengan serta merta.
" 5 menit lagi." pinta Franz dengan sedikit merubah posisi tidurnya, memunggungi Sean yang sekarang jadi ada di belakangnya persis.
" 5 menitnya sudah berlalu jadi setengah jam, bangun..jangan malas seperti ini. Bagaimana nantinya jika semua perempuan satu sekolah tahu ya? Jika Tuan muda Franz yang selalu dikerumuni lalat itu, ternyata benar-benar lalat juga, tidak mau bangun pagi." ucap Sean lagi, ya beberapa waktu lalu sebelum masak juga begitu minta 5 menit lagi, tapi 5 menitnya juga sudah berganti setengah jam.
"...............!" Franz pun mendengarnya, dan langsung tersinggung dengan ucapannya Sean yang cukup menusuk itu.
__ADS_1
" Jika tidak bangun, maka masakanku akan aku makan semua loh. Kau hanya tidur saja lagi, sambil makan udara di sini, kira-kira kenyang tidak tuh?" Jelas Sean panjang lebar, layaknya seorang Ibu-Ibu yang suka mengomel gara-gara anaknya susah di ajak bangun pagi.
Bosan dengan celoteh yang keluar dari mulut Sean, Franz pun akhirnya mengiyakannya." Ya sudah-sudah.....keluar dulu. Aku harus mengumpulkan nyawaku lebih dulu." Sambil tangan kirinya meraba meja lampu, ia mencari handphone nya, namun ketika matanya terbuka, barangnya tidak ada.
" Hei tunggu, apa kau melihat handphone ku? "
" Dari awal kau datang ke bar sampai pulang aku tidak menemukan Handphone mu." Jawab Sean.
'Ah...apa terjatuh di mobil?' tebak Franz. Selagi mengumpulkan nyawanya, Franz berpikir lagi, 'Apakah perempuan itu sudah pulang?'
Di tiga menit berikutnya Franz baru turun dari kasurnya dan pergi menuju kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.
Setelah mandi dan berpakaian barulah dia turun ke lantai satu.
Baru setengah jalan di tangga, Franz menyadari satu hal kalau....
" Siapa kamu? " Tanya Ovin pada Sean.
Sean terkejut dengan apa yang di dengarnya.
Ovin sedikit mengerutkan keningnya. " Ya sudahlah......aku lagi tidak mau berpikir " Ovin kembali berjalan masuk melewati Sean yang sudah menyambutnya. Dia berjalan menuju kamarnya.
Sean mengulurkan satu tangannya mencoba menghentikan Ovin masuk ke kamar, tetapi Ovin berjalan lebih cepat dari yang dibayangkan jadi Sean hanya menangkap angin lalu sambil tersenyum miris.
KLEKKK........
Ovin membuka pintu kamarnya dan yang terlihat adalah ranjangnya begitu berantakan?!
"....................." tidak ada komentar apapun dengan pemandangan yang menyakitkan matanya itu, Ovin pun langsung masuk saja dengan menutup pintu rapat.
BRAK!
" Fyuhh..... " Sean bernafas lega karena tidak di marahi. 'Tapi kenapa dia tanya aku siapa? Aku jadi bingung dengan cara berpikirnya itu. Bukannya dia mengenalku?'
__ADS_1
Di tengah-tengah Sean sedang berpikir dengan tingkah Ovin tadi, dia tiba-tiba sudah di datangi oleh pemilik rumah.
" kenapa wajahmu seperti itu? " Tanya Franz, setelah menyegarkan tubuhnya dengan mandi pagi, tentunya.
"NGomong-ngomong, kamar yang disitu, apakah itu kamarnya? " tunjuk Sean pada kamar yang baru dimasuki Ovin beberapa saat tadi.
" Apa.....kamu semalam......tidur.....disana? " tanya lagi Franz pada Sean dengan nada rendahnya.
" I...iya " jawab Sean dengan tergagap sambil menoleh ke samping. 'A...ada apa dengan wajahnya? Kenapa aura dinginnya itu langsung menusuk sekali?' Sean sedikit mundur kebelakang.
'Tunggu, kenapa aku memikirkannya?.....tapi perasaan tidak suka ini sangat mengganggu ku. Tidak suka jika dia menempati kasur yang sudah digunakan oleh pria lain, apa ini?.......apa aku sudah gila!?' Perasaan campur aduk yang dimilikinya kini juga mengganggu pikirannya, sampai tidak sadar jika dirinya terus diperhatikan oleh temannya yang kelihatan cemas. " Ah... " Franz memutar tubuhnya dan memunggungi Sean. " Tadi kamu bilang sudah masak, ayo makan." kata Franz, langsung mengalihkan topiknya secara terang-terangan.
'Aku kira dia akan marah karena sudah menggunakan kamar itu, kenapa tiba-tiba aura membunuhnya langsung menghilang?' Sean tidak mengira jika pandangan rasa marah yang dilontarkan Franz, sekarang sudah tidak ada lagi.
Ia berjalan mengikuti Franz dari belakang sambil memikirkan hal yang tadi yaitu pasal Ovin yang tiba-tiba bertanya 'siapa kamu?'.
Sama dengan yang sedang di pikirkan Sean, Franz juga memikirkan hal itu.
Wajah Ovin yang menunjukkan ekspresi gelisah dan melontarkan pertanyaan 'siapa kamu' pada Sean.
'Apakah tadi dia sedang berpura-pura tidak mengenalku?' Sudah tidak bisa terhitung lagi berapa kali Ovin dan Sean bertemu, namun tadi Ovin bertanya pada orang yang harusnya dikenalinya bagaikan orang asing yang baru kali pertama bertemu.
Kedua orang ini pun akhirnya sarapan pagi bersama di meja makan.
" Apa kamu tidak mengajaknya makan bersama kita juga? " Tanya Sean sambil memasukkan sesuap nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
"Kalau lapar, dia akan datang sendiri." Ketus Franz.
" Kalau tidak bertanya mana mungkin datang kesini, dia akan mengira kita tidak menawarinya sarapan." Kata Sean, khawatir.
KLAKK.....( Meletakkan sendok dan garpu ke atas piring )
"Sean, kalau makan lebih baik jangan banyak oceh." Ejek Franz pada Sean, jadi dari pada mendengar banyak ocehannya lagi, Franz terpaksa pergi menemui Ovin sambil membawa makanan.
__ADS_1
Walaupun melakukan hal itu seperti sudah bukan dirinya lagi, tapi agar tidak diberikan komentar terus oleh Sean, maka Franz pun terpaksa melakukannya.
" Apwa akwu mwelakwukan kweswalahwan lagwi? " gumam Sean disela-sela mulutnya mengunyah makanannya.