
“VIN!” Franz berteriak seraya mencari keberadaan dari orang barusan ia panggil itu.
Cahaya flash dari handphone nya pun terus di arah ke depan, kiri maupun kanan.
Rumah yang gelap? Untuk jam delapan malam seperti ini, bagi Franz masih terlalu dini untuk mematikan semua penerangan.
Lantas apa yang sebenarnya terjadi?
‘Bahkan ini, bukannya ini biasa digunakan untuk memukul?’ Pikir Franz ketika ia mendapatkan tongkat besi.
Ketika Franz terus berjalan ke arah depan, di situlah, mata Franz tiba-tiba membulat dengan cukup sempurna saat ia melihat ada satu tangan yang menjadi awal posisi Ovin yang rupanya terbaring di depan tangga persis.
Tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi hingga tubuh dari Istrinya itu terbaring di lantai dalam posisi tengkurap, Franz buru-buru berlari menghampiri perempuan tersebut. Meletakkan handphone nya di lantai dengan posisi lampu flash itu diarahkan ke depan, Franz pun segera mengangkat tubuh itu agar berada di atas pangkuannya.
“Vin~ Vin~” Panggil Franz seraya menepuk wajah itu.
Tapi setiap panggilan yang Franz buat, tidak ada satupun reaksi yang terjadi pada wajah yang nampak kalem itu.
“Vin~ Bagun, hei apa yang terjadi? Vin!” Franz yang tidak tahu apapun itu mencoba memeriksa nafasnya dengan mendekatkan telinganya di depan mulut Ovin. ‘Masih bernafas, tapi kenapa dia tidak bangun?’
“Muach..!”
Kecupan basah yang mendarat di pipinya itu sontak membuat Franz menarik kembali kepalanya sambil menyentuh pipi yang dijadikan korban kejahilan Ovin ini.
“Kau! Kalau sadar kenapa tidak bangun dari tadi!” Franz mulai salah tingkah dengan kejahilan yang dilakukan oleh perempuan yang akhirnya sudah membuka matanya dengan sorotan sayu.
“Aku hanya mengambil kesempatan didalam kesempitanku sendiri.” Jawab Ovin. Matanya yang masih terasa berat itu pun akhirnya kembali menutupkan matanya.
“Kesempitan apa, bangun!” Perintah Franz lalu mengembalikan tubuh Ovin ke posisi semula, di letakkan di atas lantai. ‘Padahal aku pikir dia kenapa-kenapa, ternyata dia mempermainkanku. Awas saja, kalau ada yang seperti ini lagi, aku akan membiarkanmu seperti itu saja.’
“Bicara apa kau ini? Aku ngantuk.” Ovin pun dengan begitu santainya, memiringkan tubuhnya ke arah kiri, sehingga dia menghadap ke arah tangga, dan meletakan kaki kanannya di satu anak tangga yang lebih tinggi agar bisa terasa seperti bantal peluk. ‘Aku itu lemas, ngantuk, main suruh bangun saja. Memangnya semudah itu apa?’
“Ya sudah kalau mau tidur di depan tangga.” Franz yang tidak peduli itu, langsung melangkahi tubuh Ovin dan naik ke atas.
Sampai Sean yang masih berada di luar, langsung berlari masuk.
BRAK!
__ADS_1
Franz tentu saja langsung menghentikan langkah kakinya, dan melihat Franz yang sudah masuk tanpa ketukan pintu lagi.
“Bukannya aku sudah memperingatkanmu? Ketuk pintu sebelum masuk kerumah orang!.”
“A-ah …! Aku lupa.” Sean yang tidak mau di marahi seperti itu, dengan tindakan konyolnya pergi keluar, lalu mengetuk pintu.
Tok…Tok…Tok…..
“Selamat malam, aku Sean. Aku masuk ya?” Dan ketukan pintu itu pun membuat Sean kembali masuk dengan senyuman tawarnya.
Franz mengernyitkan matanya lalu memijat pelipisnya dengan tangan kanannya. Dia sungguh merasa sakit kepala dengan keadaannya, sudah setengah mabuk, pulang kerumah tapi rumah dalam kondisi gelap, apa yang terjadi, Ovin yang Franz pikir kenapa-kenapa malah menjahilinya, dan satu orang berisik yaitu Sean, menjadi beban malamnya yang begitu memusingkan.
‘Benar-benar melelahkan. Kenapa semua orang yang ada di sekitarku pada aneh semua? Ibu, Fardan, Chade, Ovin, Sean, Erin.’ Menggertakkan gigi tidak begitu paham kenapa ia dikelilingi oleh orang-orang yang bagi Franz terasa aneh dan menyesakkan pikirannya, Franz dengan tidak pedulinya dengan dua orang yang ada di bawah sana, memutuskan untuk pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
“Hei Franz, itu kenapa mata empat ada di lantai?” Sean yang tidak tahu apapun, berjalan mendekati satu orang perempuan yang masih memakai seragam sekolah, yang kini ada di depan tangga persis, dan anehnya malah tiduran sampai memeluk satu buah anak tangga. “Mata empat, apa ka-”
“Jangan sentuh dan jangan usik dia!” Sela Franz dengan posisi sudah ada di tengah tangga, dan kini sedang menatap sengit Sean yang hendak menghampiri Istrinya.
“T-tapi kenapa? Nanti dia sakit loh?” Tanya Sean tidak paham, dengan jalan pikiran Franz yang tidak memperbolehkannya untuk menghampirinya.
Franz mengalihkan tatapannya pada Istrinya yang terlihat enak tidur di depan tangga persis. “Toh dia juga yang menginginkan ingin tidur di depan tangga.”
TAP…TAP…TAP…..
Hanya dengan separuh kalimat yang terucap oleh Sean, Franz langsung kembali turun dan kembali melangkahi tubuh Istrinya yang sedang memeluk salah satu anak tangga.
“Vin, bangun.” Mengguncang-guncang tubuh Istrinya agar bangun. “Mau pura-pura tuli?” Masih mencoba mengguncang tubuh perempuan itu lagi.
Tapi mau berapa kali mencoba pun, Franz lagi-lagi tidak mendapatkan respon.
“Hei, aku tidak. akan termakan oleh kejahilanmu lagi. Bangun atau aku seret.”
“Franz, masa diseret, dia itu perempuan, masa kamu mau durhaka padanya.”
Perempatan siku di dahi Franz muncul juga setelah mendengar kata durhaka keluar di mulut Sean?
Dia itu orang lain, tapi kenapa malah memperingatkan dirinya yang sudah lebih dulu menikah ketimbang Sean ini?
__ADS_1
“Kau sangat berisik, seperti Ibuku saja.” Ledek Franz dengan sudut mata melihat Sean yang sedang terkekeh.
Sean sedikit mundur ke belakang, ia lumayan takut mendengar dan mengingat ibu nya Franz yang baginya itu sungguh galak seperti nenek lampir itu.
“Jadi kau mau apa, masuk kerumahku lagi? Bukannya kau harus pulang?” Karena dia tidak bisa membangunkan Ovin yang entah memang sedang pura-pura tidur atau sedang mempermainkannya lagi, Franz pun akhirnya membawa tubuh ringan itu ke gendongannya dan langsung memunggungi Sean, karena rok pendek dari seragam yang dipakai oleh Ovin itu sebenarnya sudah tersingkap ke atas, gara-gara ia menggendongnya.
“Aku kan sudah mengantarmu pulang, tapi aku tidak boleh meminjam mobilmu agar aku pulang. Jadi aku tinggal di sini ya? Semalam saja~” Jelas Sean, memberitahu tujuan sampingannya dengan wajah memohon, juga mata penuh harap.
“Boleh saja, tapi syaratnya besok pagi kau harus masak.”
“Ya?” Sean bertanya dengan kepala teleng, karena dia mau menginap pun harus ada syaratnya!
“Akan aku anggap deal.”
“Iya.” Sean menggangguk setuju begitu saja dengan senyuman cerah. Padahal di balik itu ada sesuatu yang menantinya.
“Selama dua minggu.” Seringai Franz, lalu beranjak dari sana dengan naik ke atas.
“A-apa?! Dua minggu?! Kan aku hanya tinggal semalam, kenapa aku jadi pembantumu selama satu minggu!” Pekik Sean tidak terima dengan syarat yang sungguh keterlaluan.
Franz yang perlahan naik satu demi satu anak tangga, berkata lagi : “Ya~ Itu kan konsekuensimu karena apa yang kau lakukan kemarin malam. Anggap saja sebagai tebusan karena kau sudah tahu rahasiaku.”
Dan Franz pun benar-benar meninggalkan Sean yang akhirnya mendapatkan hukumannya juga.
______________
KLEK….
Sesampainya di kamar, Franz pun meletakkan tubuh Ovin di atas tempat tidurnya?!
“He? Kenapa aku justru membawanya ke kamarku?” Karena sempat terusik dengan semua pikiran dari lamunannya, juga karena masalah untuk membuat hukuman untuk Sean, tanpa sadar langkah kakinya itu pun membawa Franz untuk menidurkannya di dalam kamarnya?! ‘Apalagi yang aku lakukan? Tadi cemburu, tapi karena aku kesal dan yang lainnya, aku tanpa sadar jadi membawanya ke dalam kamarku.’
Franz yang hendak membawa kembali Ovin yang sudah di letakkan di tempat tidur, langsung menemui kendala, karena saat Franz menggendongnya, Ovin justru meencengkram selimutnya!
‘Ah! Masa bodoh lah!’ Pekik Franz dalam diam, lalu mengembalikan tubuh Ovin dengan cara di lempar seperti melempar batang pohon yang menghalangi jalannya.
BRUK.
__ADS_1
‘Hee~’ Ovin yang akhirnya mendarat di atas tempat tidurnya Franz, diam-diam tersenyum, karena dia akhirnya tidak jadi pergi dari kamar yang terasa nyaman, karena aroma khas dari tubuh milik suaminya itu sungguh bisa Ovin dapatkan dengan cukup mudah.