Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
124 : PUM : Masak.


__ADS_3

"Iya-iya. Kau memakai pakaian lengkap dengan asetmu." Ledek Chade dengan senyuman jahilnya.


Semakin terpancing dengan mulut kurang ajar milik pamannya itu, kebetulan di sampingnya ada sebuah pisau yang tergeletak, ovin dengan serta merta langsung melemparnya.


SYUHTT.....


Chade yang merasa senang melihat keponakannya kalau marah pasti akan melemparkan barang apapun yang ada di sebelahnya atau bahkan orang itu sendiri, justru hanya diam di tempatnya dengan mata terpejam.


Padahal ada sebuah pisau yang sudah malayang tengah pergi melesat ke arahnya.


"Ovin, ini bahaya loh." Peringat Chade, lalu dengan mudahnya, dia memiringkan tubuhnya ke arah kiri, dan dalam waktu yang cepat itu, pisau yang hampir saja bersarang di kepalanya itu, hanya terbang lewat saja sebelum akhirnya pisau yang di lempar oleh Ovin langsung menancap ke bantal sofa yang letaknya tidak jauh dari tempat ia sedang duduk makan.


JLEB....


"Mana yang lebih bahaya, mulut atau senjata?"


"Senjata,"


"Mulut,"


Dua suara yang terucap secara bersamaan itu membuat Ovin terkejut, karena di belakangnya Chade saat ini, sudah ada Franz yang sedang berdiri dan menatap sengit ke arahnya, karena serangan yang di tunjukkan untuk Chade itu sempat menyerempet ke lengannya Franz.


'D-dia, kenapa tiba-tiba Franz ada di sana? Bukannya tadi dia sedang mandi?' Panik Ovin, sampai air yang sedang di tuang kedalam gelas, sampai meluap dan baru sadar saat kakinya jadi basah karena air yang meluap dari gelasnya itu.


"Kenapa kau datang kesini lagi? Bukannya orang sepertimu banyak pekerjaan, apalagi kuliah?" Tanya ekspresi wajah yang cukup dingin, karena dia kembali lagi di perlihatkan seorang saingannya, yang tanpa tahu malunya, datang menyusup kedalam rumahnya.


Chade menoleh ke belakang dengan ekspresi wajah yang tidak kalah dinginnya dengan Franz itu. "Begitu pedulinya dengan kekasih dari Ovinku yang manis? Aku memang banyak tugas, jika kau mau menyelesaikannya untukku, aku akan memberikanmu imbalan yang layak. " Tawarnya.


Tidak menggubris ucapannya Chade, Franz yang hendak duduk untuk makan makanan yang di masak Sean, tiba-tiba saja langsung mengurungkan niatnya itu.


"Apa kalian berdua yang menghabiskan ini semua?" Tanyanya, Franz sama sekali tidak mendapatkan sisa, karena semua makanan yang ada di meja sudah ludes.


"Siapa yang cepat, dialah yang dapat, itulah aturan dari hukum alam. Yang kuat yang menang, dan yang cepat akan mendapatkannya duluan, jadi kau makan saja itu piring." Cibir Chade sambil mengelus perutnya yang sudah terisi dengan makanan bernutrisi dan sekaligus enak.

__ADS_1


"Vin, aku suruh kau masak sekarang juga." perintah Franz dengan wajah sudah geram, karena makanannya sudah di ambil orang, dan yang melakukannya adalah laki-laki super menyebalkan, yang selalu menempel pada Ovin, sampai berani masuk ke rumah orang seperti ini serta Ovin sendiri.


Rasa jelngkelnya bertambah karena Ovin menyuapi Chade dengan begitu senangnya, sampai yang ada di piringnya sudah di makan semua oleh si perakus itu.


"Apa? Bukannya kau tidak suka dengan masakanku?" tanya Ovin langsung di saat itu juga.


DEG.


Chade tersenyum melihat reaksi wajah Franz yang ketahuan sudah sering menolak makanan yang di masak oleh Ovin.


"Ini perintah sebagai ganti makanan yang sudah kau makan." Tegas Franz dengan mata menatap Ovin cukup tajam.


'Kenapa dia kembali ke sifatnya itu?' Ovin jadi pesimis, melihat Franz yang seperti itu, baik jadi tidak baik. 'Tadi di kamar, seperti kucing, tapi sekarang sudah seperti anj*ing.'


"Ta-"


"Tidak ada tapi-tapi, masak saja," potong Franz sambil mendorong piring kotor yang ada di depannya persis itu ke depan, hingga piring tersebut berbenturan dengan piring yang lain.


'Dia sungguh cemburu, hanya dengan melihatku di suapi oleh Ovin tadi.' Tatap Chade. 'Tapi-'


'Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mereka berdua berpisah. Tapi kendalanya, satu-satunya orang yang wajahnya bisa di lihat selain wajahku oleh Ovin adalah anak ini.


Hanya dengan melihatnya saja, aku tidak tahan dengan anak ini. Dia pasti orang yang tidak suka bertanggung jawab. Franz, awas saja, jika kau membuat Ovinku menangis, ah..aku memang sudah pernah mengucapkan ini, tapi aku sungguh, ingin sekali ******* anak ini hidup-hidup.' Saking kesalnya, tangan kanan Chade yang kebetulan sedang memegang garpu hasil lemparan keponakannya, sekarang sudah melengkung.


Dan bentuknya itu, sudah terlipat seperti capitan, sehingga ujung garpu bertemu dengan ujung garpu lainnya.


'Dua orang ini memang gila, aku tadi hampir saja kena tikam pisau yang di lempar oleh perempuan itu.


Dan sekarang, apa itu? Dia marah kepadaku? Harusnya akulah yang marah, kau mengambil semua makananku dan minta di suap oleh Ovin.' Pikir Franz ketika sudut matanya melihat garpu di tangan Chade sudah sepenuhnya terlipat dengan ekspresi wajah yang sungguh membuat Franz ingin sekali menghajarnya.


Di tengah-tengah Franz dan Cahade saling menatap dengan aura yang bermusuhan, Ovin hanya diam sambil memasak telur goreng.


Setelah masak, dia langsung menghidangkannya di depan Franz.

__ADS_1


"Ini."


"Apa? Kau menyuruhku makan telur goreng saja?" Protes Franz, setelah tatapan tidak suka yang sedang dia berikan kepada Chade menghilang karena ia berharap makanan yang Ovin buat akan jauh lebih enak, tapi kenyataannya, dia di beri telur goreng saja.


Cukup sempurna, karena bentuknya seperti mata sapi dengan kuning telur berada di tengah-tengah.


Tapi siapa yang mau mencoba memakannya, jika yang di sajikan hanya telur goreng!


Kesal karena sudah mau masak lauk untuknya, tapi anak di depannya itu protes, Ovin yang masih berdiri di seberang Franz persis, langsung meletakkan kedua telapak kedua tangannya di atas meja sebagai tumpuan tubuhnya yang sedikit membungkuk ke depan.


BRAK..


Itu sebenarnya tidak sekeras yang sebelumnya, tapi emosi yang sedang di coba untuk di bendung itu tetap terlampiaskan di kedua tangannya yang bisa merusak apapun.


Benar, kedua laki-laki di depannya itu sudah sering melihat kedua tangan kurus itu sebenarnya bisa merusak apapun, piring, baju, garpu dan pisau hampir membunuhnya, bahkan kaca, meja, dinding.


Sekali marah, jika tidak gesit, imbasnya akan lebih fatal dari sekedar orang yang hanya marah dengan suara melengking.


"Aku kan sudah mau memperingatkanmu, kalau bahan di dalam kulkas itu habis, tapi kau sendiri yang menyela, jadi kau harusnya berterima kasih kepadaku.


Aku selama ini sabar, waktu itu aku sering masak pagi dan sore agar kau bisa makan, tapi karena kau terus-terusan mengabaikan makananku, makannya aku memilih untuk tidak memasak untukmu lagi, dari pada mubazir." Jelas Ovin dengan tegas.


Sampai Franz sendiri jadi kehilangan kata-katanya, sebab kesalahan dari alasan Ovin marah adalah karena diri Franz sendiri.


"Pfft~ Rasakan tuh, kena semprot." Bisik Chade, mengejek Franz yang kena marah.


"Aku mendengarnya," sela Ovin saat itu juga.


Chade langsung bungkam.


"Mau makan atau tidak, jika tidak suka biar aku yang makan." Wajahnya yang serius itu menjadi tolak ukur kalau Ovin sedang sensi. Dan sesuai dengan ancamannya itu, Ovin sudah kembali menyentuh piring yang ada telur gorengnya.


"Jangan, aku akan memakannya." Dengan wajah muram, Franz terpaksa memakan telur goreng desain mata sapi hasil karya Istrinya.

__ADS_1


Mungkin itu adalah yang pertama kalinya untuk Franz makan hasil masakannya Ovin secara langsung. Karena selama ini, ia hanya memakan masakannya Ovin secara diam-diam.


__ADS_2