
Malam, selalu dikaitkan dengan kegelapan.
Ya, kenyataannya kalau sudah malam pasti gelap. Tapi tidak dengan tempat ini. Tempat berkumpulnya anak-anak muda atau tuan? Kebanyakan yang datang adalah para remaja dan orang dewasa yang belum genap tiga puluh lima tahunan.
Tempat yang mempunyai aturan sendiri, bahwa yang di perbolehkan masuk adalah orang-orang yang mempunyai umur tidak lebih dari tiga puluh lima tahunan.
Alasannya sangat sederhana sekali, karena si pemilik bar ini tidak begitu mementingkan soal tamu yang datang itu keluarga kaya atau bukan. Asal belum melampaui umur tiga puluh lima tahun, mereka di perbolehkan masuk, sedangkan yang sudah lebih dari itu, tentu saja tidak boleh masuk.
Semuanya demi apa?
Demi menjaga kualitas, yang datang adalah para remaja yang sedang puber atau para orang dewasa yang ingin bersenang-senang.
Kalau tua, tidak akan di terima.
Intinya memang seperti itu.
Lantas kenapa sekarang ceritanya ada di sini?
Itu semua di sebabkan, ada satu orang yang galau, frustasi dan masuk dalam jurang dilema.
TAK ....
Suara keras dari gelas berisi cairan keemasan yang di letakkan di atas meja dengan kasar itu berhasil menyita perhatian Sean tentunya.
''Kenapa aku tiba-tiba di ajak kesini?' Sean celingukan, dia benar-benar tidak salah tempat, bahwa sekarang ia berada di dalam bar yang biasa ia kunjungi.
Tapi tidak seperti dirinya yang masih rutin berkunjung, maka Franz, dia baru-baru ini pensiun. Tapi entah karena gerangan apa yang terjadi, pria dalam berjuta pesona, sampai membuat Sean sendiri juga iri karena punya teman yang cukup mempesona ini, tiba-tiba saja pergi ke tempat ini lagi.
Gudang dari para manusia hidung belang dan banyaknya layanan plus-plus.
Mereka semua tampak bersenang-senang dengan alunan musik yang menggugah tubuh untuk bergoyang heboh. Musik Dj yang cukup keras, dan memekakkan telinga, tidak membuat mereka protes, dan yang ada, justru adalah mereka semua sangat menikmati alunan yang cukup menyita tenaga dan harga diri mereka.
Kenapa menyangkut harga diri?
Karena semua orang yang menari, selalu membuat tubuh mereka bersenggolan satu sama lain, menikmati apa yang namanya saling bersentuhan di tengah-tengah goyangan penuh energik dan sensual itu.
Tapi dari pada melihat kesenangan yang ada di depan sana, yang membuat Sean khawatir adalah Franz sendiri.
Padahal biasanya Franz akan duduk sambil menikmati wine dengan perlahan, dengan di temani beberapa temannya, serta para perempuan yang temannya bawa, maka tidak ada kata suram di wajah itu selain hari ini.
'Lihat saja itu, dia justru memesan vodka, tidak biasanya saja anak ini. Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan yang kemarin ya?' Memikirkan apa yang terjadi kemarin malam, Sean sejujurnya memang merasa takut.
Tapi melihat kenyataan kalau ada hubungan lain di antara kedua orang ini, yaitu Franz juga perempuan yang di anggap sepupu jauh, padahal adalah Istrinya, membuat Sean tersenyum mencibir.
'Aku memang tidak diberitahu soal apapun tentang hubungan anak ini dengan si mata empat. Tapi karena melihat di kalung mereka berdua pakai ada cincin yang sama persis, aku jadi hanya menebaknya kalau mereka berdua punya hubungan lebih itu.' Sean yang akhirnya frustasi karena melihat adegan itu masih saja belum hilang dari kepalanya. 'Asik nih anak, bisa melakukan hubungan badan dengan mata empat setiap hari.'
Walaupun Sean sering datang ke bar, dia sama sekali belum pernah terjun ke dunia ****, makannya ia pun merasa iri dengan anak di sebelahnya itu.
'Tapi kira-kira kenapa dia terlihat menyedihkan seperti itu? Tidak biasanya saja. Dan dia sudah minum berapa gelas itu?' Sean pun memperhatikan terus Franz.
"Tambah lagi." Pinta Franz kepada Sean, karena Sean lah yang memegang botol berisi vodka.
"Kau sudah minum terlalu banyak." Tolak Sean. Dia benar-benar tidak mau melihat anak ini mabuk seperti waktu itu, karena yang susah itu justru Sean sendiri, sebab harus mengantarkan Tuan muda manja ini pulang ke rumah.
"Apa kau tuli? Perintahku harus kau turuti. Tuangkan lagi minumanku." Perintah Franz lagi.
"Tidak, memangnya aku budakmu?"
__ADS_1
"Teman berarti budak," Celetuk Franz saat itu juga.
"Sampai segitunya? Kalau begitu aku semakin menolaknya." Menarik botol berwarna coklat yang sempat ada di atas meja itu lebih dekat dengannya.
Franz yang tidak menerima penolakan itu langsung menggebrak meja dengan kepalan tangan yang bisa dia gunakan untuk meninju.
BRAK...!
Suara keras itu langsung menyita perhatian mereka semua dengan menaruh perhatian pada kedua orang yang ada di depan meja, sedang saling menatap penuh dengan aura saling bermusuhan.
"Tuangkan." Tekan Franz kepada Sean supaya menuangkan kembali minuman yang hendak di sita oleh Sean itu.
Sean yang di landa ketakutan karena melihat kemarahan yang di miliki oleh Franz, kedua tangannya secara otomatis langsung menuangkan cairan emas itu kedalam gelasnya Franz sampai penuh.
Setidaknya agar laki-laki ini tidak lagi protes untuk di tuangkan terus, vodka yang kini sudah tinggal separuh botol saja.
"Apa kau tidak akan pulang kerumah?" Satu pertanyaan yang terlintas di dalam kepalanya itu keluar juga dari mulutnya.
Franz yang baru saja menenggak separuh minumannya itu, langsung diletakkan di atas meja dengan tatapan mata jenaka.
"Untuk apa? Dia kan sedang bersenang-senang dengan si anak baru itu." Jawab Franz, kembali meneguk minumannya, sampai akhirnya tersisa sedikit saja.
"Anak baru yang man-" Satu nama langsung terlintas, yaitu Jerry.
Jerry, dia memang murid baru. Walaupun anehnya itu masuk di semester terakhir.
Dia laki-laki yang banyak di kagumi karena keramahannya, seakan adalah kebalikannya Franz.
Mungkin itu juga yang menjadi peyebab fans miliknya Franz, beberapa diantara berpindah haluan ke Jerry.
Yang Sean mengerti hanyalah, kalau Franz sedang galau karena Istrinya dekat dengan laki-laki lain.
Sean menilik jam dari layar handphone nya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau jam sudah mulai menunjukkan pukul setengah delapan.
Untuk mengantarkan pria separuh mabuk ini pulang, Sean harus berkendara paling tidak dua puluh menit perjalanan, belum pulangnya, Sean sudah memastikan kalau dirinya akan pulang sekitar jam sembilan malam.
'Hah entah abangku mau membuka pintu untukku atau tidak.' Hanya dengan memikirkan pulang kerumah tapi tidak mendapatkan pintu saja, Sean sudah malas pulang. "Kita pulang saja ya?"
"Ha~ Aku mana mau. Pasti tubuhnya punya aroma lak-mphh..!"
Sean langsung membungkam mulut Franz yang lebih ambigu lagi dengan telapak tangannya. 'Karena tidak ada orang yang tahu, pasti hubungan mereka berdua masih di rahasiakan. Tapi mulutnya ini, jika sudah mabuk pasti terlalu jujur. Jangan sampai mulutnya sendiri yang justru membuka rahasianya sendiri tanpa sadar seperti ini.'
"Mphh...!" Protes Franz.
Dari pada menunggu penolakan yang akan terjadi, Sean pun langsung menyeret Franz pergi dari sana.
________________
Di dalam mobil.
"Dia akhirnya tertidur juga. Enak sekali dia, aku jadi seperti supirnya saja." Bahkan sebenarnya lebih dari itu, karena kini dirinya itu sudah seperti budak nya.
"Vin~" Hingga tiba-tiba saja Franz melindur dan memanggil nama Ovin.
'Kenapa bisa?' Pertanyaan paling umum untuk Sean sendiri. 'Padahal dia menyukai Bella, tapi Franz justru punya hubungan dengan mata empat? Apakah karena orang tua nya? Mungkin saja ya kan? Walaupun sudha zaman modern, pernikahan paksa kan tetap saja ada. Contohnya saja aku, aku tidak tahu apa yang abangku lakukan, katanya akan memperkenalkanku dengan Istri masa depan?!'
Hanya dengan memikirkan itu, Sean merasa kepalanya sudah menjadi serabut.
__ADS_1
Nasibnya hampir sama dengan Franz, tapi Sean lebih mujur, karena ia masih bisa memilih. Sedangkan Franz, sama sekali tidak.
Dan sesuai dengan perkiraan waktu yang sudah Sean sempat pikirkan, dalam waktu dua puluh menit itu dia akhirnya sampai di depan rumah besar milik Franz.
Tidak seperti kebanyakan tUan muda yang suka di layani dengan banyak pelayan juga supir, Franz adalah anak manja sebaliknya.
Dia tidak ingin begitu berurusan dengan banyak orang, tapi semua kebutuhan masih di penuhi karena harta dari kedua orang tuanya sendiri, itulah mengapa Franz masih di bilang manja dalam arti yang memang sedikit berbeda.
"Kan, lagi? Aku tidak bisa masuk jika ku tidak membukanya dengan car-" Tidak sesuai dengan dugaannya, pintu gerbang itu secara otomatis terbuka sendiri. "Ada apa ini, apakah ini yang namanya penolakan? Kemarin saja aku harus membukanya secara manual, tapi giliran mobil nya franz yang datang, gerbangnya terbuka sendiri. Ternyata pintu gerbang juga bisa pilih kasih seperti ini ya?"
Karena sudah bisa masuk tanpa harus turun tangan, Sean kembali menancap gas dan memasuki halaman depan.
Sesampainya di depan teras depan rumah, Sean mengguncang tubuh Franz agar anak di sampingnya yang enak tidur itu bangun.
"Franz, bangun, kita sudah sampai."
"Hmm..." Dehem Franz dengan dahi mengernyit. Dia mulai terusik dengan cara Sean membangunkannya.
"Hei, dia ini tidur mati apa? Apa aku harus menamparnya? Eh, jika seperti itu, Ovin bisa-bisa mendelikku dengan tajam." Gumam Sean. Tidak mau mengambil resiko, Sean mengambil botol mineral yang kebetulan masih cukup dingin.
Tanpa babibu lagi, Sean langsung menempelkan punggung botol ke pipinya Franz.
"Hiih..!" Franz langung menepis botol itu dari wajahnya sampai botol itu sendiri terlepas dari tangannya Sean.
"Makannya jangan molor, kita sudah sampai." Kata Sean sebagai sambutan pertama sudah berhasil membangunkan pangeran tidur.
Franz yang awalnya kesal karena tidurnya jadi terganggu, mencoba bersabar. Karena ada cobaan yang lebih sukar dari kejahilan Sean ini.
"Huh~ Jadi kita sudah sampai? Kalau gitu kau bisa pulang sekarang." Jawab Franz.
"Berarti aku bisa pinjam mobilmu don~" Rayu Sean, ingin sekali bisa mengendarai mobil sendiri. Walaupun bukan punya sendiri, setidaknya bisa punya pengalaman.
"Tidak, besok aku naik apa jika mobil ini di bawa kau?" Tanyanya, dengan kondisi kepala sedikit sakit, karena dia memang separuh mabuk.
"Tch, pelit. Padahal di garasi cukup banyak, sampai mata empat saja sepertinya tidak di izinkan olehmu untuk menggunakan mobilmu." Gerutu Sean, sering melihat Ovin berangkat pergi lewat stasiun.
"Itu urusanku, tidak usah ikut campur." Celetuk Franz, mengambil tas nya, dan meminta kunci yang masih ada di tangannya Sean.
"Tuh, makan. Jangan minta tolong aku jika mau mabuk lagi, aku tidak ak-"
"Ya, ya, terserah, kar-" Sama hal nya dengan Franz yang sebenarnya sesaat tadi berhasil menyela ucapannya Sean, ucapannya sendiri pun langsung terpotong saat melihat rumahnya begitu horor.
"Hahaha, kelihatannya kau kena tunggakan listrik ya?" Ledek Sean, melihat rumahnya Franz benar-benar gelap gulita.
"Tidak mungkin, baru juga kemarin." Tidak mau ambil pusing dalam segala prasangka, Franz mengambil handphone dan menyalakan lampu senter untuk menerangi rumah yang ada pada kegelapan itu.
KLEK.
Karena tidak ada listrik maka pintu harus di buka secara manual.
"Pintunya tidak di kunci." Saat masuk, Franz langsung di hadapi dengan suasana yang terasa horor. 'Dia sempat memberiku pesan kalau dia sudah pulang. Tapi masa iya, tidak memberiku kabar kalau listriknya padam. Atau karena dia sudah tidur lebih dulu?'
Franz terus berjalan masuk, sampai tidak sengaja salah satu kakinya menginjak sesuatu.
Setelah di lihat, dia melihat ada tongkat besi tergeletak.
Semakin curiga dengan apa yang ada di dalam rumahnya, Franz akhirnya berteriak.
__ADS_1