
'Dia memang perempuan gila. Ingin melakukannya lebih?' Setelah berhasil bangkit dari atas tubuh Ovin, dia sebenarnya terbesit rasa penasaran.
Mungkin karena sedang masa-masanya pubertas, dia sedikit penasaran, atau banyak?
Intinya di sudut hatinya yang paling dalam, sekaligus disisi paling gelap, dia ingin merasakannya.
Apa itu yang namanya....
Tidur bersama?
'Tunggu-tunggu. Kenapa aku jadi punya pikiran sampai seperti itu?' Franz langsung menggeleng kepalanya dengan cepat untuk menyingkirkan pikiran kotornya?
Namun saat Ovin tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya, Ovin, dimatanya Franz justru terlihat seperti bukan Ovin, melainkan Bella.
Mungkin karena Bella adalah perempuan yang sering menggerai rambutnya, sedangkan Ovin sering mengikat rambutnya jadi satu, dan sekarang karena Ovin saat ini rambutnya di gerai begitu saja, secara otomatis di mata Franz jadi terlihat persis seperti Bella.
"Hahh...kamu ternyata berat." Ovin mengeluhkan tubuh Franz yang berat itu. Tapi karena tulangnya kuat, jadi dia mampu bertahan di bawah tekanan dari tubuh suaminya itu.
Tapi apa yang di dengar di telinga Franz justru adalah kalimat lain dari yang lain, yaitu : "Kamu lama sekali, aku sudah menunggumu."
"Apa?" Franz seketika jadi bingung dengan suara yang masuk kedalam otaknya itu adalah sesuatu yang aneh.
"Hmm?" Ovin bingung sendiri dengan balasan yang dibuat oleh Franz kepadanya. 'Dia kenapa? Kenapa tiba-tiba suasananya berubah jadi aneh? Tapi tatapan matanya itu, seperti orang yang sedang terlena dengan sesuatu. Apakah itu aku?' Pikir Ovin. 'Hanya saja, aku jadi ingin mendapatkan itu lagi dari dia.' Sama seperti apa yang sedang di lakukan oleh Franz kepadanya, Ovin pun terus memandangnya. Dan tatapan matanya itu terfokus kepada bibir Franz yang pernah menciumnya itu.
Karena kebetulan posisinya sedang saling berhadapan, Ovin secara intens jadi mengangkat tangan kanannya dan menyentuh wajah Franz yang terlihat lebih tampan dari biasanya.
Kesan dari wajah seorang laki-laki yang Ovin sukai ini, tentu saja terasa seperti lebih berkesan, apalagi saat wajah itu basah akan air.
Terlihat sangat mempesona.
Itulah yang terlihat di mata Ovin, ketik tangannya saat ini sudah menyentuh wajah itu, wajah dari suami rahasia nya.
"Franz~" Panggil Ovin dengan nada lirih, dan terkesan seperti sedang menggoda untuk membawa suasana di antara mereka berdua, masuk ke dalam jurang kebersamaan.
__ADS_1
Mungkin memang itulah yang sedang di harapkan oleh hati kecilnya, yang tidak menginginkan apa-apa lagi selain bisa terus bersama dengan laki-laki ini.
Karena semua tanggung jawab itu, ada pada pria ini.
"..............." Franz yang namanya tiba-tiba di panggil dengan nada yang begitu lembut, tanpa sadar hatinya jadi tergerak sendiri untuk menikmati sentuhan dari jari tangan yang saat ini sedang mengusap bibirnya.
Sorotan matanya berubah menjadi sendu, tatkala wajah yang Franz lihat memperlihatkna sosok dari wajah Bella yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Bella~" Lirihnya.
Ovin yang sesaat tadi masih bisa memasang ekspresi senang dengan senyuman lembut yang tulus, seketika berubah menjadi datar.
Sentuhan lembut yang dia lakukan kepada bibir Franz yang pernah menciumnya itu pun, dia hentikan.
'Bella ya? Di balik tampangnya yang terlihat pintar, selalu tersembunyi cinta yang membuat semua orang yang pintar sekalipun, bisa di buat untuk jadi bodoh. Aku sadar, aku sendiri juga bodoh, karena menyukai laki-laki ini, padahal dia sendiri menyukai wanita lain. Tapi...karena kamu adalah salah satu wajah dari dua orang yang bisa aku lihat, tentu saja kebodohan ini akan aku tanggung sendiri, yang penting-' Kalimat yang menggantung di udara itu pun menjadi awal menarik dari dua orang yang sudah menjadi sepasang suami isttri itu.
Melihat Franz benar-benar menganggap dirinya sebagai Bella, maka Ovin yang merasa terhina sendiri, memutuskan untuk membalaskan dendamnya.
"...........!" Hingga Franz yang langsung tersadar dari imajinasinya sendiri langsung mengerjapkan matanya. Dan saat dirinya hendak berdiri menjauhi perempuan ini, kedua tangan Ovin langsung melingkar lebih dulu ke belakang lehernya.
BRUKK.....
"Coba rasakan ini, apakah aku ini Bella?" Tanya Ovin lirih sebelum akhirnya dia mencuri ciuman yang pernah di curi oleh Franz waktu itu.
CUP..
'Apa?!' Terkejut Franz saat bibirnya saat ini sudah saling bertautan dengan perempuan yang saat ini sudah menjadi istri sah nya. 'Aku rasa...dia akhir-akhir ini jadi lebih agresif.' Matanya mengernyit saat Ovin benar-benar mampu untuk memimpin sebuah ciuman. 'Menyebalkan. Kenapa aku jadi berciuman dengan perempuan ini lagi? Aku ingin menolaknya, tapi.....tubuh ini, kenapa tidak mau merespon keinginanku?!' Teriak Franz dalam hati.
Bahkan kedua tangannya yang hendak dia gunakan untuk mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Ovin, terus saja gagal ketika tenaga yang diberikan di kedua tangan Ovin yang saat ini masih melingkar ke belakang lehernya, membuat tubuhnya jadi tidak bisa bergerak.
Seolah....
'Apakah dia sedang balas dendam dengan apa yang aku lakukan waktu itu?' Pikir Franz, dimana tatapannya kian menjadi dingin saat melihat wajah Ovin yang saat ini benar-benar ada di depan wajahnya persis, dan bahkan saling menepel satu sama lain, benar-benar menikmati perbuatannya itu. 'Hanya saja, kenapa....bibirnya manis? Apakah indera pengecapku sudah bermasalah?' Imbuhnya di dalam otaknya.
__ADS_1
Franz sama sekali tidak mengerti, kenapa mulutnya jadi merasakan manis dari bibir yang sedang di cium oleh Ovin?
'Masih sama. Aku tidak pernah melupakan saat dia salah menciumku di sekolah. Ini..benar-benar enak? Haishhh....harga diriku serta image ku untuk jadi terlihat polos, hancur sudah. Sudahlah, dari pada memikirkan itu, aku harus merebut kembali ciuman yang pernah di ambil oleh Franz.' Tidak mau memikirkan hal yang lain dulu, Ovin pun benar-benar menikmati perbuatan yang sedang di lakukan kepada pria di atasnya itu.
Tapi...Franz saat itu juga langsung tersadar kembali dalam logika miliknya.
Bahwa perempuan yang saat ini sedang menciumnya, adalah orang yang sudah berhasil mempermainkan hidup dari masa depannya.
Oleh karena itu, saat Ovin hendak merubah posisi ciumannya dan hendak mecium harta miliknya itu, tanpa pikir panjang lagi, Franz langsung memberikan pelajaran kepada Ovin dengan sebuah tamparan.
PLAK.....
Setelah mendapatkan tamparan itu, seketika telinganya jadi berdengung, dan Ovin langsung mematung, sambil perlahan melihat ekspresi Franz yang saat ini sudah menatapnya dengan tatapan penuh jijik.
"Aku akan menganggap ini sudah impas, karena waktu itu aku salah menciummu. Tapi untuk tamparan tadi adalah untuk memperingatkanmu, kalau kamu...ternyata wanita yang lebih menjijikan dari yang aku pikir." Franz memicingkan matanya, dan menatap ovin terus dengan tatapan yang cukup sengit.
Setelah berkata seperti itu, Franz benar-benar berdiri dan menyingkir dari hadapannya Ovin.
'Menjijikan ya?' Ovin langsung mengulas senyuman kecut.
Tubuhnya saat ini masih terbaring di lantai, tatapan matanya menatap langit-langit rumah yang berdominan berwarna putih itu.
Sambil memandangi hal yang tidak berguna itu, pikirannya pun melayang jauh. 'Jika itu yang kamu lihat pada diriku, aku tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting, dirimu itu hanya untuk aku. Mau seberapa keras menolak, akhirnya tidak bisa berpisah denganku.' Pikir Ovin.
Tapi lambat laun, air matanya akhirnya menggenang, sampai air mata yang sudah berusaha dia bendung, tumpah juga.
Sekalipun bibirnya menyiratkan sebuah senyuman, tapi apa jadinya jika itu adalah senyuman getir untuk menertawai dirinya sendiri?
"Hahaha......" Gelak tawa yang awalnya keras, perlahan menghilang, lalu digantikan dengan sebuah gumaman kecil, "Hanya tamparan saja, kenapa aku bisa menangis seperti anak kecil?" Gerutu Ovin.
Demi menghindari wajahnya terlihat, dengan kondisinya yang masih terbaring di tempatnya, Ovin menggunakan lengan kanannya untuk menutupi sepasang matnya yang sudah basah karena menangis dalam diam.
"Hiks...hiks....hiks...."
__ADS_1