
'Kenapa mereka berdua pergi ke mall?' Karena saking penasarannya, Franz terpaksa jadi seorang penguntit.
Dia mengekori kedua anak muda, dimana Jerry membawa Istrinya Franz!
'A-aku sama sekali tidak paham ini. Kenapa aku benar-benar cemburu padanya. Ovin, kau membuatku melakukan hal yang tidak biasanya aku lakukan.' Sayangnya, penyamaran Franz tetap saja mencolok, sekalipun dia sudah memakai Wig, dan berpakaian lusuh.
Cahaya dari aura yang dimiliki oleh Franz sungguh membuat semua orang tetap menyadari keberadaannya yang mencolok.
"Um, apakah kamu artis?" Tanya seorang perempuan yang kini duduk di belakangnya Franz persis, yang kebetulan Franz sendiri memang sedang duduk.
"Ha? Memangnya aku tampangnya seperti artis?" Ketus Franz dengan ekspresi wajah yang sedang menyindir sekaligus merendahkan.
"M-maaf." Karena takut dengan tampang wajah Franz, perempuan tersebut memutuskan untuk menghadap ke depan kembali.
'Disini sama saja, tidak ada tempat aman untukku.’ Karena sudah terasa tidak aman lagi duuk di sana, Franz pun pergi untuk kembali mengekori Ovin dari kejauhan.
Hingga setengah jam kemudian.
“Mall ini terlalu bsar untuk di kunjungi satu persatu.” Beritahu Ovin, tidak terlalu suka jika membuang banyak waktu. “Dan ini juga sudah mulai sore, tapi kamu sama sekali belum menemukan hadiah yang pas.”
“Maaf ya, hadiah yang paling cocok untuk perempuan itu ternyata sangat banyak, aku jadi sampai bingung memilihnya.” Kata Jerry, sangat merasa bersalah karena membuat perempuan yang ia sukai itu rela menemaninya jalan-jalan menyusuri semua toko yang ada, demi membantunya.
“Aku tidak me-” kalimatnya menghilang begitu saja saat ikat rambutnya putus. Sehingga rambut lurus nan panjang miliknya yang tadinya sudah terikat dengan rapi, kembali terurai.
‘Dia ini pura-pura bodoh atau memang bodoh betulan? Dia itu mengajakmu pergi ke mall itu untuk kencan.’ Franz yang baru saja menyelesaikan kalimatnya di dalam kepalanya, langsung membelalakkan matany asaat Jerry sudah memegang rambut panjang milik Istrinya itu!
“Yah, putus.” Rutuk Ovin, yang mana ikat rambutnya sudah tergeletak di lantai.
“Kamu mau beli ikat rambut?” Tawar Jerry.
__ADS_1
“Itu di lantai lima, aku malas pergi kesana lagi.” Tukas Ovin, lalu memberikan masker sekali pakai itu kepada Jerry. “Gunakan itu saja.”
“Ini sangat estetik.” Antara pujian dan sindiran, Ovin tidak peduli soal itu, karena yang dia pedulikan adalah untuk kembali menata rambutnya.
Dengan serta merta, Jerry memutuskan karet yang biasa di gunakan untuk mencantol karet masker itu ke telinga. Setelah di putus, Jerry langsung mengikat ujung karet masker itu jadi satu.
Sudah di bentuk jadi layaknya gelang, Jerry pun membantu merapikan rambutnya Ovin.
Dengan keterampilan tagannya itu, tanpa menggunakan sisir, Jerry mampu membuat kepang susun yang cukup rapi di kepala Ovin, hingga tepat di ujung rambut, Jerry menggunakan karet masker tadi untuk mengikat rambut tersebut.
“Kau masih bisa ya, menata rambut dengan cara seperti ini.” Ovin suka dengan hasilnya, karena jadi merasa enak di sentuh. “Bagaimana jika besok pagi-pagi sekali, kita ketemuan dan kau bantu aku mengepangnya lagi?”
“Tapi jika sering di kepang, rambutnmu akan bergelombang.” Beritahu Jerry. Dia sedikit khawatir karena keindahan dari rambut yang sedang dia pegang itu, akan hilang.
“Apa peduliku? Yang penting rapi, dan aku juga puas.” Jawab Ovin dengan serta merta.
Karena rambutnya masih di tata oleh Jerry, maka Ovin pun sama sekali tidak menyadari kalau wajah Jerry sudah tersipu malu layaknya tomat.
CUP.
“ … “ Di balik tiang penyangga yang cukup besar itu, Franz sudah tidak lagi melihat dua orang itu. Yang ada Franz justru langsung memutar tubuhnya ke arah depan sana, dimana di depannya itu terbentang area kosong yang luas, yang mana hiasan kupu-kupu yang bergelantungan menjulur ke bawah untuk menghias langit-langit mall, menjadi sasaran dari tatapan Franz yang sedang memendam rasa kesal, hingga salah satu tangannya itu mengepal dengan cukup erat.
________________
Malam harinya.
KLEK.
Suara pintu yang terbuka itu membawa Ovin untuk segera masuk kedalam rumah, yang ternyata gelap.
Setelah hampir seharian dia menggunakan tenaga dan pikirannya dengan suasana yang terang, kini semua jadi berbanding terbalik.
__ADS_1
Dan itu karena rumah yang ia tinggali dengan Franz, masih gelap!
‘Kenapa rumahnya gelap? Apa Franz belum pulang?’ Pikir Ovin, dia sempat mencoba memahami situasi yang ada di sekitarnya.
BRAK.
Tiba-tiba saja pintu tertutup rapat, membuat Ovin berada di tengah kegelapan yang hakiki, karena kebetulan di luar sedang hujan, dan petir memang terus menggelegar.
JDERR….
Dan kilatan demi kilatan di susul dengan dentuman petir yang cukup menggelegar menjadi pengisi suasana sepi nan horor itu.
Dan ketika Ovin berbalik, ia melihat adanya sosok tinggi sedang berdiri di depan pintu masuk persis.
‘Aroma ini, bukan aroma milik Franz. Siapa dia?’ Benak hati Ovin. Ketika dia memiliki kendala mengenai matanya yang tidak bisa melihat wajah pria, maka dia pun mengandalkan aroma menciumannya yang tajam.
Memang, matanya yang tidak mampu melihat wajah pria menjadikan itu sebuah kelemahan.
Tapi meskipun begitu, dia tetap memiliki takdir yang adil. Kekurangan di matanya, menjadi sebuah kelebihan untuk aroma penciumannya serta otaknya, yang mampu mengenali semua aroma dengan cukup baik, seakan aroma itu, menjadi identitas tersendiri yang tidak dapat di hilangkan pada si pemilik.
TAP…
Setiap satu langkah itu berhasil di ambil oleh orang tersebut, maka Ovin mengambil satu langkah mundur.
Begitu seterusnya, hingga tepat di sudut tertentu, kilatan yang kembali datang dan di susul dengan petir, berhasil membuat Ovin melihat sosok dari orang yang ada di depannya tersebut.
JDERR…..
“Akhirnya aku menemukanmu.” Seringaian tipisnya itu pun menjadi awal dari suasana yang akan di ciptakan oleh mereka berdua.
__ADS_1