
"Jadi siapa anak pungut ini? " tanya Franz dengan kasar, tatapan matanya menatap sengit Kelvin yang ada di depannya persis itu.
Ovin mengernyitkan matanya, dia tidak suka dengan cara bicara Franz yang kasar kepada anak kecil. "Cara bicaramu itu-"
"Aku tanya, siapa anak yang kau bawa ini? Terus menempel seperti lem saja." Pungkas Franz.
Awalnya Franz dan Chade akan menghampiri Ovin yang sedang duduk berdua dengan Ethan. Tapi karena Ethan ternyata sudah lebih dulu pergi sebelum mereka berdua sampai di tempat mereka berdua duduk, sesampainya di tempat duduk yang di duduki oleh Ovin, ternyata ada anak kecil.
Sayangya anak kecil itu, siapa lagi kalau bukan kelvin, langsung menarik Ovin pergi ke restoran sebelum Franz menanyakan hal yang paling penting.
Maka dari itu, sekarang mereka berempat ada di restoran untuk makan bersama, dan semua piring dalam sekejap sudah bersih lagi karena Ovin dan Kelvin adalah dua orang yang sedang kelaparan. Sampai bagian milik Chade dan Franz pun di makan juga.
Selesai makan, Kelvin pun membalas tatapan matanya Franz, sehingga mereka berdua sama-sama beradu mata, tapi karena tatapan Franz lebih menyakitkan, akhirnya Kelvin yang sudah tidak kuat karena auranya cukup mengintimidasi akhirnya membuatnya kalah, dan ...
"Huwaaaa! Ayah jahat! Aku bukan anak haram! " Seru Kelvin dengan tangisan yang langsung menggelegar mengisi semua sisi di restoran tersebut. "Kenapa Ayah terlihat mau membunuhku? Itu tatapan yang menakutkan! Huwaa...! Ibu...! Ayah jahat!"
Dan karena saat ini Kelvin menangis, semua pengunjung restoran, baik yang sudah duduk lama, maupun yang baru saja datang atau bahkan orang yang tidak sengaja lewat depan restoran, sama-sama melirik ke arah Kelvin sebagai pusat perhatian mereka semua.
"Dari mananya aku ini ayahmu?! " Franz malah ngotot. "Mirip juga tidak, jangan sembarangan kalau bicara." Tegas Franz. 'Anak ini pandai sekali berakting.'
" Huwahh!....ayah tidak mau ngaku aku anaknya! " Teriakannya makin kencang, 'Rasakan, aku akan membuatmu susah, dan di permalukan.' Senyuman Iblisnya pun muncul di dalam hatinya. Ia ingin sekali tertawa, tapi dia tahan karena ia harus memberikan pelajaran kepada Franz yang sudah berani memotong ucapannya dari Kak Ovin.
__ADS_1
Karena itu pula, teriakannya itu semakin menjadi-jadi, sehingga ada beberapa orang menegur.
"Hei kau kan masih muda, jangan berbicara seperti itu pada anak kecil meskipun dia bukan anak kandungmu " peringat orang lain.
"Iya tuh. Lagian, masih muda sudah punya anak saja. Sudah pada kebelet?"
"Huwa...mama, mama, Ayah jahat. Dia tidak mau mengakuiku." Kelvin terus menangis, hingga Kelvin memeluk Ovin, sedangkan Ovin sendiri langsung membalas pelukannya.
"Walaupun bukan anak kandungnya, tidak seperti itu juga kali. Anak kecil yang tidak bersalah, jadi pelampiasannya, ck...wajahnya saja yang tampan, tapi hatinya seperti sampah."
"Sangat busuk. Aku jadi benci melihatnya."
"Dasar, anak muda zaman sekarang. Sudah kebelet ingin punya anak, sampai sebegitunya."
"Shttt..., dari pada membuat alasan, lebih baik tenangkan dia," sambung lagi sang bibi yang pertama menegur Franz itu kepada Franz sebagai pengingat meskipun bukan anaknya sekalipun yang penting anak kecil bisa tenang dan bisa di diamkan tanpa membuatnya menangis.
"Hiks.....hiks, Ibu..., kenapa Ayah seperti itu sih. Kenapa Ibu berhubungan dengan laki-laki yang seperti dia sih?" Dan Kelvin pun terus meracau dalam pelukan nya Ovin.
'Anak ini, pintar sekali ya. Siapa sih Ayahnya, seenaknya meninggalkan anak nakal seperti ini kepada Ovin?' Berkerut-kerut dahi Franz melihat Kelvin, anak kecil yang baru saja menginjak lima tahun setengah itu memeluk tubuh Ovin. 'Dan kenapa juga dia membalas pelukannya. Dia sangat sengaja mempermalukanku, sampai menuduhku Ayah? Hah! Yang benar saja. Kalau saja aku membuat anak dengannya, aku pastikan tidak akan men-'
Hanya saja yang membuat kalimat yang ada di dalam pikirannya Franz terhenti secara tiba-tiba, dia tanpa sengaja jadi membahas membuat anak dengan perempuan yang ada di depannya. Apa mungkin, sebentar lagi dirinya akan jadi Ayah?
__ADS_1
"Kelvin, berhentilah menangis. Masa anak laki-laki tampan sepertimu menangis? Sangat tidak cocok sekali." Beritahu Ovin sambil mengusap kepala Kelvin. 'Akhh...ini memang lembut, keimutan yang tidak bisa aku lihat ini, setidaknya bisa tetap aku rasakan dengan mudah.'
Sebenarnya Ovin sedang girang sendiri karena dia pertama kalinya bisa memeluk anak kecil, dan baru pertama kali juga bisa merasakan keimutan dari tubuh mungil yang sedang memeluknya, itu sungguh perasaan yang hakiki.
Tapi berbanding terbalik dengan apa yang di pikirkan Ovin, Franz justru berpikir sebaliknya.
'jangan-jangan dia memang mau jadi Ibu, makannya dia sudah mulai mecoba memperlakukan anak kecil dengan aura keibuan seperti itu!' Pikir Franz. 'Apa dia tidak berpikir kalau itu terlalu dini?
"Huwaa...Ayah masih menatapku seram begitu! Ibu, aku takut!" Kelvin terus menangisi hal yang sebenarnya tidak perlu di tangisi.
Karena suaranya yang terus berisik, akhirnya mereka kembali menegur Franz yang melamun dengan segala pikirannya itu.
"Hei, apa kau tidak dengar! Dia takut dengan ekspresi wajahmu yang menakutkan! Cepat tenangkan dia!" Marah bibi yang tadi.
"Iya, tenangkan dia tuh! Apa kau sama sekali tidak memiliki perasaan kalau menangis juga bisa lelah!" Salah satu pengunjung yang lain pun sama-sama memberikan peringatan kepada Franz.
"Tunggu apa lagi! Cepat, tenangkan anakmu itu atau keluar dari restoran ini."
'Mereka ini, mulutnya itu ingin sekali aku jahit. Padahal aku sudah bilang, aku bukan Ayahnya, awas saja aku sumpahin kalian semua tersedak.' Kutuk Franz tidak tahan dengan semua teguran itu." Hahh.....Apa yang kau mau? " Tanya Franz, dia akhirnya bangkit sambil mengusap ujung kepala Kelvin.
Merasakan di atas kepalanya tiba-tiba mendapatkan usapan manja dari Franz, Kelvin menghentikan tangisannya. Dia menoleh ke belakang dan berkata, " Gendong,"
__ADS_1
"Apa?!" Terkejut Franz, tiba-tiba minta di gendong?