Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
25 : PUM : Hampir


__ADS_3

BUKH......!


"Apa?" Terkejut pria itu, setelah bogem mentah yang hendak dia berikan kepada Chade, tiba-tiba saja berhenti, karena ada yang menghalanginya.


Tapi tidak seperti yang dipikirkan oleh pria itu, bahwa tinjunya di tahan oleh Chade, ternyata tinjunya di tahan oleh seorang wanita?


Secara Chade dan pria tersebut menoleh kearah samping.


"Jika ada satu pukulan mendarat di wajahnya, aku akan mengusirmu Zick." Peringat Angel. Dialah wanita yang menghadang tinju milik pria yang tadi dia panggil Zick itu.


'Ternyata dia bisa menahan pukulannya. Dia bukan perempuan biasa,' Pikir Ovin saat melihat Angel yang awalnya terlihat seprti perempuan ja*l*ang itu, kini benar-benar seperti orang yang menyamar untuk kebutuhan tertentu.


Dan karena di wilayahnya hampir terjadi keributan, Angel pun jadi turun tangan sendiri untuk menghhentikan pemicu dari keributan itu.


"Kamu sudah sering berbut onar disini. Jika kali ini kamu melakukannya lagi, tidak ada perizinan dariku untuk masuk ke tempatku. Apa kamu paham, Zick?" Kata Angel dengan ekspresi yang dingin. Membuktikan kalau apa yang dikatakannya tadi adalah sungguh-sungguh.


"Tch..." Decih Zick, karena tidak berhasil membawa gadis polos itu bersamanya. Karena itulah, dia pun melepaskan cengkramnnya dari tangannya Ovin.


Sedangkan tangan kiri Ovin yang masih di cengkram oleh tangan kanan Chade, masih tertahan.


Chade melakukannya, agar Ovin menahan keinginannya untuk memukul tadi. Karena itu, kedua tangan itu pun sebenarnya sudah bersitegang satu sama lain.


'Jaga identitasmu. Jangan terihat sok kuat di depan mereka, atau kamu akan mendapat banyak perhatian banyak orang.'


Itulah yang dikatakan Chade, pamannya kepada Ovin lewat tatapan matanya.


'Huhh.....' Tangan kiri Ovin yang sebenarnya sudah mengepal erat itu pun dia lepaskan. 'Hampir saja.' batin Ovin, merasa lega karena Chade mampu menahan kekuatannya.


Melihat Ovin sudah tidak lagi mengepalkan tangannya untuk membuat bogem mentah, Chade pun sama-sama melepaskan cengkraman tangannya?


Tidak.


"Ayo kita pulang," Kata Chade. Dia langsung menarik Ovin dan membawanya pergi dari sana meninggalkan mereka semua, termasuk Sean.

__ADS_1


______


"Apa yang kamu lakukan tadi? Itu hampir saja, apa kamu mengerti?" Ucap Chade, mulai mengomeli keponakannya itu.


"Ini bukankah karena salahmu sendiri, kenapa memprovokasiku seakan aku adalah pacarmu?" Gerutu Ovin, tidak suka dengan cara pamannya memperlakukannya untuk memprovokasi orang lain, dengan saling memperebutkan dirinya.


"..............." Chade terdiam sejenak, lalu menjawab, "Hanya suka,"


"...............?" Ovin menaikkan salah satu alisnya.


"Aku suka melihat ekspresi mereka. Pasti banyak yang membullymu di sekolah kan? Karena kamu menyamarkan asal sekolahmu, jadi banyak yang tidak menyukaimu seakan kamu berasal dari kalangan orang miskin."


"Tapi aku memang berasal dari kalangan orang miskin," Pungkas Ovin.


Chade melirik kearah keponakannya itu. "Dan melihat mereka mengira kamu mendapatkan pacar kaya, aku sangat senang dengan ekspresinya itu. Ekspresi terkejut mereka sangat menyenangkan." Chade tersenyum tipis, karena dia sudah melakukannya berkali-kali di depan orang, seperti Sean tadi. Chade sudah tahu siapa Sean, maka dari itu, dia sengaja membuat drama dengannya.


Namun mendengar keponakannya mengatakan kalau dia berasal dari rakyat miski, hal itu ternyata membuat hatinya sedikit sakit.


Ovin sebenarnya bukan berasal dari rakyat biasa.


Karena itulah, Ovin yang terlahir dari hubungan kedua orang itu, dan tidak pernah memperkenalkannya kepada keluarga besar dari pihak Ibunya Ovin, membuat Ovin seperti memang benar-benar dari keluarga miskin.


Padahal tidak.


Semua itu salah besar. Karena sebenarnya Ovin adalah cucu pertama dari keluarga Albeson.


"Tapi bukankah sekarang sudah jadi kaya? Apalagi sudah menjadi bagian dari keluarganya anak itu," Yang dimaksud Chade tentu saja adalah Franz.


"Hmm....." Rungut Ovin, karena malam ini adalah malam yang cukup buruk. Tidak ada hal yang menyenangkan sama sekali. Sebab beberapa saat tadi, hampir terjadi keributan besar karena dirinya. 'Kalau tahu seperti ini, lebih daik dirumah saja. Ini sangat membuang waktuku.' Benak hati Ovin.


Dia benar-benar menyayangkan waktunya karena melakukan hal yang kurang berguna.


Jika saja dirinya tidak pergi, dia akan berduaan dengan Franz di rumah. Walaupun akan diluar ekspektasinya, sebab Franz selalu menghindarinya, itu lebih baik, karena bisa bersama dengan suaminya?

__ADS_1


Memikirkan hal itu, membuat Ovin mengulas senyum simpul. Dia langsung menepis tangan pamannya dari atas kepalannya.


"Jadi bagaimana dengan tujuannya?" tanya Ovin kepada Chade, membahas tujuan sebenarnya dari pamannya itu adalah untuk mendapatkan informasi tentang kalung yang hilang, dan secarra kebetulan pernah di lelang di tempat pelelangan.


"Sudah ada yang membelinya. Dia adalah siswi di sekolahmu." Jawab Chade, seraya menghidupkan mesin mobilnya.


'Hmm......siapa?' Rasa penasaran itu muncul karena pamannya tidak mau memberikan identitas siswi itu kepadanya. 'Yah...sekalipun mau menyembunyikannya dariku, sebenarnya aku pun bisa mencarinya sendiri.' pikir Ovin.


BRRMMM.........


Mobil yang membawa kedua orang itu pun akhirnya pergi meninggalkan Bar tersebut.


Dan Sean?


".................." Dia memandangi kepergian dari mobil yang membawa satu orang yang Sean kenal itu. 'Ini pasti akan jadi berita menarik untuk Franz. Kalau orang yang biasanya di bully itu diam-diam pergi ke bar dengan seorang pria.' Sean pun tersenyum penuh kemenangan.


Dia punya berita bagus untuk dia bagikan kepada Tuan muda Franz itu.


Walaupun Sean tahu, Franz pernah salah cium, karena salah sasaran, dan membuat Tuan muda terkenal itu mencium Ovin, tapi melihat reaksi akan ekspresi wajah Franz saat mengutarkan kebenciannya terhadap gadis itu, justru membuat Sean semakin tertarik untuk berbagi cerita kepadanya.


Dia ingin tahu apakah setelah insiden salah cium itu akan berefek pada hati?


Karena hati orang selalu tidak mudah di tebak, dan suka berubah seiring waktu berlalu.


'Memang cukup mengejutkan, si mata empat itu punnya cara bicara yang diluar akalku sendiri, tapi kira-kira sebenarnya siapa laki-laki itu? Dia langsung membawanya begitu saja, aku jadi kawatir dia di apa-apakan oleh laki-laki itu.' TIba-tiba hati nuraninya tiba-tiba datang entah dari mana, bisa-bisanya bersimpati lagi kepada Ovin.


Tapi karena Sean merasa Ovin adalah salah satu dari sekolah yang sama juga, maka dia pun pergi mengikuti mobil yang dikendarai oleh Chade, untuk memastikan keadaan Ovin baik-baik saja, dan tidak melakukan hal apapun dengan pria tersebut, yang menurut Sean itu cukuplah misterius.


Sean langsung merentangkan tangannya untuk memberhentikan taxi.


"Pak...kita ikuti mobil biru itu." Perintah Sean kepada supir Taxi, agar mengikuti kemanapun mobil berwarna biru itu pergi.


"Baik," jawabnya.

__ADS_1


Setelah itu, Sean pun melakukan misi pengintaian pada dua orang itu.


__ADS_2