Rahasia Hati Seorang Lesbi

Rahasia Hati Seorang Lesbi
Minggu Ketiga


__ADS_3

Pagi ini Nadya bangun lebih awal, Ia menyiapkan sarapan sambil menunggu Bintang bangun tidur. Tak lama kemudian, Bintang pun terbangun dan segera menuju kamar mandi.


"Ayo sarapan, aku udah menyiapkan bubur kacang hijau dan ketan hitam kesukaan kamu.." ajak Nadya sambil tersenyum, saat melihat Bintang telah keluar dari kamar mandi.


Bintang hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, suasana hening seketika. Mereka sibuk menyantap sarapannya masing-masing, sambil sesekali Bintang menatap tajam ke arah Nadya.


"Setelah sarapan, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.." ujar Bintang tiba-tiba yang langsung membuat Nadya melirik padanya.


Ada perasaan cemas yang di rasakan oleh Nadya, menghadapi sikap Bintang yang pagi ini terlihat berbeda. Hingga saat mereka telah selesai sarapan, Bintang masih menatapnya dengan tajam.


"Aku mau kamu jawab dengan jujur, aku gak akan marah. Apapun jawaban kamu, jangan ada yang di sembunyikan.." ucap Bintang sambil tersenyum, Ia tidak ingin membuat Nadya merasa tertekan atau menutupi apapun.


"Apa kamu masih berhubungan dengan, Winda..?" tanya Bintang.


"Ayo jawab, jangan diam aja. Aku gak apa-apa, gak akan marah kok.." jelas Bintang yang melihat Nadya hanya tertunduk diam.


"Iyaa aku masih berhubungan dengan Winda, aku gak bisa menghilangkan perasaan aku ke dia. Kita temanan atau adik kakak aja yaa, dan jangan panggil aku sayang lagi. Aku benar-benar minta maaf.." ujar Nadya sambil tertunduk.


Deegg...


Rasa sesak langsung memenuhi dada Bintang, dengan rasa sakit dan kecewa yang hadir bersamaan. Bintang tidak percaya dengan apa yang barusan Ia dengar, meski sebelumnya Ia bisa merasakan semua ini akan terjadi tapi tidak secepat ini.


"Terimakasih yaa, kamu udah jujur. Aku lega sekarang, dan tau apa yang harus aku lakukan.." ucap Bintang dengan perlahan.

__ADS_1


"Iyaa sama-sama, tapi kamu jangan marah yaa.." seru Nadya.


"Kamu tenang aja, aku gak apa-apa dan aku juga gak marah kok.." sahut Bintang yang tersenyum menatap Nadya.


"Ohh iyaa, kapan-kapan kamu mau kan temenin aku menemui Winda ke kotanya..?" tanya Nadya tanpa rasa bersalah.


Bintang terdiam mendengar itu, sambil merasakan terkejut dalam hatinya.


"Nih orang gak punya hati atau gimana yaa, baru aja mutusin aku. Sekarang minta aku buat nemenin dia ketemu selingkuhannya, dasar. Sabar,, sabar..." gumam Bintang dalam hati.


"Maaf yaa, aku gak bisa. Kamu temui aja sendiri, aku mau mandi dulu terus berangkat kerja.." ujar Bintang sambil bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Bintang menjatuhkan air matanya yang sejak tadi Ia tahan. Bintang sangat ingin marah, tapi Ia pikir buat apa. Itu tidak akan merubah apapun, Nadya tetap sudah tidak menginginkannya. Saat ini Bintang merasa sendiri, terbuang dan di campakkan.


"Aku jauh-jauh ke sini karena berharap, hatiku bisa lebih tenang sudah jauh dari Fida. Tapi ternyata apa, yaa Tuhan.." ujar Bintang yang kini terduduk sambil menangis tersedu-sedu.


Beberapa hari berlalu sejak kejadian pagi itu, sejak itu pula kondisi Bintang mulai memburuk. Ia kurang makan, minum dan juga tidur, hingga mengalami dehidrasi dan infeksi saluran kemih yang mengharuskannya untuk segera ke dokter.


Beratnya beban pikiran membuatnya kehilangan ***** makan dan merasa mual, apapun yang masuk ke mulutnya pasti akan keluar. Namun begitu, Bintang tetap memaksakan diri untuk bekerja meski selama itu air matanya terus saja ingin menetes.


"Kamu yang sabar yaa, Bin.." seru Ika yang sedikit tau tentang masalah Bintang yang membuatnya sedih, tanpa tau hubungan seperti apa yang sedang Bintang jalani.


"Orang-orang di kota M memang kebanyakan gitu Bin, mereka suka mendua.." ujar Ika pada Bintang yang kini menatapnya dengan heran.

__ADS_1


"Masa sih Kak..? Tapi Kakak juga kan asli dari kota M, berarti Kakak suka mendua dong.." sahut Bintang.


"Kalau Kakak gak kok Bin,hehee.. Yaa udah, kamu jangan sedih dan nangis lagi.." bujuk Ika.


"Iyaa Kak, tapi gimana air matanya pengen jatuh terus,hehee.." ucap Bintang sambil mencoba untuk tersenyum.


"Pokoknya jangan sedih terus, lihatlah kamu sekarang semakin kurus.." seru Ika sambil memperhatikan tubuh Bintang.


"Iyaa nih Kak, kebanyakan makan hati,hahaa.." sahut Bintang seraya tertawa kecil.


"Makanya banyak makan nasi.." balas Ika dan keduanya pun tertawa.


~**********~


Di sore harinya, saat waktu pulang telah tiba semua karyawan produksi mulai keluar ruangan satu persatu. Namun tidak dengan Bintang yang masih berada di toko penjualan yang berada di depan, Ia mengambil sesuatu dan segera menuju meja kasir.


"Kak Fa,, aku beli ini satu yaa.." seru Bintang sambil menyerahkan selembar uang kertas pada Fatin, Ia termasuk karyawan lama di bagian kasir.


"Beli pisau untuk apa Bin..? Jangan buat bunuh diri lho yaa,hee.." ledek Fatin pada Bintang seraya tersenyum.


"Gak kok Kak, cuma buat potong-potong aja.." sahut Bintang yang membalas senyuman Fatin.


Setelah selesai, Bintang pun bergegas untuk pulang bersama Ika yang telah menunggunya.

__ADS_1


Bersambung...


🙏😊 A59


__ADS_2