
Beberapa jam telah berlalu sejak kepergian Bintang, hari sudah mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa malam akan datang. Gia yang seharian itu tidak mendapat kabar dari Bintang, mencoba menghubunginya tapi tetap saja tidak bisa. Hingga akhirnya Ia memutuskan untuk datang ke rumah Bintang, serta meminta penjelasan karena memutuskan hubungan mereka dengan tiba-tiba.
Tokk,,tokk,,tokkk..
"Assalamu'alaikum.." seru Gia dengan perasaan cemas.
Tak berselang lama, pintu pun terbuka.
"Wa'alaikumsalam.. Ehh, Nak Gia.. Ayo silahkan masuk..!" ajak Ibu sambil tersenyum.
"Bintang nya ada kan, Bu..?" tanya Gia yang sudah tidak sabar bertemu dengan kekasih yang sangat Ia rindukan itu.
"Loh,, memang Bintang tidak memberitahu Nak Gia, kalau tadi siang Bintang berangkat ke Bandara untuk ke Kota T..?" seru Ibu yang kini balik bertanya.
"Apa ?! Bintang pergi ke kota T, Ibu serius ??" tanya Gia lagi yang merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Ibu serius Nak Gia, Ibu pikir kamu sudah tau.." ujar Ibu yang kini merasa bingung melihat reaksi Gia.
Mendengar itu sontak membuat Gia langsung menangis histeris, Ia tak bisa lagi membendung kesedihan dan air matanya. Tak lama kemudian, Gia pun jatuh pingsan mungkin juga di karenakan dua hari ini Gia tidak ada kemasukan makanan.
Ibu yang merasa panik langsung memanggil Ayah, lalu mereka membawa Gia ke rumah sakit terdekat.
"Bagaimana kondisi adik saya, Dok..?" tanya Tika yang telah tiba di RS, setelah mendapat kabar dari orang tua Bintang.
"Tidak ada yang perlu di cemaskan dengan kondisinya, tubuhnya hanya lemas dan kelihatannya adik Anda mengalami stres karena mungkin beban pikiran.." jelas dokter yang menangani Gia.
"Jika nanti sudah sadar, adik Anda bisa di bawa pulang. Jadi tidak perlu di rawat inap.." sambung dokter.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, terimakasih dok..!" seru Tika.
"Sama-sama, kalau begitu saya tinggal dulu. Permisi.." ujar dokter sambil meninggalkan mereka, yang kini tengah menatap Gia yang masih belum siuman.
"Pak, Bu,, terimakasih sudah membawa adik saya ke rumah sakit, maaf sudah merepotkan Ibu dan Bapak.." ucap Tika yang merasa bersalah atas apa yang sudah Ia perbuat.
"Sama-sama Nak Tika, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong menolong. Lagi pula Gia sudah kami anggap seperti anak kami sendiri, yaa kan Ayah.." seru Ibu dengan senyuman, sambil menatap Ayah.
"Iyaa itu benar Nak Tika.." sahut Ayah menimpali.
"Ohh, iyaa Bu, Bintang kemana dari tadi saya tidak melihatnya ?" tanya Tika yang baru menyadari bahwa Bintang tidak ada di tempat itu.
"Bintang pergi ke kota T, tadi siang dia berangkat ke Bandara. Katanya ingin mencari pekerjaan di sana, Nak Tika.."
Jelas Ibu yang kembali merasa sedih, karena teringat pada putri kesayangannya itu yang kini telah berada jauh darinya.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu yaa Nak Tika, sampaikan salam kami pada Nak Gia jika nanti dia sudah sadar.." ucap Ayah pada Tika.
"Iyaa Pak, Bu.. Nanti akan saya sampaikan, sekali lagi terimakasih.." sahut Tika pada keduanya yang kini telah meninggalkan dirinya dan Gia di ruangan itu.
"Maafin Kakak yaa Gia.." gumam Tika dalam hati, sambil menggenggam erat tangan Gia.
Beberapa jam berlalu, Gia pun telah sadar kembali dan meminta pada kakaknya untuk segera pulang. Tika hanya menurutinya, tanpa banyak berkata apapun. Di sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Setibanya di rumah, Tika berniat untuk memapah Gia yang terlihat masih lemah. Tapi Gia menolaknya dengan kasar.
"Aku bisa jalan sendiri..!" ucap Gia seraya menghempaskan tangan Tika dengan kasar.
__ADS_1
Tika yang merasa kaget dengan sikap kasar adiknya, hanya bisa diam dan menerima. Ia sadar dan tau benar, alasan mengapa Gia bersikap seperti itu padanya.
~**********~
Esok paginya..
Tika yang telah selesai membuatkan sarapan untuk adiknya, kini bergegas masuk ke kamar Gia. Terlihat Gia yang masih tertidur, Tika pun tidak ingin membangunkannya. Lalu Ia segera keluar dari kamar Gia, dan memilih untuk sarapan duluan.
Gia yang mendengar suara pintu tertutup, akhirnya terbangun dari tidurnya. Dengan sangat berat, Ia berusaha membuka mata. Terlihat matanya yang bengkak dan sembab, karena menangis semalaman.
"Gia,, apa kamu sudah bangun ?" ucap Tika sambil membuka pintu kamar Gia.
Namun alangkah terkejutnya, saat Ia masuk dan melihat Gia sedang melukai tangannya dengan gunting.
"Hentikan Giaa..!!" bentak Tika yang langsung merampas gunting dari tangan Gia.
"Yaa Tuhan,, apa yang sudah kamu lakukan Gia.!" seru Tika sembari membalut tangan Gia yang terluka dengan selimut.
"Bukan urusanmu, pergi..!!" bentak Gia dengan kasar.
"Sadar Gia..!! Jangan seperti ini, maafin Kakak.." ucap Tika sambil memeluk erat Gia yang kini tengah menangis tersedu-sedu.
Tika yang tidak ingin Gia kenapa-kenapa langsung membawanya ke dokter, beruntung perbuatan nekad Gia yang mencoba untuk bunuh diri di ketahui dan di gagalkan oleh Tika. Karena luka yang di sebabkan oleh tusukan gunting yang Gia gunakan, tidak ada yang sampai mengenai urat nadinya.
Bersambung...
Terimakasih untuk pembaca setia "RHSL" jangan bosan untuk terus memberi dukungannya yaa, biar Author tetap semangat.. 🙏😉 A59..
__ADS_1