
Selesai makan siang, Bintang dan Alya duduk bersama sambil bercerita. Bintang mendengarkan cerita Alya tentang pacarnya dengan seksama, membuatnya lupa dengan kesedihan yang Ia rasakan terhadap Fida.
"Sekarang gantian Mbak Bintang yang cerita yaa.." ujar Alya sambil tersenyum.
"Cerita apa yaa, aku gak punya cerita apa-apa, Al.." sahut Bintang.
"Masa sih Mbak gak punya cerita apa-apa, cerita pacar Mbak Bintang gitu,hehee.." ucap Alya meledek.
"Kan aku gak punya pacar Al, lupa yaa.." balas Bintang.
"Gak percaya aku, masa seorang Mbak Bintang gak punya pacar.." sahut Alya. "Ohh yaa Mbak, aku pengen ngomong sesuatu.." ucap Alya yang terlihat ragu-ragu.
"Iyaa Al, ngomong aja.." balas Bintang.
"Walaupun Mbak Bintang ini cewek, tapi aku ngerasa nyaman kalau dekat Mbak,hee.." ucap Alya yang dengan tersenyum.
"Hahh..? Ohh iyaa Al, aku tau kok.." balas Bintang.
"Memang Mbak tau dari mana..?" tanya Alya yang merasa heran.
"Iyaa tau, kan barusan kamu bilang,hehee.." jawab Bintang sambil tertawa terkekeh-kekeh.
__ADS_1
"Mbak Bintang ini, kirain tau dari mana. Tapi beneran lho, aku itu nyaman dan senang rasanya kalau sama Mbak. Apa lagi selama ini, Mbak mau denger cerita aku dan kasi pendapat ke aku tentang masalah yang aku hadapi. Terimakasih yaa, Mbak.."
Ucap Alya dengan tulus, sambil mengukir senyum manisnya. Alya merasa senang bisa mengenal Bintang, sehingga Ia mempunyai tempat untuk bercerita. Sekalipun selama ini, Bintang tidak pernah mau cerita tentang kehidupannya.
"Sama-sama yaa Al, syukurlah kalau kamu merasa nyaman dan senang. Aku juga senang kok, kamu mau percaya dan banyak cerita sama aku.." balas Bintang.
"Ohh yaa, besok libur kerja Mbak mau kemana..? Mau jalan-jalan yaa,hee.." tanya Alya sambil menebaknya.
"Tidur ajalah yaa,hee.. Aku gak suka jalan-jalan Al, mungkin mau beresin kost-an dan cuci pakaian.." jawab Bintang. "Kalau kamu pasti jalan-jalan, pacaran terus mojok. Yaa kan, Al..?!" ucap Bintang sambil tertawa kecil.
"Gak tau juga yaa Mbak, bisa jadi iyaa,hee.." ujar Alya yang merasa malu sendiri dengan jawabannya.
"Teman Mbak yang satu kost-an itu, udah kerja belum Mbak..?" tanya Alya tiba-tiba, Ia juga mengenal Fida karena dulu Bintang pernah membawanya ke butik.
Karena sudah beberapa kali Fida mencoba bekerja, tapi hanya bertahan beberapa hari saja. Sikapnya yang kini keras kepala dan susah di atur, membuatnya jadi sulit di terima oleh orang-orang di tempatnya bekerja.
~************~
Waktu terus berlalu, Bintang baru saja sampai di kost-annya. Seperti biasa, Ia di sambut dengan sikap kasar Fida yang membuat Bintang merasa semakin lelah. Ia pun segera masuk ke kamar mandi, dan membersihkan diri. Tak jarang Bintang sengaja berlama-lama di kamar mandi, hanya untuk bisa menangis tanpa di ketahui oleh Fida.
"Mana handphone kamu, bawa sini..! Aku mau lihat..!" seru Fida sambil mencari ponsel milik Bintang.
__ADS_1
"Memang mau buat apa..? Handphone aku mati, karena baterainya habis.." sahut Bintang yang sudah menduga, bahwa Fida ingin memeriksa ponselnya.
"Aku gak peduli, pokoknya bawa sini..!" bentak Fida seraya merebut ponsel milik Bintang, mereka pun saling tarik-menarik hingga membuat layar ponsel itu akhirnya retak. Melihat hal itu, Fida segera melepaskan tangannya.
"Puas kamu sekarang..!" teriak Bintang sambil berusaha untuk tetap bisa tenang dan bersabar.
"Aku gak puas..! Aku tau kamu lagi dekat dengan seorang cewek, iyaa kan..?!" seru Fida yang terbakar api cemburu, karena pernah melihat ada panggilan masuk dari seorang perempuan di handphone Bintang. Ia langsung mengira, bahwa itu adalah pacar baru Bintang.
"Aku mau dekat dengan siapapun, itu bukan urusan kamu. Karena selama ini juga, aku gak pernah melarang kamu untuk dekat perempuan dan laki-laki manapun.." ucap Bintang sambil tersenyum sinis.
Fida yang mendengar itu, langsung membuatnya semakin marah. Lalu membanting sebuah gelas dengan keras, hingga pecahan gelas itu mengenai kaki Bintang. Meski selama ini Ia bersikap kasar pada Bintang, tapi Ia juga tidak rela, kalau Bintang dekat dengan perempuan lain.
"Hahh,, maafin aku, Bin.. Tadi aku...." ucap Fida lirih sambil mendekati Bintang, saat Ia melihat ada darah mengalir dari betis Bintang.
"Jangan sentuh aku, aku bisa urus ini sendiri.." ujar Bintang yang tanpa sadar telah meneteskan air matanya.
Deegg...
Hati Fida terasa sangat sakit, mendengar apa yang barusan Bintang katakan. Seolah-olah dirinya begitu jauh dari Bintang, Ia pun ikut menangis dan melayangkan tinjunya ke dinding. Hingga membuat jemarinya terlihat membiru, tapi Ia sama sekali tidak peduli itu.
Selesai mengobati lukanya, Bintang pun segera pergi tanpa menghiraukan panggilan dari Fida. Ia ingin pergi ke tempat yang sepi, untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59