
Bintang yang telah di terima kerja di sebuah pabrik sepatu di kota T, langsung memberitahukan kabar gembira itu pada Ibu dan Ayahnya melalui sambungan telepon.
**Bintang: "Assalamu'alaikum, Bu.."
Ibu: " Wa'alaikumsalam, Nak.. Bagaimana keadaan kamu dan Paman, sehat ?"
Bintang: "Alhamdulillah Bintang dan Paman Han sehat Bu, bagaimana dengan Ibu dan Ayah ?"
Ibu: "Syukurlah, Ibu dan Ayah juga sehat.."
Bintang: "Bu,, Bintang sudah di terima kerja di sebuah pabrik sepatu, sebagai pengawas di bagian produksi. Hari Senin nanti, Bintang sudah bisa mulai masuk kerja.."
Ibu: "Syukur alhamdullilah kalau begitu Bin, Ibu dan Ayah ikut senang. Baik-baik di sana yaa Nak, hati-hati nanti kalau bekerja.."
Bintang: "Iyaa Bu, Bintang pasti akan ingat semua pesan dari Ibu.."
Ibu: "Baguslah kalau begitu, maaf yaa Bin.. Ibu tidak bisa lama-lama teleponnya, karena Kak Tya menitipkan Rahma pada Ibu.."
Bintang: "Memang Kak Tya kemana, Bu..?"
Ibu: "Kak Tya sedang ada urusan, tapi sebentar lagi juga pulang.."
Bintang: "Ohh begitu, yaa sudah Bu tidak apa-apa. Lain waktu Bintang telepon Ibu lagi.."
__ADS_1
Ibu: "Iyaa Bin, jaga kesehatan kamu yaa, Nak.. Wassalamu'alaikum.."
Bintang: "Iyaa Bu, wa'alaikumsalam**.."
"Sudah teleponnya, Bin?" tanya Paman yang berada di samping Bintang.
"Iyaa sudah Paman.." jawab Bintang.
"Terimakasih yaa Paman, karena Paman sudah membantu Bintang untuk bisa mendapatkan pekerjaan.." ucap Bintang dengan senyuman di wajahnya.
"Iyaa Bin, sama-sama. Itu juga berkat do'a dari Ibu dan Ayah kamu.." balas Paman Han yang juga tersenyum.
"Lalu kapan kamu mulai masuk kerja ?" tanya Paman.
"Nanti baik-baik kerjanya yaa Bin, jangan kecewakan Paman. Karena Manager di pabrik itu juga teman dekat Paman, dia banyak membantu Paman selama Paman tinggal di sini.." jelas paman pada Bintang.
"Baik Paman, Bintang akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan Paman.." seru Bintang dengan semangat.
"Baguslah kalau begitu, Paman senang mendengarnya.." ucap Paman.
"Ohh yaa Paman, ada sesuatu yang mau Bintang bicarakan sama Paman.." ujar Bintang.
"Soal apa itu Bin ? Coba kamu katakan.." balas Paman dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Bintang mau cari kost-an yang dekat jaraknya dengan pabrik, Bintang juga tidak mau terus-terusan merepotkan Paman di sini.."
Jelas Bintang yang merasa tidak nyaman, kalau harus tinggal berdua dengan Pamannya yang masih bujangan itu. Meskipun selama Bintang tinggal di situ, Paman selalu meminta tolong pada tetangga sebelahnya seorang wanita, untuk menemani Bintang tidur di kamar.
"Tidak apa-apa Bin, Paman bisa mengerti kok. Terus kapan rencananya kamu mau mencari kost an ?" tanya Paman pada Bintang.
"Rencananya mulai besok Paman, hari Sabtu dan Minggu. Jadi sebelum hari Senin, Bintang sudah bisa mendapatkan kost-an nya.." jelas Bintang.
"Itu lebih baik Bin, semoga nanti kamu bisa mendapatkan kost-an yang cocok yaa.. Kalau perlu, nanti Paman bantu mencarikannya.." sahut Paman.
"Iyaa Paman, terimakasih.."
"Bintang mau ke kamar dulu yaa Paman.." ujar Bintang sambil berjalan menuju kamar.
"Iyaa Bin, nanti kalau lapar makan lagi yaa.." ucap Paman yang melihat ponakannya itu selama tinggal bersamanya, makannya sangat sedikit sekali.
"Iyaa Paman.." sahut Bintang saat akan menutup pintu kamar.
Bintang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil melihat ponselnya yang begitu banyak dengan pesan dan panggilan tak terjawab dari Gia. Bintang masih menahan diri sekuat hati, untuk tidak membalas pesan dan menghubungi gia.
Bintang ingin membuat Gia untuk bisa membencinya, dari pada harus berharap padanya itu pasti akan membuat Gia merasa lebih sakit lagi nantinya. Meskipun dalam hati, Bintang masih sangat mencintai dan merindukan Gia..
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59