
Waktu terus berlalu, hubungan Bintang dan Gia kini semakin dekat. Gia juga berencana untuk datang berkunjung ke rumah Bintang, hal ini membuat Bintang sangat senang.
"Kamu teleponan sama siapa, Bin..? Anak mana ? Sudah bekerja ?" tanya Ibu yang berpikir bahwa Bintang teleponan dengan seorang pria.
"Sama teman, Bu.. Yaa sudah Bintang mau masuk kamar dulu.." ucap Bintang sambil berjalan menuju kamar.
"Teman tapi kok senyum-senyum begitu yaa.." gumam Ibu.
"Ayah, lihat anakmu itu, tiap hari teleponan terus sambil senyum-senyum sendiri. Apa Bintang sudah punya pacar, Yah..?" tanya Ibu pada Ayah yang sedang asyik membaca koran.
"Biarkan saja Bu, Bintang kan sudah besar. Yaa wajar kalau dia punya pacar, Ibu seperti tidak pernah muda saja.." seru Ayah yang bisa mengerti tentang apa yang di pikirkan oleh istrinya itu.
"Ibu memang pernah muda Ayah, tapi saat Ibu jatuh cinta sama Ayah dulu tidak sampai seperti itu. Duduk senyum sendiri, makan senyum-senyum sendiri, nonton tv juga senyum-senyum sendiri. Senyum terus seperti orang gila.." ujar Ibu sambil menggelengkan kepalanya.
"Oalah Ibu ini, anak sendiri kok di bilang seperti orang gila.." sahut Ayah sambil menahan tawanya.
"Kan baru seperti Ayah, bukan gila.." jelas Ibu yang tidak ingin di salahkan.
"Iyaa iyaa Bu, baru seperti.." ucap Ayah yang memilih mengalah dari pada harus berdebat dengan Ibu.
"Yaa sudah Ibu mau ke kamar saja, bicara sama Ayah malah buat Ibu pusing.." seru Ibu yang segera berjalan ke arah kamar, meninggalkan Ayah yang hanya tersenyum.
Di dalam kamar, terlihat Bintang yang masih asyik ngobrol dengan Gia lewat sambungan telepon. Sambil sesekali tertawa, tersenyum dan bercerita dengan raut wajah serius.
~***********~
Keesokan paginya..
"Bu, hari ini masak yang banyak dan enak yaa, karena nanti sore ada teman Bintang yang mau datang sekaligus menginap di rumah. Bolehkan, Bu..?"
Tanya Bintang dengan sedikit cemas, karena tidak ingin membuat Ibunya itu merasa curiga.
"Ohh begitu, iyaa boleh Bin.. Tidak apa-apa, nanti biar teman kamu itu tidur dengan Ayah dan Ibu tidur di kamar kamu.." sahut Ibu yang merasa tidak keberatan jika ada tamu yang menginap di rumahnya.
"Kok tidur sama Ayah sih, Bu..?! Teman Bintang itu kan perempuan, bukan laki-laki.." jelas Bintang sambil menepuk keningnya.
"Loh, jadi perempuan Bin, Ibu pikir laki-laki,hehee.." sahut Ibu seraya tertawa kecil, karena apa yang di pikirkan nya ternyata salah.
__ADS_1
"Iyaa perempuan Bu, masa laki-laki. Yaa sudah kalau begitu Bintang berangkat kerja dulu yaa, Bu.. Assalamu'alaikum.." pamit Bintang yang kini berjalan dengan terburu-buru.
"Iyaa Bin, wa'alaikumsalam.. Hati-hati, Nak.."
Balas Ibu dengan senyuman, lalu Ia pun bergegas untuk belanja ke pasar membeli kebutuhan memasaknya hari ini.
~**********~
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Bintang yang baru saja pulang bekerja kini langsung bergegas menuju kamar mandi. Setelah selesai, Ia pun segera merapikan kamar dan tempat tidurnya.
Tokk,,tokk,,tokk..
"Assalamu'alaikum.."
Terdengar suara ketukan pintu dan suara seorang perempuan dari luar.Ibu yang saat itu sedang duduk di ruang nonton TV segera membukakan pintu.
"Wa'alaikumsalam.." balas Ibu sambil tersenyum menatap sosok perempuan yang ada di depannya.
"Apa benar ini rumah Bintang, Bu..?" tanya perempuan itu sambil malu-malu.
"Iyaa Bu, saya Gia temannya Bintang.." ujar Gia sambil berjabat tangan.
"Ohh Nak Gia, mari silahkan masuk..!" seru Ibu pada Gia dengan ramah, lalu mempersilahkan Gia untuk duduk.
"Bintang, teman kamu sudah datang ini Nak..!" ujar Ibu pada Bintang yang segera keluar dari kamar.
"Akhirnya kamu sampai juga saa.." ucap Bintang yang hampir keceplosan memanggil sayang pada Gia, saat mendapat tatapan tajam dari Gia.
"Iyaa Bintang.."
Balas Gia dengan sedikit kaku, karena harus menahan untuk tidak memanggil Bintang dengan panggilan sayang seperti yang biasa Ia lakukan.
"Nak Gia sendirian saja ? Naik apa tadi ?" tanya Ibu yang mulai bertanya-tanya seperti wartawan.
"Tadi sama kakak naik mobil, tapi kakak langsung pulang, Bu.." jawab Gia yang masih malu-malu.
"Kenapa Kakaknya tidak di ajak ke rumah sekalian ?" tanya Ibu lagi.
__ADS_1
"Hee,, tidak Bu, karena Kakak masih ada urusan.." balas Gia lagi.
"Jadi begitu, Gia di rumah tinggal dengan siapa ?" tanya Ibu yang semakin tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Di rumah, Gia tinggal sama mamaa dan kakak, karena papaa sudah tidak ada, Bu.." ujar Gia dengan raut wajah tiba-tiba sedih.
"Maaf yaa Nak Gia, Ibu tidak bermaksud untuk membuat kamu jadi sedih.." sahut Ibu yang langsung merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kok, Bu.." ucap Gia dengan senyuman di wajahnya.
"Ini di minum dulu saa.." ujar Bintang yang lagi-lagi hampir keceplosan.
"Maksudnya minum dulu Gia, kamu pasti haus dari tadi di tanya-tanya terus.." seru Bintang sambil melirik ke arah Ibunya.
"Iyaa Bintang, terimakasih.." sahut Gia sambil meraih gelas yang di berikan oleh Bintang.
Setelah bercerita panjang lebar, kini waktu makan malam telah tiba. Bintang dan Gia membantu menyiapkan makan malam, meskipun Ibu telah melarang Gia tapi Ia tetap ingin membantunya.
"Ayo sekarang kita makan, ayo Nak Gia jangan malu-malu..!" ucap Ayah pada Gia dengan senyuman.
"Iyaa paman.." balas Gia sambil tersenyum.
Kini mereka mulai menikmati hidangan yang ada di atas meja, terdengar suara Gia yang memuji masakan Ibu sambil mengacungkan jempolnya. Membuat Ibu tersenyum senang, sambil meminta Gia untuk menambah makanannya.
Makan malam pun telah selesai, kini mereka berkumpul di ruang tengah sambil menonton televisi. Tapi tak lama kemudian, Bintang mengajak Gia untuk beristirahat di dalam kamar.
"Kenapa terburu-buru ke kamar, aku kan tidak enak sama Ibu dan Paman.." seru Gia pada Bintang.
"Tidak apa-apa sayangku, memang kamu tidak kangen sama aku..?!" ucap Bintang mencubit pipi Gia.
"Kangen sayang, tapi kan.."
Perkataan Gia terhenti, saat bibir Bintang menyentuh lembut bibirnya dengan perlahan tapi pasti. Memberikan sensasi tersendiri, hingga membuat keduanya semakin hanyut dan menginginkan sesuatu yang lebih.
Bersambung...
🙏😊 A59
__ADS_1