
"Bin, Ibu perhatikan beberapa hari ini kamu terlihat murung, kamu sakit, Nak..?!" tanya Ibu yang merasa cemas dengan keadaan putri kesayangannya itu.
"Iyaa Bu, sakit hati.." gumam Bintang dalam hatinya.
"Bintang,, Ibu tanya kok malah diam,mmmh.." ucap Ibu sambil memeriksa kening Bintang dengan tangannya, tapi tidak terasa panas.
"Bintang baik-baik saja, Bu.." sahut Bintang dengan senyuman manis di wajahnya.
"Bu,, Kak Nia kapan pulang ? Kenapa Kak Nia harus bekerja di luar kota, tidak di sini saja biar bisa pulang ke rumah.." seru Bintang yang merasa sangat rindu pada Kakaknya itu.
"Karena Kak Nia bilang ingin mandiri, makanya memilih pekerjaan yang jauh. Kenapa, Bintang rindu Kak Nia yaa ?!" tanya Ibu sambil mengusap rambut Bintang dengan penuh kasih sayang.
"Iyaa Bintang rindu Kak Nia, Bu.." jawab Bintang dengan wajah yang sedih dan mata berkaca-kaca.
"Yaa sudah nanti Bintang hubungi Kak Nia, sekalian tanya kapan Kak Nia akan pulang.." ujar Ibu yang mencoba menenangkan Bintang.
"Iyaa Bu, nanti Bintang akan hubungi Kak Tya. Apa Ibu sudah membuat sarapan ? Bintang lapar, Bu.." seru Bintang sambil memegang perutnya.
"Tadi Ibu membeli kue di pasar, Ayah dan Ibu sudah memakannya. Tinggal kamu yang belum sarapan.." ujar Ibu sambil mengambil kue yang ada di atas meja, lalu memberikannya pada Bintang.
"Tapi Bintang tidak mau kue, Bu.." ucap Bintang dengan cemberut.
"Terus Bintang mau sarapan apa ? Biar Ibu buatkan.." seru Ibu.
"Bintang mau sarapan mie goreng, Bu.." ujar Bintang dengan senyuman dengan wajahnya.
"Ohh mie goreng, kalau begitu Ibu buatkan dulu yaa.." ucap Ibu sambil berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Bintang bantuin yaa, Bu.." sahut Bintang dengan penuh semangat.
__ADS_1
Tak lama kemudian mie goreng yang di inginkan Bintang pun telah selesai di masak, dan siap untuk di santap.
"Bintang, tolong letakkan air panas bekas rebusan mie nya di ember kecil yaa.. Jangan di buang ke tanah..!" pinta Ibu pada Bintang yang masih berada di dapur.
"Memang kenapa, Bu ? Kan tidak ada ayam dan kucing di situ.." ucap Bintang sambil menunjuk ke arah tanah, di dekat tempat cuci piring yang berada di luar dapur.
"Di situ memang tidak ada ayam dan kucing, tapi mungkin ada semut, cacing atau hewan lain yang tidak terlihat. Jadi jangan membuang air panas sembarangan, itu bisa menyakiti mereka, Nak.." jelas Ibu pada Bintang.
"Iyaa Bu, Bintang mengerti.." sahut Bintang yang kini tengah menikmati mie goreng buatan Ibunya.
"Enak mie gorengnya, terimakasih yaa, Bu.." seru Bintang yang begitu lahap menikmati sarapannya.
"Sama-sama, Bin.. Oh yaa, nanti bantuin Ibu ambil rambutan dan manggis yaa Bin..!" ucap Ibu.
"Memang belum di ambil sama Ayah, Bu ?" tanya Bintang yang kini telah selesai sarapan.
"Ayah kalau pulang dari kebun pasti capek Bin, jadi Ibu tidak tega menyuruh Ayah untuk mengambilnya.." jelas Ibu.
"Kamu ini Bin, Bin.. Yaa sudah Ibu mau memasak dulu, kamu bersih-bersih rumah yaa.. Kan sudah bertenaga sekarang.." ucap Ibu sambil tersenyum.
"Iyaa Bu, siap laksanakan..!" seru Bintang.
Ibu dan anak itupun kini tengah sibuk dengan pekerjaan rumah masing-masing, Bintang terlihat menyapu dan mengepel. Sedangkan Ibu asyik memasak, sambil sesekali bernyanyi untuk menghibur dirinya sendiri.
"Bu, kenapa sih kita tidak pakai kompor gas saja, biar cepat. Dari pada pakai kompor minyak tanah atau kayu bakar, sudah lama terus kena asap juga, Bu.." seru Bintang yang kini sedang menyapu dan membersihkan dapur.
"Ibu takut nanti meledak Bin, terus kita mati bagaimana..?!" sahut Ibu.
"Kalau kamu mau pakai kompor gas, sana masaknya di semak-semak. Jangan di dalam rumah, biar aman.." jelas Ibu lagi.
__ADS_1
"Kalau sudah waktunya mati, yaa pasti mati Bu.. Tidak harus menunggu gas meledak dulu.." ujar Bintang sambil menggelengkan kepalanya.
"Memang benar sih, tapi ada alasan lain juga kenapa Ibu tidak mau menggunakan kompor gas.." seru Ibu yang masih sibuk dengan masakannya.
"Memang apa, Bu..?" tanya Bintang penasaran.
"Kamu pasti sudah tau Bin, bahwa yang menjual minyak tanah pada kita selama ini adalah seorang nenek yang sudah sangat tua.." ujar Ibu pada Bintang.
"Iyaa Bintang tau kok, Bu.. Lalu apa hubungannya ?" tanya Bintang dengan serius.
"Kalau kita beralih menggunakan kompor gas, berarti setelah itu kita akan membeli minyak tanah dalam jumlah yang sedikit. Itu akan membuat pemasukan nenek itu berkurang, kasihan kan..?!" ucap Ibu sambil tersenyum.
"Iyaa Bu, kasihan. Apa lagi setahu Bintang, penghasilan nenek itu cuma dari menjual minyak tanah dan hasil berkebun di tanah milik orang lain. Terus nenek itu juga tinggal sendirian, Bu.." ujar Bintang yang kini telah selesai menyapu dan membersihkan dapur.
"Syukurlah kalau kamu tau itu, Bin.." sahut Ibu yang juga telah selesai memasak.
Bintang dan Ibunya kini tengah beristirahat, sambil lanjut bercerita tentang banyak hal.
~*********~
Di sore harinya, terlihat Bintang yang kini tengah berada di atas pohon rambutan sedang mengambil rambutan dengan semangatnya.
"Hati-hati Bin, kamu ini di suruh ambil dari bawah malah naik ke atas,mmmh.."
Seru Ibu yang memang sudah tau kalau putrinya yang satu itu, sejak kecil suka sekali memanjat pohon.
"Iyaa Bu, ini juga sudah mau selesai.." ujar Bintang sambil berusaha untuk turun dari atas pohon rambutan.
Kini Bintang telah berada di bawah, Ia membantu Ibunya mengumpulkan semua rambutan dan meletakkannya di dalam baskom besar. Setelah terisi penuh, Bintang segera membawanya masuk ke rumah.
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59