Rahasia Hati Seorang Lesbi

Rahasia Hati Seorang Lesbi
Frustasi


__ADS_3

Di sebuah kamar yang terlihat sangat berantakan, terdengar Sarah yang masih saja menangis. Ia terus menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi, namun Ia juga tidak bisa berbuat banyak untuk membuat orang yang di cintai bisa kembali padanya.


"Kenapa ini semua terjadi sama aku..? Apa ini balasan dari apa yang udah aku lakukan..?" seru Sarah sambil menangis tersedu-sedu.


Seharian itu Sarah hanya mengurung dirinya di kamar, sambil menangis dan membanting barang-barang. Hingga malam pun tiba, dan Sarah masih berada di dalam kamarnya.


Esok paginya, Sarah terbangun sambil memegangi perutnya yang terasa sakit dan perih. Maag-nya kambuh dan membuatnya sulit untuk berjalan, Ia pun mengambil ponselnya lalu menghubungi Anya untuk meminta bantuan.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar, serta sese'orang mengucapkan salam. Dengan perlahan Sarah berjalan, untuk membukakan pintu sambil menahan sakit di bagian perut dan ulu hatinya.


"Sarah,, kamu kenapa..?" seru Anya yang melihat Sarah hampir saja terjatuh, lalu segera menopangnya.


"Maag-nya aku kambuh Nya, karena seharian kemarin gak ada makan sedikitpun.." jelas Sarah yang kini telah duduk di sebuah sofa.


"Yaa udah, kalau gitu sekarang kamu minum obat terus makan yaa.. Aku ada bawain bubur ayam buat kamu.." ucap Anya sambil menyiapkannya untuk Sarah.


"Aku mau minum obat aja dulu Nya, tolong kamu ambilkan yaa di dalam kotak di atas dekat meja makan.." pinta Sarah pada Anya.


"Iyaa Sarah, kamu tunggu dulu sebentar.." sahut Anya seraya berjalan menuju ke meja makan yang ada di dekat dapur.


"Ini Sarah, sekarang kamu minum yaa.." seru Anya sambil memberikan obatnya.


"Terimakasih yaa Nya, maafin aku karena udah ngerepotin kamu.." ujar Sarah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sama-sama Sarah, kita kan teman. Jadi memang udah seharusnya saling membantu, lagi pula di sini kamu tinggal sendiri.." ucap Anya yang merasa kasihan pada Sarah.


"Iyaa Nya, mungkin aku memang harus cari asisten rumah tangga yang mau tinggal di sini.." sahut Sarah yang sudah beberapa tahun ini jauh dari orang tuanya, karena memilih untuk tinggal sendiri di rumah yang sudah Ia miliki dari hasil kerja kerasnya selama ini.


"Lebih baik seperti itu, biar kalau ada apa-apa ada yang bantuin dan temenin kamu di rumah. Sekarang gimana Sarah, apa udah mendingan..?" tanya Anya.


"Udah Nya, sakitnya udah berkurang. Tolong ambilkan bubur ayamnya Anya, aku laper banget.." pinta Sarah.


"Iyaa ini Sarah, makanlah dulu. Syukurlah kalau sakitnya udah berkurang. Tadi aku sempat cemas juga, waktu kamu telepon bilang kami sakit.." ujar Anya.


"Maag aku pasti bakal kambuh, kalau seharian itu gak ada kemasukan nasi atau makanan, Nya.. Makanya aku selalu sediakan obat di rumah, di mobil dan di dalam tas yang selalu aku bawa.." jelas Sarah sambil memakan bubur ayamnya.


"Lagian kenapa kamu seharian gak makan..?" tanya Anya.


"Yaa biasalah Nya, aku kalau banyak pikiran pasti seperti itu.." ucap Sarah.


"Awalnya memang karena itu, tapi di tambah lagi dengan memikirkan Bintang, Nya.." seru Sarah.


"Memang Bintang kenapa Nya, kok kamu jadi mikirin dia juga..?" tanya Anya yang merasa penasaran.


"Karena kemarin aku ngajak Bintang balikan, tapi Bintang gak mau. Padahal aku udah memohon sama dia, tapi tetap aja Bintang gak bisa. Jadi buat aku semakin sedih, Nya.." jelas Sarah sambil menghapus air matanya yang mengalir.


"Kamu sabar aja Sarah, Bintang memang gak suka di paksa. Kalau udah terlanjur kecewa, yaa pasti seperti itu. Jadi kamu jangan menyalahkan dia, karena Bintang seperti itu juga dari kesalahan kamu sendiri kan.." jelas Anya yang tidak ingin Sarah menyalahkan Bintang.

__ADS_1


"Iyaa Nya, aku ngerti kok. Cuma rasanya berat, karena harus menghadapi ini semua sendiri.." ucap Sarah yang kembali ingin menangis, namun berusaha untuk menahannya.


"Kamu pasti bisa melewati ini semua, Sarah.." seru Anya sembari menepuk pundak Sarah.


"Terimakasih yaa, Anya.." balas Sarah dengan senyuman.


"Sama-sama Sarah, kalau gitu aku pamit pulang dulu yaa.. Gak apa-apa kan aku tinggal..? Nanti kalau ada apa-apa, telepon aja.." ujar Anya sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Iyaa Anya, kamu hati-hati di jalan yaa.. Salam buat Nindy.." seru Sarah.


"Okey Sarah, nanti aku sampaikan. Wassalamu'alaikum.." pamit Anya seraya melajukan sepeda motornya dan meninggalkan Sarah yang masih berdiri di depan pintu menatapnya.


"Wa'alaikumsalam.." balas Sarah, lalu segera masuk ke dalam rumah.


~***********~


Kini keadaan Sarah sudah membaik, namun Ia merasa sangat bosan dan kesepian berada di dalam rumah sendirian. Selain itu, Ia juga masih merasa sangat sedih dan frustasi dengan semua yang sudah terjadi. Lalu Sarah pun memutuskan pergi, menemui teman-temannya untuk bersenang-senang.


Dan sampailah Sarah di sebuah rumah kontrakan, di sana terlihat teman-teman Sarah yang sedang menghisap *****, meneguk minuman ***** dan ada juga yang menggunakan obat *********.


"Akhirnya datang juga kamu, Sarah. Ayo sini buruan duduk, ada barang bagus nih.." seru salah se'orang dari mereka.


"Mana..?! Coba sini aku lihat.." sahut Sarah yang langsung meraih bungkusan kecil yang di berikan padanya. Tak mau menunggu lama, Sarah pun segera mencobanya dalam jumlah yang sedikit. Untuk seketika, Ia merasa hati dan pikirannya begitu ringan seolah tak ada beban apapun.

__ADS_1


Bersambung...


🙏😊 A59


__ADS_2